----- Original Message -----
Subject: Re: FW: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Date: Sat, 30 May 2009 4:57:42
From: Risfan M <[email protected]>
To: [email protected] <[email protected]>

bang Ekadj, Bang Nuzul, Bang BTS dan Rekans ysh.,

Wah menarik kalau posting saya ternyata ada kesamaan nada dengan Bang Nuzul. Di 
samping maritimnya, potensi utama Kepri tentu lokasinya di wilayah &quot;antar 
negara&quot;, dan kekerabatan diaspora Melayu (dari Sumatera daratan, Kepri, 
Malaysia, Singapura, Brunei).

Kalau kegiatan usaha besar terkait export processing, pariwisata hotel dan 
resort, no comment dulu karena sudah berjalan. Hanya soal infrasturtur, 
utilitas listrik, mungkin air bersih mungkin jadi tantangan.

Mengenai sektor UMKM yang bisa diharapkan menyerap angkatan kerja setempat 
mungkin yang menjadi tantangan besar. Apalagi kalau yang dikuatirkan BTS benar, 
yaitu terbatasnya multiplier effect sektor perikanan.

Dari pengalaman saya mendampingi pengembangan ekonomi lokal, khususnya 
pengembangan klaster kegiatan ekonomi di kawasan Agam, Padang Panjang, ada 
ratusan usaha mikro yang &quot;ekspor&quot; ke komunitas Melayu di atas. Untuk 
kegiatan yang footlose terutama bordir dan busana muslim. Barangkali yang 
seperti itu bisa juga diidentifikasi potensinya untuk sebagian ekonomi di 
Kepri, bordir, busana muslim, kerajinan dan pengolahan makanan terkait dengan 
perikanan atau rumput laut. Dan, apa-apa yang menjadi permintaan daerah/negara 
sekitar. Sekaligus mendayagunakan potensi kewiraa usahaan yang ada.

Salam,
Risfan Munir

Nuzul Achjar wrote: 
>       Pak Risfan dan Sahabat Referensiers Yth, 
>  Saya baru menyelesaikan coretan ringan saya tentang perekonomian Kepulauan 
> sekitar tiga hari lalu, juga cerita tentang Meiji, culture, local economic 
> development, dll. Saya kira bukan sebuah kebetulan jika nada dasarnya sama.  
>    
>  Wassalam, 
>    
>  Nuzul Achjar 
>    
>  PEMBANGUNAN E KONOMI DAN INSTITUSI   DI KEPULAUAN RIAU 
>  Oleh: 
>  Nuzul Achjar 
>    
>  Berbicara tentang perekonomian regional Kepulauan Riau, setidaknya ada dua 
> hal yang sering dijadikan sebagai trade mark yaitu: pertama, tentang potensi 
> ekonomi maritim, mengingat 96% wilayah Kepulauan Riau terdiri dari lautan. 
> Kedua, tentang kekuatan ekonomi   Kepulauan Riau yang bertumpu pada pulau 
> Karimun, Bintan, dan Batam. Dua kabupaten dan dua kota yang berada di tiga 
> pulau ini ditempati oleh 86.5% penduduk anak negeri. Bagian terbesar dari 
> penciptaan produk domestik regional bruto (PDRB)   Kepulauan Riau (tanpa 
> minyak dan gas bumi) berasal dari segitiga Batam-Bintan- Karimun. 
> Ditetapkannya Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan 
> Karimun (BBK) makin memperjelas posisi tiga pulau ini sebagai pilar kekuatan 
> ekonomi Kepulauan Riau melalui investasi dan ekspor. 
>  Perbincangan tentang prospek perekonomian Kepulauan Riau akan mempunyai   
> keterbatasan tersendiri jika semata didekati dengan perspektif ekonomi 
> “neoklasik”. Menurut pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi serta pemerataan 
> hasil pembangunan ekonomi dapat dicapai jika faktor produksi yaitu tenaga 
> kerja dan modal untuk investasi dapat bergerak menuju daerah tertentu   jika 
> memperoleh upah dan pendapatan modal yang lebih besar. Untuk itu diperlukan 
> berbagai infrastruktur fisik dan sarana transportasi yang efisien. 
>  Jika prasyarat infrastruktur ekonomi telah tersedia serta mekanisme pasar 
> telah bekerja, adakah jaminan bahwa investasi dan tenaga kerja otomatis akan 
> mengalir masuk, kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi daerah? 
>    
>  Ekonomi Kelembagaan 
>    
>  Sejarah pembangunan ekonomi di banyak negara menunjukkan bahwa kalaupun 
> pertumbuhan ekonomi didorong oleh investasi dan ekspor, dibalik itu terdapat 
> prasyarat yang tidak terungkap di dalam pendekatan ekonomi neoklasik, yaitu 
> peranan institusi. Pertumbuhan ekonomi tinggi di negara-negara yang pernah 
> dijuluki “macan Asia” seperti Singapura, Hongkong, Korea dan Taiwan tidaklah 
> berdiri sendiri karena didukung oleh institusi yang kuat. Demikian juga 
> halnya dengan keajaiban ekonomi Cina yang bertumbuh atas 8% selama belasan 
> tahun terakhir. 
>  Peranan institusi dalam pertumbuhan ekonomi dikemukakan antara lain oleh 
> Douglas North – salah seorang pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi. Institusi 
> diartikan sebagai setiap bentuk atau hal yang membatasi perilaku manusia 
> dalam berinteraksi, seperti norma sosial, keyakinan dan sistem nilai yang 
> disepakati masyarakat. Insitusi berbeda pengertiannya dengan organisasi. Bank 
> adalah sebuah organisasi, bukan institusi. Sistem perbankan adalah hasil dari 
> sistem institusi yang membuat regulasi dan peraturan yang terkait dengan 
> sistem finansial. Institusi pemerintah dibutuhkan untuk menyediakan barang 
> publik termasuk infrastruktur. Institusi pasar modal dimaksudkan untuk 
> memberi jaminan terhadap uang yang diinvestasikan oleh masyarakat. 
>  Bag a imanakah sesungguhnya hubungan antara pe rtumbuhan ekonomi dan 
> institusi ?   Dalam Ekonomi K elembagaan , institusi berperan untuk 
> mengurangi   biaya transaksi ( transaction cost ) dan biaya informasi. Biaya 
> transaksi   dapat ditimbulkan oleh birokrasi maupun masyarakat. Birokrasi 
> yang berbelit-belit, korup, dan   menyusahkan menimbulkan biaya transaksi 
> tinggi sehingga mengurangi efisiensi pergerakan roda perekonomian. Tingginya 
> biaya transaksi dan biaya informasi dapat juga terjadi jika modal sosial ( 
> social capital ) masyarakat rendah, seperti tiadanya rasa saling percaya, 
> buruknya hubungan antar kelompok masyarakat, ataupun tingginya tingkat 
> kriminalitas. 
>  Dalam konteks institusi, sebagai provinsi yang baru berkembang dengan basis 
> ekonomi maritim serta strategi “ export-led ” dan “ investment driven ”   
> melalui FTZ-BBK, pelajaran apa yang dapat dipetik oleh Kepulauan Riau dari 
> kelemahan ataupun kegagalan yang   terjadi di berbagai daerah lain di 
> Indonesia dalam mengembangkan perekonomian regional?   Pertama adalah terus 
> meningkatkan semangat kewirausahaan masyarakat, dan kedua adalah   
> peningkatan ataupun revitalisasi modal sosial yang sudah ada. 
>    Kepulauan Riau terdiri gugusan ratusan klaster (kelompok) pulau-pulau 
> kecil dan sedang,   mulai dari ujung utara Natuna, ke arah barat daya menuju 
> Anambas, Bintan, Batam, Karimun, hingga ke ujung bagian selatan di Kepulauan 
> Lingga. Kondisi ini membuat kedekatan geografis menjadi sangat bervariasi. 
> Haruslah diakui bahwa upaya untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat 
> kepulauan bukanlah perkara mudah. 
>  Di balik kendala geografis, masyarakat Kepulauan Riau sesungguhnya masih 
> memiliki modal sosial yang diikat oleh   akar dari budaya Melayu. Saling 
> percaya ( trust ), semangat saling membantu masih dapat kita harapkan sebagai 
> salah satu modal dasar bagi pengembangan ekonomi daerah. Namun modal sosial 
> ternyata tidak cukup untuk dapat mengantar masyarakat Kepulauan Riau menuju 
> kemakmuran tanpa memiliki sikap kewirausahaan ( entrepreneurship ). 
>  Jika mengambil sedikit catatan tentang sejarah peradaban masyarakat Melayu,  
>  kemajuan ekonomi masyarakat Melayu semenanjung saat ini tidak dapat 
> dilepaskan dari kekuatan institusi, tidak hanya institusi pemerintah tetapi 
> juga institusi kemasyarakatan yang semuanya mendorong terjadinya transformasi 
> nilai sosial tanpa harus kehilangan jati diri   budaya Melayu yang bermarwah. 
>  Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa daerah Melayu Kepulauan Riau suatu 
> ketika pernah menjadi pusat kebudayaan dan peradaban, bahkan pusat kegiatan 
> ekonomi pada zamannya. Catatan sejarah ini sekaligus menunjukkan bahwa 
> transformasi nilai sosial masyarakat Melayu bukanlah sesuatu yang tidak 
> mungkin melalui   kekuatan institusi. 
>  Restorasi Meiji   di Jepang pada akhir abad 19 adalah sebuah transformasi 
> institusi   menuju nilai baru masyarakat Jepang dari era feodalistik menuju 
> modernisasi tanpa harus meninggalkan nilai luhur yang diyakini masyarakat 
> Jepang. Kemajuan ekonomi Jepang saat ini tidak terlepas dari transformasi 
> institusi Jepang pada era Meiji. 
>  Banyak indikator yang dapat kita lihat untuk mengukur tingkat kewirausahaan 
> masyarakat, antara lain berapa banyak muncul tokoh-tokoh lokal yang berhasil 
> mengembangkan usaha, di bidang pertanian, perikanan, industri dan jasa, tanpa 
>   terlalu tergantung kepada anggaran pemerintah. 
>  Penguatan peranan masyarakat madani   ( civil socie ty) adalah bagian dari 
> penguatan institusi. Dari kelompok inilah diharapkan muncul kelas menengah 
> yang terdidik, mandiri, serta secara kreatif memberikan terobosan untuk 
> mengembangkan usaha, yang dapat dimulai dari usaha kecil dan menengah.   
> Masyarakat madani tidak hanya sekedar mitra pemerintah daerah dalam 
> memberikan gagasan bagi terlaksananya tata kepemerintahan yang baik ( good 
> governance ), tetapi juga mitra pemerintah untuk memberikan solusi bagi 
> penciptaan lapangan kerja antara lain melalui pengelolaan sumber daya 
> maritim. 
>  Kepulauan Riau sebagaimana provinsi lain perlu mengantisipasi tingkat 
> partisipasi angkatan kerja yang terus bertambah, lulusan sekolah umum dan 
> pendidikan tinggi yang membutuhkan lapangan kerja baru, yang tentu saja tidak 
> dapat sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah daerah. 
>  Pelaksanaan Lomba Karya Ilmiah Remaja pertama yang dilaksanakan oleh Dinas 
> Pendidikan Kepulauan Riau 2009 berapa waktu lalu serta pelatihan 
> kewirausahaan,   usaha mikro, kecil dan menengah   (UMKM) merupakan upaya 
> awal yang sangat positp untuk meningkatkan peranan institusi di Kepulauan 
> Riau yang perlu mendapat dukungan masyarakat, pemerintah provinsi dan 
> kabupaten/kota. 
>  Kehadiran pendidikan tinggi seperti halnya dengan Universitas Maritim Raja 
> Ali Haji, bersama-sama dengan perguruan tinggi lainnya di Kepulauan Riau juga 
> merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat pengembangan institusi sekaligus 
> diharapkan menjadi salah satu motor penggerak transformasi nilai-niali 
> positip bagi pembangunan daerah tanpa harus tercabut dari budaya Melayu. 
> Melalui institusi inilah diharapkan keluar pemikiran-pemikiran alternatif, di 
> luar arus kuat ( mainstream ) - yang ternyata tidak begitu relevan jika 
> digunakan untuk mengatasi persoalan ketimpangan pembangunan antar daerah di 
> Kepulauan Riau. 
>      



  



      

Kirim email ke