Hai sobats, mau nimbrung nih. Saya tertarik komentar Pak Abimanyu, bahwa kita terbiasa bermimpi atau terbang di awang-awang, kayaknya "kita bisa"...padahal ternyata enggak ya ! Saya teringat pada obsesi senior saya Dr. Sudaryono dari Arsitektur dan planning di UGM yang pernah melontarkan "Pendekatan Ruang Lokal" sebagai mainstream alternatif untuk pengembangan kawasan yang dekat dengan realitas lapangan. Pada waktu itu, saya berlatih dengan beberapa rekan untuk mendalami apa itu ruang lokal dengan langsung terjun ke lapangan, dengan bekal paradigma fenomenologi metoda fenomenologi...versi Husserl. Hasilnya memang mencengangkan....kami terjun di Parangtritis dan dapat mengetahui esensi urat syaraf kawasan itu melalui analisis fenomena-fenomenanya.... bahkan saya pernah secara guyonan mengatakan, kalau mau menghancurkan parangtritis...hapuskan petilasan batu gilang di parangkusumo....pasti akan hancur....tetapi apakah berani...dan manfaatnya apa..... Saya sebenarnya meyakini mainstream kecil yang tidak populer ini jika dikembangkan sungguh-sungguh tentu akan berdampak langsung pada perkembangan kawasan - kawasan lokal.... apalagi jika kita lihat bahwa Indonesia adalah kumpulan jutaan ruang-ruang lokal yang mesti digarap secara serius.....tampaknya perlu ada kerjasama antara para pemikir "grand architecture" yang high style dan populis bagaikan selebrities dengan para pemikir "folk archicehture" yang low profile tidak terkenal seperti eyang Abiyoso dalam pengembangan ruang kehidupan yang namanya kawasan atau kapet atau apalah sebutan yang lain...
Salam, Djarot --- On Thu, 6/5/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Mengembangkan Kapet To: [email protected] Date: Thursday, June 5, 2008, 5:53 PM Milister ysh, Bicara soal Kapet, saya teringat lagi kepada pendekatan dalam pengembangan Pulau Batam (1986) dan Baerelang (1991) yang dikaitkan dengan dengan "segi tiga pertumbuhan SIJORI". Suatu pengalaman yang kalau sekarang kita bandingkan dengan dampaknya hari-hari belakangan sangat menyedihkan dan malu hati. Suatu pendekatan sektoral (ekonomi-fisik, top down, dll), dengan hasil yang jauh dari mimpi semula (waktu itu masih terbuai dengan cara berpikir "regional economic" dan "land use planning" yang bekerja di awang-awang. Betapa tidak, mimpi yang tidak didasari realita di lapangan dan pemahaman terhadap tujuan pembangunan yang sebenarnya, hanya menghasilkan perkembangan yang semakin tidak berkelanjutan, lingkungan yang rusak dan masyarakat menengah bawah yang tergusur bahkan merambah hutan, for nothing. Kita perlu kaji lebih mendalam, apa yang dimaksud pembangunan kapet, untuk apa, dsb....semoga tidak seperti Batam dan sekitarnya wasalam, abimanyu On 6/5/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id> wrote: Ysh milister semua. Diskusi tentang pengembangan Kapet cukup meluas baik melalui penjelasan Bung Ono, Pak Aby, Bung NA, ternasuk saya, dan lainnya. Tampaknya pola pikir Kapet selama ini tak lepas dari pendekatan "Regional Planning" yang selama ini kita pelajari. Misalnya soal "perencanaan teritorial", integrasi inter-daerah (analisis I-0), kawasan strategis, dan sebagainya. Pendekatan semua tersebut betul-betul pendekatan jalur akademis yang semuanya bisa dijelaskan dengan membeberkan peta, dengan tangan memegang spidol, coret sana coret sini, terus kemudian bangun infrastruktur di sini- di sana, kebijakan pengurangan pajak, terus kemudian dibentuk badan pengelola, dan akhirnya investasi masuk, dan seterusnya seterusnya. Gampang amat...... tapi ternyata tidak berhasil. Ada apa? Mungkin kita perlu keluar dari jebakan (mental blockade) ilmu Regional Planning ini.... yang barangkali jauh dari kondisi yang terjadi di negara kita. Kita masih bisa menggunakan peta sebagai petunjuk lokasi, tetapi janganlah dianggap peta ini benda hidup yang bisa bergerak kesana kemari, mengait sana mengait sini, ditata begini - begitu, ... ternyata daerah tetap bergeming (tak bergeser alias diam saja) saja. Nah,.. ditengarai persoalannya tidak sekedar ruang fisik, tetapi ada dimensi lain yang merupakan subjek-subjek menggerakkan mekanisme pembangunan daerah selama ini. Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Sugiono Ronodihardjo To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Thursday, June 05, 2008 6:40 AM Subject: RE: [referensi] Re: Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (1)

