Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth,
Saya baru menyelesaikan coretan ringan saya tentang perekonomian Kepulauan
sekitar tiga hari lalu, juga cerita tentang Meiji, culture, local economic
development, dll. Saya kira bukan sebuah kebetulan jika nada dasarnya sama.

Wassalam,

Nuzul Achjar


PEMBANGUNAN EKONOMI DAN INSTITUSI  DI KEPULAUAN RIAU

Oleh:

Nuzul Achjar



Berbicara tentang perekonomian regional Kepulauan Riau, setidaknya ada dua
hal yang sering dijadikan sebagai *trade mark* yaitu: pertama, tentang
potensi ekonomi maritim, mengingat 96% wilayah Kepulauan Riau terdiri dari
lautan. Kedua, tentang kekuatan ekonomi  Kepulauan Riau yang bertumpu pada
pulau Karimun, Bintan, dan Batam. Dua kabupaten dan dua kota yang berada di
tiga pulau ini ditempati oleh 86.5% penduduk anak negeri. Bagian terbesar
dari penciptaan produk domestik regional bruto (PDRB)  Kepulauan Riau (tanpa
minyak dan gas bumi) berasal dari segitiga Batam-Bintan-Karimun.
Ditetapkannya Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan
dan Karimun (BBK) makin memperjelas posisi tiga pulau ini sebagai pilar
kekuatan ekonomi Kepulauan Riau melalui investasi dan ekspor.

Perbincangan tentang prospek perekonomian Kepulauan Riau akan
mempunyai  keterbatasan
tersendiri jika semata didekati dengan perspektif ekonomi “neoklasik”.
Menurut pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi serta pemerataan hasil
pembangunan ekonomi dapat dicapai jika faktor produksi yaitu tenaga kerja
dan modal untuk investasi dapat bergerak menuju daerah tertentu  jika
memperoleh upah dan pendapatan modal yang lebih besar. Untuk itu diperlukan
berbagai infrastruktur fisik dan sarana transportasi yang efisien.

Jika prasyarat infrastruktur ekonomi telah tersedia serta mekanisme pasar
telah bekerja, adakah jaminan bahwa investasi dan tenaga kerja otomatis akan
mengalir masuk, kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi daerah?

* *

*Ekonomi Kelembagaan *



Sejarah pembangunan ekonomi di banyak negara menunjukkan bahwa kalaupun
pertumbuhan ekonomi didorong oleh investasi dan ekspor, dibalik itu terdapat
prasyarat yang tidak terungkap di dalam pendekatan ekonomi neoklasik, yaitu
peranan institusi. Pertumbuhan ekonomi tinggi di negara-negara yang pernah
dijuluki “macan Asia” seperti Singapura, Hongkong, Korea dan Taiwan tidaklah
berdiri sendiri karena didukung oleh institusi yang kuat. Demikian juga
halnya dengan keajaiban ekonomi Cina yang bertumbuh atas 8% selama belasan
tahun terakhir.

Peranan institusi dalam pertumbuhan ekonomi dikemukakan antara lain oleh
Douglas North – salah seorang pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi. Institusi
diartikan sebagai setiap bentuk atau hal yang membatasi perilaku manusia
dalam berinteraksi, seperti norma sosial, keyakinan dan sistem nilai yang
disepakati masyarakat. Insitusi berbeda pengertiannya dengan organisasi.
Bank adalah sebuah organisasi, bukan institusi. Sistem perbankan adalah
hasil dari sistem institusi yang membuat regulasi dan peraturan yang terkait
dengan sistem finansial. Institusi pemerintah dibutuhkan untuk menyediakan
barang publik termasuk infrastruktur. Institusi pasar modal dimaksudkan
untuk memberi jaminan terhadap uang yang diinvestasikan oleh masyarakat.

Bagaimanakah sesungguhnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan institusi?
 Dalam Ekonomi Kelembagaan, institusi berperan untuk mengurangi  biaya
transaksi (*transaction cost*) dan biaya informasi. Biaya transaksi  dapat
ditimbulkan oleh birokrasi maupun masyarakat. Birokrasi yang berbelit-belit,
korup, dan  menyusahkan menimbulkan biaya transaksi tinggi sehingga
mengurangi efisiensi pergerakan roda perekonomian. Tingginya biaya transaksi
dan biaya informasi dapat juga terjadi jika modal sosial (*social capital*)
masyarakat rendah, seperti tiadanya rasa saling percaya, buruknya hubungan
antar kelompok masyarakat, ataupun tingginya tingkat kriminalitas.

Dalam konteks institusi, sebagai provinsi yang baru berkembang dengan basis
ekonomi maritim serta strategi “*export-led*” dan “*investment
driven*”  melalui
FTZ-BBK, pelajaran apa yang dapat dipetik oleh Kepulauan Riau dari kelemahan
ataupun kegagalan yang  terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia dalam
mengembangkan perekonomian regional?  Pertama adalah terus meningkatkan
semangat kewirausahaan masyarakat, dan kedua adalah  peningkatan ataupun
revitalisasi modal sosial yang sudah ada.

 Kepulauan Riau terdiri gugusan ratusan klaster (kelompok) pulau-pulau kecil
dan sedang,  mulai dari ujung utara Natuna, ke arah barat daya menuju
Anambas, Bintan, Batam, Karimun, hingga ke ujung bagian selatan di Kepulauan
Lingga. Kondisi ini membuat kedekatan geografis menjadi sangat bervariasi.
Haruslah diakui bahwa upaya untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat
kepulauan bukanlah perkara mudah.

Di balik kendala geografis, masyarakat Kepulauan Riau sesungguhnya masih
memiliki modal sosial yang diikat oleh  akar dari budaya Melayu. Saling
percaya (*trust*), semangat saling membantu masih dapat kita harapkan
sebagai salah satu modal dasar bagi pengembangan ekonomi daerah. Namun modal
sosial ternyata tidak cukup untuk dapat mengantar masyarakat Kepulauan Riau
menuju kemakmuran tanpa memiliki sikap kewirausahaan (*entrepreneurship*).

Jika mengambil sedikit catatan tentang sejarah peradaban masyarakat Melayu,
 kemajuan ekonomi masyarakat Melayu semenanjung saat ini tidak dapat
dilepaskan dari kekuatan institusi, tidak hanya institusi pemerintah tetapi
juga institusi kemasyarakatan yang semuanya mendorong terjadinya
transformasi nilai sosial tanpa harus kehilangan jati diri  budaya Melayu
yang bermarwah.

Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa daerah Melayu Kepulauan Riau suatu
ketika pernah menjadi pusat kebudayaan dan peradaban, bahkan pusat kegiatan
ekonomi pada zamannya. Catatan sejarah ini sekaligus menunjukkan bahwa
transformasi nilai sosial masyarakat Melayu bukanlah sesuatu yang tidak
mungkin melalui  kekuatan institusi.

Restorasi Meiji  di Jepang pada akhir abad 19 adalah sebuah transformasi
institusi  menuju nilai baru masyarakat Jepang dari era feodalistik menuju
modernisasi tanpa harus meninggalkan nilai luhur yang diyakini masyarakat
Jepang. Kemajuan ekonomi Jepang saat ini tidak terlepas dari transformasi
institusi Jepang pada era Meiji.

Banyak indikator yang dapat kita lihat untuk mengukur tingkat kewirausahaan
masyarakat, antara lain berapa banyak muncul tokoh-tokoh lokal yang berhasil
mengembangkan usaha, di bidang pertanian, perikanan, industri dan jasa,
tanpa  terlalu tergantung kepada anggaran pemerintah.

Penguatan peranan masyarakat madani  (*civil socie*ty) adalah bagian dari
penguatan institusi. Dari kelompok inilah diharapkan muncul kelas menengah
yang terdidik, mandiri, serta secara kreatif memberikan terobosan untuk
mengembangkan usaha, yang dapat dimulai dari usaha kecil dan menengah.
 Masyarakat
madani tidak hanya sekedar mitra pemerintah daerah dalam memberikan gagasan
bagi terlaksananya tata kepemerintahan yang baik (*good governance*), tetapi
juga mitra pemerintah untuk memberikan solusi bagi penciptaan lapangan kerja
antara lain melalui pengelolaan sumber daya maritim.

Kepulauan Riau sebagaimana provinsi lain perlu mengantisipasi tingkat
partisipasi angkatan kerja yang terus bertambah, lulusan sekolah umum dan
pendidikan tinggi yang membutuhkan lapangan kerja baru, yang tentu saja
tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah daerah.

Pelaksanaan Lomba Karya Ilmiah Remaja pertama yang dilaksanakan oleh Dinas
Pendidikan Kepulauan Riau 2009 berapa waktu lalu serta pelatihan
kewirausahaan,  usaha mikro, kecil dan menengah  (UMKM) merupakan upaya awal
yang sangat positp untuk meningkatkan peranan institusi di Kepulauan Riau
yang perlu mendapat dukungan masyarakat, pemerintah provinsi dan
kabupaten/kota.

Kehadiran pendidikan tinggi seperti halnya dengan Universitas Maritim Raja
Ali Haji, bersama-sama dengan perguruan tinggi lainnya di Kepulauan Riau
juga merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat pengembangan institusi
sekaligus diharapkan menjadi salah satu motor penggerak transformasi
nilai-niali positip bagi pembangunan daerah tanpa harus tercabut dari budaya
Melayu. Melalui institusi inilah diharapkan keluar pemikiran-pemikiran
alternatif, di luar arus kuat (*mainstream*) - yang ternyata tidak begitu
relevan jika digunakan untuk mengatasi persoalan ketimpangan pembangunan
antar daerah di Kepulauan Riau.

Kirim email ke