Pak Fadjar terima kasih atas ulasannya yang memperjelas sedikit diskusi tentang 
kritik saya terhadap dunia para planner. Intinya saya setuju apa yang digagas 
Pak BSP bahwa di kalangan planner sudah ada yang terjun di lapangan secara 
nyata. Awalnya saya menduga belum ada tetapi beliau menjelaskan bahwa hal itu 
sudah dilakukan, hanya memang atas inisiatif individu (kadang juga dengan baju 
sebuah institusi). Mungkin pengkalimatannya saja yang agak kabur, seolah-olah 
saya punya harapan "semua planner" punya keinginan untuk menjadi sosok yang 
berjalan di daratan dan merelakan kaki-tangannya kotor. Tentu hal ini yang saya 
anggap utopis, sebab Pak BSP mengingatkan untuk menjalani profesi yang dekat 
dengan lapangan ya memang pilihan individu. Hal ini juga sama dengan dunia 
arsitektur, untuk tetap di studio yang steril atau terjun di lapangan 
berbasah-basah air hujan dan berkeringat campur debu adalah urusan individu. 
Saya kira pilihan duduk di belakang meja
 sambil melakukan remoting control atau terjun di lapangan secara langsung 
merupakan pilihan yang ada di setiap profesi. Jadi keduanya sah-sah saja dan 
biarkan ada kemudian terjadi sinerji yang melahirkan manfaat bagi kehidupan 
masyarakat.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 6/12/09, [email protected] <[email protected]> 
wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: [email protected]
Date: Friday, June 12, 2009, 3:00 PM











    
            
            


      
      Pak Djarot dan rekans ysh,
 
Kelihatannya, ada sedikit kekeliruan Pak Djarot dalam memaknai posting Pak 
Bambang tentang ada tidaknya person di kalangan planners yang mau bergerak di 
kalangan masyarakat di lapangan dan tidak hanya bergerak di dalam tataran makro 
(mohon dikoreksi apabila ternyata saya yang salah memaknai posting Pak Djarot).
 
Saya melihat bahwa Pak Bambang tidak bermaksud menyampaikan bahwa gerakan para 
perencana yang turun ke lapangan dan bergerak di dalam bidang pembangunan 
masyarakat, tidak hanya berupa gerakan individualis namun juga banyak yang yang 
dilakukan secara berkelompok bersama institusi atau groupnya. Menurut saya 
adalah hal yang ingin disampaikan oleh Pak Bambang adalah bahwa keputusan untuk 
"turun mengotorkan kaki dan tangan" (spt istilah Pak Djarot) dan "bergerak di 
akar rumput" (spt istilah Pak Bambang) atau untuk "terbang di awang-awang untuk 
mengatur tata ruang kehidupan bak gatotkaca" (spt istilah Pak Bambang) adalah 
keputusan individu masing-masing perencana. 
 
Namun, di luar itu, walaupun saya juga senang untuk turun ke lapangan seperti 
itu,secara pribadi saya tidak terlampau memperdulikan apakah seorang perencana 
harus turun ke lapangan mengotorkan kaki dan tangannya.  Hal yang lebih saya 
perdulikan adalah bahwa setiap planner harus berupaya menjadi orang yang "open 
minded" dan mau bekerja sama dengan aktor-aktor lainnya, mengingat besarnya 
kompleks persoalan yang kita hadapi di Indonesia seperti negara berkembang 
lainnya. Tidak mungkin seorang perencana menjadi "superman" yang mampu memahami 
seluruh fenomena dan kecenderungan di seluruh elemen dan tataran yang biasanya 
saling berkait. Keterbatasan dari seorang manusia membuat para perencana hanya 
akan mampu memahami sebahagiannya saja. Oleh karena itu, yang harus menjadi 
prasyarat bagi seorang planner untuk mampu berkontribusi baik dan 
signifikan (menurus saya) bukanlah terletak kepada mau atau tidaknya dia "turun
 mengotorkan tangan dan kakinya", melainkan apakah perencana tersebut mau 
bekerja sama dengan pihak/aktor lainnya dan bersikap terbuka terhadap 
pendapat-pandapat dan ide-ide yang dilontarkan oleh partner kerjanya tsb. Saya 
berpikir bahwa kondisi sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang bisa 
dihadapi secara "one man show" (atau juga "one woman show" supaya turut 
berperspektif gender, karena ngomong "one person show" kok nggak 
enak kedengarannya ya he he he..), tetapi lebih merupakan suatu kondisi yang 
harus dihadapi secara kerjasama untuk bisa lebih mendapatkan sinergi dari 
dalamnya.
 
Hal-hal ini lah menurut saya yang harus lebih dikedepankan. Sementara apakah 
dia mau turun ke lapangan atau tidak, biarlah hal itu menjadi keputusan pribadi 
orang tersebut, yang belum tentu akan mengurangi kualitas kontribusi dari 
person tersebut. Tidak selamanya aktivitas yg berbasis pada kondisi masyarakat 
di akar rumput merupakan aktivitas yang paling benar, seperti halnya juga bahwa 
tidak selamanya aktivitas yang didasarkan pada pemikiran makro itu salah. Yang 
mungkin akan menjadi lebih baik adalah bagaimana kedua pendekatan tersebut 
dikombinasikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan setempatnya seperti suatu 
"global local perspective" atau "macro-micro perspektive" .
 
Mungkin itu pendapat saya.
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- On Fri, 6/12/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, June 12, 2009, 9:30 AM








Pak BSP penjelasan panjenengan mencerahkan saya dan melegakan, meskipun gerakan 
yang dilakukan para planner bersifat sangat individual. Hal ini patut disyukuri 
sebab jika dilihat dengan kacamata historikal alangkah sangat bermakna tindakan 
planer yang individualistik terjun langsung menangani realitas lapangan dan mau 
berkotor tangan dan kaki. Persoalannya, meskipun sangat individual tetapi jika 
keunikan pengalaman mereka ada yang sempat merekam dan memberitakan kepada 
khalayak yang lebih luas dan semakin luas maka akan menjadi minimal collective 
knowledge sangat bernilai. Barangkali kesempitan pengetahuan dan informasi yang 
saya miliki maka gerakan arus kecil itu luput dari pemahaman saya. Saya kira 
awalnya Mangunwijaya mengawali seorang diri gerakan meninggalkan mainstream 
untuk terjun ke dalam arus kecil arsitektur arus kecil dan ini menjadi 
monumental kemudian diikuti oleh generasi berikutnya.. ..istilahnya kriwikan 
lama-lama menjadi
 grojogan....

Matur nuwun Pak BSP atas pencerahannya yang inspiratif.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 6/10/09, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> wrote:


From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>
Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, June 10, 2009, 12:39 PM





Mas Djarot ysh,
mas Djarot mengatakan :
Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner maunya terbang terus di 
awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak Gatotkaca dan para ksatria 
yang senang menjadi nayaka praja sambil mengatur-ngatur atau ada golongan lain 
yang justru bergerak di akar rumput dengan wawasan luas bagaikan punokawan ? 
Apakah ilmunya begitu saklek sampai nggak mau murtad dari status ksatria dan 
turun menjadi punokawan dengan misi pribadi menggerakkan tata ruang dari 
entitas lokal namun dengan wawasan global - internasional ? 
Kebetulan saya juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi ijinkan 
saya ikut urun rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat.
Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus terbang 
di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan lulusan 
planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda planologi ikut 
dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap perumahan murah rakyat 
kecil. 
Mereka bekerja sama dengan teman2 dari arsitek seperti mas Sri Probo atau Dodo 
Yuliman merupakan sebuah tim yang sangat bagus dan sudah berkarya banyak. Waktu 
itu dengan Antonio Ismail kita membentuk perumahan murah di barat Serpong dan 
cukup berhasil. 
Artinya, seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. 
Biasanya teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional 
planning yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi yang mempunyai 
kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk memahami hal2 yang 
detail tersebut.
Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 
kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, planologi, dan sipil. Dan mereka bisa 
berbicara dalam tataran yang sangat detail. Begitu mas.
Salam
bambang sp
 



      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke