Pak Onno, saya tidak meragukan keahlian kedua nenek-moyang kita orang pelaut 
itu. jika kita memang ingin lebih merangkul laut sebagai "halaman" rumah 
bersama Indonesia kita. Benar mereka sangat akrab dengan laut, bahkan laut dan 
daratan memiliki makna yang khas pada suku Bajo (menurut kajian Hedy Shri 
Ahimsa dalam bukunya). Jika bukan pelaut maka bukan Bajo Asli, katanya. Oleh 
karenanya, persoalan memahami laut adalah sebuah masalah tersendiri yang 
menarik untuk digali. Pertanyaan saya, apakah selama ini dunia planning di 
Indonesia sudah mengakomodasi pengetahuan nenek-moyang kita orang pelaut itu ? 
Ataukah para planner kita terkesima dan silau oleh pandangan dan teori-teori 
"dari luar" sehingga melirik-pun tidak terhadap kearifan orang-orang Bajo dan 
Bugis. Apakah pengetahuan orang Bajo dan Bugis dan mana lagi sudah menjadi 
bagian dari penyusunan kebijakan tata ruang di Indonesia ? Setahu saya, orang 
Bajo dan orang Bugis hanya disinggung dan diakui
 keberadaannya di milis ini, tetapi pengetahuan mereka yang bermanfaat untuk 
kita dan masa depan anak-cucu kita tidak pernah diungkap secara mendalam. 
Apakah pengetahuan dan pengalaman mereka hanya akan diposisikan sebagai sekedar 
informasi tanpa arti atau semacam arus kecil pemikiran dalam planning yang 
layak diabaikan....?

Mohon pencerahan Pak.

Salam,
Djarot

--- On Thu, 9/25/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!
To: [email protected]
Date: Thursday, September 25, 2008, 10:48 AM










    
            

Wah pertanyaannya sepertinya sudah terjawab langsung pak, karena yang berwenang 
dan sumbernya ada disitu he he ..

Tetapi mungkin jawabnya juga bisa kita tanya kepada 'rumput laut' yang 
bergoyang terus ya ...
Wassalam,

Onnos R.







To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thu, 25 Sep 2008 10:36:50 +0700
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!







Pak Onno. kalau mau belajar penataan ruang laut - sama siapa yaa. salam ferri 
djais



To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Wed, 24 Sep 2008 03:03:25 +0000
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!




Untuk memahami tentang laut, kita juga musti belajar dari saudara kita suku 
Bajo dan Bugis yang sudah terkenal sebagai pelaut ulung sampai kemanca negara.
Selamat Lebaran 1429 Hijriah, mohon maaf lahir bathin.
Wassalam,
Onnos R. 







To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Mon, 22 Sep 2008 14:45:56 +0800
Subject: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!










Untuk memahami laut mulai aja dengan mempelajari UNCLOS ( United Nations 
Convention on the Law of the Sea) 1982. Di Dewan Kealutan sudah diterjemahkan. 
Silakan ajukan surat ke sekretariat. Untuk Lembaga pemerintah, perguruan tinggi 
dan asosiasi dapat diberikan gratis.
 
Wassalam
AAS

--- Pada Sen, 22/9/08, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:

Dari: risfano <[EMAIL PROTECTED] com>
Topik: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Tanggal: Senin, 22 September, 2008, 12:37 AM





Bung Abimanyu dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas tanggapannya. Saya jadi ingat waktu di kota kelahiran dulu, 
kebetulan rumah saya dekat kesatrian angkatan laut, jadi tiap hari saya lewat 
gerbang bertulusan "Jalesveva Jayamahe" (Justru di laut lah kita jaya?) dengan 
dua ranjau laut di kiri-kanannya. 
Kemudian ikut "pramuka laut", supaya bisa renang gratis di kesatrian AL 
tersebut. Ya setidaknya waktu itu hafal lah nama-nama KRI, arti tiap-tiap 
bendera, serta simpul tali temali di kapal. Sehingga sempat bercita-cita jadi 
KKO (he he he).  Tapi ternyata ada lho teman saya yang eks marinir lalu kuliah 
lagi dan jadi dosen arsitektur.
Ya, seperti Bung Abimanyu duga, lalu sekolahnya tentang tata guna tanah. Jadi 
mendarat lah. Mungkin ada baiknya bagi saya untuk belajar kembali tentang 
kelautan, yang dikawinkan dengan planning.
Salam,
Risfan Munir
 
 

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Risfan ysh,
> 
> Tanggapan saya ke Pak Aby bukan untuk beliau saja pak, juga untuk mengajak
> rekan-rekan lain untuk mencoba keluar dari kotak "planning school" yang
> masih berbasis daratan dan mulai berbasis pulau-laut (tanah-air) Indonesia
> tercinta.
> Kalau soal "World City" itu justru bukan berasal dari pendapat pribadi saya
> tetapi dari beberapa tulisan mengenainya. Menurut kriteria tersebut, tidak
> otomatis suatu kota besar dapat berfungsi sebagai "World City" (mungkin Pak
> Risfan juga tahu soal tersebut).
> 
> Pertanyaan bapak mengenai "wilayah lautan dan pesisir" adalah inti dari
> pertanyaan khas sebagian besar rekans yang masih berbasis Indonesia tanahku
> (motherland) , belum tanah-airku. Mungkin "regionisme" ini juga merupakan
> hasil penjajahan pendidikan negara benua (negara daratan) terhadap
> pakar-pakar negara archipelago dan pulau-pulau kecil (SIDC).
> 
> Secara singkat, kekhasan konsep perencanaan wilayah kepulauan yang mencakup
> pulau-laut, dengan pesisir yang nomor 4 terpanjang di dunia dan lautan yang
> dua-pertiga luas wilayahnya, adalah kita perlu selalu peduli bahwa sebagai
> negara kepulauan (yang dengan kenaikan muka laut daratannya akan semakin
> berkurang) keberlanjutan negara ini sangat tergantung kepada keberlanjutan
> pulau dan kualitas laut yang akan menjadi sumber daya terbesar kehidupan
> kita kalau saat sumberdaya daratannya sudah habis dirambah atau dijual.
> Kelemahan kita dalam mengelola laut (termasuk bencana di laut) adalah karena
> kita memang tidak menyiapkan pengelolaannya, walaupun Deklarasi Djuanda
> memperjuangkan bahwa negara kita bukan daratan plus 3 mil laut sekitarnya
> tetapi termasuk laut Nusantara.
> Laut juga bukan tempat pembuangan sampah atau lumpur Lapindo, dsb, dst.
> Sayangnya memang kita lebih banyak terdidik menjadi masyarakat darat,
> walaupun masyarakat pulau-laut dan masyarakat laut kita kehidupannya justru
> lebih banyak tergantung lautan daripada daratan. Belanda yang pernah
> menjajah kita saja sekarang sudah mulai mengembangkan konsep-konsep
> terapung, karena sadar tidak selamanya konsep membendung laut mampu
> mempertahankan wilayahnya yang semakin terancam oleh kenaikan muka laut.
> 
> Banyak aspek yang perlu kita kupas bersama disini, tapi mungkin Pak Aby
> tidak berselera... .Sory Yang.
> 
> Wasalam,
> 
> Abimanyu
> 
> 


Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain! 






Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. 
Windows Live 



Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 

 





Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke