Waaah ini ide sangat bagus Pak Risfan, sumonggo kita persilahkan Bapak Moderator untuk memfasilitasi eh menciptakan fasilitas itu, terus terang saya gaptek dalam hal seperti ini, bisanya ya hanya bikin cluster blog secara gratisan via wordpress. Saya menyerah pada titik ini karena memang gaptek Pak.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 5/29/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: [email protected] Date: Friday, May 29, 2009, 10:47 AM Pak Djarot dan Rekans ysh., Alangkah baiknya kalau kita bisa bikin semacam Wikipedia, kompendium arsitektur dan perencanaan, yang isinya kontribusi tiap partisipan, nambah terus step-by-step. Kan sekarang kita semua kalau jalan ke daerah selalu motret digital bangunan/lingkungan . Tapi mesti ada yang bikin format (program)nya dulu, sehingga spt Wikipedia orang mudah memberikan kontribusinya. Salam, Risfan Munir --- On Thu, 5/28/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, May 28, 2009, 10:11 PM Pak Risfan dan sahabat semua, Tampaknya begitulah, kita perlu menyikapi warisan budaya lokal dengan penuh hormat agar upaya mengenali hingga memahami benar-benar tuntas. Situasi sekarang yang populer adalah kajian tentang arsitektur bangunan, sementara sebuah desa sebagai satu entitas wadah kehidupan yang batas-batasnya bisa dicari belum dilihat sebagai sebuah karya arsitektur-lingkung an. Penelitian saya masuk ke jenis arsitektur lingkungan, meskipun tidak sepenuhnya meninggalkan arsitektur bangunan. Saya kira sungguh benar dan menantang gagasan Bapak tentang "knowledge management" kearifan lokal dalam bidang bangunan hingga tata lingkungan.. ..persoalannya, knowledge yang mau dimanajemeni ada apa tidak...sementara sekarang tokoh-tokoh yang bicara fenomena ruang lokal belum banyak atau pengetahuan tentang hal itu belum banyak mungkin karena kita-kita enggan masuk ke desa- desa tradisional kita. Kita bisa melihat ada fenomena orang Jepang yang tinggal di suatu pulau kita dan hidup menyatu dengan masyarakat lokal untuk menggali keunikan fenomena ruang dan budaya lokal.....itulah ! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Fri, 5/29/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, May 29, 2009, 3:23 AM Pak Djarot, Uda Ekadj dan Rekans ysh, Ya. Pisau analisis universal (dari Jepang, China, Barat, dll) layak dipakai untuk mengkaji arsitektur/budaya lokal. Etnografis misalnya sebagai satu pendekatan kualitatif kan seperti ilmu "tangan kosong". Menkaji kebiasaan lokal tanpa praduga apapun. Kan layak dipakai untuk menggali unsur lokal. Kedepan barangkali perlu mengembangkan "knowledge management" untuk arsitektur lokal secara nasional. Melalui kodifikasi sistematis kan bisa diinventarisasi solusi-solusi lokal atas atap, ventilasi, fondasi, bahan bangunan setempat, dst, dll. Ini akan bisa jadi kekayaan arsitektur Indonesia. Katakanlah gaya arsitektur Aula Barat & Timur ITB, yang diambil oleh arsitek Belanda berdasar pola atap lokal, yang sampai hari ini kadang masih diperdebatkan dari daerah mana. Mungkin karena dia mengawinkan ide dari beberapa daerah. Pemilihan pohon (damar?) sebagai elemen landskapnya, sepertinya juga ide menemukan bahan asli Indonesia, tapi tidak umum dipakai di kota lain. Dengan demikian ilmu tetap berkembang terbuka, tapi content lokal digali untuk melengkapi perbendaharaan ide dan solusi atas permasalahan (efisiensi, keberlanjutan, hemat energi, dst). Salam, Risfan Munir From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Friday, May 29, 2009 1:42 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) Pak Risfan, sebenarnya saya hanya meneruskan gagasan Pak Jauhari Sumintardja dalam bukunya yang sudah kuno tentang sejarah arsitektur. Dalam buku itu beliau mengatakan untuk menuliskan sejarah arsitektur mbokya jangan mulai dari arsitektur barat tetapi mulailah dari arsitektur yang ada di Indonesia. Saya kira ini bukan sikap permusuhan atau anti budaya lain melainkan mencoba menggeser peta bumi sejarah dari Eropasentrisme ke Indonesia-sentrisme dengan sikap tidak dengan kacamata sempit. Jika ada profesor Jepang yang membangun pengetahuan dengan tema "non-western" architectur tentu ini bukan anti western, melainkan perhatian perlu ditingkatkan pada tema itu karena memang ada harta karun di sana ! Keterbatasan warisan lokal tentu siap didialogkan dengan warisan budaya dari manapun untuk dikaji bersama dalam sikap hormat yang sama, sebab kadang kita terlalu mengagungkan yang satu dan meremehkan yang lain.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 5/28/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, May 28, 2009, 9:05 AM Pak Djarot dan rekans ysh., Saya mengikuti diskusi "identitas lokal" ini, smbil mencoba memahami yang Uda Ekadj sebut "antrhopo-spatial" . Tapi saya agak terganjal kata pak Djarot yang seperti anti konsep/teori luar/barat. Menurut saya kalau ilmunya, pisau analisisnya kan bisa dari mana saja, dari bumi maupun langit. Tapi yang kita gali dan hidupkan content budaya, kearifan lokal. Ilmu antropologi, arsitektur, planning kan kita pelajari dari mana pun. Tapi planning/arsitektur standar, style, content dengan ilmu itu kita gali dari lokal. Kita juga mesti hati-hati pula dengan obsesi berlebihan atas sesuatu yang lokal. Sampai diman, atau apa kriterianya. Mana batas keunikan daerah/etnis, mana ke-Indonesia- an. Kalau keterusan, jangan-jangan kita kembali ke peradaban lama. Jangan-jangan "suku lain" dianggap musuh. Apakah begitu? Salam, Risfan Munir --- On Wed, 5/27/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:14 PM Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti kiprah senior saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan RUANG LOKAL sebagai mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba diperhatikan, apakah selama ini ada acuan yang jelas dalam planning yang menggarap keunikan-keunikan lokal seperti di Sabu ? Kami mencoba menyodorkan bahwa fenomena ruang lokal menyimpan konsep-teori yang dibutuhkan untuk pembangunan lokal. Untuk menata Sabu semestinya pertama kali ya mencoba mengangkat konsep-teori yang pernah berkembang di kalangan masyarakat lokal kemudian digunakan sebagai acuannya. Tentu tindakan ini dilandasi oleh sikap hormat pada keunikan lokal dan menjauhi tradisi silau terhadap konsep-teori dari dunia lain (teori-teori ahli dari luar). Pesannya, kita jangan silau oleh teori dari "barat" sebab di lokal sendiri tersimpan jutaan teori warisan nenek-moyang yang masih tersembunyi dan menunggu digali kemudian digunakan untuk menata ruang kehidupan lokal. Sikap saya ini adalah berusaha menghargai teori-teori lokal sejajar dengan teori-teori dalam wacana teksbook di perguruan tinggi yang dibangun oleh ahli-ahli luar dan kadang menjadi idola di kalangan mahasiswa karena para dosennya mengidolakan. Jadi bukan meremehkan apapun dan siapapun supaya kita sunggun jernih melihatnya dan menemukan mutiara yang dicari. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 5/27/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote: From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo) To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, May 27, 2009, 2:41 PM Pak Eka dan Pak Djarot yang berboedi,… Sebenarnya, proses yang pakem seperti apa sih dalam penataan ruang yang mencoba menggali kearifan lokal yang sebenarnya mungkin sudah tau bagaimana memanfaatkan ruang mereka dengan bijak dan benar,…. Penataan ruang seperti apa yang mampu menegaskan identitas lokalnya? Ada contoh? Biar teman-teman di kabupaten Sabu yang baru terbentuk ini bisa terinspirasi salam Regards, dwiagus http://bdwiagus. blogspot. com http://bdwiagus. multiply. com "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White :::... Indo-MONEV ...::: Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring and evaluation and other related development issues including development aid works, particularly in Indonesia. Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. php?gid=34091848 127&ref=ts From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of Djarot Purbadi Sent: 27 May 2009 04:26 To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey Damaledo)

