Salam sejahtera,
Wuaaah .... gara-gara pak Abimanyu 'salah tulis' atau 'sengaja mancing opini' 
(?) kok jadi ada yang malu ... eh malu-malu kucing...
Memang pepatah mengatakan bahwa: MALU BERTANYA SESAT DI JALAN, namun saya 
pernah tersesat cari alamat gara-gara bertanya kesembarang orang yang ketemu di 
pinggir jalan. 
Nah, sekarang ini sepertinya kita (baca: RAKYAT) sedang kesulitan mencari 
tempat untuk bertanya yang 'benar' karena banyak anggota Dewan Perwakilan 
Rakyat yang terhormat sedang kena masalah (baca: TERGODA), sehingga jadi 
memalukan. Menurut saya lebih baik kita masih punya rasa 'malu' dari ada kita 
tidak punya 'malu', atau 'memalukan' bahan 'malu-malu-in'. Saya salut dengan PM 
Jepang yang bulan lalu mengundurkan diri karena 'malu', kapan ya kita berani 
seperti dia....
Sebaiknya kita tidak usah merasa 'malu' kalau hasil karya kita salah atau 
gagal, karena itu hanyalah proses untuk menuju keberhasilan, asalkan kita masih 
punya 'malu'.
Semoga tulisan singkat ini tidak memalukan ya...
Wassalam,
Onnos R. 



To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Mon, 20 Oct 2008 08:07:17 
+0000Subject: [referensi] Re: Malu lulusan Perencena ITB?




Setuju dengan kebiasaan bertanya.Tapi seperti saya bilang, bertanyanya juga 
perlu variasi. Jangan cuma bertanya apa persoalannya? Apa yang salah? Apa sebab 
salah? Siapa yang salah?Tapi variasikan dengan Appreciative Inquiry. Apa yang 
sukses? Siapa yang sukses? Dimana yang sukses? Apa key success factors 
(KSF)nya? Apa yang akan dicapai berikutnya? KSF mana yang akan 
ditingkatkan?Pasti ada program yang sukses. Tentu ada figur yang sukses 
menggoalkan rencana nya? Ada pejabat planner yang berhasil mengembangkan 
sesuatu. Profesional yang sukses... Ada konsultan yang bisnisnya sukses juga. 
Apa kunci suksesnya? Bisakah diadopsi, direplikasi?Kalau ada sesuatu Pelajari, 
jangan cepat-cepat dihakimi, dilabeli (ah itu cuma...., ah itu bukan.....yang 
tak ada)Salam,Risfan Munir--- In [email protected], hotasi simamora 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:>> Bu 2ny, ysh> Saya tidak perlu malu lulus dari 
Planologi ITB, karena bertanya dan bertanya terus. Justru karena hal-hal 
"sepele" tersebut lah muncul banyak  ide baru, penemuan baru, pemikiran baru, 
termasuk peraih nobel yang senantiasa bertanya dan bertanya. Planologi sudah 50 
tahun, dan mungkin karena para perencana kita berhenti bertanya sehingga gaung 
para perencana kota (dalam tulisan di referensi ini, cuma saya lupa siapa yang 
nulis, pernah diungkapkan bahwa pekerjaan perencana wilayah adalah pekerjaan 
keroyokan dari berbagai multi disiplin bukan ide perencana wilayah). Beda 
halnya misalnya dengan para ahli arsitektur, sipil, ekonom, dst. Istiqlal, 
merupakan salah satu produk arsitektur anak bangsa, borobudur, pondasi cakar 
ayam, dst.> Saya hanya "provokator" bagi para senior saya, sehingga bangkit dan 
mulai saling bertanya, hayu, kita memulai sesuatu untuk menghasilkan suatu 
produk kebanggaan para perencana. Kita keroyok rame-rame.> Saya sangat 
menghargai, kalau ada para senior saya yang senang beropini secara disiplin 
ilmu, tapi saya juga akan ikut mensupport kalau kita buat suatu produk 
monumental di bidang penataan ruang, yang mungkin bisa memberikan kebanggaan 
bagi para junior kelak.> Mengenai kebanggaan sebagai lulusan planologi, saya 
pernah digugat oleh junior (tapi anggaplah yang mengguggat tersebut seorang 
yang frustasi, tapi karena saya tidak bisa memberikan jalan keluar 
kefrustasiannya, saya pun tidak mengatakan dia salah atau benar). Menurut sang 
junior tersebut, seorang lulusan perencana wilayah apalagi dari itb, bisa saja 
bangga dengan itu (the few, the proud, the planner, sebagaimana dulu motto 
himpunan planologi), tapi kebanggaan itu akan menjadi riil ketika profesi itu 
mampu membuat seseorang bisa  melindungi keluarganya dari panas dan  hujan 
dengan  standar  yang wajar,  mampu  memberangkatkan anak-anaknya  sampai 
