Uda Eka dan Sahabat Referensiers Ysh,

Saya tidak bermaksud menjawab secara langsung pertanyaan uda Eka, hanya
menggeser pertanyaan tersebut, atau katakanlah menambahkan lagi pertanyaan
yang kira-kira begini:  “apakah pendekatan  neoliberalisme itu ada dalam
kebijakan pembangunan daerah (regional development)”?.

Kalau tentang  Indonesia, terus terang saya tidak tahu karena  saya belum
menemukannya. Mungkin sahabat referensiers bisa beri pencerahan.  Tetapi
kalau di negara-negara lain, tulisan tentang pendekatan neoliberalism dalam
spatial development  relatif banyak, apalagi yang berkenaan dengan
masalah  perkotaan.


Kita ambil contoh Australia. Dalam tulisannya, Tonts dan Haslam-MaKenzie
(2005) "Neoliberalism and Changing Regional Policy in Australia".
International Planning Studies  10( 3–4): 183–200, pendekatan neoliberal
mulai muncul pada dekade 1980an. Sebelumnya, pada decade 1970an, di bawah
pemerintahan PM  Whitlam (Partai Buruh), pemerintah Federal turun tangan
langsung mengatasi ketidakmerataan kesejahteraan sosial melalui pembangunan
regional. Whitlam mengangkat isu kemiskinan. Pada jaman Whitlam inilah
dibentuk Department of Urban and Regional Development (DURD). Setelah
pemerintahan Whitlam jatuh pada 1975, DURD tidak lagi efektif.



Periode ketika pembangunan regional mendapat perhatian langsung pemerintah
Federal inilah yang kemudian disebut sebagai periode strategi
“interventionist”. Ini yang membedakannya dengan pendekatan neoliberal yang
muncul pada dekade 1980an.



Zamannya PM Howard? Saya kutipkan langsung tulisan Tonts:



Upon winning the election, Howard soon announced a series of major policy
reforms aimed at further liberalizing the economy and downsizing the public
service. This represented a return to the more “hard-line” neoliberal agenda
that had characterized Australian politics in the 1980.



Di AS, scholar seperti Saskia Sassen, Storper, Alen Scott, David Harvey,
dll  banyak menulis tentang landscape ekonomi urban dan regional akibat
pengaruh dari pendekatan neoliberal. Bahasa politiknya, kalau tokh harus
dibuat dikotomi, scholar tersebut agak berbau sosialis, agak kiri. Mungkin
begitu istilah gampangnya ya rekan Eko van Paris (CMIIW).



Kembali pada pertanyaan uda Eka: dalam mazhab ekonomi apa 'sistem
perencanaan dan pembangunan' yang telah terbangun selama ini dapat tumbuh
berkembang mencapai wujudnya yang ideal?



Di antara kemungkinan jawabannya, satu hal yang sama sekali tidak boleh
dilupakan, ideal  menurut apa yang diamanatkan  konstitusi.


Seorang pengamat dan praktisi politik  boleh mengatakan bahwa Korea Utara
ekonominya hancur lebur karena system ekonominya tertutup. Seorang diplomat
yang pernah bertugas di sana mengatakan kekagumannya di tengah
keterisolasian Korut, pemerataan kesejahteraan masyarakat di Korut sangat
mengesankan, tidak ada kriminilitas, tidak ada kemacetan, tidak ada korupsi
yang sangat menonjol.

Hancur dan ideal itu menurut siapa?  Beberapa kali  saya naik taksi di
Chicago (gini-gini mantan “Chicago-pinggiran Boy” .. he he he he) si sopir
Hispanic itu nyerocos terus tentang beratnya hidup di Chicago, habis untuk
bayar pajak.. bayar ini bayar itu… Persis seperti nyerocosnya sopir taksi
yang biasa ngetem di Bandara Changi. Kota dengan system ekonomi yang
memberikan kemakmuran itu, ideal menurut siapa?



Dan, adakah konsekuensi perubahan sistem karena perubahan mazhab ekonomi?
Tulisan singkat ini sudah memberikan jawaban tidak langsung.



Salam hangat untuk semua sahabat,



Nuzul Achjar

Kirim email ke