Pak Risfan dan sahabat semua,

Tampaknya begitulah, kita perlu menyikapi warisan budaya lokal dengan penuh 
hormat agar upaya mengenali hingga memahami benar-benar tuntas. Situasi 
sekarang yang populer adalah kajian tentang arsitektur bangunan, sementara 
sebuah desa sebagai satu entitas wadah kehidupan yang batas-batasnya bisa 
dicari belum dilihat sebagai sebuah karya arsitektur-lingkungan. Penelitian 
saya masuk ke jenis arsitektur lingkungan, meskipun tidak sepenuhnya 
meninggalkan arsitektur bangunan. Saya kira sungguh benar dan menantang gagasan 
Bapak tentang "knowledge management" kearifan lokal dalam bidang bangunan 
hingga tata lingkungan....persoalannya, knowledge yang mau dimanajemeni ada apa 
tidak...sementara sekarang tokoh-tokoh yang bicara fenomena ruang lokal belum 
banyak atau pengetahuan tentang hal itu belum banyak mungkin karena kita-kita 
enggan masuk ke desa- desa tradisional kita. Kita bisa melihat ada fenomena 
orang Jepang yang tinggal di suatu pulau kita dan hidup
 menyatu dengan masyarakat lokal untuk menggali keunikan fenomena ruang dan 
budaya lokal.....itulah !

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 5/29/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: [email protected]
Date: Friday, May 29, 2009, 3:23 AM











    
            
            


      
      Pak Djarot, Uda Ekadj dan Rekans ysh,

Ya. Pisau analisis universal (dari Jepang, China, Barat, dll) layak dipakai 
untuk mengkaji arsitektur/budaya lokal. Etnografis misalnya sebagai satu 
pendekatan kualitatif kan seperti ilmu "tangan kosong". Menkaji kebiasaan lokal 
tanpa praduga apapun. Kan layak dipakai untuk menggali unsur lokal.

Kedepan barangkali perlu mengembangkan "knowledge management" untuk arsitektur 
lokal secara nasional. Melalui kodifikasi sistematis kan bisa diinventarisasi 
solusi-solusi lokal atas atap, ventilasi, fondasi, bahan bangunan setempat, 
dst, dll. Ini akan bisa jadi kekayaan arsitektur Indonesia.
Katakanlah gaya arsitektur Aula Barat & Timur ITB, yang diambil oleh arsitek 
Belanda berdasar pola atap lokal, yang sampai hari ini kadang masih 
diperdebatkan dari daerah mana. Mungkin karena dia mengawinkan ide dari 
beberapa daerah. Pemilihan pohon (damar?) sebagai elemen landskapnya, 
sepertinya juga ide menemukan bahan asli Indonesia, tapi tidak umum dipakai di 
kota lain.

Dengan demikian ilmu tetap berkembang terbuka, tapi content lokal digali untuk 
melengkapi perbendaharaan ide dan solusi atas permasalahan (efisiensi, 
keberlanjutan, hemat energi, dst).

Salam,
Risfan Munir




From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Sent: Friday, May 29, 2009 1:42 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)



Pak Risfan, sebenarnya saya hanya meneruskan gagasan Pak Jauhari Sumintardja 
dalam bukunya yang sudah kuno tentang sejarah arsitektur. Dalam buku itu beliau 
mengatakan untuk menuliskan sejarah arsitektur mbokya jangan mulai dari 
arsitektur barat tetapi mulailah dari arsitektur yang ada di Indonesia. Saya 
kira ini bukan sikap permusuhan atau anti budaya lain melainkan mencoba 
menggeser peta bumi sejarah dari Eropasentrisme ke Indonesia-sentrisme dengan 
sikap tidak dengan kacamata sempit. Jika ada profesor Jepang yang membangun 
pengetahuan dengan tema "non-western" architectur tentu ini bukan anti western, 
melainkan perhatian perlu ditingkatkan pada tema itu karena memang ada harta 
karun di sana ! Keterbatasan warisan lokal tentu siap didialogkan dengan 
warisan budaya dari manapun untuk dikaji bersama dalam sikap hormat yang sama, 
sebab kadang kita terlalu mengagungkan yang satu dan meremehkan yang lain....

