Rekans ysh, Mengikuti alur diskusi ini, kita tak perlu bingung membaca posting Bang Hotasi. Bukankan Topik "Kemiskinan n Ekora" ini diawali posting Pak Iman ttg "anak kecil Gakin yang heran ada makan malam". Lalu berkembang ke UUD, ekspor batu bara, dst.
Pertanyaan Bang Hotasi, secara filosofis bisa diartikan: wajarkah orang kaya cepat? (10 th relatif). Kalau di China zaman Mao mungkin harus "sama rata, sama rasa". Tapi China pun zaman sekarang membolehkan orang kaya jauh melebihi tetangganya. Di nusantara, sebelum nanya negara kita bertanya pada diri sendiri, menganut yang mana? Mungkin kita akan berpendapat: tergantung caranya. Menyalahi hukum apa tidak? kepantasan sosial, kelompok marga (lagi2 tergantung norma yang dianut ya). Soal WTO, ekspor batu bara sementara PLN harus impor. Sehingga banyak daerah byar-pet. Ini juga keluhan umum kalangan manufaktur. Kenapa pemerintah cenderung memudahkan ekspor bahan baku daripada ekspor barang jadi. Menyulitkan impor bahan baku manufaktur kita, tapi memudahkan impor barang jadi. Ini terjadi di banyak jenis industri. Salah satu sebab adalah karena "kebutuhan dana jangka pendek (kas)". Negara butuh dana cepat untuk menutup anggaran, jadi milih jual konsesi dan ekspor SDA, jual BUMN. Masukkan PMA dengan cepat melalui liberalisasi segala sektor. Identik dengan ini, mungin para petani di daerah Bang Hotasi juga butuh kas, untuk memutar produksinya yang pas-pasan, untuk anak sekolah dst. Sehingga saat ada pengusaha muda dinamis datang, dengan mudah praktek bisnis dengan "informasi tak seimbang" membuat yang satu maju, yang kebanyakan tetap tertinggal. Dalam pengalaman saya mndampingi ekonomi lokal. Memang sulit mengajak petani, pengrajin berkelompok membangun kemandirian (mengatasi kebutuhan cashflow, kebutuhan bahan, pemasaran). Tapi sisi optimisnya, ternyata di setiap daerah, komunitas selalu ada champion, pengusaha yang peduli dan berniat "maju bersama komunitas"nya. Saya menemukan mereka di Sumut, Sumbar, Jawa, Sulsel, wilayah kerja saya. Semoga manfaat. Salam, Riafan Munir

