Pak Nuzul dan rekan2 referensiers ysh.,
Saya tidak membela salah satu calon tetapi tuduhan mengapa Pak Boediono disebut 
neolib juga tidak pernah jelas sehingga dapat dimengerti mengapa jawabannya 
juga tidak pernah jelas... Tidak ada yg menjabarkan dlm bentuk "daftar mengapa 
Boediono adalah penganut neolib"... Kalau ada daftarnya saya kira akan lebih 
bisa dijawab point per point...
Tapi saya sepakat dgn Pak Nuzul bahwa ini bukan masalah baik atau buruk...bagi 
saya juga kita tidak bisa melihat hal ini secara kaku hitam atau putih, 
misalkan privatisasi itu buruk, penghapusan subsidi itu buruk, dll... 
Privatisasi misalkan, dgn penjualan beberapa BUMN, tergantung BUMN nya, kalau 
BUMN tsb tidak terkait dgn "hayat hidup rakyat banyak" apa salahnya di jual ke 
swasta? Dari pada rugi terus yg ujung2nya merugikan pemerintah dan rakyat, 
boro2 bayar dividen yg ada negara terus mensubsidi mereka yg tidak efisien dan 
berulah seperti parasit... 
Pendirian BHMN sendiri menurut saya tidak buruk. Yang menjadi masalah kan 
sistem pemberian beasiswanya yg belum baik. Kalau sudah cukup baik maka anak2 
masyarakat miskin tidak akan kesulitan utk sekolah di BHMN2 tsb karena dijamin 
oleh pemberian full scholarships... selain itu yg jadi masalah juga banyak 
univ2 publik yg lain yg tidak mau kalah dgn BHMN dlm berbisnis, FK di univ2 non 
BHMN pun berlomba2 mahal2an.. luar biasa bukan?       
Pemilihan beberapa univ di Indo sebagai BHMN menurut saya sebuah kebijakan yg 
cukup baik di tengah minimnya dana pemerintah utk pendidikan tinggi. Dgn uang 
yg ditarik seharusnya pembiayaan riset dsb. bisa dilakukan lebih baik. BHMN 
sebagai agen pertumbuhan dan non-BHMN sebagai agen pemerataan. Tapi memang yg 
non BHMN nampaknya sulit menerima. Ini masalah konsensus tkt nasional. Ini 
pandangan saya sebagai orang di luar universitas, mungkin Pak Nuzul atau rekan 
dr univ lainnya bisa mengkoreksi kalau pendapat saya salah...
Demikian juga dgn pengurangan/penghapusan subsidi. Apakah kalau 
pengurangan/penghapusan subsidi BBM itu lalu neolib? Toh subsidinya dialihkan 
dlm bentuk subsidi yg target groupnya rakyat miskin seperti BLT...berarti bukan 
neolib...rakyat jadi bingung karena semuanya dilihat sepotong2 kemudian 
dikelompokan secara general: Neolib, Kerakyatan, dll...

salam.








--- On Tue, 5/26/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:

From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Tanggapan Faisal Basri ttg Neoliberalisme
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 26, 2009, 3:04 AM











 






    
            
            


      
      Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth, 
Saya sepakat sekali dengan apa yang dikatakan oleh Revrisond bahwa tidak 
perlulah membuat argumentasi defensif  berlebihan untuk mengatakan bahwa 
seseorang itu bukan penganut neoliberal. Lah wong sudah jelas koq kalau 
kebijakannya bernuansa neoliberal, berapapun kadarnya. Orang  boleh saja 
mengatakan bahwa air didalam gelasnya setengah kosong ataupun setengah penuh. 
Substansinya nggak ada bedanya, yang beda adalah persepektifnya melihat isi 
gelas itu.

Inilah akibatnya kalau  terlalu defensive, argumentasinya tidak pernah 
menyentuh esensi mengapa diperlukan privatisasi, mengapa UI, ITB, UGM, IPB  
harus jadi BHMN, biarkan sekolah asing masuk negeri ini, mengapa perlu 
liberalisasi di sektor jasa kesehatan sehingga muncul rumah sakit mewah, 
mengapa supermall jangan dilarang masuk kota, mengapa sumber daya air 
“dikomiditisasi” dengan legalitas UU Sumber Daya Air dll, dll. Hal hal inilah 
yang tidak pernah disentuh, sehingga argumentasinya tidak lebih tidak kurang .. 
Oh..saya bukan neolib lho, buktinya  campur tangan pemerintah masih ada koq.  

Lha, kalau soal campur tangan pemerintah baik di negara kapitalis, sosialis 
atau komunis sih  nggak perlu diomongkanlah. . itu argumentasi kuno… nggak 
menjawab pertanyaan mendasar. Kenyataannya argumentasi seperti inilah yang 
muncul dipermukaan di media kita, tetapi tidak banyak secara tersurat mengapa 
kebijakan ekonomi yang menjurus pada konsep yang setengah bukan neolib atau 
setengah neolib itu harus diambil. Kalau berpikir positip sih, ya mungkin saja 
waktu tidak cukup untuk menjelaskanna secara detill.

Nah kalau begitu, buat aja debat di Pilpres… tapi jangan lagi menghindar dengan 
mengatakan, peranan pemerintah masih besar lho… Atau ekonomi kerakyatan itu 
tidak menutup berkembangnya perusahaan multinasional lho….kalau itu jawabannya 
.. square one lagi.. debat yang tidak maju-maju.

Salam hangat selalu
Nuzul Achjar
 
 
 
 

 

      

    
    
        
         
        
        


        


        
        
        
        
        




      

Kirim email ke