Pak Ekadj yang baik, di Parangtritis dan mungkin tempat lain, tempat keramat 
selalu ada orang yang menunggui dan sering disebut jurukunci. Salah satu cara 
untuk memahaminya biasanya lewat mereka. Jika kita menggunakan fenomenologi, 
pastilah kita menanggalkan cara berpikir positivisme yang hanya meyakini 
fenomena yang tampak oleh mata optikal. Fenomenologi umumnya menggunakan mata 
akal dan mata batin (hati), meskipun tidak harus mata spiritual-supranatural. 
Secara keilmuan, dalam berfenomenologi kita mempercayai yang dikatakan 
narasumber sambil melakukan triangulasi alias pengamatan berkali-kali untuk 
meningkatkan validitas pengamatan. Proses mengamati berkali-kali dan dari 
berbagai sudut pandang ini dalam fenomenologi sering disebut proses 
mengkonstitusi obyek ke dalam kesadaran pengamat. Contohnya, untuk meyakini 
gambar sebuah gunung kita melakukan pengamatan berkali-kali dan berkeliling, 
bukan sekedar tampak timur, utara, barat dan selatan.
 Pengamatannya bersifat meruang. Dari proses itu kita berusaha memperoleh 
"obyek murni" yang tidak dipengaruhi apapun dan siapapun, karena selain 
memurnikan obyek kita juga memurnikan kesadaran kita sendiri sebagai pengamat. 
Proses memurnikan ini lazim disebut reduksi, artinya membuat kesadaran kita 
tidak dipengaruhi memori, opini orang atau bahkan tradisi keilmuan yang pernah 
masuk ke dalam memori kita. Jadi proses pemurnian ada pada dua pihak, pada 
obyek yang diamati maupun kesadaran diri kita. Artinya kritis terhadap obyek 
sekaligus kritis kepada cara berpikir kita. Cara ini memerlukan latihan Pak. 
Selain itu proses membangun pengetahuan melalui induksi, bukan deduksi.

Dalam pengamatan di Parangtritis, kami menemukan sebuah tempat keramat, yang 
menurut jurukunci adalah "pesantren Jin", pemimpinnya ada dan anak buahnya 
banyak. Orang awam memandang tempat itu adalah tempat mencari thuyul, tetapi 
jurukunci yang mengaku pernah berkomunikasi mengatakan itu sebuah tempat 
tinggal. Tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang masih bertahan di 
Parangtritis, yang semakin banyak dibangun hunian oleh manusia. Jadi ada kesan 
para jin dan thuyul itu terdesak oleh manusia, maka mereka kadang marah dan 
merasuki para wisatawan. Jika meneliti tempat-tempat keramat memang ceriteranya 
aneh-aneh, tetapi sebagai ilmuwan yang mempercayai adanya fenomena fisik dan 
fenomena batin (yang tersembunyi) tentulah hal-hal yang gaib menjadi bagian 
dari pengamatan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 7/25/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat
To: [email protected]
Date: Saturday, July 25, 2009, 9:33 PM






 




    
                  

Pak Koes dan Pak Djarot ysh,



Terima kasih atas informasinya. Kalau saya rumuskan sementara waktu

mengenai tempat keramat ini, dari Pak Koes menyebutkan sebagian besar

merupakan kuburan/makam, sehingga sering menjadi tempat tawassul. Saya

kira tradisi tawassul ini sangat khas NU/Jawa, walau di beberapa tempat

di nusantara ini juga ada yang melakukan terutama dari kalangan

thariqat.



Dari Pak Djarot disebutkan adanya tempat-tempat yang memiliki kekuatan

alam yang digunakan untuk bermunajat, dan saya kira ini sangat khas Jawa

(Mataraman). Saya kurang tahu cara menandai tempat-tempat keramat ini,

mungkin perlu kemampuan metafisik tertentu, termasuk juga kemampuan

untuk menyerap kekuatan-kekuatan alam tersebut.



