Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth,

Saya sepakat sekali dengan apa yang dikatakan oleh Revrisond bahwa tidak
perlulah membuat argumentasi defensif  berlebihan untuk mengatakan bahwa
seseorang itu bukan penganut neoliberal. Lah wong sudah jelas koq kalau
kebijakannya bernuansa neoliberal, berapapun kadarnya. Orang  boleh saja
mengatakan bahwa air didalam gelasnya setengah kosong ataupun setengah
penuh. Substansinya nggak ada bedanya, yang beda adalah persepektifnya
melihat isi gelas itu.

Inilah akibatnya kalau  terlalu defensive, argumentasinya tidak pernah
menyentuh esensi mengapa diperlukan privatisasi, mengapa UI, ITB, UGM,
IPB  harus
jadi BHMN, biarkan sekolah asing masuk negeri ini, mengapa perlu
liberalisasi di sektor jasa kesehatan sehingga muncul rumah sakit mewah,
mengapa supermall jangan dilarang masuk kota, mengapa sumber daya air
“dikomiditisasi” dengan legalitas UU Sumber Daya Air dll, dll. Hal hal
inilah yang tidak pernah disentuh, sehingga argumentasinya tidak lebih tidak
kurang .. Oh..saya bukan neolib lho, buktinya  campur tangan pemerintah
masih ada koq.

Lha, kalau soal campur tangan pemerintah baik di negara kapitalis, sosialis
atau komunis sih  nggak perlu diomongkanlah.. itu argumentasi kuno… nggak
menjawab pertanyaan mendasar. Kenyataannya argumentasi seperti inilah yang
muncul dipermukaan di media kita, tetapi tidak banyak secara tersurat
mengapa kebijakan ekonomi yang menjurus pada konsep yang setengah bukan
neolib atau setengah neolib itu harus diambil. Kalau berpikir positip sih,
ya mungkin saja waktu tidak cukup untuk menjelaskanna secara detill.

Nah kalau begitu, buat aja debat di Pilpres… tapi jangan lagi menghindar
dengan mengatakan, peranan pemerintah masih besar lho… Atau ekonomi
kerakyatan itu tidak menutup berkembangnya perusahaan multinasional
lho….kalau itu jawabannya .. square one lagi.. debat yang tidak maju-maju.

Salam hangat selalu

Nuzul Achjar

Kirim email ke