Pak Onno yang baik, informasi Bapak sangat berharga dan menambah kuat kesan 
saya bahwa kalangan planolog(i) kita terjebak dalam "mental block" pikiran dan 
cara pikir "dari luar" dan kurang menghargai substansi budaya nenek-moyang kita 
sendiri. Bahkan dari ungkapan Bapak, kayaknya planologi memandang ilmu lain 
sebagai "the others", bukan sebagai teman seperjalanan untuk mengabdi kepada 
kehidupan secara komprehensif....mohon maaf ya pak jika saya keliru...

Sayang sekali jika mutiara berharga seperti Pak John Rahasia tersebut 
diabaikan, padahal fakta lapangan yang beliau kumpulkan itu bisa diangkat dan 
dimanfaatkan untuk kemaslahatan kehidupan yang lebih pas dengan situasi 
lapangan....sebagai awal, mungkin para sahabat bisa membaca karangan Hedy 
Ahimsa Putra tentang Mitos Orang Bajo...yang konon menunjukkan bagaimana makna 
laut dan darat bagi orang Bajo....tulisan itu ada dalam bukunya yang berjudul 
"Strukturalisme"....mengenalkan antropologi strukturalisme Levi Strauss....dia 
menganalisis mitos orang Bajo yang dibawa oleh seseorang muridnya S2...murid 
itu mengenal mitos tersebut....saya lupa apakah dia orang Bajo....

Pak Abimanyu, kajian itu bagus untuk menambah wawasan kita bahwa orang laut-pun 
memerlukan daratan untuk habitat kehidupannya....supaya kita juga mengenal 
bagaimana orang Bajo menghayati makna darat dan laut....

Salam,
Djarot


--- On Sun, 9/28/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!
To: [email protected]
Date: Sunday, September 28, 2008, 11:09 AM










    
            

Pak Djarot dan milisters ysh,

Mengenai pengalaman saudara kita suku Bugis dan Bajo tentang laut, memang belum 
banyak yang tertulis yang dapat dipakai sebagai bahan kajian. Saya melontarkan 
ide tersebut berdasarkan pengamatan saya dilapangan saja, mungkin ada 
rekan-rekan yang berminat untuk menelitinya. Sepertinya hal ini lebih dekat 
kepada bidang anthropology (sosial-budaya ?) yang tentunya dapat dipakai untuk 
bahan 'penataan ruang laut' atau 'kebijakan kelautan'. 

Sekitar tahun 1995 - 2001 saya pernah beberapa kali ketemu bapak John Rahasia 
(almarhum) dari Manado yang sangat senang menulis tentang asal usul bangsa 
Indonesia sebagai 'bangsa bahari atau bangsa nusantara', beliau sebagai 
'antropolog otodidak' banyak diakui perannya di berbagai universitas di luar 
negeri dan sempat mengajar sebagai dosen tamu di Unsrat dan Lemhanas. Waktu itu 
saya sempat bertamu dan ngobrol lama dirumahnya di jl. Sindulang I Manado 
(dekat Pasar Bersehati), beliau mempunyai perpustakaan pribadi dan mempunyai 
pulau kecil (Pulau Siladen dekat Bunaken) yang dijadikan sebagai museum 
miniatur perahu/kapal. 

Semoga sepeninggal beliau ada pewaris yang merawat/meneruskan ide besar 
tersebut, kalau anda sempat jalan ke Manado atau memang ada rekan milister 
yang tinggal disana mungkin dapat mencoba melacak kembali, siapa tahu dapat 
dipakai sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Semoga amal baik almarhum dapat 
bermanfaat bagi kita semua, amien.

Wassalam,

Onnos R.



 





To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thu, 25 Sep 2008 10:28:39 -0700
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!











Pak Onno, saya tidak meragukan keahlian kedua nenek-moyang kita orang pelaut 
itu. jika kita memang ingin lebih merangkul laut sebagai "halaman" rumah 
bersama Indonesia kita. Benar mereka sangat akrab dengan laut, bahkan laut dan 
daratan memiliki makna yang khas pada suku Bajo (menurut kajian Hedy Shri 
Ahimsa dalam bukunya). Jika bukan pelaut maka bukan Bajo Asli, katanya. Oleh 
karenanya, persoalan memahami laut adalah sebuah masalah tersendiri yang 
menarik untuk digali. Pertanyaan saya, apakah selama ini dunia planning di 
Indonesia sudah mengakomodasi pengetahuan nenek-moyang kita orang pelaut itu ? 
Ataukah para planner kita terkesima dan silau oleh pandangan dan teori-teori 
"dari luar" sehingga melirik-pun tidak terhadap kearifan orang-orang Bajo dan 
Bugis. Apakah pengetahuan orang Bajo dan Bugis dan mana lagi sudah menjadi 
bagian dari penyusunan kebijakan tata ruang di Indonesia ? Setahu saya, orang 
Bajo dan orang Bugis hanya disinggung dan diakui
 keberadaannya di milis ini, tetapi pengetahuan mereka yang bermanfaat untuk 
kita dan masa depan anak-cucu kita tidak pernah diungkap secara mendalam. 
Apakah pengetahuan dan pengalaman mereka hanya akan diposisikan sebagai sekedar 
informasi tanpa arti atau semacam arus kecil pemikiran dalam planning yang 
layak diabaikan... .?

Mohon pencerahan Pak.

Salam,
Djarot

--- On Thu, 9/25/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, September 25, 2008, 10:48 AM




Wah pertanyaannya sepertinya sudah terjawab langsung pak, karena yang berwenang 
dan sumbernya ada disitu he he ..
Tetapi mungkin jawabnya juga bisa kita tanya kepada 'rumput laut' yang 
bergoyang terus ya ...
Wassalam,
Onnos R.






To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thu, 25 Sep 2008 10:36:50 +0700
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!





Pak Onno. kalau mau belajar penataan ruang laut - sama siapa yaa. salam ferri 
djais



To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Wed, 24 Sep 2008 03:03:25 +0000
Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!




Untuk memahami tentang laut, kita juga musti belajar dari saudara kita suku 
Bajo dan Bugis yang sudah terkenal sebagai pelaut ulung sampai kemanca negara.
Selamat Lebaran 1429 Hijriah, mohon maaf lahir bathin.
Wassalam,
Onnos R. 







To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Mon, 22 Sep 2008 14:45:56 +0800
Subject: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!










Untuk memahami laut mulai aja dengan mempelajari UNCLOS ( United Nations 
Convention on the Law of the Sea) 1982. Di Dewan Kealutan sudah diterjemahkan. 
Silakan ajukan surat ke sekretariat. Untuk Lembaga pemerintah, perguruan tinggi 
dan asosiasi dapat diberikan gratis.
 
Wassalam
AAS

--- Pada Sen, 22/9/08, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:

Dari: risfano <[EMAIL PROTECTED] com>
Topik: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Tanggal: Senin, 22 September, 2008, 12:37 AM





Bung Abimanyu dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas tanggapannya. Saya jadi ingat waktu di kota kelahiran dulu, 
kebetulan rumah saya dekat kesatrian angkatan laut, jadi tiap hari saya lewat 
gerbang bertulusan "Jalesveva Jayamahe" (Justru di laut lah kita jaya?) dengan 
dua ranjau laut di kiri-kanannya. 
Kemudian ikut "pramuka laut", supaya bisa renang gratis di kesatrian AL 
tersebut. Ya setidaknya waktu itu hafal lah nama-nama KRI, arti tiap-tiap 
bendera, serta simpul tali temali di kapal. Sehingga sempat bercita-cita jadi 
KKO (he he he).  Tapi ternyata ada lho teman saya yang eks marinir lalu kuliah 
lagi dan jadi dosen arsitektur.
Ya, seperti Bung Abimanyu duga, lalu sekolahnya tentang tata guna tanah. Jadi 
mendarat lah. Mungkin ada baiknya bagi saya untuk belajar kembali tentang 
kelautan, yang dikawinkan dengan planning.
Salam,
Risfan Munir
 
 

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Risfan ysh,
> 
> Tanggapan saya ke Pak Aby bukan untuk beliau saja pak, juga untuk mengajak
> rekan-rekan lain untuk mencoba keluar dari kotak "planning school" yang
> masih berbasis daratan dan mulai berbasis pulau-laut (tanah-air) Indonesia
> tercinta.
> Kalau soal "World City" itu justru bukan berasal dari pendapat pribadi saya
> tetapi dari beberapa tulisan mengenainya. Menurut kriteria tersebut, tidak
> otomatis suatu kota besar dapat berfungsi sebagai "World City" (mungkin Pak
> Risfan juga tahu soal tersebut).
> 
> Pertanyaan bapak mengenai "wilayah lautan dan pesisir" adalah inti dari
> pertanyaan khas sebagian besar rekans yang masih berbasis Indonesia tanahku
> (motherland) , belum tanah-airku. Mungkin "regionisme" ini juga merupakan
> hasil penjajahan pendidikan negara benua (negara daratan) terhadap
> pakar-pakar negara archipelago dan pulau-pulau kecil (SIDC).
> 
> Secara singkat, kekhasan konsep perencanaan wilayah kepulauan yang mencakup
> pulau-laut, dengan pesisir yang nomor 4 terpanjang di dunia dan lautan yang
> dua-pertiga luas wilayahnya, adalah kita perlu selalu peduli bahwa sebagai
> negara kepulauan (yang dengan kenaikan muka laut daratannya akan semakin
> berkurang) keberlanjutan negara ini sangat tergantung kepada keberlanjutan
> pulau dan kualitas laut yang akan menjadi sumber daya terbesar kehidupan
> kita kalau saat sumberdaya daratannya sudah habis dirambah atau dijual.
> Kelemahan kita dalam mengelola laut (termasuk bencana di laut) adalah karena
> kita memang tidak menyiapkan pengelolaannya, walaupun Deklarasi Djuanda
> memperjuangkan bahwa negara kita bukan daratan plus 3 mil laut sekitarnya
> tetapi termasuk laut Nusantara.
> Laut juga bukan tempat pembuangan sampah atau lumpur Lapindo, dsb, dst.
> Sayangnya memang kita lebih banyak terdidik menjadi masyarakat darat,
> walaupun masyarakat pulau-laut dan masyarakat laut kita kehidupannya justru
> lebih banyak tergantung lautan daripada daratan. Belanda yang pernah
> menjajah kita saja sekarang sudah mulai mengembangkan konsep-konsep
> terapung, karena sadar tidak selamanya konsep membendung laut mampu
> mempertahankan wilayahnya yang semakin terancam oleh kenaikan muka laut.
> 
> Banyak aspek yang perlu kita kupas bersama disini, tapi mungkin Pak Aby
> tidak berselera... .Sory Yang.
> 
> Wasalam,
> 
> Abimanyu
> 
> 


Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain! 







Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. 
Windows Live 



Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 



Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger 
 





Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find 
out more. Windows Live

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke