Pak BTS dan Milister Ysh, Posting pak BTS saya kira cukup kritis, dan hal inilah yang kita butuhkan untuk mencari pendekatan alternatif tidak hanya pendekatan fisik belaka. Saya dapat memaklumi kegundahan pak BTS seolah-olah semuanya dapat "diarahkan" dengan goresan spidol. Pandangan pak BTS sebenarnya adalah sebuah "self-evident" bahwa konsep perencanaan regional seperti ini tidak punya akar akademik yang kuat. Ketika sebuah RUU akan dibahas, RUU tersebut seharusnya dilandasi dengan argumentasi akademik terlebih dahulu.
Ketika kita membuat perencanaan daerah konservasi di Banten misalnya, mau tidak mau kita harus berbicara tentang territorial masyarakat Badui Dalam dan Badui Luar yang tidak selalu ada hubungannya dengan infrastruktur, tetapi adalah masalah institusi lokal. Bukankah ini juga bagian dari pendekatan dalam perencanaan regional, termasuk conflict resolution? Kegagalan kita dalam pembangunan daerah tertentu di Papua adalah karena kita tidak memahami ruang gerak, jelajah atau territorial masyarakat adat tertentu. Akibatnya, rumah-rumah yang dibangun dengan standar nasional, dibongkar habis oleh masyarakat lokal karena tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Memahami territorial masyarakat adalah memahami kebutuhan masyarakat itu sendiri, Wah,,. maaf lagi kalau terlalu akademik, inilah yang disebut sebagai socio-economic space. Jangan-jangan karena kita tidak memahami, psyso-socio-economic space - yang tidak ada hubungan erat dengan spidol dan peta, kita tidak berhasil dalam implementasi perencanaan regional. Bukankah ini adalah sebuah "self-evident" bahwa perencanaan regional tidak semata-mata soal untuk pembangunan fisik ala goresan spidol - yang kering polesan akademik. Wassalam, Nuzul Achjar 2008/6/5 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>: > > > > Ysh milister semua. > > Diskusi tentang pengembangan Kapet cukup meluas baik melalui penjelasan > Bung Ono, Pak Aby, Bung NA, ternasuk saya, dan lainnya. Tampaknya pola pikir > Kapet selama ini tak lepas dari pendekatan "Regional Planning" yang selama > ini kita pelajari. Misalnya soal "perencanaan teritorial", integrasi > inter-daerah (analisis I-0), kawasan strategis, dan sebagainya. Pendekatan > semua tersebut betul-betul pendekatan jalur akademis yang semuanya bisa > dijelaskan dengan membeberkan peta, dengan tangan memegang spidol, coret > sana coret sini, terus kemudian bangun infrastruktur di sini- di sana, > kebijakan pengurangan pajak, terus kemudian dibentuk badan pengelola, dan > akhirnya investasi masuk, dan seterusnya seterusnya. Gampang amat...... tapi > ternyata tidak berhasil. Ada apa? > > Mungkin kita perlu keluar dari jebakan (mental blockade) ilmu Regional > Planning ini.... yang barangkali jauh dari kondisi yang terjadi di negara > kita. Kita masih bisa menggunakan peta sebagai petunjuk lokasi, tetapi > janganlah dianggap peta ini benda hidup yang bisa bergerak kesana kemari, > mengait sana mengait sini, ditata begini - begitu, ... ternyata daerah tetap > bergeming (tak bergeser alias diam saja) saja. Nah,.. ditengarai > persoalannya tidak sekedar ruang fisik, tetapi ada dimensi lain yang > merupakan subjek-subjek menggerakkan mekanisme pembangunan daerah selama > ini. > > Thanks. CU. BTS. > > ----- Original Message ----- > From: Sugiono Ronodihardjo > To: [email protected] > Sent: Thursday, June 05, 2008 6:40 AM > Subject: RE: [referensi] Re: Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (1) > >

