Rekans ysh,

Sedikit catatan:
Begitu pembangunan menyinggung soal ruang dan wilayah, maka kita akan
bertemu dengan tempat di mana pembangunan tersebut berada.
Artinya, tanpa pemahaman dan pencermatan mengenai perubahan (waktu) kondisi
(sda, ling & peradaban) dan interaksi (interfacing) antar kegiatan di
lingkungan daratan (a.l.risiko lingkungan), lautan (a.l.kenaikan muka laut)
dan udara (a.l.perubahan iklim) maka program pembangunan yang kita susun
(sos-bud-ek) bersifat statis (hanya berlaku saat ini) dan tidak membumi
(republik mimpi).
Kita tidak menyiapkan apa-apa untuk generasi berikut pada masa
2030-2050-an...

Salam,

Abimanyu



2009/5/8 <[email protected]>

>
>
> Pak Risfan dan semua rekans ysh,
>
> Kembali ke permasalahan "*always two sides of everything*" atau yg Pak
> Risfan sebut juga sebagai "kanak-kiri oke", yang belum sepenuhnya saya jawab
> dalam posting terdahulu, saya berusaha mencoba memandangnya bukan dalam
> konteks yang bertentangan, melainkan dalam konteks yang saling melengkapi.
> Dengan perkataan lain bukan dalam konteks "kanan vs kiri", melainkan dalam
> konteks "kanan dan kiri".
>
> Dengan cara pandang seperti itu, dan merefer kepada pendapat saya terdahulu
> tentang pembangunan dimana "*... pembangunan lebih merupakan suatu proses
> yang terdiri dari suatu rangkaian aksi yang dilakukan secara sadar untuk
> mengubah kondisi yang ada, dimana di dalamnya juga terdapat
> rangkaian-rangkaian reaksi yang tanpa kita sadari/rencanakan/harapkan juga
> berlangsung sebagai salah satu hasil dari aksi-aksi yang kita lakukan*",
> saya berpendapat bahwa lingkup pemikiran manusia terlampau sempit
> untuk mampu memahami seluruh proses kompleks yang terjadi di dunia nyata.
> Oleh karena itu, di dalam setiap aksi yang dilakukan di dalam proses
> pembangunan, selain memiliki beberapa reaksi yang bisa digolongkan sebagai '
> *expected output*' (mohon dipahami bahwa hal ini belum tentu hanya '*expected
> outcome*' saja), juga terdapat potensi adanya '*unexpected output /
> outcome*', sehingga contohnya ketimbang terjadinya *trickling-down effects
> * yang diharapkan, banyak pengalaman pengembangan pusat-pusat pertumbuhan
> malah mengakibatkan terjadinya '*backwash effects*'. Atau pada kasus lain,
> ketimbang terjadinya peningkatan kesejahteraan pada para keluarga petani di
> suatu kawasan lahan kering tadah hujan, program pengadaan bantuan pompa air
> malah lebih meningkatkan pemunculan "raja-raja kecil baru yang turut
> menyedot sumber daya potesial bagi peningkatan kesejahteraan para petani
> lainnya" yang berasal dari petani pengelola pompa air di lingkungan
> pertanian kawasan lahan kering tadah hujan yang menerima bantuan pompa air
> tersebut.
>
> Contoh-contoh itu saya sampaikan untuk menceritakan betapa banyak potensi
> *unexpected output/outcome*, yang sering tidak terantisipasi sebelumnya,
> namun kemudian malah menjadi gejala/kondisi yang lebih tampak dari suatu
> aksi pembangunan. Contoh riil lain yang juga pernah terjadi, misalnya adalah
> ketika sudah diperhitungkan bahwa terdapat (misalnya) 100 kepala keluarga
> yang kehilangan dan tidak memiliki tempat tinggal akibat bencana alam yang
> melanda, ternyata pembangunan 150 buah rumah baru pun tidak mampu memberikan
> rumah bagi seluruh keluarga yang kehilangan dan tidak memiliki rumah tsb,
> karena adanya beberapa orang/keluarga yang dengan caranya sendiri bisa
> memiliki lebih dari satu atau bahkan lebih dari tiga buah rumah bantuan
> untuk dirinya sendiri, dan ada keluarga yang tidak kehilangan rumah tapi
> juga turut mendapatkan pembagian rumah bantuan, sehingga terdapat keluarga
> yang telah kehilangan dan tidak memiliki rumah yang tetap tidak mendapat
> bantuan rumah....
>
> Saya berusaha memandang *expected output/outcome* (kanan?) dan *unexpected
> output/outcome* (kiri?) ini sebagai sesuatu yang komplmenter, dalam arti
> kedua-duanya adalah sesuatu yang mungkin (*probable*) terjadi. Oleh karena
> itu, setiap aksi pembangunan yang akan dijalankan membutuhkan suatu
> perencanaan yang matang untuk mampu mereduksi ketidak-pastian yang akan
> terjadi, dan mengantisipasi hal-hal (*unexpected output/outcome)* yang
> tidak diinginkan. Namun, sekali lagi terkadang lingkup pemikiran manusia
> tidak mampu memahami atau mengantisipasi seluruh peluang kejadian yang akan
> terjadi sehingga seringkali tetap muncul *unexpected output/outcome*sebagai 
> salah satu hasil (reaksi) dari aksi pembangunan yang dilakukan.
>
> Sayangnya bidang pembangunan yang kita geluti bukanlah suatu bidang
> eksperimental yang bisa diujikan terlebih dahulu di dalam laboratorium
> sebelum diaplikasikan ke dalam masyakat, sehingga seringkali proses
> pembelajaran dari pelaksanaan suatu aksi pembangunan baru bisa dilakukan
> selama dan/atau setelah aksi pembangunan itu dilaksanakan. Bahkan, tidak
> jarang suatu aksi pembangunan yang berhasil baik di suatu tempat memberikan
> hasil yang berbeda ketika dilakukan di tempat lain. Mungkin karena itu maka
> evaluasi dan *learing process* merupakan suatu hal yang sangat penting di
> dalam bidang pembangunan yang kita geluti. Namun sayangnya, kedua hal itu
> merupakan hal yang masih jauh dari budaya kerja di dalam praktek-praktek
> pembangunan kita. Kalaupun dilakukan, seringkali kegiatan evaluasi dilakukan
> dengan suatu vested-interest tertentu dimana evaluasi pasti berhasil bagus
> apabila kita ingin melakukan legitimasi tertentu pada proyek tersebut, atau
> bahkan pasti berhasil jelek apabila program/proyek tersebut ingin diganti.
> Dalam praktek-praktek pembangunan kita, menurut saya, evaluasi jarang sekali
> dilakukan secara netral untuk mempelajari poin-poin keunggulan (*pros*)
> yang membantu pencapaian tujuan dari program/proyek tersebut, serta
> mempelajari poin-poin kelemahan (*cons*) dari program/proyek tersebut
> dalam mencapai tujuannya.
>
> Bisa jadi, juga untuk mengatasi hal seperti inilah maka Hegel
> memperkenalkan konsep dialektika (*dialectic*) dan cara pemikiran
> spekulatif (*speculatif reason*) di awal abad ke-19 dulu, untuk
> mengantisipasi keterbatasan pemikiran common sense dan cara pandang
> tradisional yang sering kali bersifat linier. Bisa jadi, denganmengemukakan
> konsep-konsep pemikiran tersebut, Hegel berpesan kepada kita bahwa cara
> pandang spekulatif dan dialektik seperti itu lah yang mampu membebaskan
> pemikiran manusia sehingga bisa lebih menjadi waspada terhadap reaksi dari
> suatu aksi yang diberikan.
>
> Bisa jadi hal itu benar, apabila kita mengingat apa yang disampaikan oleh
> Thomas Kuhn bahwa pengetahuan yang kita (manusia) miliki tidak berkembang
> melalui jalur yang linear (*not from a linear accumulation of knowledge*),
> tetapi melalui suatu rangkaian revolusi paradigma atau yang kita
> kenal sebagai pergeseran paradigma (*paradigm shift*). Walaupun
> diistilahkan sebagai pergeseran paradigma, namun dalam pengalaman yang
> terjadi pada bangsa Eropa, tidak jarang pergeseran tersebut diawali oleh
> adanya konflik atau benturan paradigma yang menghasilkan suatu paradigma
> baru yang sama sekali berbeda dengan paradigma sebelumnya. Seperti pada saat
> paradigma kapitalis ortodoks/kuno yang berbenturan dengan paradigma sosialis
> pada saat revolusi Perancis sehingga menghasilkan paradigma kapitalis yang
> lebih ramah (kapitalis sosialis) sesudahnya. Benturan itu kemudian
> berkembang dan malah menghasilkan "pencerahan", seperti yang telah Allah swt
> pesankan dalam Al Quran bahwa (kira-kira artinya), "telah diceritakan kepada
> kamu nasib dari umat-umat terdahulu sebagai tanda-tanda kekuasaan dan rahmat
> Allah bagi orang-orang yang berpikir...".
>
> Sayangnya, hingga saat ini, kita bangsa Indonesia masih kurang mampu
> menangkap makna dari pesan-pesan Al Quran tsb, sehingga terkadang kita masih
> mendikotomikan sesuatu yang seharusnya bisa berkomplemen dan bahkan
> terkadang yang lain kita membuang jauh-jauh sesuatu yang berasal dari
> paradigma yang tidak kita sukai. Akibatknya kita jadi kurang pandai
> mengkombinasi pengaruh-pengaruh dari paradigma yang bertentangan tersebut.
>
> Berbeda dengan kita, bangsa Eropa (terutama Eropa Barat yang lebih kita
> kenal) lebih mampu mengkombinasikan pengaruh-pengaruh dari paradigma yang
> bertentangan terebut untuk membangun suatu paradigma baru yang lebih baik.
> Sebagai contoh di dalam bidang pembangunan, walaupun mereka tetap
> mempertahankan pengaruh kapitalis di dalam pembangunan wilayah dan
> pembangunan ekonominya dengan tetap mempertahankan pemberian fasilitas
> sarana dan prasarana yang jauh lebih baik di suatu tempat dibandingkan
> dengan tempat lainnya (contohnya London, Paris, Brussel dan Amsterdam yang
> memiliki layanan sarana dan prasarana yang jauh lebih bagus daripada wilayah
> lainnya di negaranya), namun tingkat layanan minimum dan jaminan
> kesejahteraan sosial yang layak juga ditegakkan di semua bagian wilayah.
> Pembangunan ekonomi industri "dipusatkan" di beberapa wilayah tertentu,
> dengan tetap memperhatikan pengembangan aktivitas pertanian di wilayahnya
> masing-masing. Bahkan pengembangan aktivitas dan layanan sosial di semua
> wilayah juga dilakukan. Selain dilakukan dengan melakukan penjaminan sosial
> (kesehatan, pendidikan dan rekreasi), sebagai contoh lain dari adanya
> pembangunan layanan sosial ini adalah dengan penyediaan rumah-ruman (atau
> apartemen) sewa milik pemerintah bagi warga yang berpendapatan rendah hingga
> ke kota-kota kecil yang ukurannya lebih rendah daripada ibukota kabupaten
> apabila dibandingkan dengan Indonesia. Penyediaan rumah-rumah sewa tersebut
> dilakukan untuk menjamin agar setiap warga dapat bertempat tinggal di rumah
> yang layak, yang sangat mahal dan tidak mungkin terjangkau apabila
> masyarakat berpendapatan rendahnya harus menyediakannya sendiri.
>
> Kombinasi-kombinasi dari pengaruh paradigma-paradigma terebut merupakan
> suatu respon pemikiran dari bangsa Eropa sehingga tingkat kesejahteraannya
> mejadi salah satu yang terkemuka hingga saat ini.
>
> Jadi sekali lagi, saya mencoba untuk tidak mendikotomikan kedua sudut
> pandang tersebut (kanan dan kiri) dan melihatnya sebagai sesuatu yang
> bertentangan, melainkan mencoba untuk melihatnya sebagai sesuatu yang bisa
> saling melengkapi. Walaupun, bisa jadi, upaya saling melengkapi tersebut
> tidak selalu ada di dalam tataran praktis melainkan bisa jadi ada pada
> tataran ide. Harapannya adalah agar kita lebih mampu untuk semakin waspada
> dalam melakukan perencanaan, sehingga tidak selalu *taken for granted*bahwa 
> setiap aksi pembangunan yang akan kita lakukan akan berlangsung
> seperti apa yang kita harapkan. Dengan komplementaritas kedua sudut pandang
> tadi, bisa jadi kita akan lebih waspada dan lebih antisipatif terhadap
> hal-hal yang berpeluang untuk menjadi *unexpected output/outcome* dari
> alternatif aksi pembangunan yang kita rencanakan. Kalaupun nantinya masih
> terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, mungkin hal itu merupakan suatu
> proses belajar kita untuk bisa kita perbaiki di kemudian hari. Yang penting
> adalah proses pembelajaran (learning process) yang kita lakukan tidak pernah
> ditutup pelaksanaannya sehingga kita bisa lebih memperbaikinya kemudian
> untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya.
>
> Pak Risfan dan rekan-rekan lain ysh,
>
> Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk menanggapi ajakan diskusi dari
> Pak Risfan tentang Kanan-Kiri Oke ini.... Saya yakin bahwa pendapat saya
> masih jauh dari sempurna, dan oleh karena itu saya mengundang tanggapan dari
> Pak Risfan dan rekan-rekan referensiers lainnya. Semoga diskusi kita bisa
> menjadi salah satu kontribusi kecil kita kepada ...INDONESIA MULIA... MULIA
> BANGSANYA... MULIA RAKYATNYA....
>
> Wassalam,
>
> Fadjar
>
>
>
> --- On *Fri, 5/8/09, Risfan M <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Risfan M <[email protected]>
> Subject: RE: [referensi] Kanan-Kiri Oke (Respon untuk Pak Risfan dan semua
> rekans)
> To: [email protected]
> Date: Friday, May 8, 2009, 4:16 AM
>
> Bung Fajar dan rekans,
>
> Kembali ke soal "kanan vs kiri", sebetulnya tadinya saya mau tanya ke rekan
> Fajar. Apa pengaruhnya ideologi kanan (konservatif) vs ideologi kiri
> (alternatif, sosialist?) terhadap perencanaan pembangunan saat ini.
> Khususnya di Eropa, yang lebih terbuka. Karena di kita biasanya kan
> "diperhalus".
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> -----Original Message-----
> From: 
> [email protected]<http://us.mc01g.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> Sent: Wednesday, May 06, 2009 9:26 PM
> To: 
> [email protected]<http://us.mc01g.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> Subject: [referensi] Kanan-Kiri Oke (Respon untuk Pak Risfan dan semua
> rekans)
>
>
>
> Pak Risfan dan semua rekans ysh,
>
> Pertama-tama saya mohon maaf karena sekian lama saya berdiam diri tidak
> menanggapi posting Pak Risfan yg spesifik ditujukan untuk saya. Terus terang
> pertanyaan Pak Risfan tsb terlampau dalam untuk saya yg pengetahuannya masih
> cetek ini. Jadi saya perlu "berdiam diri sejenak" sambil merenungkan
> pertanyaan tsb, he... he... he... .
>
> Sekarang saya ingin menyampaikan sesuatu sebagai hasil dari pemikiran saya
> beberapa saat tsb. Saya yakin saya tidak mampu menjawab pertanyaan Pak
> Risfan, tapi mudah-mudahan apa yg saya sampaikan bisa kita jadikan sebaga
> bahan pemikiran bersama.
>
> Pak Risfan mengajak saya berdiskusi tentang keterkaita antara penataan
> ruang dan pembangunan, dan mengajak kita memikirkan dimana peran dan posisi
> penataan ruang di dalam pembangunan. Oleh karena itu saya akan mencoba
> membahasnya, pertama-tama, melalui konsep pembangunan, yang saya yakin semua
> rekan sepakat apabila saya sampaikan bahwa konsep pembangunan bukan
> merupakan suatu konsep yang menjadi milik dari sebuah domain tertentu. Atau
> dengan kata lain bahwa konsep pembangunan merupakan konsep yang dimiliki
> oleh banyak domain sehingga definisi dan penafsirannya pun bisa bervariasi.
>
> Berangkat dari peahaman itu, saya mencoba mendefinisikan "pembangunan"
> sebagai "suatu upaya-upaya yang dilakukan secara sadar atau tak-sadar
> sebagai suatu langkah untuk mengubah dan memperbaiki kondisi yang ada pada
> saat ini agar lebih sesuai dengan kondisi yang diharapkan/diidamkan di suatu
> masa berikutnya". Oleh karena itu, pembangunan tidak bisa kita lihat hanya
> sebagai suatu aksi tertentu. Melainkan, pembangunan lebih merupakan suatu
> proses yang terdiri dari suatu rangkaian aksi yang dilakukan secara sadar
> untuk mengubah kondisi yang ada, dimana di dalamnya juga terdapat
> rangkaian-rangkaian reaksi yang tanpa kita sadari/rencanakan/harapkan juga
> berlangsung sebagai salah satu hasil dari aksi-aksi yang kita lakukan.
>
> Berangkat dari pemahaman tsb, maka suatu hal yang harus kita sadari bahwa
> tidak ada satu aksi tunggal di dalam proses pembangunan, dan kegiatan
> pembangunan harus dilakukan oleh kolaborasi dari banyak aksi yang bahu
> membahu dan sinergis. Berbasis pada pemahaman ini, saya juga berpendapat
> bahwa tidak terdapat satu pendekatan tunggal di dalam pembangunan, dan
> pembangunan harus dilakukan melalui beberapa pendekatan yang saling terkait
> dan sinergis.
>
> Selain harus dilakukan melalui pendekatan ekonomi, pendekatan sosial,
> pendekatan politik dan yang lainnya, salah satu pendekatan dalam pembangunan
> yang juga harus dilakukan dan bisa menjadi salah satu kontribusi kita
> adalah pembangunan/pengembangan wilayah (yang menurut saya merupakan suatu
> pendekatan geografis/kewilayahan dalam pembangunan).
> Pembangunan/pengembangan wilayah ini, saya pandang sebagai suatu proses
> pengorganisasian wilayah berdasarkan kondisi, potensi, peluang dan keinginan
> yang ada, yang terbentuk sebagai hasil dari kolaborasi berbagai aktivitas
> ekonomi dan sosial politik, yang dilaksanakan oleh masyarakat, dunia usaha
> dan negara (pemerintah).
>
> Pengorganisasian ruang wilayah merupakan suatu hal yang cukup penting di
> dalam pelaksanaan aktivitas ekonomi. Dengan terorganisasikannya ruang
> wilayah, maka pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekonomi dapat dilakukan secara
> lebih efisien dan bisa jadi akan lebih berdaya guna. Hal ini disebabkan oleh
> adanya manfaat-manfaat dari agglomerasi ekonomi yang pada satu sisi mampu
> meningkatkan skala ekonomi dari usaha/kegiatan ekonomi tersebut dan pada
> sisi yang lain mampu memberikan peluang kerjasama/gotong royong untuk saling
> meringankan diri untuk melakukan penyediaan sarana & prasarana yang
> dibutuhkannya dalam beraktivitas, dengan tujuan untuk lebih mengefisienkan
> aktivitas usahanya. Oleh karena itu, salah satu unsur penting di dalam
> pembangunan/pengembangan wilayah ini adalah spesialisasi aktivitas wilayah
> dari setiap wilayah (walaupun lebih bersifat flexible specialisation ), dan
> kerjasama antar wilayah yang memanfaatkan kelebihan dari masing-masing
> wilayah untuk saling berkontribusi antara satu wilayah dengan wilayah
> lainnya...
>
>
>  
>

Kirim email ke