Bu 2ny, ysh
Saya tidak perlu malu lulus dari Planologi ITB, karena bertanya dan bertanya 
terus. Justru karena hal-hal "sepele" tersebut lah muncul banyak  ide baru, 
penemuan baru, pemikiran baru, termasuk peraih nobel yang senantiasa bertanya 
dan bertanya. Planologi sudah 50 tahun, dan mungkin karena para perencana kita 
berhenti bertanya sehingga gaung para perencana kota (dalam tulisan di 
referensi ini, cuma saya lupa siapa yang nulis, pernah diungkapkan bahwa 
pekerjaan perencana wilayah adalah pekerjaan keroyokan dari berbagai multi 
disiplin bukan ide perencana wilayah). Beda halnya misalnya dengan para ahli 
arsitektur, sipil, ekonom, dst. Istiqlal, merupakan salah satu produk 
arsitektur anak bangsa, borobudur, pondasi cakar ayam, dst.
Saya hanya "provokator" bagi para senior saya, sehingga bangkit dan mulai 
saling bertanya, hayu, kita memulai sesuatu untuk menghasilkan suatu produk 
kebanggaan para perencana. Kita keroyok rame-rame.
Saya sangat menghargai, kalau ada para senior saya yang senang beropini secara 
disiplin ilmu, tapi saya juga akan ikut mensupport kalau kita buat suatu produk 
monumental di bidang penataan ruang, yang mungkin bisa memberikan kebanggaan 
bagi para junior kelak.
Mengenai kebanggaan sebagai lulusan planologi, saya pernah digugat oleh junior 
(tapi anggaplah yang mengguggat tersebut seorang yang frustasi, tapi karena 
saya tidak bisa memberikan jalan keluar kefrustasiannya, saya pun tidak 
mengatakan dia salah atau benar). Menurut sang junior tersebut, seorang lulusan 
perencana wilayah apalagi dari itb, bisa saja bangga dengan itu (the few, the 
proud, the planner, sebagaimana dulu motto himpunan planologi), tapi kebanggaan 
itu akan menjadi riil ketika profesi itu mampu membuat seseorang bisa  
melindungi keluarganya dari panas dan  hujan dengan  standar  yang wajar,  
mampu  memberangkatkan anak-anaknya  sampai ke jenjang PT (masa saya yang anak 
petani lulusan  SD mampu dibiayai  orangtua sampai lulus dari itb,  tapi saya 
setelah lulus itb hanya mampu  membiayai anak sampai lulus SD, apa kata 
dunia?), mampu  membayar biaya  pergaulan sosial sebagaimana profesi lain dan 
kalau boleh juga ingin juga mampu 
 bisa bermain golf, liburan ke Singapura, Eropah, Australia, Naik Haji, ke 
Jerusalem, dan sebagainya (kalau yang terakhir mimpi kali ye?)
Tapi apa iya? Si Junior tanya saya. Lalu saya coba mendata satu per satu 
senior-senior saya, ternyata memang masih cukup banyak senior saya yang dari 
satu Konsultan, kemudian naik bis ke konsultan lainnya, malamnya, naik bis lagi 
ke konsultan lainnya dan tidur di sana.  Kalau sudah dapat honor  yang kadang 
kala tergantung dari tagihan proyek meski pun perjanjiannya tidak seperti itu, 
baru dia kirim ke istrinya. Menjelang proyek selesai, sudah mulai sibuk kontak 
sana sini, supaya tahun berikutnya di pake lagi.
Kembali ke laptop.
Saya pikir, kita perlu menyatukan ide, apa yang harus kita keroyok secara 
rame2, sehingga memberikan sumbangsih bagi Planologi, terutama bagi calon 
lulusan planologi, yang akan membuat mereka optimis dan bangga dengan gelar 
yang akan mereka sandang. 
Kenapa perlu disatukan? Kalau tidak, tentunya masing-masing akan beranggapan 
ide nya yang paling tepat. Mari kita bagi desa dan kota, pasti akan ada yang 
mengatakan desa yang paling tepat, tapi akan banyak yang mengatakan kota paling 
tepat. 
Last but not least, saya mohon maaf kalau karena tulisan saya membuat ibu jadi 
malu menjadi lulusan perencana, dari itb pula. Saya ingat waktu kuliah, kalau 
dosen memberikan kesempatan bertanya, saya tidak bertanya karena di pikiran 
saya wah pertanyaan saya terlalu dangkal, jadi malu, ketahuan kalau saya tidak 
pernah belajar atau terlalu bodoh. Tapi ada teman saya yang suka bertanya, 
meski pun sering di ledek oleh teman2 pertanyaannya, tapi sekarang sudah 
menjadi doktor di bidang pengembangan wilayah.

Horas.

--- On Mon, 20/10/08, Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [email protected]
Date: Monday, 20 October, 2008, 11:29 AM










    
            Horas pak Hotasi....
Anda ini bagaimana sih kok masih bertanya, saya mulai merasa malu sebagai 
lulusan perencana, dari itb pula lagi........ ... malu rasanya kita cuma 
berdebat, malu cuma berargumentasi, malu karena mau ngeberesin lingkungan 
sekitar rumah saja ga ada yang mau mendengar... ... sudah ga tau mau memulai 
dari mana untuk membereskan kampung, jangan kota dulu deh.......
Salam - 2ny
 
--- On Sun, 10/19/08, hotasi
 simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> wrote:
From: hotasi simamora <hotasisimamora@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Sunday, October 19, 2008, 10:18 AM







    
            
Saya cukup prihatin juga mengenai kondisi perdebatan yang diawali dengan 
cepatnya kita memberikan kesimpulan dalam sesuatu hal. Hal ini terjadi dalam 
berbagai hal, dari kasus Lumpur Sidoarjo, sampai kondisi dampak ekonomi global 
yang ada sekarang. Yang paling saya prihatinkan adalah bahkan kesimpulan 
tersebut menjadi sebuah KEBENARAN MUTLAK, coba kita ikuti dari sidang-sidang 
Kasus Monas, Kasus Korupsi, Pembuatan RUU Anti Pornografi.
Beberapa waktu yang lalu, saya nonton  debat di tv Mengenai Anak PKI (yang 
anggota DPR dari PDIP), ada satu orang sedemikian ngototnya mengatakan SIAP 
BERHADAPAN dengan mereka (ANAK2 PKI tentunya), demikian juga
 ketika orang berunjuk rasa di depan istana meminta Papua Merdeka, langsung ada 
sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka pemberontak. 
Jangan-jangan, saya sebagai alumni planologi akan dikatakan perusak
 negara. Coba simak berbagai bencana alam yang ada serta korban yang sudah 
sedemikian banyak, trus dikatakan semuanya adalah tanggung jawab ahli penataan 
ruang wilayah. Kemudian kemacetan lalulintas yang sudah sedemikian parahnya, 
kemana ahli perencana kota? Percuma negara memberi subsidi yang besar terhadap 
perguruan tinggi yang menghasilkan ahli perencana kota.
Saya akan lebih setuju, kita menggugat misalnya "Hoi para ahli perencana kota, 
kemana saja koq Jakarta macet gini? Padahal Fauzi Bowo sudah serahkan pada 
ahlinya?" Kemudian, berbondong-bondongl ah para planolog bangkit, dari mulai 
menulis secara bertubi-tubi dengan argumentasi ilmiah, pengalaman praktis, 
sampai dengan ajakan berdemo kepada Fauzi Bowo menuntut Kapan Fauzi Bowo 
serahkan kepada Ahli Perencana Kota untuk menyelesaikan berbagai Permasalahan 
Kota Jakarta?

Horas,

Hot Asi Simamora
--- On Sun, 19/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
 wrote:
From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Sunday, 19 October, 2008, 8:20 AM







    
            Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai 
perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini (mungkin juga masa 
depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi yang merusak dunia 
ini dibubarkan saja ?

Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu diciptakan 
menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; malaikat atau setan, 
kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu juga ada demikian, praktek profesi 
yang baik dan yang buruk, semuanya berbasis nilai-nilai yang diyakininya 
masing-masing. 

Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah penyandang 
dosa utama adalah profesi
 arsitek. Heheheee.... nyuwun pencerahan, sebab saya masih mendosen di 
institusi yang mendidik para arsitek....jangan- jangan semua dosa ditumpahkan 
seluruhnya pada kami...heheheee. ...terus apa
 saran dan nasihatnya dari mantan arsitek seperti bapak ? Lha mengapa bapak 
tidak taat di dunia para perusak untuk mengubahnya dari dalam, bukan melempari 
batu dari luar heheheee.... bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya 
punya posisi yang memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak 
ini....mumpung masih ada di dalamnya.... .

Salam,



Djarot Purbadi



http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com

--- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM







    
            Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,

Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah  "muddling  
through" atau "barefood architect".. .
itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi bagi rakyat 
yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang sipengguna 
harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya mulai sadar bahwa 
arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, dan masih berlanjut hingga 
saat ini).



 
         
        
        
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 
      


         
        
        
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 
      


         
        
        
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke