Bung Nuzul, menarik sekali tulisan Anda. Saya punya beberapa "kebingungan" 
tentang ekonomi pulau-pulau ini :
 
1. Saya melihat ekonomi pulau itu koq sepertinya independen, tak saling 
mempengeruhi, utamanya bila jarak antar pulau itu dibatasi laut yang jauh, 
misalnya Pulau Daik dan Bintan . Apalagi Natuna (yang jauh sepertinya mau ke 
Hong Kong saja). Ekonomi mereka sepertinya independen saja dan masing-masing di 
supply dari Pekanbaru atau Batam. Itupun umumnya perdagangan retail saja, bukan 
keterkaitan input-0utput.
 
2. Ekonomi berbasis Maritim ini menurut saya terbatas. Banyak transaksi produk 
maritim, misalnya ikan, bisa ditransaksi di tengah laut, terus apa multiplier 
effect-nya bagi masyarakat yang ada di darat? Pajak dari produk maritim ini 
juga terbatas, yang narik Pemerintah Pusat, terus dibagikan ke seluruh 
Indonesia. Jadi apa yang diharap dari maritim? Kalaupun ada ekspor produk 
maritim, devisanya kemana? Khan ada di Jakarta? Trus apa yang diperoleh rakyat? 
Paling-paling dari tenaga kerja saja (ini jumlhannya tidak banyak). Jadi 
pikiran saya, produk maritim itu rantainya pendek, tidak seperti produk 
manufakturing...di Jawa.
 
Demikian Bung Nuzul, ehh.. mungkin para milkister pakar maritim bisa 
mencerahkan saya bahwa apa yang saya pikirkan itu salah. Eh satu lagi Bung 
Nuzul.... koq Anda lupa sama Natuna? Bukankah Natuna sekarang bagian dari 
Kepulauan Riau dan dia punya kakayaan yang luar biasa..bagi Kepulauan Riau?
 
Thanks. CU. BTS.
 
3. 
 


--- On Sat, 5/30/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:


From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Subject: Re: FW: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: [email protected]
Date: Saturday, May 30, 2009, 2:07 AM









Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth,
Saya baru menyelesaikan coretan ringan saya tentang perekonomian Kepulauan 
sekitar tiga hari lalu, juga cerita tentang Meiji, culture, local economic 
development, dll. Saya kira bukan sebuah kebetulan jika nada dasarnya sama. 
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar
 

PEMBANGUNAN EKONOMI DAN INSTITUSI  DI KEPULAUAN RIAU
Oleh:
Nuzul Achjar
 
Berbicara tentang perekonomian regional Kepulauan Riau, setidaknya ada dua hal 
yang sering dijadikan sebagai trade mark yaitu: pertama, tentang potensi 
ekonomi maritim, mengingat 96% wilayah Kepulauan Riau terdiri dari lautan. 
Kedua, tentang kekuatan ekonomi  Kepulauan Riau yang bertumpu pada pulau 
Karimun, Bintan, dan Batam. Dua kabupaten dan dua kota yang berada di tiga 
pulau ini ditempati oleh 86.5% penduduk anak negeri. Bagian terbesar dari 
penciptaan produk domestik regional bruto (PDRB)  Kepulauan Riau (tanpa minyak 
dan gas bumi) berasal dari segitiga Batam-Bintan- Karimun. Ditetapkannya 
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun (BBK) 
makin memperjelas posisi tiga pulau ini sebagai pilar kekuatan ekonomi 
Kepulauan Riau melalui investasi dan ekspor.
Perbincangan tentang prospek perekonomian Kepulauan Riau akan mempunyai  
keterbatasan tersendiri jika semata didekati dengan perspektif ekonomi 
“neoklasik”. Menurut pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi serta pemerataan hasil 
pembangunan ekonomi dapat dicapai jika faktor produksi yaitu tenaga kerja dan 
modal untuk investasi dapat bergerak menuju daerah tertentu  jika memperoleh 
upah dan pendapatan modal yang lebih besar. Untuk itu diperlukan berbagai 
infrastruktur fisik dan sarana transportasi yang efisien. 
Jika prasyarat infrastruktur ekonomi telah tersedia serta mekanisme pasar telah 
bekerja, adakah jaminan bahwa investasi dan tenaga kerja otomatis akan mengalir 
masuk, kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi daerah?
 
Ekonomi Kelembagaan 
 
Sejarah pembangunan ekonomi di banyak negara menunjukkan bahwa kalaupun 
pertumbuhan ekonomi didorong oleh investasi dan ekspor, dibalik itu terdapat 
prasyarat yang tidak terungkap di dalam pendekatan ekonomi neoklasik, yaitu 
peranan institusi. Pertumbuhan ekonomi tinggi di negara-negara yang pernah 
dijuluki “macan Asia” seperti Singapura, Hongkong, Korea dan Taiwan tidaklah 
berdiri sendiri karena didukung oleh institusi yang kuat. Demikian juga halnya 
dengan keajaiban ekonomi Cina yang bertumbuh atas 8% selama belasan tahun 
terakhir.
Peranan institusi dalam pertumbuhan ekonomi dikemukakan antara lain oleh 
Douglas North – salah seorang pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi. Institusi 
diartikan sebagai setiap bentuk atau hal yang membatasi perilaku manusia dalam 
berinteraksi, seperti norma sosial, keyakinan dan sistem nilai yang disepakati 
masyarakat. Insitusi berbeda pengertiannya dengan organisasi. Bank adalah 
sebuah organisasi, bukan institusi. Sistem perbankan adalah hasil dari sistem 
institusi yang membuat regulasi dan peraturan yang terkait dengan sistem 
finansial. Institusi pemerintah dibutuhkan untuk menyediakan barang publik 
termasuk infrastruktur. Institusi pasar modal dimaksudkan untuk memberi jaminan 
terhadap uang yang diinvestasikan oleh masyarakat.
Bagaimanakah sesungguhnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan institusi?  
Dalam Ekonomi Kelembagaan, institusi berperan untuk mengurangi  biaya transaksi 
(transaction cost) dan biaya informasi. Biaya transaksi  dapat ditimbulkan oleh 
birokrasi maupun masyarakat. Birokrasi yang berbelit-belit, korup, dan  
menyusahkan menimbulkan biaya transaksi tinggi sehingga mengurangi efisiensi 
pergerakan roda perekonomian. Tingginya biaya transaksi dan biaya informasi 
dapat juga terjadi jika modal sosial (social capital) masyarakat rendah, 
seperti tiadanya rasa saling percaya, buruknya hubungan antar kelompok 
masyarakat, ataupun tingginya tingkat kriminalitas.
Dalam konteks institusi, sebagai provinsi yang baru berkembang dengan basis 
ekonomi maritim serta strategi “export-led” dan “investment driven”  melalui 
FTZ-BBK, pelajaran apa yang dapat dipetik oleh Kepulauan Riau dari kelemahan 
ataupun kegagalan yang  terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia dalam 
mengembangkan perekonomian regional?  Pertama adalah terus meningkatkan 
semangat kewirausahaan masyarakat, dan kedua adalah  peningkatan ataupun 
revitalisasi modal sosial yang sudah ada. 
 Kepulauan Riau terdiri gugusan ratusan klaster (kelompok) pulau-pulau kecil 
dan sedang,  mulai dari ujung utara Natuna, ke arah barat daya menuju Anambas, 
Bintan, Batam, Karimun, hingga ke ujung bagian selatan di Kepulauan Lingga. 
Kondisi ini membuat kedekatan geografis menjadi sangat bervariasi. Haruslah 
diakui bahwa upaya untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat kepulauan bukanlah 
perkara mudah.
Di balik kendala geografis, masyarakat Kepulauan Riau sesungguhnya masih 
memiliki modal sosial yang diikat oleh  akar dari budaya Melayu. Saling percaya 
(trust), semangat saling membantu masih dapat kita harapkan sebagai salah satu 
modal dasar bagi pengembangan ekonomi daerah. Namun modal sosial ternyata tidak 
cukup untuk dapat mengantar masyarakat Kepulauan Riau menuju kemakmuran tanpa 
memiliki sikap kewirausahaan (entrepreneurship).
Jika mengambil sedikit catatan tentang sejarah peradaban masyarakat Melayu,  
kemajuan ekonomi masyarakat Melayu semenanjung saat ini tidak dapat dilepaskan 
dari kekuatan institusi, tidak hanya institusi pemerintah tetapi juga institusi 
kemasyarakatan yang semuanya mendorong terjadinya transformasi nilai sosial 
tanpa harus kehilangan jati diri  budaya Melayu yang bermarwah. 
Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa daerah Melayu Kepulauan Riau suatu 
ketika pernah menjadi pusat kebudayaan dan peradaban, bahkan pusat kegiatan 
ekonomi pada zamannya. Catatan sejarah ini sekaligus menunjukkan bahwa 
transformasi nilai sosial masyarakat Melayu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin 
melalui  kekuatan institusi. 
Restorasi Meiji  di Jepang pada akhir abad 19 adalah sebuah transformasi 
institusi  menuju nilai baru masyarakat Jepang dari era feodalistik menuju 
modernisasi tanpa harus meninggalkan nilai luhur yang diyakini masyarakat 
Jepang. Kemajuan ekonomi Jepang saat ini tidak terlepas dari transformasi 
institusi Jepang pada era Meiji.
Banyak indikator yang dapat kita lihat untuk mengukur tingkat kewirausahaan 
masyarakat, antara lain berapa banyak muncul tokoh-tokoh lokal yang berhasil 
mengembangkan usaha, di bidang pertanian, perikanan, industri dan jasa, tanpa  
terlalu tergantung kepada anggaran pemerintah.
Penguatan peranan masyarakat madani  (civil society) adalah bagian dari 
penguatan institusi. Dari kelompok inilah diharapkan muncul kelas menengah yang 
terdidik, mandiri, serta secara kreatif memberikan terobosan untuk 
mengembangkan usaha, yang dapat dimulai dari usaha kecil dan menengah.  
Masyarakat madani tidak hanya sekedar mitra pemerintah daerah dalam memberikan 
gagasan bagi terlaksananya tata kepemerintahan yang baik (good governance), 
tetapi juga mitra pemerintah untuk memberikan solusi bagi penciptaan lapangan 
kerja antara lain melalui pengelolaan sumber daya maritim.
Kepulauan Riau sebagaimana provinsi lain perlu mengantisipasi tingkat 
partisipasi angkatan kerja yang terus bertambah, lulusan sekolah umum dan 
pendidikan tinggi yang membutuhkan lapangan kerja baru, yang tentu saja tidak 
dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah daerah.
Pelaksanaan Lomba Karya Ilmiah Remaja pertama yang dilaksanakan oleh Dinas 
Pendidikan Kepulauan Riau 2009 berapa waktu lalu serta pelatihan 
kewirausahaan,  usaha mikro, kecil dan menengah  (UMKM) merupakan upaya awal 
yang sangat positp untuk meningkatkan peranan institusi di Kepulauan Riau yang 
perlu mendapat dukungan masyarakat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Kehadiran pendidikan tinggi seperti halnya dengan Universitas Maritim Raja Ali 
Haji, bersama-sama dengan perguruan tinggi lainnya di Kepulauan Riau juga 
merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat pengembangan institusi sekaligus 
diharapkan menjadi salah satu motor penggerak transformasi nilai-niali positip 
bagi pembangunan daerah tanpa harus tercabut dari budaya Melayu. Melalui 
institusi inilah diharapkan keluar pemikiran-pemikiran alternatif, di luar arus 
kuat (mainstream) - yang ternyata tidak begitu relevan jika digunakan untuk 
mengatasi persoalan ketimpangan pembangunan antar daerah di Kepulauan Riau. 















      

Kirim email ke