Milister ysh, Bicara soal Kapet, saya teringat lagi kepada pendekatan dalam pengembangan Pulau Batam (1986) dan Baerelang (1991) yang dikaitkan dengan dengan "segi tiga pertumbuhan SIJORI". Suatu pengalaman yang kalau sekarang kita bandingkan dengan dampaknya hari-hari belakangan sangat menyedihkan dan malu hati. Suatu pendekatan sektoral (ekonomi-fisik, top down, dll), dengan hasil yang jauh dari mimpi semula (waktu itu masih terbuai dengan cara berpikir "regional economic" dan "land use planning" yang bekerja di awang-awang. Betapa tidak, mimpi yang tidak didasari realita di lapangan dan pemahaman terhadap tujuan pembangunan yang sebenarnya, hanya menghasilkan perkembangan yang semakin tidak berkelanjutan, lingkungan yang rusak dan masyarakat menengah bawah yang tergusur bahkan merambah hutan, for nothing. Kita perlu kaji lebih mendalam, apa yang dimaksud pembangunan kapet, untuk apa, dsb....semoga tidak seperti Batam dan sekitarnya
wasalam, abimanyu On 6/5/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Ysh milister semua. > > Diskusi tentang pengembangan Kapet cukup meluas baik melalui penjelasan > Bung Ono, Pak Aby, Bung NA, ternasuk saya, dan lainnya. Tampaknya pola pikir > Kapet selama ini tak lepas dari pendekatan "Regional Planning" yang selama > ini kita pelajari. Misalnya soal "perencanaan teritorial", integrasi > inter-daerah (analisis I-0), kawasan strategis, dan sebagainya. Pendekatan > semua tersebut betul-betul pendekatan jalur akademis yang semuanya bisa > dijelaskan dengan membeberkan peta, dengan tangan memegang spidol, coret > sana coret sini, terus kemudian bangun infrastruktur di sini- di sana, > kebijakan pengurangan pajak, terus kemudian dibentuk badan pengelola, dan > akhirnya investasi masuk, dan seterusnya seterusnya. Gampang amat...... tapi > ternyata tidak berhasil. Ada apa? > > Mungkin kita perlu keluar dari jebakan (mental blockade) ilmu Regional > Planning ini.... yang barangkali jauh dari kondisi yang terjadi di negara > kita. Kita masih bisa menggunakan peta sebagai petunjuk lokasi, tetapi > janganlah dianggap peta ini benda hidup yang bisa bergerak kesana kemari, > mengait sana mengait sini, ditata begini - begitu, ... ternyata daerah tetap > bergeming (tak bergeser alias diam saja) saja. Nah,.. ditengarai > persoalannya tidak sekedar ruang fisik, tetapi ada dimensi lain yang > merupakan subjek-subjek menggerakkan mekanisme pembangunan daerah selama > ini. > > Thanks. CU. BTS. > > ----- Original Message ----- > From: Sugiono Ronodihardjo > To: [email protected] > Sent: Thursday, June 05, 2008 6:40 AM > Subject: RE: [referensi] Re: Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (1) > >