ke jenjang PT (masa saya yang anak petani lulusan  SD mampu dibiayai  
orangtua sampai lulus dari itb,  tapi saya setelah lulus itb hanya mampu  
membiayai anak sampai lulus SD, apa kata dunia?), mampu  membayar biaya  
pergaulan sosial sebagaimana profesi lain dan kalau boleh juga ingin juga 
mampu > bisa bermain golf, liburan ke Singapura, Eropah, Australia, Naik Haji, 
ke Jerusalem, dan sebagainya (kalau yang terakhir mimpi kali ye?)> Tapi apa 
iya? Si Junior tanya saya. Lalu saya coba mendata satu per satu senior-senior 
saya, ternyata memang masih cukup banyak senior saya yang dari satu Konsultan, 
kemudian naik bis ke konsultan lainnya, malamnya, naik bis lagi ke konsultan 
lainnya dan tidur di sana.  Kalau sudah dapat honor  yang kadang kala 
tergantung dari tagihan proyek meski pun perjanjiannya tidak seperti itu, baru 
dia kirim ke istrinya. Menjelang proyek selesai, sudah mulai sibuk kontak sana 
sini, supaya tahun berikutnya di pake lagi.> Kembali ke laptop.> Saya pikir, 
kita perlu menyatukan ide, apa yang harus kita keroyok secara rame2, sehingga 
memberikan sumbangsih bagi Planologi, terutama bagi calon lulusan planologi, 
yang akan membuat mereka optimis dan bangga dengan gelar yang akan mereka 
sandang. > Kenapa perlu disatukan? Kalau tidak, tentunya masing-masing akan 
beranggapan ide nya yang paling tepat. Mari kita bagi desa dan kota, pasti akan 
ada yang mengatakan desa yang paling tepat, tapi akan banyak yang mengatakan 
kota paling tepat. > Last but not least, saya mohon maaf kalau karena tulisan 
saya membuat ibu jadi malu menjadi lulusan perencana, dari itb pula. Saya ingat 
waktu kuliah, kalau dosen memberikan kesempatan bertanya, saya tidak bertanya 
karena di pikiran saya wah pertanyaan saya terlalu dangkal, jadi malu, ketahuan 
kalau saya tidak pernah belajar atau terlalu bodoh. Tapi ada teman saya yang 
suka bertanya, meski pun sering di ledek oleh teman2 pertanyaannya, tapi 
sekarang sudah menjadi doktor di bidang pengembangan wilayah.> > Horas.> > --- 
On Mon, 20/10/08, Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:> From: Reny ansih 
<[EMAIL PROTECTED]>> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?> 
To: [email protected]> Date: Monday, 20 October, 2008, 11:29 AM> > > > 
> > > > > > > > Horas pak Hotasi....> Anda ini bagaimana sih kok masih 
bertanya, saya mulai merasa malu sebagai lulusan perencana, dari itb pula 
lagi........ ... malu rasanya kita cuma berdebat, malu cuma berargumentasi, 
malu karena mau ngeberesin lingkungan sekitar rumah saja ga ada yang mau 
mendengar... ... sudah ga tau mau memulai dari mana untuk membereskan kampung, 
jangan kota dulu deh.......> Salam - 2ny> > --- On Sun, 10/19/08, hotasi> 
simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> wrote:> From: hotasi simamora 
<hotasisimamora@ yahoo.com>> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau 
Industri?> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com> Date: Sunday, October 19, 2008, 10:18 
AM> > > > > > > > > > Saya cukup prihatin juga mengenai kondisi perdebatan yang 
diawali dengan cepatnya kita memberikan kesimpulan dalam sesuatu hal. Hal ini 
terjadi dalam berbagai hal, dari kasus Lumpur Sidoarjo, sampai kondisi dampak 
ekonomi global yang ada sekarang. Yang paling saya prihatinkan adalah bahkan 
kesimpulan tersebut menjadi sebuah KEBENARAN MUTLAK, coba kita ikuti dari 
sidang-sidang Kasus Monas, Kasus Korupsi, Pembuatan RUU Anti Pornografi.> 
Beberapa waktu yang lalu, saya nonton  debat di tv Mengenai Anak PKI (yang 
anggota DPR dari PDIP), ada satu orang sedemikian ngototnya mengatakan SIAP 
BERHADAPAN dengan mereka (ANAK2 PKI tentunya), demikian juga> ketika orang 
berunjuk rasa di depan istana meminta Papua Merdeka, langsung ada sekelompok 
orang yang mengatakan bahwa mereka pemberontak. > Jangan-jangan, saya sebagai 
alumni planologi akan dikatakan perusak> negara. Coba simak berbagai bencana 
alam yang ada serta korban yang sudah sedemikian banyak, trus dikatakan 
semuanya adalah tanggung jawab ahli penataan ruang wilayah. Kemudian kemacetan 
lalulintas yang sudah sedemikian parahnya, kemana ahli perencana kota? Percuma 
negara memberi subsidi yang besar terhadap perguruan tinggi yang menghasilkan 
ahli perencana kota.> Saya akan lebih setuju, kita menggugat misalnya "Hoi para 
ahli perencana kota, kemana saja koq Jakarta macet gini? Padahal Fauzi Bowo 
sudah serahkan pada ahlinya?" Kemudian, berbondong-bondongl ah para planolog 
bangkit, dari mulai menulis secara bertubi-tubi dengan argumentasi ilmiah, 
pengalaman praktis, sampai dengan ajakan berdemo kepada Fauzi Bowo menuntut 
Kapan Fauzi Bowo serahkan kepada Ahli Perencana Kota untuk menyelesaikan 
berbagai Permasalahan Kota Jakarta?> > Horas,> > Hot Asi Simamora> --- On Sun, 
19/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>> wrote:> From: Djarot Purbadi 
<[EMAIL PROTECTED] com>> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau 
Industri?> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com> Date: Sunday, 19 October, 2008, 8:20 
AM> > > > > > > > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek 
sebagai perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini (mungkin 
juga masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi yang 
merusak dunia ini dibubarkan saja ?> > Memang merupakan sebuah misteri 
penciptaan, bahwa ciptaan selalu diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang 
baik dan yang buruk; malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi 
selalu juga ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya 
berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. > > Bagaimana 
argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah penyandang dosa utama 
adalah profesi> arsitek. Heheheee.... nyuwun pencerahan, sebab saya masih 
mendosen di institusi yang mendidik para arsitek....jangan- jangan semua dosa 
ditumpahkan seluruhnya pada kami...heheheee. ...terus apa> saran dan nasihatnya 
dari mantan arsitek seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para 
perusak untuk mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar 
heheheee.... bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi 
yang memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak ini....mumpung 
masih ada di dalamnya.... .> > Salam,> > > > Djarot Purbadi> > > > 
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com> > http://fenonemologi arsitektur. 
wordpress. com> > --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL 
PROTECTED] com> wrote:> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>> 
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?> To: [EMAIL 
PROTECTED] ps.com> Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM> > > > > > > > > 
Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,> > Saya jadi teringat waktu masih 
ngarsitektur dulu, ada istilah  "muddling  through" atau "barefood 
architect".. .> itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi 
bagi rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang 
sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya mulai 
sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, dan masih 
berlanjut hingga saat ini).> > > > > > > > ____________ _________ _________ 
_________ _________ __> Do You Yahoo!?> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best 
spam protection around > http://mail. yahoo.com > > > > > > > Send instant 
messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com > > > > > > > 
____________ _________ _________ _________ _________ __> Do You Yahoo!?> Tired 
of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. 
yahoo.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Send instant messages 
to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com> 





_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke