Pak Eka dan Rekan Ysh,
 
Kalaulah saya diminta pendapat tentang mana yang penting SDA dan SDM, ya sama 
sama penting untuk saat ini. Strategi pengembangan perekonomian berdasarkan SDM 
harus disiapkan sedini mungkin, sehingga devisa SDA bisa menghasilkan SDM dan 
kapasitas teknologi yang meningkatkan nilai tambah penggunaan sumberdaya alam 
itu sendiri.
 
Betul Pak Eka, kalau saya tidak salah memang perekonomian Jepang sangat 
tergantung kepada perekonomian domestiknya, dan tergantung pada SDM sebagai 
penggerak ekonomi dan juga customer (internal economy). Sehingga dua pandangan 
dalam pembangunan perekonomian pandangan distribusi (welfare) dan pandangan 
pertumbuhan (melalui ekspor yang menghasilkan devisa) sering menjadi 
perdebatan. Sekarang kita mulai membicarakan ‘daya beli masyarakat’ konsepnya 
bisa kesejahteraan (akses kepada ekonomi) atau pertumbuhan ‘internal economy’ 
sebagai penciptaan deman efektif.
 
Setelah ‘bubble economy’ kira-kira pertengahan 1980an sehingga terjadi exodus 
industri Jepang ke manca negara (hollowing-out) sebenarnya Jepang tengah 
mengalami krisis kecil perekonomian yang agak sustainable. Ketika itu di banyak 
literatur para ahli Jepang mengharapkan terjadinya ‘babby boom’ seperti pada 
era 1960an, agar konsumsi meningkat dan pabrik ngepul lagi. Newly married dan 
children lebih konsumtif dan produktif dibandingkan orang tua sepertinya 
begitu. Sebenarnya yang terjadi adalah umur menikah meningkat (lelaki terlalu 
terkooptasi bekerja di perusahaan, wanita justru semakin mandiri), banyak 
keluarga Jepang sibuk kerja suami istri dan tidak punya anak, dan orang tua 
semakin panjang umur karena sehat. Sampai terjadi fenomena orang tua (60 tahun) 
memelihara orang tua (90 tahun), ini yang disebut fenomena ‘aging society’. 
Jadi pertumbuhan penduduk di tahun 1980an adalah karena panjangnya usia 
sungguhpun angka kelahiran kecil sekali.
 
Pada grafik Pak Eka titik puncak di tahun 2000an mulai terlihat dampak kecilnya 
angka kelahiran dan mulai meninggalnya orang tua yang lahir di tahun 1920an.
 
Fenomena aging society lainnya di akhir 1980an Jepang berupaya merekayasa 
pembentukan kota High-tech di Utara Australia untuk memanfaatkan tenaga ahli 
pensiunan mereka, begitu pentingnya produktifitas manusia bagi mereka. 
Singapura dan Jepang mempunyai fenomena yang sama yaitu rakyatnya bekerja untuk 
pemerintah (mereka kaya setelah pensiun, ketika tidak bisa lagi menikmati 
lezatnya kolesterol). Bisnis pensiunan ini merupakan bisnis jasa yang cukup 
besar di Jepang, termasuk rumah jompo dan pelayanan livelihood orang tua.
 
Memang antara Malaysia dan Indonesia serta negara-negara Asia lainnya telah 
terjadi division of labor lintas negara. Malaysia dengan penduduk yang sedikit 
harus pintar-pintar mengelola ekonominya. Malaysia secara tradisional selalu 
bersaing dengan Singapura (musuh bebuyutan). Singapura menjadi international 
hub capital lintas negara, Malaysia juga ingin, maka diciptakanlah KL Global 
city scheme dan Cyberjaya serta Putera Jaya. Pembangunan Malaysia setelah 
transformasi sistem Inggris, terutama pada era Mahathir memang banyak mencontoh 
Jepang (Malaysia Truly Asia). Sebagai trading hub mereka harus mempertahankan 
efisiensi industri pengolahan serta kunci-kunci perdagangan komoditi (contohnya 
minyak atsiri dari Indonesia).
 
Perusahaan Malaysia sekarang mulai menciptakan platform-platform di Indonesia 
karena mereka kekurangan blue collar labor, deman, disamping memanfaatkan TKI. 
Sayangnya, beberapa studi menunjukkan remiten dari TKI belum memberikan dampak 
pembangunan yang sustainable di perdesaan di Indonesia karena kurang 
dipersiapkan untuk menciptakan deman di perdesaan. Saya setuju dengan Pak BTS 
neoliberalisme di Malaysia menciptakan ketergantungan yang amat sangat kepada 
pecuniar capital (uang). 
 
Modernisasi pasar tradisional seperti program Mas Prabowo harus betul-betul 
disiasati dengan baik karena bisa memarginalkan sebagian pelaku pasar. Tukang 
beca masih bisa mengantarkan penumpang sampai ke pagar rumah. Orang Indonesia 
masih bisa ngutang di Mang Udin (sungguhpun Mang Udin bukan Bankir), pasar 
seperti apa ini? Pasar dengan modal sosial yang kental?. Bio-etanol bisa 
menciptakan 'kartelisasi' yang baru setelah fosil fuel?.  
 
Tentang program 8 Program Mas Prabowo saya kawatir semua Capres sekarang punya 
program yang mirip. Masalahnya pelaksanaannya seperti apa, bagaimana strategi 
dan kebijakan itu dibuatkan instrumennya dan disusun rencana pelaksanaannya. 
Program nya semua serba fisik, kelembagaan masyarakat, kapasitas teknopreneur 
masyarakat, inovasi dan good governancenya mana ya, Mas Prabowo?
 
Indra B Syamwil

 


To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Fri, 13 Mar 2009 18:08:34 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto






Setuju Bu Cut, kelihatannya kita selalu 'satu hati'.
 
Setuju Pak BTS, itu bila 'dana' sudah menjadi 'modal pembangunan', seperti 
kasus Zimbabwe. Padahal kebijakan nasional kita menyebutkan bila 'modal 
pembangunan' itu adalah sdm, kekayaan alam, dst; sehingga akhirnya melahirkan 
istilah-istilah seperti penatagunaan tanah, penatagunaan udara, penatagunaan 
air, dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Permasalahan terpenting adalah 
: mudeng nggak kita dengan istilah-istilah ini?

Jepang sedikit yang saya ketahui sudah menjadikan sdm sebagai modal 
pembangunan. Pertumbuhan sdm seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Mohon periksa 
lampiran, bahan yang saya peroleh dari Onishi, Mohon dilihat 'stepping'nya bila 
kemajuan ekonomi selalu seiring dengan kemajuan sdm, terkecuali 'fenomena baru' 
pasca 2000; namun ini pun terpatahkan dengan 'fenomena China'.
 
Kunci lain saya kira 'privatisasi', sehingga sebenarnya semua program kecuali 1 
dan 7 itu bisa diserahkan kepada 'non-Pemerintah'. Namun perlu kita minta 
pendapat Pak Indra dkk yang lebih memahami kasus Jepang 'dan Malaysia' ini. 
Salam.
 
-ekadj

 
2009/3/13 cut safana [email protected]








Para milister Ysh,
Untuk bangsa kita saat ini yang diperlukan  tidak hanya sekedar  program 
(termasuk cara penyediaan dana), tetapi yang paling penting nantinya adalah 
bukti/realisasi program (tidak sekedar out put, tetapi  out come & impac nya). 
Contoh kecil : program tabung gas + kompor gas, mohon dichek siapa saja yang 
menerimanya ? (kriteria penerima subsidi tidak terlaksana dengan baik, yang 
penting programnya jalan, dan LAKIP 100 %  ....???????).
 
Cerita berikut nyambung atau tidak, tetapi membuat saya nelongso, btw  beberapa 
minggu yll saya  ke negara tetangga Malaysia (yang nota bene sering tidak 
dianggap oleh bangsa kita). Saya menyewa taksi yang kebetulan supirnya warga 
negara RI asal Medan dan memperistri orang Malaysia. Ngobrol ngolor ngidul, si 
supir mengatakan (kalimat asli) : "disini Bu, Pemerintah menganggap penduduk 
itu aset negara, masyarakat yang sangat tidak mampu diberikan kesempatan 
memiliki apartemen dengan harga murah; anak saya yang perempuan dikuliahkan ke 
Amerika; orang bawahan bisa makan seperti apa yang dimakan oleh 
menteri".................dst, dst. Saya hanya terdiam; tidak heran jika 
mendengar ini  di negara maju seperti Amerika atau Eropah. Patutlah Malaysia 
mengirim puluhan orang mahasiswa beasiswa setiap tahunnya ke Indonesia, 
pemerintah mereka sedang merajut pondasi (termasuk jiwa/karakter) yang kokoh 
untuk kemaslahatan rakyatnya kedepan................
Salam..............




From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, March 13, 2009 11:38:04 AM
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto









Bung Eka, dana tidak bisa dicetak begitu saja. Nanti kayak Zimbabwe dengan 
inflasi 66.212%. Kalau Jepang gimana?
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Fri, 3/13/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:



From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
To: refere...@yahoogrou ps.com 



