Betul sekali Mas Djarot,

Dalam masa restorasi Meiji tersebut, setelah merasakan kesalahan meniru
Barat bangsa Jepang segera mengoreksinya dengan mengganti produk import
dengan penyesuaian selaras dengan nilai dan potensi lokalnya. Jadi ... ada
proses panjang pematangan bangsa Jepang dalam abad tersebut, dari rasa
bangga atas tradisi budayanya secara berlebihan, kegundahan setelah
merasakan teknologinya kalah dari budaya Barat, upaya menjiplak secara
total, merasakan kegagalan, kesadaran nasional, hingga kemudian bangkit
dengan pembaruan ke skala dan model yang lebih mantap, walau mulai dengan
kelas produksi yang dianggap pasar kelas bawah (cepat rusak namun murah)
menjadi Jepang moderen dan unggul sekarang ini.
Salam,
ATA


2009/5/30 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Prof ATA, menurut saya, Jepang bukan sekedar terjun di dunia nyata dengan
> pikiran kosong, melainkan ada isinya minimal sebagai referensi. Nah
> referensi adalah kata dahsyat (milis ini memang dahsyat) ketika orang harus
> bertindak di dunia nyata memperjuangkan sesuatu. Paman saya yang sudah
> meninggal dunia, seorang doktor etnomusikologi dari Osaka pernah tinggal
> beberapa kali di Jepang, selalu berceritera bahwa kehebatan Jepang adalah
> kecanggihannya memadukan BARAT dan JEPANG yang di mulai dari Kaisar dalam
> program restorasi Meiji !
>
> Kita juga telah kenal, bahwa Jepang bisa sejajar (bahkan melampaui barat)
> tanpa kehilangan kejepangannya.....Pernah ada Konser 1000 anak bermain biola
> di tahun 60-an (?) yang merupakan hasil kerja keras orang Jepang
> mendatangkan musisi kaliber dunia ke Jepang untuk melatih anak-anak dan
> diwujudkan dalam konser itu.....barangkali kuncinya memang pemaduan atau
> perkawinan atau dialog budaya !
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Fri, 5/29/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>*wrote:
>
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
> To: [email protected]
> Date: Friday, May 29, 2009, 5:06 PM
>
>
>  Rekans ysh,
>
> Saya yakin bahwa kesuksesan Jepang tidak dimulai dengan mencari
> istilah-istilah yang rumit-rumit, tetapi dengan terjun ke dunia nyata. Tidak
> asik menghitung angka pertumbuhan dan kepercayaan bank ataupun investro
> luar, teapi mencoba pola produksi baru sesuai kekhasan kreatifitas budaya
> lokal yang mungkin dikembangkan masyarakatnya. ..
>
> Salam....
> ATA
>
>
> 2009/5/29 ffekadj <4ek...@gmail. com<http://mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>
>> Pak Fadjar ysh, beberapa tahun yang lalu saya pernah 
>> sesorah<http://tech.groups.yahoo.com/group/kerabat-antropologi/message/7418>di
>>  forum antropolog, dan saya cuplik lagi di bawah. Intinya antropologi itu
>> bukan sekedar ilmu, tetapi juga merupakan "bahasa". Salam.
>>
>> -ekadj
>>
>>
>> --- In refere...@yahoogrou 
>> ps.com<http://mc/[email protected]>,
>> <efha_mardiansjah@ ...> wrote:
>> >
>> > Lho Pak Bambang,
>> >
>> > Diskusi ttg paradigma-paradigma tsb, (atau pilihan paradigma yg paling
>> diminati oleh Indonesia), menurut saya bukan merupakan diskusi antropologis,
>> Pak....
>> >
>> > Saya rasa itu lebih merupakan diskusi filsafat (falsafah?) tentang apa
>> cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia dan juga pendekatan-pendekat an yg
>> perlu dilakukan untuk mencapainya. Kalau Bhutan melakukan pemilihan kepada
>> paradigma kebahagiaan ( happyness) dan bukan pertumbuhan (not growth), itu
>> khan bagian dari pilihan-pilihan strategis bangsa Bhutan dalam pembangunan
>> bangsa dan negaranya. Saya rasa, kita tidak harus memilih paradigma
>> kebahagiaan seperti Bhutan tsb... Walau, tertus terang, pilihan strategis
>> bangsa Bhutan itu bisa menjadi "pengingatan" bagi kita yang cenderung
>> memilih paradigma pertumbuhan (growth) di dalam pilihan strategis
>> pembangunan bangsa...... Apakah hal itu telah benar dan sesuai dengan apa yg
>> dicita-citakan dahulu
>> >
>> > Jadi, mungkin, perlu dilakukan refleksi di dalamnya, Pak...
>> >
>> >
>> >
>> > --- On Fri, 5/29/09, bspr...@... bspr...@... wrote:
>> >
>> >
>> > From: bspr...@... bspr...@...
>> > Subject: Re: [referensi] Ekonomi Bejo
>> > To: refere...@yahoogrou 
>> > ps.com<http://mc/[email protected]>
>> > Date: Friday, May 29, 2009, 11:30 AM
>> >
>> > Mas Fadjar ysh,
>> > Maaf saya tidak mau mengajak milist ini kearah antropo-discussion. Saya
>> cuman benar2 tidak bisa memahami begitu banyaknya kebetulan yang terjadi di
>> negara ini dan semua berbuah pada sebuah kenikmatan ... meskipun ini baru
>> kenikmatan dunia he he he.
>> > Salam
>> > bambang sp
>> >
>> .... Pak Fikar dan kerabat2 ysh,
>> Sebelumnya saya sampaikan bilamana saya bukan seorang antropolog,
>> justru sebenarnya secara tidak sadar sedang mempelajari hal itu.
>> Bila anda membaca sedikit tulisan saya, sebenarnya saya sedang tidak
>> menggambarkan suatu ilmu, tetapi adalah bahasa. Jadi antropologi
>> adalah bahasa yang beredar, dan mau tidak mau setiap orang akan
>> berusaha kalau tidak mau disebut dipaksa untuk berbicara dengan
>> bahasa itu. Mungkin ini penafsiran amatir saya.
>>
>> Saya tidak mengabaikan Geertz, bukunya telah saya baca sejak 20
>> tahun yang lalu. Justru tercerahkan, karena membuka alam pertama
>> saya tentang bangsa-bangsa. Boleh jadi rujukan, namun maunya setelah
>> itu lebih banyak swakarya yang mengungkapkan jatidiri kita sendiri.
>> Kemarin saya baca Babad Tanah Jawi bahasa Indonesia, ternyata
>> klasifikasi sosial bisa lebih rumit dari yang digambarkan Geertz.
>> Dan saya belum nemu literatur yang memuaskan tentang hal ini. Karena
>> ini persoalan bahasa, maka saya mencari sendiri jalan ke hal itu,
>> termasuk mengintip di milis ini. Dan ternyata luar biasa, dalam
>> beberapa hal banyak tabir yang bisa kita ungkap sendiri.
>>
>> Mungkin pertanyaan naif saya kepada kerabat antropologi, sejauh mana
>> anda memahami bangsa anda sendiri? Pertanyaan ini yang saya simpan
>> pada posting sebelumnya. Bila anda merasa terpanggil, silahkan
>> dijawab, dan kita bisa memulai berbagi informasi secara sehat.
>> Bilamana tidak, kita mungkin hanya tumbuh sebagai generasi pembaca
>> buku cerita, atau komentator iseng.
>>
>> Karena ini adalah persoalan bahasa, tentunya antropologi adalah
>> penting untuk pembangunan. Tentunya saya setuju dengan pandangan
>> sebelumnya tentang perlunya meningkatkan peran itu dewasa ini. Sejak
>> beberapa tahun ini saya sudah melibatkan rekan2 antropolog untuk
>> beberapa pekerjaan teknis. Cobalah, betapa tidak kurang pentingnya
>> antropologi ini.
>>
>> Harapan yang tersimpan adalah bagaimana para kerabat antropologi
>> dapat menemukan kesejatian bangsa Indonesia dan suku-suku bangsanya,
>> dan karenanya kita bisa bermartabat dalam pergaulan dunia. Bilamana
>> mungkin seperti yang saya lihat di Jepang bulan lalu,
>> ketika 'keajaiban ekonomi Jepang' hanya dapat dilakukan oleh 'orang'
>> Jepang dan 'budaya' Jepang. ....
>>
>
>
>  
>

Kirim email ke