Pak Nuzul, Pak Risfan, Pak BTS, dan rekan-rekan ysh.

Menyambung pertanyaan Cak Andri, sebenarnya ada kegalauan mengenai
'mazhab ekonomi' yang kita anut, apalagi banyak istilah-istilah yang
berkembang saat ini. Dulu ada istilah ekonomi neo-sontoloyo
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1254>  , lalu dengan
adanya dukungan partai-partai Islam untuk Pak Bud maka seharusnya ada
istilah lagi: ekonomi neolib syariah
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4534>  . Sehingga
seharusnya akan muncul aliran baru yang kita sebut saja sebagai 'ekonomi
bejo'.

Sehingga saya mohon jawaban untuk pertanyaan ini: dalam mazhab ekonomi
apa 'sistem perencanaan dan pembangunan' yang telah terbangun selama ini
dapat tumbuh berkembang mencapai wujudnya yang ideal? Dan, adakah
konsekuensi perubahan sistem karena perubahan mazhab ekonomi?

Terima kasih atas perkenannya. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Nuzul Achjar <ach...@...> wrote:
>
> Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth,
>
> Saya sepakat sekali dengan apa yang dikatakan oleh Revrisond bahwa
tidak
> perlulah membuat argumentasi defensif berlebihan untuk mengatakan
bahwa
> seseorang itu bukan penganut neoliberal. Lah wong sudah jelas koq
kalau
> kebijakannya bernuansa neoliberal, berapapun kadarnya. Orang boleh
saja
> mengatakan bahwa air didalam gelasnya setengah kosong ataupun setengah
> penuh. Substansinya nggak ada bedanya, yang beda adalah persepektifnya
> melihat isi gelas itu.
>
> Inilah akibatnya kalau terlalu defensive, argumentasinya tidak pernah
> menyentuh esensi mengapa diperlukan privatisasi, mengapa UI, ITB, UGM,
> IPB harus
> jadi BHMN, biarkan sekolah asing masuk negeri ini, mengapa perlu
> liberalisasi di sektor jasa kesehatan sehingga muncul rumah sakit
mewah,
> mengapa supermall jangan dilarang masuk kota, mengapa sumber daya air
> "dikomiditisasi" dengan legalitas UU Sumber Daya Air dll, dll.
Hal hal
> inilah yang tidak pernah disentuh, sehingga argumentasinya tidak lebih
tidak
> kurang .. Oh..saya bukan neolib lho, buktinya campur tangan pemerintah
> masih ada koq.
>
> Lha, kalau soal campur tangan pemerintah baik di negara kapitalis,
sosialis
> atau komunis sih nggak perlu diomongkanlah.. itu argumentasi kuno…
nggak
> menjawab pertanyaan mendasar. Kenyataannya argumentasi seperti inilah
yang
> muncul dipermukaan di media kita, tetapi tidak banyak secara tersurat
> mengapa kebijakan ekonomi yang menjurus pada konsep yang setengah
bukan
> neolib atau setengah neolib itu harus diambil. Kalau berpikir positip
sih,
> ya mungkin saja waktu tidak cukup untuk menjelaskanna secara detill.
>
> Nah kalau begitu, buat aja debat di Pilpres… tapi jangan lagi
menghindar
> dengan mengatakan, peranan pemerintah masih besar lho… Atau
ekonomi
> kerakyatan itu tidak menutup berkembangnya perusahaan multinasional
> lho….kalau itu jawabannya .. square one lagi.. debat yang tidak
maju-maju.
>
> Salam hangat selalu
>
> Nuzul Achjar
>


Kirim email ke