Pak Risfan dan semua rekans ysh,
 
Kembali ke permasalahan "always two sides of everything" atau yg Pak Risfan 
sebut juga sebagai "kanak-kiri oke", yang belum sepenuhnya saya jawab dalam 
posting terdahulu, saya berusaha mencoba memandangnya bukan dalam konteks yang 
bertentangan, melainkan dalam konteks yang saling melengkapi. Dengan perkataan 
lain bukan dalam konteks "kanan vs kiri", melainkan dalam konteks "kanan dan 
kiri".
 
Dengan cara pandang seperti itu, dan merefer kepada pendapat saya terdahulu 
tentang pembangunan dimana "... pembangunan lebih merupakan suatu proses yang 
terdiri dari suatu rangkaian aksi yang dilakukan secara sadar untuk mengubah 
kondisi yang ada, dimana di dalamnya juga terdapat rangkaian-rangkaian reaksi 
yang tanpa kita sadari/rencanakan/harapkan juga berlangsung sebagai salah satu 
hasil dari aksi-aksi yang kita lakukan", saya berpendapat bahwa lingkup 
pemikiran manusia terlampau sempit untuk mampu memahami seluruh proses kompleks 
yang terjadi di dunia nyata. Oleh karena itu, di dalam setiap aksi yang 
dilakukan di dalam proses pembangunan, selain memiliki beberapa reaksi yang 
bisa digolongkan sebagai 'expected output' (mohon dipahami bahwa hal ini belum 
tentu hanya 'expected outcome' saja), juga terdapat potensi adanya 'unexpected 
output / outcome', sehingga contohnya ketimbang terjadinya trickling-down 
effects yang diharapkan, banyak pengalaman
 pengembangan pusat-pusat pertumbuhan malah mengakibatkan terjadinya 'backwash 
effects'. Atau pada kasus lain, ketimbang terjadinya peningkatan kesejahteraan 
pada para keluarga petani di suatu kawasan lahan kering tadah hujan, program 
pengadaan bantuan pompa air malah lebih meningkatkan pemunculan "raja-raja 
kecil baru yang turut menyedot sumber daya potesial bagi peningkatan 
kesejahteraan para petani lainnya" yang berasal dari petani pengelola pompa air 
di lingkungan pertanian kawasan lahan kering tadah hujan yang menerima bantuan 
pompa air tersebut. 
 
Contoh-contoh itu saya sampaikan untuk menceritakan betapa banyak potensi 
unexpected output/outcome, yang sering tidak terantisipasi sebelumnya, namun 
kemudian malah menjadi gejala/kondisi yang lebih tampak dari suatu aksi 
pembangunan. Contoh riil lain yang juga pernah terjadi, misalnya adalah ketika 
sudah diperhitungkan bahwa terdapat (misalnya) 100 kepala keluarga yang 
kehilangan dan tidak memiliki tempat tinggal akibat bencana alam yang melanda, 
ternyata pembangunan 150 buah rumah baru pun tidak mampu memberikan rumah bagi 
seluruh keluarga yang kehilangan dan tidak memiliki rumah tsb, karena adanya 
beberapa orang/keluarga yang dengan caranya sendiri bisa memiliki lebih dari 
satu atau bahkan lebih dari tiga buah rumah bantuan untuk dirinya sendiri, dan 
ada keluarga yang tidak kehilangan rumah tapi juga turut mendapatkan pembagian 
rumah bantuan, sehingga terdapat keluarga yang telah kehilangan dan tidak 
memiliki rumah yang tetap tidak mendapat bantuan
 rumah....
 
Saya berusaha memandang expected output/outcome (kanan?) dan unexpected 
output/outcome (kiri?) ini sebagai sesuatu yang komplmenter, dalam arti 
kedua-duanya adalah sesuatu yang mungkin (probable) terjadi. Oleh karena itu, 
setiap aksi pembangunan yang akan dijalankan membutuhkan suatu perencanaan yang 
matang untuk mampu mereduksi ketidak-pastian yang akan terjadi, dan 
mengantisipasi hal-hal (unexpected output/outcome) yang tidak diinginkan. 
Namun, sekali lagi terkadang lingkup pemikiran manusia tidak mampu memahami 
atau mengantisipasi seluruh peluang kejadian yang akan terjadi sehingga 
seringkali tetap muncul unexpected output/outcome sebagai salah satu hasil 
(reaksi) dari aksi pembangunan yang dilakukan.
 
Sayangnya bidang pembangunan yang kita geluti bukanlah suatu bidang 
eksperimental yang bisa diujikan terlebih dahulu di dalam laboratorium sebelum 
diaplikasikan ke dalam masyakat, sehingga seringkali proses pembelajaran dari 
pelaksanaan suatu aksi pembangunan baru bisa dilakukan selama dan/atau 
setelah aksi pembangunan itu dilaksanakan. Bahkan, tidak jarang suatu aksi 
pembangunan yang berhasil baik di suatu tempat memberikan hasil yang berbeda 
ketika dilakukan di tempat lain. Mungkin karena itu maka evaluasi dan learing 
process merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam bidang pembangunan 
yang kita geluti. Namun sayangnya, kedua hal itu merupakan hal yang masih jauh 
dari budaya kerja di dalam praktek-praktek pembangunan kita. Kalaupun 
dilakukan, seringkali kegiatan evaluasi dilakukan dengan suatu vested-interest 
tertentu dimana evaluasi pasti berhasil bagus apabila kita ingin melakukan 
legitimasi tertentu pada proyek tersebut, atau bahkan pasti
 berhasil jelek apabila program/proyek tersebut ingin diganti. Dalam 
praktek-praktek pembangunan kita, menurut saya, evaluasi jarang sekali 
dilakukan secara netral untuk mempelajari poin-poin keunggulan (pros) yang 
membantu pencapaian tujuan dari program/proyek tersebut, serta mempelajari 
poin-poin kelemahan (cons) dari program/proyek tersebut dalam mencapai 
tujuannya. 
 
Bisa jadi, juga untuk mengatasi hal seperti inilah maka Hegel memperkenalkan 
konsep dialektika (dialectic) dan cara pemikiran spekulatif (speculatif reason) 
di awal abad ke-19 dulu, untuk mengantisipasi keterbatasan pemikiran common 
sense dan cara pandang tradisional yang sering kali bersifat linier. Bisa jadi, 
denganmengemukakan konsep-konsep pemikiran tersebut, Hegel berpesan kepada kita 
bahwa cara pandang spekulatif dan dialektik seperti itu lah yang 
mampu membebaskan pemikiran manusia sehingga bisa lebih menjadi waspada 
terhadap reaksi dari suatu aksi yang diberikan.
 
Bisa jadi hal itu benar, apabila kita mengingat apa yang disampaikan oleh 
Thomas Kuhn bahwa pengetahuan yang kita (manusia) miliki tidak berkembang 
melalui jalur yang linear (not from a linear accumulation of knowledge), tetapi 
melalui suatu rangkaian revolusi paradigma atau yang kita kenal sebagai 
pergeseran paradigma (paradigm shift). Walaupun diistilahkan sebagai pergeseran 
paradigma, namun dalam pengalaman yang terjadi pada bangsa Eropa, tidak jarang 
pergeseran tersebut diawali oleh adanya konflik atau benturan paradigma yang 
menghasilkan suatu paradigma baru yang sama sekali berbeda dengan paradigma 
sebelumnya. Seperti pada saat paradigma kapitalis ortodoks/kuno yang 
berbenturan dengan paradigma sosialis pada saat revolusi Perancis sehingga 
menghasilkan paradigma kapitalis yang lebih ramah (kapitalis sosialis) 
sesudahnya. Benturan itu kemudian berkembang dan malah menghasilkan 
"pencerahan", seperti yang telah Allah swt pesankan dalam Al Quran
 bahwa (kira-kira artinya), "telah diceritakan kepada kamu nasib dari umat-umat 
terdahulu sebagai tanda-tanda kekuasaan dan rahmat Allah bagi orang-orang yang 
berpikir...". 
 
Sayangnya, hingga saat ini, kita bangsa Indonesia masih kurang mampu menangkap 
makna dari pesan-pesan Al Quran tsb, sehingga terkadang kita masih 
mendikotomikan sesuatu yang seharusnya bisa berkomplemen dan bahkan terkadang 
yang lain kita membuang jauh-jauh sesuatu yang berasal dari paradigma yang 
tidak kita sukai. Akibatknya kita jadi kurang pandai mengkombinasi 
pengaruh-pengaruh dari paradigma yang bertentangan tersebut. 
 
Berbeda dengan kita, bangsa Eropa (terutama Eropa Barat yang lebih kita kenal) 
lebih mampu mengkombinasikan pengaruh-pengaruh dari paradigma yang bertentangan 
terebut untuk membangun suatu paradigma baru yang lebih baik. Sebagai contoh di 
dalam bidang pembangunan, walaupun mereka tetap mempertahankan pengaruh 
kapitalis di dalam pembangunan wilayah dan pembangunan ekonominya dengan tetap 
mempertahankan pemberian fasilitas sarana dan prasarana yang jauh lebih baik di 
suatu tempat dibandingkan dengan tempat lainnya (contohnya London, Paris, 
Brussel dan Amsterdam yang memiliki layanan sarana dan prasarana yang jauh 
lebih bagus daripada wilayah lainnya di negaranya), namun tingkat layanan 
minimum dan jaminan kesejahteraan sosial yang layak juga ditegakkan di semua 
bagian wilayah. Pembangunan ekonomi industri "dipusatkan" di beberapa wilayah 
tertentu, dengan tetap memperhatikan pengembangan aktivitas pertanian di 
wilayahnya masing-masing. Bahkan pengembangan
 aktivitas dan layanan sosial di semua wilayah juga dilakukan. Selain dilakukan 
dengan melakukan penjaminan sosial (kesehatan, pendidikan dan rekreasi), 
sebagai contoh lain dari adanya pembangunan layanan sosial ini adalah dengan 
penyediaan rumah-ruman (atau apartemen) sewa milik pemerintah bagi warga yang 
berpendapatan rendah hingga ke kota-kota kecil yang ukurannya lebih rendah 
daripada ibukota kabupaten apabila dibandingkan dengan Indonesia. Penyediaan 
rumah-rumah sewa tersebut dilakukan untuk menjamin agar setiap warga dapat 
bertempat tinggal di rumah yang layak, yang sangat mahal dan tidak mungkin 
terjangkau apabila masyarakat berpendapatan rendahnya harus menyediakannya 
sendiri. 
 
Kombinasi-kombinasi dari pengaruh paradigma-paradigma terebut merupakan suatu 
respon pemikiran dari bangsa Eropa sehingga tingkat kesejahteraannya mejadi 
salah satu yang terkemuka hingga saat ini. 
 
Jadi sekali lagi, saya mencoba untuk tidak mendikotomikan kedua sudut pandang 
tersebut (kanan dan kiri) dan melihatnya sebagai sesuatu yang bertentangan, 
melainkan mencoba untuk melihatnya sebagai sesuatu yang bisa saling melengkapi. 
Walaupun, bisa jadi, upaya saling melengkapi tersebut tidak selalu ada di dalam 
tataran praktis melainkan bisa jadi ada pada tataran ide. Harapannya adalah 
agar kita lebih mampu untuk semakin waspada dalam melakukan perencanaan, 
sehingga tidak selalu taken for granted bahwa setiap aksi pembangunan yang akan 
kita lakukan akan berlangsung seperti apa yang kita harapkan. Dengan 
komplementaritas kedua sudut pandang tadi, bisa jadi kita akan lebih waspada 
dan lebih antisipatif terhadap hal-hal yang berpeluang untuk menjadi unexpected 
output/outcome dari alternatif aksi pembangunan yang kita rencanakan. Kalaupun 
nantinya masih terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, mungkin hal itu 
merupakan suatu proses belajar kita untuk bisa
 kita perbaiki di kemudian hari. Yang penting adalah proses pembelajaran 
(learning process) yang kita lakukan tidak pernah ditutup pelaksanaannya 
sehingga kita bisa lebih memperbaikinya kemudian untuk mencapai apa yang 
menjadi tujuannya.
 
Pak Risfan dan rekan-rekan lain ysh,
 
Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk menanggapi ajakan diskusi dari Pak 
Risfan tentang Kanan-Kiri Oke ini.... Saya yakin bahwa pendapat saya masih jauh 
dari sempurna, dan oleh karena itu saya mengundang tanggapan dari Pak Risfan 
dan rekan-rekan referensiers lainnya. Semoga diskusi kita bisa menjadi salah 
satu kontribusi kecil kita kepada ...INDONESIA MULIA... MULIA BANGSANYA... 
MULIA RAKYATNYA....
 
Wassalam,
 
Fadjar  
 


--- On Fri, 5/8/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Kanan-Kiri Oke (Respon untuk Pak Risfan dan semua 
rekans)
To: [email protected]
Date: Friday, May 8, 2009, 4:16 AM


Bung Fajar dan rekans,

Kembali ke soal "kanan vs kiri", sebetulnya tadinya saya mau tanya ke rekan 
Fajar. Apa pengaruhnya ideologi kanan (konservatif) vs ideologi kiri 
(alternatif, sosialist?) terhadap perencanaan pembangunan saat ini. Khususnya 
di Eropa, yang lebih terbuka. Karena di kita biasanya kan "diperhalus".

Salam,
Risfan Munir

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent: Wednesday, May 06, 2009 9:26 PM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Kanan-Kiri Oke (Respon untuk Pak Risfan dan semua rekans)



Pak Risfan dan semua rekans ysh,
 
Pertama-tama saya mohon maaf karena sekian lama saya berdiam diri tidak 
menanggapi posting Pak Risfan yg spesifik ditujukan untuk saya. Terus terang 
pertanyaan Pak Risfan tsb terlampau dalam untuk saya yg pengetahuannya masih 
cetek ini. Jadi saya perlu "berdiam diri sejenak" sambil merenungkan pertanyaan 
tsb, he... he... he... .
 
Sekarang saya ingin menyampaikan sesuatu sebagai hasil dari pemikiran saya 
beberapa saat tsb. Saya yakin saya tidak mampu menjawab pertanyaan Pak Risfan, 
tapi mudah-mudahan apa yg saya sampaikan bisa kita jadikan sebaga bahan 
pemikiran bersama.
 
Pak Risfan mengajak saya berdiskusi tentang keterkaita antara penataan ruang 
dan pembangunan, dan mengajak kita memikirkan dimana peran dan posisi penataan 
ruang di dalam pembangunan. Oleh karena itu saya akan mencoba membahasnya, 
pertama-tama, melalui konsep pembangunan, yang saya yakin semua rekan sepakat 
apabila saya sampaikan bahwa konsep pembangunan bukan merupakan suatu konsep 
yang menjadi milik dari sebuah domain tertentu. Atau dengan kata lain bahwa 
konsep pembangunan merupakan konsep yang dimiliki oleh banyak domain sehingga 
definisi dan penafsirannya pun bisa bervariasi.
 
Berangkat dari peahaman itu, saya mencoba mendefinisikan "pembangunan" sebagai 
"suatu upaya-upaya yang dilakukan secara sadar atau tak-sadar sebagai suatu 
langkah untuk mengubah dan memperbaiki kondisi yang ada pada saat ini agar 
lebih sesuai dengan kondisi yang diharapkan/diidamkan di suatu masa 
berikutnya". Oleh karena itu, pembangunan tidak bisa kita lihat hanya sebagai 
suatu aksi tertentu. Melainkan, pembangunan lebih merupakan suatu proses yang 
terdiri dari suatu rangkaian aksi yang dilakukan secara sadar untuk mengubah 
kondisi yang ada, dimana di dalamnya juga terdapat rangkaian-rangkaian reaksi 
yang tanpa kita sadari/rencanakan/harapkan juga berlangsung sebagai salah satu 
hasil dari aksi-aksi yang kita lakukan.
 
Berangkat dari pemahaman tsb, maka suatu hal yang harus kita sadari bahwa tidak 
ada satu aksi tunggal di dalam proses pembangunan, dan kegiatan pembangunan 
harus dilakukan oleh kolaborasi dari banyak aksi yang bahu membahu dan 
sinergis. Berbasis pada pemahaman ini, saya juga berpendapat bahwa tidak 
terdapat satu pendekatan tunggal di dalam pembangunan, dan pembangunan harus 
dilakukan melalui beberapa pendekatan yang saling terkait dan sinergis.
 
Selain harus dilakukan melalui pendekatan ekonomi, pendekatan sosial, 
pendekatan politik dan yang lainnya, salah satu pendekatan dalam pembangunan 
yang juga harus dilakukan dan bisa menjadi salah satu kontribusi kita 
adalah pembangunan/pengembangan wilayah (yang menurut saya merupakan suatu 
pendekatan geografis/kewilayahan dalam pembangunan). Pembangunan/pengembangan 
wilayah ini, saya pandang sebagai suatu proses pengorganisasian wilayah 
berdasarkan kondisi, potensi, peluang dan keinginan yang ada, yang terbentuk 
sebagai hasil dari kolaborasi berbagai aktivitas ekonomi dan sosial politik, 
yang dilaksanakan oleh masyarakat, dunia usaha dan negara (pemerintah).
 
Pengorganisasian ruang wilayah merupakan suatu hal yang cukup penting di dalam 
pelaksanaan aktivitas ekonomi. Dengan terorganisasikannya ruang wilayah, 
maka pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekonomi dapat dilakukan secara lebih efisien 
dan bisa jadi akan lebih berdaya guna. Hal ini disebabkan oleh adanya 
manfaat-manfaat dari agglomerasi ekonomi yang pada satu sisi mampu meningkatkan 
skala ekonomi dari usaha/kegiatan ekonomi tersebut dan pada sisi yang lain 
mampu memberikan peluang kerjasama/gotong royong untuk saling meringankan diri 
untuk melakukan penyediaan sarana & prasarana yang dibutuhkannya dalam 
beraktivitas, dengan tujuan untuk lebih mengefisienkan aktivitas usahanya. Oleh 
karena itu, salah satu unsur penting di dalam pembangunan/pengembangan wilayah 
ini adalah spesialisasi aktivitas wilayah dari setiap wilayah (walaupun lebih 
bersifat flexible specialisation ), dan kerjasama antar wilayah yang 
memanfaatkan kelebihan dari masing-masing wilayah
 untuk saling berkontribusi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya...


      

Kirim email ke