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
 http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 5/28/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 28, 2009, 9:05 AM

Pak Djarot dan rekans ysh., Saya mengikuti diskusi "identitas lokal" ini, smbil 
mencoba memahami yang Uda Ekadj sebut "antrhopo-spatial" . Tapi saya agak 
terganjal kata pak Djarot yang seperti anti konsep/teori luar/barat. Menurut 
saya kalau ilmunya, pisau analisisnya kan bisa dari mana saja, dari bumi maupun 
langit. Tapi yang kita gali dan hidupkan content budaya, kearifan lokal. Ilmu 
antropologi, arsitektur, planning kan kita pelajari dari mana pun. Tapi 
planning/arsitektur standar, style, content dengan ilmu itu kita gali dari 
lokal. Kita juga mesti hati-hati pula dengan obsesi berlebihan atas sesuatu 
yang lokal. Sampai diman, atau apa kriterianya. Mana batas keunikan 
daerah/etnis, mana ke-Indonesia- an. Kalau keterusan, jangan-jangan kita 
kembali ke peradaban lama. Jangan-jangan "suku lain" dianggap musuh. Apakah 
begitu? Salam,Risfan Munir  

--- On Wed, 5/27/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:14 PM

Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti kiprah senior 
saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan RUANG LOKAL sebagai 
mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba diperhatikan, apakah selama ini 
ada acuan yang jelas dalam planning yang menggarap keunikan-keunikan lokal 
seperti di Sabu ? Kami mencoba menyodorkan bahwa fenomena ruang lokal menyimpan 
konsep-teori yang dibutuhkan untuk pembangunan lokal. Untuk menata Sabu 
semestinya pertama kali ya mencoba mengangkat konsep-teori yang pernah 
berkembang di kalangan masyarakat lokal kemudian digunakan sebagai acuannya. 
Tentu tindakan ini dilandasi oleh sikap hormat pada keunikan lokal dan menjauhi 
tradisi silau terhadap konsep-teori dari dunia lain  (teori-teori ahli dari 
luar). Pesannya, kita jangan silau oleh teori dari "barat" sebab di lokal 
sendiri tersimpan jutaan teori warisan nenek-moyang yang masih tersembunyi dan 
menunggu digali kemudian digunakan untuk menata
 ruang kehidupan lokal. Sikap saya ini adalah berusaha menghargai teori-teori 
lokal sejajar dengan teori-teori dalam wacana teksbook di perguruan tinggi yang 
dibangun oleh ahli-ahli luar dan kadang menjadi idola di kalangan mahasiswa 
karena para dosennya mengidolakan. Jadi bukan meremehkan apapun dan siapapun 
supaya kita sunggun jernih melihatnya dan menemukan mutiara yang dicari.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 5/27/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:

From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 27, 2009, 2:41 PM

Pak Eka dan Pak Djarot yang berboedi,… Sebenarnya, proses yang pakem seperti 
apa sih dalam penataan ruang yang mencoba menggali kearifan lokal yang 
sebenarnya mungkin sudah tau bagaimana memanfaatkan ruang mereka dengan bijak 
dan benar,…. Penataan ruang seperti apa yang mampu menegaskan identitas 
lokalnya?Ada contoh? Biar teman-teman di kabupaten Sabu yang baru terbentuk ini 
bisa terinspirasi salam Regards, dwiagus http://bdwiagus. blogspot. 
comhttp://bdwiagus. multiply. com  "The most difficult thing in the world is to 
know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without 
comment." - T. H. White :::... Indo-MONEV ...:::Indo-MONEV is a mailing list to 
build a network of Indonesian People anywhere in the world who are interested, 
dedicated, and profesionalised to the work on monitoring and evaluation and 
other related development issues including development aid works, particularly 
in Indonesia.Join in by sending an email to:
 indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com Find also Indo-MONEV in facebook: 
http://www.facebook .com/group. php?gid=34091848 127&ref=ts  From: 
refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
Djarot Purbadi
Sent: 27 May 2009 04:26
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo) 






 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke