Pak Ekadj, ada yang ketinggalan. Saya juga sedang memikirkan membuat blog satu 
lagi tentang Parangtritis, tetapi yang satu ini harus minta ijin Pak Guru saya 
(Dr. Sudaryono) sebab data tersebut milik beliau. Karakternya mirip dengan blog 
penghuni ruang kota, yaitu hanya menyajikan data hasil investigasi di lapangan 
dan sekarang hanya menumpuk jadi naskah catatan lapangan (logbook). Tahun terus 
berjalan, jadi sayang jika investigasi susah payah hanya berhenti menjadi 
buku...bisa busuk bukunya dan data itu akan lenyap....minimal di blog itu akan 
dapat disajikan pengalaman empiris fenomena coastal settlement yang pernah di 
singgung dalam milis ini. Di Parangtritis ada fenomena jurukunci, labuhan 
kraton, labuhan yayasan spiritual tertentu, labuhan oleh masyarakat lokal, 
fenomena doa dan ziarah di situs watugilang (konon tempat pacaran Panembahan 
Senopati), PSK, parkir, WC/KM berderet sampai 20 kamar, aktivitas ritual massal 
dan ziarah bebas (berbagai versi),
 juga ada fenomena kuda bendi....yang semuanya itu mengerucut pada 
proses-wujud-karakter keruangan di Parangtritis....Nah disitu fokusnya. Ruang 
Parangtritis bisa dipahami dengan hati jika kita memahami banyak sekali data 
yang pernah kami kumpulkan itu.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenonemologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 10/7/08, - ekadj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: - ekadj <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: Bloggers from Referensi
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, October 7, 2008, 10:26 PM










    
            Pak Djarot ysh,
Kembali selamat saya ucapkan atas blog baru-nya. Kalau sudah punya 3 atau 
lebih, sebenarnya bapak ini sudah bisa disebut sebagai 'juragan'.
Kelihatannya yang baru ini sedikit humanis ya pak. Saya teringat sekitar 30 
tahun yang lalu masih suka bikin cerpen, dan banyak mengisahkan beberapa spot 
kehidupan perkotaan. Ada sebuah cerpen yang masih saya ingat karena saya 
terbitkan di buletin sekolah dan kemudian di harian Bukit Barisan; gara-gara 
itu saya ditegur kepala sekolah dan hampir saja dikeluarkan. Kisahnya tentang 
Pak Saleh, seorang guru sekolah yang sudah tua dan setia dengan profesinya. 
Setiap hari mengayuh sepeda ke sekolah dari kediamannya yang jauh. Hidupnya 
sangat sederhana, disiplin, dan menolak berbagai pemberian, dan mengerjakan 
tugasnya secara tulus, hingga akhir hayatnya. Kebetulan dulu sekolahnya Cak 
Andri itu adalah sekolah paling top di Kota Medan (seperti SD PN Timah). 
Biasanya musim-musim lebaran seperti ini para guru tidak ada yang membuat atau 
membeli baju baru dan kue-kue; karena selalu ada 'droping' dari mana-mana.

 
Saya baru nonton film 'Laskar Pelangi', dan sangat menyentuh. Ada 'rasa lokal' 
yang patut dikecap. Salut untuk Bung Ikra untuk penokohan karakternya.
 
Salam,
 
-ekadj


2008/10/7 Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com











Pak Ekadj dan sahabat semua,

Mulai hari ini telah ada trio-blog yang saya terbitkan dan siap disantap 
informasinya oleh siapapun. Blog baru tentang penghuni-penghuni ruang kota, 
yang sementara ini masih mempublish catatan lama. Catatan tersebut saya rasa 
ada gunanya bagi banyak orang dan banyak sudut kepentingan. Tulisan itu hasil 
dari investigasi saya sendiri, semacam catatan lapangan yang agak terstruktur. 


Salam,

Djarot Purbadi

http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com

http://penghunikota .wordpress. com 
 
. 
 


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke