> 
> 
> 
> 
>     
>             
>             
> 
> 
>       
>       Pak Djarot dan rekans ysh,
>  
> Kelihatannya, ada sedikit kekeliruan Pak Djarot dalam memaknai posting Pak 
> Bambang tentang ada tidaknya person di kalangan planners yang mau bergerak di 
> kalangan masyarakat di lapangan dan tidak hanya bergerak di dalam tataran 
> makro (mohon dikoreksi apabila ternyata saya yang salah memaknai posting Pak 
> Djarot).
>  
> Saya melihat bahwa Pak Bambang tidak bermaksud menyampaikan bahwa 
> gerakan para perencana yang turun ke lapangan dan bergerak di dalam bidang 
> pembangunan masyarakat, tidak hanya berupa gerakan individualis namun juga 
> banyak yang yang dilakukan secara berkelompok bersama institusi atau 
> groupnya. Menurut saya adalah hal yang ingin disampaikan oleh Pak Bambang 
> adalah bahwa keputusan untuk "turun mengotorkan kaki dan tangan" (spt istilah 
> Pak Djarot) dan "bergerak di akar rumput" (spt istilah Pak Bambang) atau 
> untuk "terbang di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak 
> gatotkaca" (spt istilah Pak Bambang) adalah keputusan individu masing-masing 
> perencana. 
>  
> Namun, di luar itu, walaupun saya juga senang untuk turun ke lapangan seperti 
> itu,secara pribadi saya tidak terlampau memperdulikan apakah seorang 
> perencana harus turun ke lapangan mengotorkan kaki dan tangannya.  Hal yang 
> lebih saya perdulikan adalah bahwa setiap planner harus berupaya menjadi 
> orang yang "open minded" dan mau bekerja sama dengan aktor-aktor lainnya, 
> mengingat besarnya kompleks persoalan yang kita hadapi di Indonesia seperti 
> negara berkembang lainnya. Tidak mungkin seorang perencana menjadi 
> "superman" yang mampu memahami seluruh fenomena dan kecenderungan di seluruh 
> elemen dan tataran yang biasanya saling berkait. Keterbatasan dari seorang 
> manusia membuat para perencana hanya akan mampu memahami sebahagiannya saja. 
> Oleh karena itu, yang harus menjadi prasyarat bagi seorang planner untuk 
> mampu berkontribusi baik dan signifikan (menurus saya) bukanlah terletak 
> kepada mau atau tidaknya dia "turun
>  mengotorkan tangan dan kakinya", melainkan apakah perencana tersebut mau 
> bekerja sama dengan pihak/aktor lainnya dan bersikap terbuka terhadap 
> pendapat-pandapat dan ide-ide yang dilontarkan oleh partner kerjanya tsb. 
> Saya berpikir bahwa kondisi sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang 
> bisa dihadapi secara "one man show" (atau juga "one woman show" supaya turut 
> berperspektif gender, karena ngomong "one person show" kok nggak 
> enak kedengarannya ya he he he..), tetapi lebih merupakan suatu kondisi yang 
> harus dihadapi secara kerjasama untuk bisa lebih mendapatkan sinergi dari 
> dalamnya.
>  
> Hal-hal ini lah menurut saya yang harus lebih dikedepankan. Sementara apakah 
> dia mau turun ke lapangan atau tidak, biarlah hal itu menjadi keputusan 
> pribadi orang tersebut, yang belum tentu akan mengurangi kualitas kontribusi 
> dari person tersebut. Tidak selamanya aktivitas yg berbasis pada kondisi 
> masyarakat di akar rumput merupakan aktivitas yang paling benar, seperti 
> halnya juga bahwa tidak selamanya aktivitas yang didasarkan pada pemikiran 
> makro itu salah. Yang mungkin akan menjadi lebih baik adalah bagaimana kedua 
> pendekatan tersebut dikombinasikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan 
> setempatnya seperti suatu "global local perspective" atau "macro-micro 
> perspektive" .
>  
> Mungkin itu pendapat saya.
>  
> Salam,
>  
> Fadjar Undip
> 
> 
> --- On Fri, 6/12/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:
> 
> 
> From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, June 12, 2009, 9:30 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak BSP penjelasan panjenengan mencerahkan saya dan melegakan, meskipun 
> gerakan yang dilakukan para planner bersifat sangat individual. Hal ini patut 
> disyukuri sebab jika dilihat dengan kacamata historikal alangkah sangat 
> bermakna tindakan planer yang individualistik terjun langsung menangani 
> realitas lapangan dan mau berkotor tangan dan kaki. Persoalannya, meskipun 
> sangat individual tetapi jika keunikan pengalaman mereka ada yang sempat 
> merekam dan memberitakan kepada khalayak yang lebih luas dan semakin luas 
> maka akan menjadi minimal collective knowledge sangat bernilai. Barangkali 
> kesempitan pengetahuan dan informasi yang saya miliki maka gerakan arus kecil 
> itu luput dari pemahaman saya. Saya kira awalnya Mangunwijaya mengawali 
> seorang diri gerakan meninggalkan mainstream untuk terjun ke dalam arus kecil 
> arsitektur arus kecil dan ini menjadi monumental kemudian diikuti oleh 
> generasi berikutnya.. ..istilahnya kriwikan lama-lama menjadi
>  grojogan....
> 
> Matur nuwun Pak BSP atas pencerahannya yang inspiratif.
> 
> Salam,
> 
> Djarot Purbadi
> 
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> 
> --- On Wed, 6/10/09, bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id> wrote:
> 
> 
> From: bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>
> Subject: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, June 10, 2009, 12:39 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> Mas Djarot ysh,
> mas Djarot mengatakan :
> Pak Risfan, saya tidak tahu apakah di kalangan planner maunya terbang terus 
> di awang-awang untuk mengatur tata ruang kehidupan bak Gatotkaca dan para 
> ksatria yang senang menjadi nayaka praja sambil mengatur-ngatur atau ada 
> golongan lain yang justru bergerak di akar rumput dengan wawasan luas 
> bagaikan punokawan ? Apakah ilmunya begitu saklek sampai nggak mau murtad 
> dari status ksatria dan turun menjadi punokawan dengan misi pribadi 
> menggerakkan tata ruang dari entitas lokal namun dengan wawasan global - 
> internasional ? 
> Kebetulan saya Pak Djarot ysh.,

Saya kira kalau untuk provokasi "planner diawang-awang", yah terserah Bapak 
lah. Tapi kalau menilai suatu profesi berdasar ungkapan di milist, yang 
partisipannya terbatas, tidak representatif. Dan diskusi itu ad TOPIK nya Pak.
Kalau ada yang ngajak diskusi "neolib vs sosialis" terus kita nanggapi, bukan 
berarti kita tak peduli PKL atau yang praktis. Kalau saya siang ini makan soto, 
bukan berarti saya benci pecel.

Dengan segala hormat Pak, yang fairlah. Kan arsitek yang Bapak bilang 
"pahlawan" itu selama 20th ini kayaknya ya cuma dia-dia yang namanya Bapak 
sebut itu. Hampir semua saya kenal di pekerjaan. Saya kira yang kita omongin 
membangun mal, kompleks real estate mewah, padang golf, dimana -mana, yang 
melanggar tata ruang semua kan didesain arsitek. Jadi tidak produktiflah 
sindiran-sindiran begitu.

Sudah biasa untuk profesi apapun kalau sudah besar populasinya ya heterogen. 
Tiap orang punya ideologi dalam berprofesi. Paling jelas kan profesi hukum, ada 
yang jadi jaksa mengejar penjahat, ada yang pembela tertuduh, ada yang jadi 
hakimnya. Ekonom juga begitu, ada yang ngurusi kapital saja, ada yang ngurusi 
UMKM, ada yang advokasi.

Saya selama 8 tahun ini kerjaan saya tiap saat ke daerah-daerah, ngurusi 
klaster-klaster ekonomi lokal dari ujung barat sampai ke timur, ketemu kelompok 
petani, pengrajin dst. Apakah itu karena saya mau turun ke bawah? Tak tahulah 
Pak, mungkin iya karena menolak juga bisa, tapi mungkin karena tugas proyek 
saja. Itu kan urusan "di dalam", tapi sebagai kerja profesi kan sama saja.

Salam,
Risfan Munir

------------




juga seorang yang pernah didik di lingkungan itu. Jadi ijinkan saya ikut urun 
rembug meski telat, karena mbuka komputernya telat.
> Menurut saya, planner atau seorang lulusan planologi tidak mesti harus 
> terbang di awang2 terus. Saya punya banyak adik2 yunior yang sangat bagus dan 
> lulusan planologi... contohnya mas Sony. Ini dengan beberapa anak muda 
> planologi ikut dalam kelompok Cilaki 45 yang sangat concern terhadap 
> perumahan murah rakyat kecil. 
> Mereka bekerja sama dengan teman2 dari arsitek seperti mas Sri Probo atau 
> Dodo Yuliman merupakan sebuah tim yang sangat bagus dan sudah berkarya 
> banyak. Waktu itu dengan Antonio Ismail kita membentuk perumahan murah di 
> barat Serpong dan cukup berhasil. 
> Artinya, seorang planner mau terbang diatas atau tidak itu sangat individual. 
> Biasanya teman2 planner yang dulu waktu sekolahnya senang dengan regional 
> planning yang cenderung senang dengan yang bersifat makro. Tapi yang 
> mempunyai kecenderungan urban akan dengan cepat bisa berbaur untuk memahami 
> hal2 yang detail tersebut.
> Tahun 1996 waktu dilakukan City Summit di Istambul, tim DELRI diwakili oleh 3 
> kelompok disiplin ilmu yaitu arsitek, planologi, dan sipil. Dan mereka bisa 
> berbicara dalam tataran yang sangat detail. Begitu mas.
> Salam
> bambang sp
>  
>


Kirim email ke