Terima kasih Pak Indra, saya dengar perbanyakan penduduk itu didorong
oleh Pemerintah pasca PDII, mengingat drop-nya jumlah penduduk masa itu
akibat perang. Dorongan itu tentunya dengan telah memperhitungkan segala
'konsekuensi'-nya. Namun menarik diperhatikan bila 'kebangkitan ekonomi'
kongkruen dengan 'kebangkitan jumlah penduduk', mohon dilihat kondisi
era Meiji dan pasca PDII. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], indra budiman syamwil <ibsyam...@...>
wrote:
>
>
> Pak Eka dan Rekan Ysh,
>
> Kalaulah saya diminta pendapat tentang mana yang penting SDA dan SDM,
ya sama sama penting untuk saat ini. Strategi pengembangan perekonomian
berdasarkan SDM harus disiapkan sedini mungkin, sehingga devisa SDA bisa
menghasilkan SDM dan kapasitas teknologi yang meningkatkan nilai tambah
penggunaan sumberdaya alam itu sendiri.
>
> Betul Pak Eka, kalau saya tidak salah memang perekonomian Jepang
sangat tergantung kepada perekonomian domestiknya, dan tergantung pada
SDM sebagai penggerak ekonomi dan juga customer (internal economy).
Sehingga dua pandangan dalam pembangunan perekonomian pandangan
distribusi (welfare) dan pandangan pertumbuhan (melalui ekspor yang
menghasilkan devisa) sering menjadi perdebatan. Sekarang kita mulai
membicarakan `daya beli masyarakat' konsepnya bisa kesejahteraan
(akses kepada ekonomi) atau pertumbuhan `internal economy'
sebagai penciptaan deman efektif.
>
> Setelah `bubble economy' kira-kira pertengahan 1980an sehingga
terjadi exodus industri Jepang ke manca negara (hollowing-out)
sebenarnya Jepang tengah mengalami krisis kecil perekonomian yang agak
sustainable. Ketika itu di banyak literatur para ahli Jepang
mengharapkan terjadinya `babby boom' seperti pada era 1960an,
agar konsumsi meningkat dan pabrik ngepul lagi. Newly married dan
children lebih konsumtif dan produktif dibandingkan orang tua sepertinya
begitu. Sebenarnya yang terjadi adalah umur menikah meningkat (lelaki
terlalu terkooptasi bekerja di perusahaan, wanita justru semakin
mandiri), banyak keluarga Jepang sibuk kerja suami istri dan tidak punya
anak, dan orang tua semakin panjang umur karena sehat. Sampai terjadi
fenomena orang tua (60 tahun) memelihara orang tua (90 tahun), ini yang
disebut fenomena `aging society'. Jadi pertumbuhan penduduk di
tahun 1980an adalah karena panjangnya usia sungguhpun angka kelahiran
kecil sekali.
>
> Pada grafik Pak Eka titik puncak di tahun 2000an mulai terlihat dampak
kecilnya angka kelahiran dan mulai meninggalnya orang tua yang lahir di
tahun 1920an.
>
> Fenomena aging society lainnya di akhir 1980an Jepang berupaya
merekayasa pembentukan kota High-tech di Utara Australia untuk
memanfaatkan tenaga ahli pensiunan mereka, begitu pentingnya
produktifitas manusia bagi mereka. Singapura dan Jepang mempunyai
fenomena yang sama yaitu rakyatnya bekerja untuk pemerintah (mereka kaya
setelah pensiun, ketika tidak bisa lagi menikmati lezatnya kolesterol).
Bisnis pensiunan ini merupakan bisnis jasa yang cukup besar di Jepang,
termasuk rumah jompo dan pelayanan livelihood orang tua.
>
> Memang antara Malaysia dan Indonesia serta negara-negara Asia lainnya
telah terjadi division of labor lintas negara. Malaysia dengan penduduk
yang sedikit harus pintar-pintar mengelola ekonominya. Malaysia secara
tradisional selalu bersaing dengan Singapura (musuh bebuyutan).
Singapura menjadi international hub capital lintas negara, Malaysia juga
ingin, maka diciptakanlah KL Global city scheme dan Cyberjaya serta
Putera Jaya. Pembangunan Malaysia setelah transformasi sistem Inggris,
terutama pada era Mahathir memang banyak mencontoh Jepang (Malaysia
Truly Asia). Sebagai trading hub mereka harus mempertahankan efisiensi
industri pengolahan serta kunci-kunci perdagangan komoditi (contohnya
minyak atsiri dari Indonesia).
>
> Perusahaan Malaysia sekarang mulai menciptakan platform-platform di
Indonesia karena mereka kekurangan blue collar labor, deman, disamping
memanfaatkan TKI. Sayangnya, beberapa studi menunjukkan remiten dari TKI
belum memberikan dampak pembangunan yang sustainable di perdesaan di
Indonesia karena kurang dipersiapkan untuk menciptakan deman di
perdesaan. Saya setuju dengan Pak BTS neoliberalisme di Malaysia
menciptakan ketergantungan yang amat sangat kepada pecuniar capital
(uang).
>
> Modernisasi pasar tradisional seperti program Mas Prabowo harus
betul-betul disiasati dengan baik karena bisa memarginalkan sebagian
pelaku pasar. Tukang beca masih bisa mengantarkan penumpang sampai ke
pagar rumah. Orang Indonesia masih bisa ngutang di Mang Udin (sungguhpun
Mang Udin bukan Bankir), pasar seperti apa ini? Pasar dengan modal
sosial yang kental?. Bio-etanol bisa menciptakan 'kartelisasi' yang baru
setelah fosil fuel?.
>
> Tentang program 8 Program Mas Prabowo saya kawatir semua Capres
sekarang punya program yang mirip. Masalahnya pelaksanaannya seperti
apa, bagaimana strategi dan kebijakan itu dibuatkan instrumennya dan
disusun rencana pelaksanaannya. Program nya semua serba fisik,
kelembagaan masyarakat, kapasitas teknopreneur masyarakat, inovasi dan
good governancenya mana ya, Mas Prabowo?
>
> Indra B Syamwil
>
>
>
>
> To: [email protected]
> From: 4ek...@...
> Date: Fri, 13 Mar 2009 18:08:34 +0700
> Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo
Subianto
>
> Setuju Bu Cut, kelihatannya kita selalu 'satu hati'.
>
> Setuju Pak BTS, itu bila 'dana' sudah menjadi 'modal pembangunan',
seperti kasus Zimbabwe. Padahal kebijakan nasional kita menyebutkan bila
'modal pembangunan' itu adalah sdm, kekayaan alam, dst; sehingga
akhirnya melahirkan istilah-istilah seperti penatagunaan tanah,
penatagunaan udara, penatagunaan air, dan penatagunaan sumber daya alam
lainnya. Permasalahan terpenting adalah : mudeng nggak kita dengan
istilah-istilah ini?
>
> Jepang sedikit yang saya ketahui sudah menjadikan sdm sebagai modal
pembangunan. Pertumbuhan sdm seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Mohon
periksa lampiran, bahan yang saya peroleh dari Onishi, Mohon dilihat
'stepping'nya bila kemajuan ekonomi selalu seiring dengan kemajuan sdm,
terkecuali 'fenomena baru' pasca 2000; namun ini pun terpatahkan dengan
'fenomena China'.
>
> Kunci lain saya kira 'privatisasi', sehingga sebenarnya semua program
kecuali 1 dan 7 itu bisa diserahkan kepada 'non-Pemerintah'. Namun perlu
kita minta pendapat Pak Indra dkk yang lebih memahami kasus Jepang 'dan
Malaysia' ini. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> 2009/3/13 cut safana cutsaff...@...
>
> Para milister Ysh,
> Untuk bangsa kita saat ini yang diperlukan tidak hanya sekedar program
(termasuk cara penyediaan dana), tetapi yang paling penting nantinya
adalah bukti/realisasi program (tidak sekedar out put, tetapi out come &
impac nya). Contoh kecil : program tabung gas + kompor gas, mohon dichek
siapa saja yang menerimanya ? (kriteria penerima subsidi tidak
terlaksana dengan baik, yang penting programnya jalan, dan LAKIP 100 %
....???????).
>
> Cerita berikut nyambung atau tidak, tetapi membuat saya nelongso, btw
beberapa minggu yll saya ke negara tetangga Malaysia (yang nota bene
sering tidak dianggap oleh bangsa kita). Saya menyewa taksi yang
kebetulan supirnya warga negara RI asal Medan dan memperistri orang
Malaysia. Ngobrol ngolor ngidul, si supir mengatakan (kalimat asli) :
"disini Bu, Pemerintah menganggap penduduk itu aset negara, masyarakat
yang sangat tidak mampu diberikan kesempatan memiliki apartemen dengan
harga murah; anak saya yang perempuan dikuliahkan ke Amerika; orang
bawahan bisa makan seperti apa yang dimakan oleh
menteri".................dst, dst. Saya hanya terdiam; tidak heran jika
mendengar ini di negara maju seperti Amerika atau Eropah. Patutlah
Malaysia mengirim puluhan orang mahasiswa beasiswa setiap tahunnya ke
Indonesia, pemerintah mereka sedang merajut pondasi (termasuk
jiwa/karakter) yang kokoh untuk kemaslahatan rakyatnya
kedepan................
> Salam..............



Kirim email ke