----- Original Message -----
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Date: Fri, 29 May 2009 21:38:20
From: Risfan M <[email protected]>
To: [email protected] <[email protected]>

Pak ATA, Pak BSP, Efha, Ekadj dan Rekans ysh.,

Diskosi konsep (ideologi?) pembangunan memang akan jalan selalu, karena tiap 
saat kita perlu evaluasi.
Saya kira bukan sekedar debat jargon, tapi dibalik itu (di luar soal kontes 
pemilu) memang wajar terjadi. Justru momentum Pemilu bisa dipakai.

Anthropologi vs Pembangunan (ekonomi) juga suatu beda paradigma yang sering 
terjadi. Pernah antroph/ budaya dipakai sebagai instrumen penguat pembangunan 
ekonomi nasional. Tapi disaat lain budaya jadi orientasi utama, dan ekonomi 
instrumennya untuk penguat &quot;bangsa&quot;. Ingat Rostow, Boeke, Geertz, dan 
Koentjaraningrat &quot;Budaya dan Mentalitet Pembangunan&quot;.

Jepang saya kira tidak lepas dari pencarian ideologi atau orientasi itu. Sejak 
Restorasi Meiji mereka membuka diri terhadap &quot;barat&quot;, belajar dari 
barat. Lihat saja nama partai besar nya LDP (Liberal Democratic Party). Sesuai 
dengan topic diskusi yang berkembang. Komparasi pembangunan Jepang vs Indonesia 
(Jawa) dalam bahasan antropologis juga dibahas oleh Geertz dalam bukunya 
&quot;Involusi Pertanian&quot;. 

Dalam pengembangan konsep Pengembangan Wilayah, John Friedman dalam 
keprihatinannya atas dominasi kapitalis global juga mendorong dia menulis 
&quot;Territory and Function&quot; yang membandingkan model pengembangan 
fungsional dengan integrasi wilayah lokal, ke nasional, ke global, secara 
empiric memang cenderung eksploitatif. Sihingga dia membandingkannya dengan 
orientasi berbasis lokal, ekstremnya &quot;isolasi&quot; teritorial atau lokal. 
Sehingga betul-betul basis lokal, kearifan lokal yang jadi tujuan dan orientasi 
pendekatan. 
Orientasi &quot;fungsional&quot; dan nasional dan keterbukaan global berakhir 
dengan risiko tercengkeram dalam sistem ekonomi global yang eksploitatif. 
Sementara orientasi lokal risikonya kita jadi sibuk melihat ke belakang, 
sementara tantangan dan ancaman sudah di depan mata. Rakyat termasuk di 
daerah-daerah juga menuntut sesuatu yang cepat kelihatan hasilnya. 
Ini soal besar, dan di negara kita ini juga ada soal multi-etnik, kembali ke 
budaya lokal, TUJUAN, KRITERIA dan BATASANNYA mesti jelas, karena kalau tidak, 
bisa terjerumus kepada neo-feudalism lokal, yang juga marak.

Bagi saya sendiri, sintesis ide pengembangan ekonomi dan kearifan lokal, secara 
fungsional terintegrasi dalam upaya &quot;Pengembangan Ekonomi Lokal&quot;. 
Bagaimana kekayaan budaya, SDA, keterampilan, kreativitas, social capital, 
dihidupkan untuk membangun keunggulan daya saing ekonomi lokal. Global paradox 
katanya, karena dalam era global, justru corak lokal jadi kekhasan yang 
bernilai tinggi. 

Memperdebatkan dua ekstrem, integrasi global vs ketertutupan lokal. Jalan 
tengahnya penguatan daya saing ekonomi lokal yang kemudian dirangkai dengan 
network skala nasional. Ini perlu dilaksanakan dengan penuh komitmen, untuk 
mengimbangi sistem produksi skala nasional saat ini yang masih berputar di 
&quot;substitusi import&quot; yang lebih menguntungkan MNC. Kesimpulan lagi, 
Indonesia sebagai negara terbuka yang multi-etnik, multi pulau, memang akan 
selalu dalam daya tarik lokal vs global. Budaya / identitas nasional sendiri 
juga dalam area tarik-menarik. Contoh konkrit, pakaian nasional yang bukan 
pakaian &quot;suku&quot;, bukan juga &quot;barat, muslim, china&quot; itu 
seperti apa? Stelan jas pakai kopiah itu asli nasional? Ibunya yang sulit pakai 
kebaya jadi kelhatan Jawa, pakai baju kurung, atau yang lain jadi menunjukkan 
suku. Sementara itu sebagian besar rakyat nonton TV yang menampilkan lebih 
banyak iming-iming &quot;budaya luar&quot;, merek-merek
 global. Ini tantangannya.

Salam,
Risfan Munir

abimanyu takdir alamsyah wrote: 
>       Rekans ysh, Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan 
> mencari istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia 
> nyata. Tidak asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun 
> investro luar, teapi mencoba pola produksi baru sesuai kekhasan kreatifitas 
> budaya lokal yang mungkin dikembangkan masyarakatnya. .. 
>  Salam.... ATA 2009/5/29 ffekadj < 4ek...@gmail. com > 
>       Pak Fadjar ysh, beberapa tahun yang lalu saya pernah sesorah   di forum 
> antropolog, dan saya cuplik lagi di bawah. Intinya antropologi itu bukan 
> sekedar ilmu, tetapi juga merupakan "bahasa". Salam. 
>  -ekadj 
>  --- In refere...@yahoogrou ps.com , <efha_mardiansjah@ ...> wrote: > > Lho 
> Pak Bambang, >   
>> Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan paradigma yg paling 
>> diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan diskusi antropologis, 
>> Pak.... >   > Saya rasa itu lebih merupakan diskusi filsafat (falsafah?) 
>> tentang apa cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia dan juga 
>> pendekatan-pendekat an yg perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau Bhutan 
>> melakukan pemilihan kepada paradigma kebahagiaan ( happyness) dan bukan 
>> pertumbuhan (not growth), itu khan bagian dari pilihan-pilihan strategis 
>> bangsa Bhutan dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Saya rasa, kita tidak 
>> harus memilih paradigma kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, tertus 
>> terang, pilihan strategis bangsa Bhutan itu bisa menjadi "pengingatan" bagi 
>> kita yang cenderung memilih paradigma pertumbuhan (growth) di dalam pilihan 
>> strategis pembangunan bangsa...... Apakah hal itu telah benar dan sesuai 
>> dengan apa yg dicita-citakan dahulu 
>>   > Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak... >   > > > 
>> --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote: > > > From: bspr...@... 
>> bspr...@... 
>  > Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo > To: refere...@yahoogrou ps.com > 
> Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM > 
>> Mas Fadjar ysh, > Maaf saya tidak mau mengajak milist ini kearah 
>> antropo-discussion. Saya cuman benar2 tidak bisa memahami begitu banyaknya 
>> kebetulan yang terjadi di negara ini dan semua berbuah pada sebuah 
>> kenikmatan ... meskipun ini baru kenikmatan dunia he he he. 
>> Salam > bambang sp > .... Pak Fikar dan kerabat2 ysh, Sebelumnya saya 
>> sampaikan bilamana saya bukan seorang antropolog, justru sebenarnya secara 
>> tidak sadar sedang mempelajari hal itu. Bila anda membaca sedikit tulisan 
>> saya, sebenarnya saya sedang tidak 
> menggambarkan suatu ilmu, tetapi adalah bahasa. Jadi antropologi adalah 
> bahasa yang beredar, dan mau tidak mau setiap orang akan berusaha kalau tidak 
> mau disebut dipaksa untuk berbicara dengan bahasa itu. Mungkin ini penafsiran 
> amatir saya. 
>  Saya tidak mengabaikan Geertz, bukunya telah saya baca sejak 20 tahun yang 
> lalu. Justru tercerahkan, karena membuka alam pertama saya tentang 
> bangsa-bangsa. Boleh jadi rujukan, namun maunya setelah itu lebih banyak 
> swakarya yang mengungkapkan jatidiri kita sendiri. 
> Kemarin saya baca Babad Tanah Jawi bahasa Indonesia, ternyata klasifikasi 
> sosial bisa lebih rumit dari yang digambarkan Geertz. Dan saya belum nemu 
> literatur yang memuaskan tentang hal ini. Karena ini persoalan bahasa, maka 
> saya mencari sendiri jalan ke hal itu, 
> termasuk mengintip di milis ini. Dan ternyata luar biasa, dalam beberapa hal 
> banyak tabir yang bisa kita ungkap sendiri. Mungkin pertanyaan naif saya 
> kepada kerabat antropologi, sejauh mana anda memahami bangsa anda sendiri? 
> Pertanyaan ini yang saya simpan 
> pada posting sebelumnya. Bila anda merasa terpanggil, silahkan dijawab, dan 
> kita bisa memulai berbagi informasi secara sehat. Bilamana tidak, kita 
> mungkin hanya tumbuh sebagai generasi pembaca buku cerita, atau komentator 
> iseng. 
>  Karena ini adalah persoalan bahasa, tentunya antropologi adalah penting 
> untuk pembangunan. Tentunya saya setuju dengan pandangan sebelumnya tentang 
> perlunya meningkatkan peran itu dewasa ini. Sejak beberapa tahun ini saya 
> sudah melibatkan rekan2 antropolog untuk 
> beberapa pekerjaan teknis. Cobalah, betapa tidak kurang pentingnya 
> antropologi ini. Harapan yang tersimpan adalah bagaimana para kerabat 
> antropologi dapat menemukan kesejatian bangsa Indonesia dan suku-suku 
> bangsanya, 
> dan karenanya kita bisa bermartabat dalam pergaulan dunia. Bilamana mungkin 
> seperti yang saya lihat di Jepang bulan lalu, ketika 'keajaiban ekonomi 
> Jepang' hanya dapat dilakukan oleh 'orang' Jepang dan 'budaya' Jepang. ....
>      







      

Kirim email ke