Mas Djarot ysh, mas Djarot mengatakan :
Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner maunya terbang terus di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak Gatotkaca dan para ksatria yang senang menjadi nayaka praja sambil mengatur-ngatur atau ada golongan lain yang justru bergerak di akar rumput dengan wawasan luas bagaikan punokawan ? Apakah ilmunya begitu saklek sampai nggak mau murtad dari status ksatria dan turun menjadi punokawan dengan misi pribadi menggerakkan tata ruang dari entitas lokal namun dengan wawasan global - internasional ? Kebetulan saya juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi ijinkan saya ikut urun rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat. Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus terbang di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan lulusan planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda planologi ikut dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap perumahan murah rakyat kecil. Mereka bekerja sama dengan teman2 dari arsitek seperti mas Sri Probo atau Dodo Yuliman merupakan sebuah tim yang sangat bagus dan sudah berkarya banyak. Waktu itu dengan Antonio Ismail kita membentuk perumahan murah di barat Serpong dan cukup berhasil. Artinya, seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. Biasanya teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional planning yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi yang mempunyai kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk memahami hal2 yang detail tersebut. Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, planologi, dan sipil. Dan mereka bisa berbicara dalam tataran yang sangat detail. Begitu mas. Salam bambang sp

