he he mas BTS bisa saja, tapi kenyataannya demikian. Saya 6 bulan di yahukimo, yang dulunya hanya 3 distrik dalam waktu 3 tahun sudah menjadi 51 distrik (kecamatan) dan desanya hampir 500 kampung. Memang kampung (desa) disana tidak ada dukuhnya RW atau RT mas, satu kampung itu terdiri dari hanya 5-10 honei. Mereka rata-rata tidak mau digabung dengan kelompok honei lain, jadi terpaksa satu kelompok honei menjadi satu kampung (desa).
Salam Aunur Rofiq --- On Tue, 2/17/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: > From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] dana respek gubernur papua > To: [email protected] > Date: Tuesday, February 17, 2009, 1:39 PM > Bu Any ysh, > > Kalau Kabupaten Yahukimo berpenduduk sekitar 10 ribu > menjadi 500 desa, maka masing-masing desa berpenduduk 20 > orang. Organisasi desa membutuhkan sedikitnya 10-15 orang > antara lain : Kepala Desa (1), Sekdes (1), Badan > Pertimbangan Desa (3), Ur. Pemerintahan (1), urusan Ekonomi > dan Pembangunan (1), Ur.. Kesejahteraan (1), Ur. Keuangan > (1), Ur. Tatib (1)....sudah 10 orang. Jadi 10 orang pegawai > desa mengurus 10 orang. > > Thanks. CU. BTS. > > --- On Tue, 2/17/09, any susiani > <[email protected]> wrote: > > From: any susiani <[email protected]> > Subject: [referensi] dana respek gubernur papua > To: [email protected] > Date: Tuesday, February 17, 2009, 5:39 AM > > > > > > > > > > > ikut kasih pandangan... .karena kebetulan ketika minggu > kemarin saya mempunyai kesempatan diundang makan malam oleh > Pak Bas dengan wakil bupati dari Yahukimo (kabupaten yang > masih berseteru dengan asmat soal suru-suru),beliau > menceritakan bahwa akibat pemberiaan dana respek sebesar 100 > juta setiap kampung tersebut beberapa kabupaten malah > memecahkan kampungnya sehingga dalam satu kabupaten ada yang > mencapai 500 desa,bayangkan. .. > entah ada penduduknya atau tidak kampung tersebut... > berarti ada yang salah tangkap dari keinginan > gubernur.faktor pengembangan sumber daya manusia mungkin > menjadi faktor penting dalam pengembangan papua... > > > > > --- Pada Sel, 17/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. > com> menulis: > > Dari: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> > Topik: [referensi] Re: Sepeda Re: UU27/2007 Jalan Keluar or > Jalan Buntu? > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com > Cc: pl...@yahoogroups. com > Tanggal: Selasa, 17 Februari, 2009, 11:56 AM > > > > > > > > > > Prof Abim ysh, > > Kota dgn konsep sepeda utk Papua maap… saya maunya > pilih2….. yg saya setujui adalah pertama utamanya lbh utk > kawasan2 seperti Papua Selatan (Merauke, Timika, Agat), > Teminabuan atau lembah muara sungai Mamberamo serta kawasan2 > yg pokoknya topografiknya relatif landai ……Kalau utk > kawasan yg topografiknya miring sampai 45 derajat dimana > utk jalan kaki saja orang harus setengah “memanjat”…. > Bgmn mau bersepeda…. Utk naik saja sepedanya musti > dituntun… dan utk turunnya…. Ya kalau remnya pakem…. > Gimana dong bos kalo remnya blong?...... .... > Salam dari aby > > --- On Mon, 2/16/09, abimanyu takdir alamsyah > <takdi...@gmail. com> wrote: > > From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan > Keluar or Jalan Buntu? > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Monday, February 16, 2009, 4:00 PM > > > > > Pak Is, > > Saya setuju anda. Papua sangat luas, lebih luas beberapa > kali dari Jawa, dengan penduduk lebih sedikit dan lebih > tersebar dengan banyak ragam budaya lokal. Tentu kondisi > kultural yang berbeda menuntut pendekatan yang tidak > stereotype seperti di kota-kota Jawa. Apakah konsep sepeda > suatu yang wajar atau justru konsep baru bagi mereka yang > lebih banyak jalan. Mungkin kota dengan konsep sepeda (16 km > / jam) akan mencakup kawasan seluas Kebayoran Baru (awal). > Sedangkan konsep kota berbasis jalan kaki seperempatnya. > Alat transport sepeda harus import dari luar Papua (istilah > import lebih jelas, walau tidak selalu dari luar negara). > Begitu import sepeda lalu import sepeda motor yag bisa > menguasai jalan sepeda dan jalan orang, artinya import BBM. > Peningkatan konsumsi sudah jelas, bagaimana dengan > peningkatan produksi dan pasarnya yang mampu memberi > penghasilan lebih besar daripada peningkatan kebutuhan > barang import yang di introduksi tersebut ? dsb, dst. > > Mungkin yang lebih sesuai, kota pantai yang sudah ada dapat > dikembangkan. Yang kondisinya sudah terpolusi konsep Jawa ya > boleh dah rekan-rekan berotak kota Jawa bereksperimen di > sana. Namun peningkatan permukiman berkonsep perdesaan (yang > lebih maju tentu) justru mungkin lebih membumi. Apalagi kota > selalu minta "disangga" sumber daya alam desa. > Bagaimana kalau desanya belum kuat? import lagi? Apalagi > bila kita tidak ingin perkembangan perekonomian Papua cuma > didominasi oleh "sumbangan keberlanjutan keberadaan > Freeport" saja. Banyak planner, juga yang berasal dari > pulau ini, yang basis pembangunannya bukan kota tapi > pembangunan perdesaan (halo rekan-rekan PWD, apa > kabar?)....yang pentingkan tingkat kesejahteraannya > meningkat, daya dukung lingkungannya lebih lestari. > > Artinya, kembangkanlah wilayah setempat sesuai dengan > potensi dan peluang keberlanjutan peningkatan kualitas > daerahnya masing-masing. Jangan mengintroduksi unsur luar > yang belum teruji kesesuaiannya bagi tempat tersebut. > > Salam, > Abimanyu > > > > On Tue, Feb 17, 2009 at 5:31 AM, <isoedradjat@ > yahoo.com> wrote: > > > > > > > Pak Rofiq. > 1/3 penduduk Papua tinggal di daerah pantai, 2/3 nya > tinggal di bagian Tengah di gunung2, entah namanya apa, yg > jelas bukan desa menurut presepsi kita2 ini. Yang di pantai > mungkin bisa dilakukan pendekatan "seperti Jawa", > Tata Ruang Kek, site planning, atau apalah yg kite2 udah pd > pinter. Tapi paling ngga, kalau kita pandai pengolahnya, > akan menjadi pusat pertumbuhan atau paling ngga sbg pusat > kebudayaan (Teorinya kan gitu?), yg bisa menarik Kang > Kabayan, Crocodile Dandy dan Aktor the God must be Crazy > tinggal di kota. Nah, yg digunung ini kite kagak tahu, > mungkin perlu diawali dgn budaya cocok tanam dulu, misal > budaya intensi tanam ubi, padi, kemudian tahap berikutnya > budaya transportasi. Sayang, kalau kita bikin jalan raya, yg > digunung kan budayanya masih budaya jalan kaki, belum > ditambah budaya eksclusive antar kelompok2. Sorry, ikut > nimbrung. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > From: Aunur rofiq > Date: Mon, 16 Feb 2009 04:27:03 -0800 (PST) > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > > > > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan > Keluar or Jalan Buntu? > > > > > > Pak Nuzul, > Itu mimpi pak Bas sejak dulu, mudah-mudahan beliau bisa > mewujudkannya di periode sekarang. Tapi saya khawatir dengan > memberi dana per kampung 100 juta rupiah...... .beberapa > kampung mungkin bisa memanfaatkan tetapi ribuan (bukan > ratusan pak) yang lain masih sulit dibayangkan > > Salam > Aunur Rofiq > > --- On Mon, 2/16/09, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> > wrote: > > > From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> > > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 > Jalan Keluar or Jalan Buntu? > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Monday, February 16, 2009, 11:25 AM > > Pak Aby, > > > > He he he.. pak Aby, kok minta tolong ke saya sih.. > langsung > > saja pak Aby > > kasih saran. Pada seminar "Sustainable > Development > > Papua" tahun lalu, > > sebenarnya banyak usulan agar permukiman kecil dengan > > jumlah penduduk yang > > sangat sedikit dikelompokkan saja dalam suatu > permukiman > > sehingga lebih > > mudah untuk membuat akses jalan. Tetapi ini tentu > perlu > > dukungan argumentasi > > antropologis apakah permukiman ini bisa disatukan. > > > > Seperti saya kemukakan sebelumnya, fokus perencanaan > Papua > > ke depan dimulai > > dari desa. Tapi saya yakin, pembangunan perkotaan > tentu > > tidak akan diabaikan > > begitu saja. > > > > Salam hangat, > > > > Nuzul Achjar > > > > > > > > Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web > Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online