Date: Friday, March 13, 2009, 4:53 AM





Salam pak. "Dana" bisa dicetak dalam waktu cepat. Namun tantangannya bagaimana 
program itu bisa dilaksanakan tanpa harus mencetak 'dana', seperti pengalaman 
Jepang. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@. ..> 
wrote:
>
> Dear all.
> Â 
> Ada satu program yang perlu ditambahkan yaitu bagaimana mendapatkan 
> dana/investasi  untuk membiayai ke-8 program tersebut.
> Â 
> Thanks. CU. BTS.
> 
> --- On Thu, 3/12/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@... wrote:
> 
> 
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@...
> Subject: [referensi] 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Thursday, March 12, 2009, 8:45 AM
> 
> Ada yang minta dikritik, nih.
> Dipersilahken,….
> Â 
> 
> Best Regards,
> Â 
> Benedictus Dwiagus S.
> 
> 
> Â (dari milis pembaca kompas)
> 
> Posted by: "Prabowo Subianto" salam.prabowo@ yahoo.com   salam.prabowo 
> Wed Mar 11, 2009 3:19 pm (PDT) 
> 
> Saudara-Saudara FPKÂ yang saya banggakan,
> 
> Jika mendapatkan lampu hijau dari Saudara Agus Hamonangan, Moderato r, saya 
> ingin mempost-kan 8Â program yang saya tawarkan dan mulai iklankan hari ini. 
> Mengingat Saudara semua di sini tajam wawasan, dalam, mengritisi usulan 
> program ini. Saya ingin mendengar komentar-komentar Saudara di sini.
> 
> Jika tak keberatan juga di-CC-kan di: tinyurl.com/ prabowo, di forum diskusi 
> akan sangat bermanfaat.
> 
> 
> Membangun Kembali Indonesia Raya
> 8 Program Aksi Untuk Kemakmuran Rakyat
> 
> 1. Menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri
> 
> - Mengalihkan dana pembayaran utang luar negeri sebagai modal untuk membiayai 
> program pendidikan, kesehatan, pangan dan energi, yang murah serta ramah 
> lingkungan.
> 
> 2. Menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan.
> 
> - Menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan ujung tombak kebangkitan ekonomi.
> - Menghentikan penjualan aset negara yang strategis atau yang menguasai hajat 
> hidup orang banyak.
> - Meninjau kembali semua kontrak pemerintah yang merugikan kepentingan 
> nasional.
> - Mewajibkan eksportir nasional yang menikmati fasilitas kredit dari negara 
> untuk menyimpang dana hasil ekspornya di bank dalam negeri.
> - Membangun industri pengolahan untuk memperoleh nilai tambah.
> 
> 3. Melaksanakan ekonomi kerakyatan
> 
> - Mencetak 2 juta Ha lahan baru untuk meningkatkan produksi beras, jagung, 
> kedelai, tebu yang dapat memperkerjakan 12 juta orang.
> - Mencetak 4 juta Ha lahan untuk aren (bahan baku bio etanol) yang dapat 
> mempekerjakan 24 juta orang.
> - Membangun pabrik pupuk ureak dan NPK dengan total kapasitas 4 juta ton.
> - Memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi 
> rakyat kecil.
> - Membangun sarana transportasi massal.
> - Modernisasi pasar tradisional untuk pedagang kecil.
> - Meningkatkan pendapatan per kapita dari USD 2.000 menuju USD 4.000
> 
> 4. Delapan program desa
> 
> - Listrik desa.
> - Bank dan lembaga keuangan desa.
> - Koperasi desa, lumbung desa, pasar desa.
> - Air bersih desa.
> - Klinik desa.
> - Pendidikan desa.
> - Infrastruktur pedesaan dan daerah pesisir.
> - Rumah sehat pedesaan.
> 
> 5. Memperkuat sektor usaha kecil
> 
> - Prioritas penyaluran kredit perbankan kepada petani, nelayan dan pedagang 
> kecil.
> - Melarang penyaluran kredit bank pemerintah untuk pembangunan perumahan dan 
> apartemen mewah, mall, serta proyek-proyek mewah lainnya.
> - Melindungi pedagang pasar tradisional dengan melarang pembangunan pasar 
> swalayan berskala besar yang tidak sesuai undang-undang.
> - Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh migran (TKI).
> 
> 6. Kemandirian energi
> 
> - Membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air (10.000 MW).
> - Menyediakan sumber energi dengan mendirikan kilang-kilang minyal, pabrik 
> bio etanol dan pabrik DME (pengganti LPG).
> - Membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren - dengan sistim tanam 
> tumpangsari - untuk produksi bahan bakar etanol, sebagai pengganti BBM impor. 
> Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan 
> bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan 
> sekitar 56 juta mt etanol/tahun) .
> 
> 7. Pendidikan dan kesehatan
> 
> - Mencabut undang-undang bahan hukum pendidikan.
> - Pencabut pajak buku pelajaran dan menghentikan model penggantian buku 
> pelajaran setiap tahun.
> - Melaksanakan kembali program KB (Keluarga Berencana).
> - Meningkatkan peran PKK, Posyandu dan Puskesmas.
> - Menempatkan sarjana dan dokter baru melalui program pemerintah terutama di 
> kantong-kantong kemiskinan.
> - Menggerakkan revolusi putih dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin.
> 
> 8. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup
> 
> - Melakukan penghijauan kembali 59 juta Ha hutan yang rusak serta konservasi 
> aneka ragam hayati dan hutan lindung.
> - Mengamankan dan merehabilitasi daerah aliran sungai.
> - Mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan.
> - Melindungi flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa.
> 
> Haluan baru. Pemimpin baru. Terobosan baru.
> 
> 
> Terima kasih saya, 
> 
> 
> Prabowo Subianto
> Ketua Dewan Pembina
> Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)




. 






_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke