Pak Risfan, matur nuwun atas pencerahannya. Saya sendiri tidak punya maksud 
apalagi berkehendak menghakimi profesi lain. Saya hanya ingin membentangkan 
semacam peta kesadaran dalam profesi planning termasuk arsitektur yang bergerak 
di skala mikro bahwa ada sisi tertentu yang menarik. Tetapi jika terkesan 
menilai apalagi menghakimi, wah sungguh saya tidak ada maksud seperti itu. 
Dalam hati saya yang paling dalam sikap yang saya gunakan sebenarnya bertanya 
dan ingin membuka wawasan bersama. Jika kemudian dibaca atau terbaca sebagai 
titik yang melukai tentu bukan itu tujuan saya. Sekali lagi catatan dari Pak 
Risfan sangat bermanfaat bagi saya supaya lebih cermat dan hati-hati. Nuwun Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 6/13/09, risfano <[email protected]> wrote:

From: risfano <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
To: [email protected]
Date: Saturday, June 13, 2009, 8:41 PM











    
            
            


      
      Pak Djarot ysh,



Posting saya sebelumnya agak berantakan, karena di layar mikro memenggal teks 
sulit. 

Tapi intinya jangan menghakimi lah, bukan hal yang pas untuk menilai profesi 
orang di milist yang penulisnya sedikit ini. Tidak represntatif. Lagi pula 
ngapain Bapak kok tiba-tiba tergoda jadi penilai.



Pernyataan "syukur ada planner yang sudah mau tangan kotor". Arogan sekali Pak. 
Sebetulnya saya juga bisa bilang bersukur sudah ada arsitek yang peduli 
lingkungan kayak Bapak. Biasanya arsitek kan merancang proyek konglomerat 
developer, membangun mal, menggusur kampung-kampung. Tapi ya masak sih saya 
bilang begitu? Saya tak akan menuduh begitu karena saya tidak tahu, mungkin 
banyak teman-teman arsitek yang peduli seperti Romo Mangun atau Hasan Poerbo 
dan pengikutnya. 



Kalau orang lagi ngomong neolib vs sosialis, itu karena sedang ramai di koran 
Pak, tak ada hubungannya dengan Gatotkaca segala. Kalau saya siang ini makan 
soto, bukan berarti anti pecel. Tiap diskusi kan ada Topik nya. Jangan lagi 
Topik konsep, tiba-tiba Bapak sok patriotik bicara kampung terpencil di Timor, 
dan merasa sudah "bertangan kotor". 

Jadi Bapak jangan sok begawan dengan mengatakan "terima kasih atas 
penjelasannya Mas Efha, Pak BSP, syukurlah (dari pesakitan ini ada yang mulai 
insyaf)". Terus Mas Efha dan Pak BSP juga merasa sudah menjelaskan (sudah ada 
teman yang tobat kok). Syukurlah. Ini ketoprak namanya. Jaman sekarang sekolah 
di universitas bayar mahal Pak, tiap orang tentu punya kewajiban atas ekonomi 
keluarganya, sekaligus tangung-jawab profesi. Ada tantangan mengoptimalkannya. 
Yang wajar saja Pak, gak usah ketoprakan atau ludrukan begitu. 



Salam,

Risfan Munir



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Fadjar terima kasih atas ulasannya yang memperjelas sedikit diskusi 
> tentang kritik saya terhadap dunia para planner. Intinya saya setuju apa yang 
> digagas Pak BSP bahwa di kalangan planner sudah ada yang terjun di lapangan 
> secara nyata. Awalnya saya menduga belum ada tetapi beliau menjelaskan bahwa 
> hal itu sudah dilakukan, hanya memang atas inisiatif individu (kadang juga 
> dengan baju sebuah institusi). Mungkin pengkalimatannya saja yang agak kabur, 
> seolah-olah saya punya harapan "semua planner" punya keinginan untuk menjadi 
> sosok yang berjalan di daratan dan merelakan kaki-tangannya kotor. Tentu hal 
> ini yang saya anggap utopis, sebab Pak BSP mengingatkan untuk menjalani 
> profesi yang dekat dengan lapangan ya memang pilihan individu. Hal ini juga 
> sama dengan dunia arsitektur, untuk tetap di studio yang steril atau terjun 
> di lapangan berbasah-basah air hujan dan berkeringat campur debu adalah 
> urusan individu. Saya kira pilihan duduk di belakang meja

>  sambil melakukan remoting control atau terjun di lapangan secara langsung 
> merupakan pilihan yang ada di setiap profesi. Jadi keduanya sah-sah saja dan 
> biarkan ada kemudian terjadi sinerji yang melahirkan manfaat bagi kehidupan 
> masyarakat.

> 

> Salam,

> 

> 

> 

> Djarot Purbadi

> 

> 

> 

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> 

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> 

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> 

> --- On Fri, 6/12/09, efha_mardiansjah@ ... <efha_mardiansjah@ ...> wrote:

> 

> From: efha_mardiansjah@ ... <efha_mardiansjah@ ...>

> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Friday, June 12, 2009, 3:00 PM

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>     

>             

>             

> 

> 

>       

>       Pak Djarot dan rekans ysh,

>  

> Kelihatannya, ada sedikit kekeliruan Pak Djarot dalam memaknai posting Pak 
> Bambang tentang ada tidaknya person di kalangan planners yang mau bergerak di 
> kalangan masyarakat di lapangan dan tidak hanya bergerak di dalam tataran 
> makro (mohon dikoreksi apabila ternyata saya yang salah memaknai posting Pak 
> Djarot).

>  

> Saya melihat bahwa Pak Bambang tidak bermaksud menyampaikan bahwa gerakan 
> para perencana yang turun ke lapangan dan bergerak di dalam bidang 
> pembangunan masyarakat, tidak hanya berupa gerakan individualis namun juga 
> banyak yang yang dilakukan secara berkelompok bersama institusi atau 
> groupnya. Menurut saya adalah hal yang ingin disampaikan oleh Pak Bambang 
> adalah bahwa keputusan untuk "turun mengotorkan kaki dan tangan" (spt istilah 
> Pak Djarot) dan "bergerak di akar rumput" (spt istilah Pak Bambang) atau 
> untuk "terbang di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak 
> gatotkaca" (spt istilah Pak Bambang) adalah keputusan individu masing-masing 
> perencana. 

>  

> Namun, di luar itu, walaupun saya juga senang untuk turun ke lapangan seperti 
> itu,secara pribadi saya tidak terlampau memperdulikan apakah seorang 
> perencana harus turun ke lapangan mengotorkan kaki dan tangannya.  Hal yang 
> lebih saya perdulikan adalah bahwa setiap planner harus berupaya menjadi 
> orang yang "open minded" dan mau bekerja sama dengan aktor-aktor lainnya, 
> mengingat besarnya kompleks persoalan yang kita hadapi di Indonesia seperti 
> negara berkembang lainnya. Tidak mungkin seorang perencana menjadi "superman" 
> yang mampu memahami seluruh fenomena dan kecenderungan di seluruh elemen dan 
> tataran yang biasanya saling berkait. Keterbatasan dari seorang manusia 
> membuat para perencana hanya akan mampu memahami sebahagiannya saja. Oleh 
> karena itu, yang harus menjadi prasyarat bagi seorang planner untuk mampu 
> berkontribusi baik dan signifikan (menurus saya) bukanlah terletak kepada mau 
> atau tidaknya dia "turun

>  mengotorkan tangan dan kakinya", melainkan apakah perencana tersebut mau 
> bekerja sama dengan pihak/aktor lainnya dan bersikap terbuka terhadap 
> pendapat-pandapat dan ide-ide yang dilontarkan oleh partner kerjanya tsb. 
> Saya berpikir bahwa kondisi sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang 
> bisa dihadapi secara "one man show" (atau juga "one woman show" supaya turut 
> berperspektif gender, karena ngomong "one person show" kok nggak enak 
> kedengarannya ya he he he..), tetapi lebih merupakan suatu kondisi yang harus 
> dihadapi secara kerjasama untuk bisa lebih mendapatkan sinergi dari dalamnya.

>  

> Hal-hal ini lah menurut saya yang harus lebih dikedepankan. Sementara apakah 
> dia mau turun ke lapangan atau tidak, biarlah hal itu menjadi keputusan 
> pribadi orang tersebut, yang belum tentu akan mengurangi kualitas kontribusi 
> dari person tersebut. Tidak selamanya aktivitas yg berbasis pada kondisi 
> masyarakat di akar rumput merupakan aktivitas yang paling benar, seperti 
> halnya juga bahwa tidak selamanya aktivitas yang didasarkan pada pemikiran 
> makro itu salah. Yang mungkin akan menjadi lebih baik adalah bagaimana kedua 
> pendekatan tersebut dikombinasikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan 
> setempatnya seperti suatu "global local perspective" atau "macro-micro 
> perspektive" .

>  

> Mungkin itu pendapat saya.

>  

> Salam,

>  

> Fadjar Undip

> 

> 

> --- On Fri, 6/12/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

> 

> 

> From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>

> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Friday, June 12, 2009, 9:30 AM

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> Pak BSP penjelasan panjenengan mencerahkan saya dan melegakan, meskipun 
> gerakan yang dilakukan para planner bersifat sangat individual. Hal ini patut 
> disyukuri sebab jika dilihat dengan kacamata historikal alangkah sangat 
> bermakna tindakan planer yang individualistik terjun langsung menangani 
> realitas lapangan dan mau berkotor tangan dan kaki. Persoalannya, meskipun 
> sangat individual tetapi jika keunikan pengalaman mereka ada yang sempat 
> merekam dan memberitakan kepada khalayak yang lebih luas dan semakin luas 
> maka akan menjadi minimal collective knowledge sangat bernilai. Barangkali 
> kesempitan pengetahuan dan informasi yang saya miliki maka gerakan arus kecil 
> itu luput dari pemahaman saya. Saya kira awalnya Mangunwijaya mengawali 
> seorang diri gerakan meninggalkan mainstream untuk terjun ke dalam arus kecil 
> arsitektur arus kecil dan ini menjadi monumental kemudian diikuti oleh 
> generasi berikutnya.. ..istilahnya kriwikan lama-lama menjadi

>  grojogan....

> 

> Matur nuwun Pak BSP atas pencerahannya yang inspiratif.

> 

> Salam,

> 

> Djarot Purbadi

> 

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> 

> --- On Wed, 6/10/09, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> wrote:

> 

> 

> From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>

> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Wednesday, June 10, 2009, 12:39 PM

> 

> 

> 

> 

> 

> Mas Djarot ysh,

> mas Djarot mengatakan :

> Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner maunya terbang terus 
> di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak Gatotkaca dan para 
> ksatria yang senang menjadi nayaka praja sambil mengatur-ngatur atau ada 
> golongan lain yang justru bergerak di akar rumput dengan wawasan luas 
> bagaikan punokawan ? Apakah ilmunya begitu saklek sampai nggak mau murtad 
> dari status ksatria dan turun menjadi punokawan dengan misi pribadi 
> menggerakkan tata ruang dari entitas lokal namun dengan wawasan global - 
> internasional ? 

> Kebetulan saya juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi ijinkan 
> saya ikut urun rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat.

> Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus 
> terbang di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan 
> lulusan planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda 
> planologi ikut dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap 
> perumahan murah rakyat kecil. 

> Mereka bekerja sama dengan teman2 dari arsitek seperti mas Sri Probo atau 
> Dodo Yuliman merupakan sebuah tim yang sangat bagus dan sudah berkarya 
> banyak. Waktu itu dengan Antonio Ismail kita membentuk perumahan murah di 
> barat Serpong dan cukup berhasil. 

> Artinya, seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. 
> Biasanya teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional 
> planning yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi yang 
> mempunyai kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk memahami 
> hal2 yang detail tersebut.

> Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 
> kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, planologi, dan sipil. Dan mereka bisa 
> berbicara dalam tataran yang sangat detail. Begitu mas.

> Salam

> bambang sp

>  

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke