Pak Risfan dan Pak ATA ysh,

Mencermati beberapa pandangan bapak, saya menangkap perlunya pembedaan
penerapan sistem ekonomi ke dalam sistem perencanaan dan sistem
pembangunan pada umumnya. Mohon diperjelas kurang-lebihnya dari kondisi
`selama ini' : katakanlah kita membagi ke dalam 3 sistem
wilayah: Nasional, Regional (atau satuan wilayah di bawah Nasional), dan
Lokal (atau satuan setingkat kabupaten/kota ke bawah). Untuk Nasional,
pembangunan (sektor) cenderung menggunakan pendekatan neolib? Untuk
Regional, pembangunan wilayahnya cenderung pendekatan prestasi (atau apa
istilahnya dari Friedman)? Kemudian untuk Lokal, lebih kepada pendekatan
(neo)socialism? Karena tidak taat asas, modifikasinya kita definisikan
sebagai `pendekatan ekonomi bejo'. Apakah kira-kira demikian,
kemudian bagaimana bentuk perubahan pendekatan ini karena adanya
perubahan sistem politik?

Pak Nuzul ysh, sebenarnya ada `tekanan' dari disiplin
perencanaan terhadap diferensiasi dan elaborasi pendekatan ekonomi
tersebut untuk ekonomi wilayah (provinsi s/d kabupaten), ekonomi
perkotaan, hingga ekonomi perdesaan/pertanian. Selama ini disiplin
ekonomi `keukeuh' dengan pembagian ekonomi makro dan ekonomi
pembangunan. Saya kira tekanan ini terjawab dalam ekonomi pembangunan,
namun dari berbagai buku teks yang ada belum tersedia pengetahuan yang
dibutuhkan. Hingga saat ini `semua' pakar ekonomi pembangunan
bicara dalam tataran Nasional. Naifnya, semua FE di seluruh PT
mengajarkan hal yang sama. Ada yang `missing' di tengah sampai
ke bawah. Kalaupun ada pendalaman, justru di luar jalur FE, dan
cenderung tidak populer. Seperti contohnya IPB untuk ekonomi pertanian,
PL-Unisba untuk ekonomi perdesaan, dst. Sehingga kita tidak pernah
mengenal istilah pakar ekonomi kota …, pakar ekonomi kabupaten
…, kecuali yang bekerja di Bappeda karena jabatan. Kajian aspek
ekonomi di dalam buku-buku rencana juga dipenuhi tabel-tabel PDRB, yang
sering tidak diketahui dan tidak dipahami konsekuensinya untuk kebutuhan
rencana pembangunan.

Kembali kepada ekonomi bejo, kira-kira efektif pada skala wilayah apa
dan untuk jangka waktu berapa tahun? Mudah-mudahan Pak BTS juga berkenan
memberikan pandangan. Salam.

-ekadj



--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak ATA, Pak BSP, Efha, Ekadj dan Rekans ysh.,
>
> Diskosi konsep (ideologi?) pembangunan memang akan jalan selalu,
karena tiap saat kita perlu evaluasi.
> Saya kira bukan sekedar debat jargon, tapi dibalik itu (di luar soal
kontes pemilu) memang wajar terjadi. Justru momentum Pemilu bisa
dipakai.
>
> Anthropologi vs Pembangunan (ekonomi) juga suatu beda paradigma yang
sering terjadi. Pernah antroph/ budaya dipakai sebagai instrumen penguat
pembangunan ekonomi nasional. Tapi disaat lain budaya jadi orientasi
utama, dan ekonomi instrumennya untuk penguat &quot;bangsa&quot;. Ingat
Rostow, Boeke, Geertz, dan Koentjaraningrat &quot;Budaya dan Mentalitet
Pembangunan&quot;.
>
> Jepang saya kira tidak lepas dari pencarian ideologi atau orientasi
itu. Sejak Restorasi Meiji mereka membuka diri terhadap
&quot;barat&quot;, belajar dari barat. Lihat saja nama partai besar nya
LDP (Liberal Democratic Party). Sesuai dengan topic diskusi yang
berkembang. Komparasi pembangunan Jepang vs Indonesia (Jawa) dalam
bahasan antropologis juga dibahas oleh Geertz dalam bukunya
&quot;Involusi Pertanian&quot;.
>
> Dalam pengembangan konsep Pengembangan Wilayah, John Friedman dalam
keprihatinannya atas dominasi kapitalis global juga mendorong dia
menulis &quot;Territory and Function&quot; yang membandingkan model
pengembangan fungsional dengan integrasi wilayah lokal, ke nasional, ke
global, secara empiric memang cenderung eksploitatif. Sihingga dia
membandingkannya dengan orientasi berbasis lokal, ekstremnya
&quot;isolasi&quot; teritorial atau lokal. Sehingga betul-betul basis
lokal, kearifan lokal yang jadi tujuan dan orientasi pendekatan.
> Orientasi &quot;fungsional&quot; dan nasional dan keterbukaan global
berakhir dengan risiko tercengkeram dalam sistem ekonomi global yang
eksploitatif. Sementara orientasi lokal risikonya kita jadi sibuk
melihat ke belakang, sementara tantangan dan ancaman sudah di depan
mata. Rakyat termasuk di daerah-daerah juga menuntut sesuatu yang cepat
kelihatan hasilnya.
> Ini soal besar, dan di negara kita ini juga ada soal multi-etnik,
kembali ke budaya lokal, TUJUAN, KRITERIA dan BATASANNYA mesti jelas,
karena kalau tidak, bisa terjerumus kepada neo-feudalism lokal, yang
juga marak.
>
> Bagi saya sendiri, sintesis ide pengembangan ekonomi dan kearifan
lokal, secara fungsional terintegrasi dalam upaya &quot;Pengembangan
Ekonomi Lokal&quot;. Bagaimana kekayaan budaya, SDA, keterampilan,
kreativitas, social capital, dihidupkan untuk membangun keunggulan daya
saing ekonomi lokal. Global paradox katanya, karena dalam era global,
justru corak lokal jadi kekhasan yang bernilai tinggi.
>
> Memperdebatkan dua ekstrem, integrasi global vs ketertutupan lokal.
Jalan tengahnya penguatan daya saing ekonomi lokal yang kemudian
dirangkai dengan network skala nasional. Ini perlu dilaksanakan dengan
penuh komitmen, untuk mengimbangi sistem produksi skala nasional saat
ini yang masih berputar di &quot;substitusi import&quot; yang lebih
menguntungkan MNC. Kesimpulan lagi, Indonesia sebagai negara terbuka
yang multi-etnik, multi pulau, memang akan selalu dalam daya tarik lokal
vs global. Budaya / identitas nasional sendiri juga dalam area
tarik-menarik. Contoh konkrit, pakaian nasional yang bukan pakaian
&quot;suku&quot;, bukan juga &quot;barat, muslim, china&quot; itu
seperti apa? Stelan jas pakai kopiah itu asli nasional? Ibunya yang
sulit pakai kebaya jadi kelhatan Jawa, pakai baju kurung, atau yang lain
jadi menunjukkan suku. Sementara itu sebagian besar rakyat nonton TV
yang menampilkan lebih banyak iming-iming &quot;budaya luar&quot;,
merek-merek
> global. Ini tantangannya.
>
> Salam,
> Risfan Munir



Kirim email ke