Pak Aby dan Rekans ysh, Maaf kalau agak esmosi, saya cuma mau mengingatkan sebaiknya diskusinya jang dibawa ke "khayalan vs normatif". Seperti ketoprak vs ludruk gitu. Kita kan manusia biasa, merencana untuk manusia biasa. Namanya manusia itu bukan angel, bukan pula demon (yang ini filmnya bagus Pak, lebih enak drpd da vincy code ...). Permasalahan U/R planning, arsitek lingkungan, urban design, tata bangunan, seperti halnya public policy - selalu mengandung dilema Pak. Sering seperti simalakama, tiap pilihan bisa menguntungkan satu kaum, tapi merugikan kaum lainnya. Itu mesti disadari, karena itu perlu diskusi, bicara dengan stakeholders, dst. Lahan perkotaan begitu sempit, ada masalah pengangguran, kemiskinan, ada soal pergulatan identitas budaya lokal/nasional/global, bagaimana itu dikaitkan dengan mayoritas warga kota yang tinggal di slum area, yang sekian jam mengejar dan berdesakan naik bus padat. Bagaimana dialog dan optimalisasinya? Itu layak didiskusikan. Jangan dibawa ke penghakiman atas profesi secara gampang gitu. Atau secara romantis ambil contoh budaya asli pedalaman, ujug-ujug mau dipakai. Lari dari masalah juga itu. Sekarang ini RTRW sulit diterapkan karena RTRW itu sesungguhnya ada di level kebijakan publik, melibatkan banyak instansi, kelompok kepentingan, masyarakat, tapi kita memperlakukan seperti design ruang milik satu pihak saja. Diasumsikan dengan UU, PP, Perda semua pihak harus nurut. Tanpa melihat realita kebutuhan dan kemampuan rill di masyarakat. Asal norma, pola, standar diterapkan, lalu semua pihak harus menurut. Proses ini perlu dikaji terus sambil jalan, begitu juga standar dan pola desain. Tiap masa perlu dievaluasi, tak bisa sekedar meggabungkan peninggalan kolonial, gabung dengan de chiara, plus soefaat diterapkan sepanjang masa. Semua itu baseline yang bagus, tapi perlu disesuaikan dengan realita banyak sektor informal, dst. Karsten saja yang kerja dengan developer kolonial mendesain kampung dan pasar tradisional yang menggunakan standar kebutuhan riil penghuni tsb. Banyak dilema-dilema dalam perencanaan, perancangan site, kawasan, wilayah yang layak didiskusikan, daripada "menyederhanakannya" dengan mencap profesi, mencap instansi tertentu. Mungkin bagi sebagian orang kecewa, maunya jadi insinyur, teknikal, kok jadi harus berhadapan dengan publik. Tapi yang bisa nyaman fokus pada bidang teknisnya saja. Dokter saja sekarang dikejar tanggung-jawab publik. Insinyur komputer, mesin, tak lama setelah kerja diindustri ketemu soal merosotnya daya beli, demo buruh dst. Sudah nasib hidup di jaman tak menentu, bagaimana kita memproyeksi secara kuantitatif 20th mendatang, sedang untuk tahun depan saja ada beberapa skenario. Kesimpulan: kian banyak dibutuhkan solusi, inovasi atas kasus spesifik. Perlu pembahasan atas banyak hal. Tapi tak semudah menerapkan standar baku, atau pola di masa lalu sebagai harga mati. Saya pikir Planner atau sarjana apapun dididik lama untuk mampu mencari solusi dan inovasi, bukan sekedar menarapkan standar x jumlah penduduk dan memplotkannya dalam peta kosong, dengan staging 5, 10, 15, 20 th. Nyatanya, manusia maunya mengerombol, sementara disitu tanah sudah dimiliki sebagian warga, jadi bigimana solusinya?
Salam, Risfan Munir hengky abiyoso wrote: > Hahaa.......pak Risfan saya menikmati betul tulisan anda...... senang saya > sekali2 bisa lihat anda keluar sungutnya ... sudah marah kocak pula….. > hahahaa.... > Salam, > > --- On Sat, 6/13/09, risfano <[email protected]> wrote: > From: risfano <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Ekonomi Bejo To: > [email protected] Date: Saturday, June 13, 2009, 6:41 AM > Pak Djarot ysh, Posting saya sebelumnya agak berantakan, karena di layar > mikro memenggal teks sulit. Tapi intinya jangan menghakimi lah, bukan hal > yang pas untuk menilai profesi orang di milist yang penulisnya sedikit ini. > Tidak represntatif. Lagi pula ngapain Bapak kok tiba-tiba tergoda jadi > penilai. Pernyataan "syukur ada planner yang sudah mau tangan kotor". Arogan > sekali Pak. Sebetulnya saya juga bisa bilang bersukur sudah ada arsitek yang > peduli lingkungan kayak Bapak. Biasanya arsitek kan merancang proyek > konglomerat developer, membangun mal, menggusur kampung-kampung. Tapi ya > masak sih saya bilang begitu? Saya tak akan menuduh begitu karena saya tidak > tahu, mungkin banyak teman-teman arsitek yang peduli seperti Romo Mangun atau > Hasan Poerbo dan pengikutnya. Kalau orang lagi ngomong neolib vs sosialis, > itu karena sedang ramai di koran Pak, tak ada hubungannya dengan Gatotkaca > segala. Kalau saya siang ini makan soto, > bukan berarti anti pecel. Tiap diskusi kan ada Topik nya. Jangan lagi Topik > konsep, tiba-tiba Bapak sok patriotik bicara kampung terpencil di Timor, dan > merasa sudah "bertangan kotor". Jadi Bapak jangan sok begawan dengan > mengatakan "terima kasih atas penjelasannya Mas Efha, Pak BSP, syukurlah > (dari pesakitan ini ada yang mulai insyaf)". Terus Mas Efha dan Pak BSP juga > merasa sudah menjelaskan (sudah ada teman yang tobat kok). Syukurlah. Ini > ketoprak namanya. Jaman sekarang sekolah di universitas bayar mahal Pak, tiap > orang tentu punya kewajiban atas ekonomi keluarganya, sekaligus tangung-jawab > profesi. Ada tantangan mengoptimalkannya. Yang wajar saja Pak, gak usah > ketoprakan atau ludrukan begitu. Salam, Risfan Munir --- In > refere...@yahoogrou ps.com , Djarot Purbadi > <dpurb...@.. .> wrote: > > Pak Fadjar terima kasih atas ulasannya yang > memperjelas sedikit diskusi tentang kritik saya terhadap dunia para planner. > Intinya saya setuju apa yang digagas Pak BSP bahwa di kalangan planner sudah > ada yang terjun di lapangan secara nyata. Awalnya saya menduga belum ada > tetapi beliau menjelaskan bahwa hal itu sudah dilakukan, hanya memang atas > inisiatif individu (kadang juga dengan baju sebuah institusi). Mungkin > pengkalimatannya saja yang agak kabur, seolah-olah saya punya harapan "semua > planner" punya keinginan untuk menjadi sosok yang berjalan di daratan dan > merelakan kaki-tangannya kotor. Tentu hal ini yang saya anggap utopis, sebab > Pak BSP mengingatkan untuk menjalani profesi yang dekat dengan lapangan ya > memang pilihan individu. Hal ini juga sama dengan dunia arsitektur, untuk > tetap di studio yang steril atau terjun di lapangan berbasah-basah air hujan > dan berkeringat campur debu adalah urusan individu. > Saya kira pilihan duduk di belakang meja > sambil melakukan remoting control > atau terjun di lapangan secara langsung merupakan pilihan yang ada di setiap > profesi. Jadi keduanya sah-sah saja dan biarkan ada kemudian terjadi sinerji > yang melahirkan manfaat bagi kehidupan masyarakat. > > Salam, > > > > Djarot > Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi > arsitektur. wordpress. com > > --- On Fri, 6/12/09, efha_mardiansjah@ ... > <efha_mardiansjah@ ...> wrote: > > From: efha_mardiansjah@ ... > <efha_mardiansjah@ ...> > Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo > To: > refere...@yahoogrou ps.com > Date: Friday, June 12, 2009, 3:00 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Djarot dan rekans ysh, > > Kelihatannya, ada > sedikit kekeliruan Pak Djarot dalam memaknai posting Pak Bambang tentang ada > tidaknya person di kalangan planners yang mau bergerak di kalangan masyarakat > di lapangan dan tidak hanya bergerak di dalam tataran makro (mohon dikoreksi > apabila ternyata saya yang salah memaknai posting Pak Djarot). > > Saya > melihat bahwa Pak Bambang tidak bermaksud menyampaikan bahwa gerakan para > perencana > yang turun ke lapangan dan bergerak di dalam bidang pembangunan masyarakat, > tidak hanya berupa gerakan individualis namun juga banyak yang yang dilakukan > secara berkelompok bersama institusi atau groupnya. Menurut saya adalah hal > yang ingin disampaikan oleh Pak Bambang adalah bahwa keputusan untuk "turun > mengotorkan kaki dan tangan" (spt istilah Pak Djarot) dan "bergerak di akar > rumput" (spt istilah Pak Bambang) atau untuk "terbang di awang-awang untuk > mengatur tata ruang kehidupan bak gatotkaca" (spt istilah Pak Bambang) adalah > keputusan individu masing-masing perencana. > > Namun, di luar itu, > walaupun saya juga senang untuk turun ke lapangan seperti itu,secara pribadi > saya tidak terlampau memperdulikan apakah seorang perencana harus turun ke > lapangan mengotorkan kaki dan tangannya. Hal yang lebih saya perdulikan > adalah bahwa setiap planner harus berupaya menjadi orang yang "open minded" > dan mau bekerja sama dengan > aktor-aktor lainnya, mengingat besarnya kompleks persoalan yang kita hadapi > di Indonesia seperti negara berkembang lainnya. Tidak mungkin seorang > perencana menjadi "superman" yang mampu memahami seluruh fenomena dan > kecenderungan di seluruh elemen dan tataran yang biasanya saling berkait. > Keterbatasan dari seorang manusia membuat para perencana hanya akan mampu > memahami sebahagiannya saja. Oleh karena itu, yang harus menjadi prasyarat > bagi seorang planner untuk mampu berkontribusi baik dan signifikan (menurus > saya) bukanlah terletak kepada mau atau tidaknya dia "turun > mengotorkan > tangan dan kakinya", melainkan apakah perencana tersebut mau bekerja sama > dengan pihak/aktor lainnya dan bersikap terbuka terhadap pendapat-pandapat > dan ide-ide yang dilontarkan oleh partner kerjanya tsb. Saya berpikir bahwa > kondisi sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang bisa dihadapi secara > "one man show" (atau juga "one woman show" supaya turut > berperspektif gender, karena ngomong "one person show" kok nggak > enak kedengarannya ya he he he..), tetapi lebih merupakan suatu kondisi yang > harus dihadapi secara kerjasama untuk bisa lebih mendapatkan sinergi dari > dalamnya. > > Hal-hal ini lah menurut saya yang harus lebih dikedepankan. > Sementara apakah dia mau turun ke lapangan atau tidak, biarlah hal itu > menjadi keputusan pribadi orang tersebut, yang belum tentu akan mengurangi > kualitas kontribusi dari person tersebut. Tidak selamanya aktivitas yg > berbasis pada kondisi masyarakat di akar rumput merupakan aktivitas yang > paling benar, seperti halnya juga bahwa tidak selamanya aktivitas yang > didasarkan pada pemikiran makro itu salah. Yang mungkin akan menjadi lebih > baik adalah bagaimana kedua pendekatan tersebut dikombinasikan sesuai dengan > kondisi dan kemampuan setempatnya seperti suatu "global local perspective" > atau "macro-micro perspektive" . > > > Mungkin itu pendapat saya. > > Salam, > > Fadjar Undip > > > --- On Fri, > 6/12/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: > > > From: Djarot > Purbadi <dpurb...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo > > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Friday, June 12, 2009, 9:30 AM > > > > > > > > > > Pak BSP penjelasan panjenengan mencerahkan saya dan melegakan, > meskipun gerakan yang dilakukan para planner bersifat sangat individual. Hal > ini patut disyukuri sebab jika dilihat dengan kacamata historikal alangkah > sangat bermakna tindakan planer yang individualistik terjun langsung > menangani realitas lapangan dan mau berkotor tangan dan kaki. Persoalannya, > meskipun sangat individual tetapi jika keunikan pengalaman mereka ada yang > sempat merekam dan memberitakan kepada khalayak yang > lebih luas dan semakin luas maka akan menjadi minimal collective knowledge > sangat bernilai. Barangkali kesempitan pengetahuan dan informasi yang saya > miliki maka gerakan arus kecil itu luput dari pemahaman saya. Saya kira > awalnya Mangunwijaya mengawali seorang diri gerakan meninggalkan mainstream > untuk terjun ke dalam arus kecil arsitektur arus kecil dan ini menjadi > monumental kemudian diikuti oleh generasi berikutnya.. ..istilahnya kriwikan > lama-lama menjadi > grojogan.... > > Matur nuwun Pak BSP atas pencerahannya > yang inspiratif. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk. wordpress. > com [Blog Resmi MWK] > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. > com > > --- On Wed, 6/10/09, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. > net.id> wrote: > > > From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> > > Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Wednesday, June 10, 2009, 12:39 PM > > > > > > Mas Djarot ysh, > mas > Djarot mengatakan : > Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner > maunya terbang terus di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak > Gatotkaca dan para ksatria yang senang menjadi nayaka praja sambil > mengatur-ngatur atau ada golongan lain yang justru bergerak di akar rumput > dengan wawasan luas bagaikan punokawan ? Apakah ilmunya begitu saklek sampai > nggak mau murtad dari status ksatria dan turun menjadi punokawan dengan misi > pribadi menggerakkan tata ruang dari entitas lokal namun dengan wawasan > global - internasional ? > > Kebetulan saya juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi > ijinkan saya ikut urun rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat. > > Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus > terbang di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan > lulusan planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda > planologi ikut dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap > perumahan murah rakyat kecil. > Mereka bekerja sama dengan teman2 dari > arsitek seperti mas Sri Probo atau Dodo Yuliman merupakan sebuah tim yang > sangat bagus dan sudah berkarya banyak. Waktu itu dengan Antonio Ismail kita > membentuk perumahan murah di barat Serpong dan cukup berhasil. > Artinya, > seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. Biasanya > teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional planning > yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi > yang mempunyai kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk > memahami hal2 yang detail tersebut. > Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit > di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, > planologi, dan sipil. Dan mereka bisa berbicara dalam tataran yang sangat > detail. Begitu mas. > Salam > bambang sp > > >