Saya kira tempat-tempat keramat ini khas nusantara, terdapat di berbagai

tempat. Di depan Istana Maymoon di Medan ada bangunan kecil yang

mencingkupi 'meriam tomong' yang selalu mengeluarkan air (mata), dan

dikeramatkan juga oleh masyarakat Deli. Di Banda Aceh ada makam Syiah

Kuala, yang tidak terganggu sewaktu tsunami kemarin. Di Kedukan Bukit

Palembang juga terdapat petilasan Sriwijaya dan termasuk keramat juga.

Di Pariaman ada kuburan Syech Burhanuddin Ulakan yang diziarahi ribuan

orang setiap tahunnya. Namun masyarakat Sumatera pada umumnya kurang

mempopulerkan tradisi tawassul ini, terkecuali ziarah yang dilakukan

setiap memasuki bulan Ramadhan.



Kalau di Asmat tempat yang dikeramatkan adalah bangunan Jew, yang sering

untuk tempat pertemuan. Di Manado saya melihat kuburan Tuanku Imam

Bonjol di Pineleng sering juga diziarahi, namun yang pasti bukan orang

Minang. Sepertinya kita perlu informasi dari berbagai daerah mengenai

tempat-tempat keramat ini.



Apakah kekuatan-kekuatan alam dari tempat-tempat keramat tersebut

signifikan mempengaruhi peri kehidupan masyarakat setempat? Dan

bagaimana fenomenologi memanfaatkan kekuatan tersebut, serta untuk

kebutuhan apa? Apakah gejala nativisme ini dapat dijelaskan secara

ilmiah, atau hanya sugesti saja? Mohon kesediaan menjelaskan lebih

lanjut.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koeswadi@ ...>

wrote:

>

> Pro Sahabats ysh

>

> Asw. Saya sangat setuju usul mas Ekadj ada bahasan jagad Madura.

> Tentunya diharapkan ada juga jagad-jagad lainnya, supaya kita lebih

mengenal

> alam sekitar. Tinjauan ekonomi, lingkungan hidup, NKRI boleh kiranya

disertakan ya mas.

>

> Kata orang Madura, kota Sumenep ini bagai kuburan.. karena,

> kuburan ada di mana2..yang agaknya menjadi elemen perkotaan. Kuburan2

besar

> berdampingan dengan kawasan terbangun. Kuburan, di masyarakat ini

bukan sekedar

> tempat mengubur mayat..tetapi tempat terhormat yang leluhurnya selalu

(biasa)

> dikunjungi, tidak hanya sewaktu mau puasa atau lebaran. Kemudian, yg

ekonominya

> mampu, nisannya dibangun pagar berhias ataupun  cungkup, dst.

Contoh nisan semacam ini banyak

> dijumpai di wilayah Jordan utara arah menuju obyek wisata Bahr Mayyit

(Laut

> Mati). Selain untuk ziarah, juga untuk wisata, misalnya ke makam Zun

Nun al

> Misr, Muaz bin Jabbal dll. Juga ada di kota Palestina (makam syech

perempuan agung

> Rabi’ah al Addawiyyah), atau di kota Hebron (wilayah Palestina)

yang makamnya

> menjadi bagian masjid Hebron. Di beberapa tempat lainnya, saya lihat

model

> cungkup di kuburan Jogja (kalau tidak keliru di sekitar Gajahan, dan

juga di

> komplek makam â€" lupa namanya - yang di dalamnya ada pangeran

agung Alap-alap

> Samber Nyowo). Di luar kota Kandangan â€" Barabai Kalsel jug ada,

bahkan dihiasi

> kain seperti di Jordan Utara.

>

>

> Jika orang Madura berziarah kubur relative lebih lama. Banyak

> peziarah sambil meminta berkah saat punya hajat di kuburan keluarga

atau

> kuburan orang-orang tertentu…(maaf, cara ini sebagian orang

meyakininya tidak

> syirik).  Saya tidak hendak membahas

> perbedaan paham ini di milis ini.Â

>

> Info di bawah ini lebih bersifat hasil pendataan sesaat saja.

> Paham mengunjungi tempat keramat (karomah) masih subur di masyarakat

Madura. Agaknya

> juga di sebagian masyarakat Jawa Barat. Yang saya maksud keramat

adalah:

> kuburan, benda2 alam, benda2 bersejarah/legenda, dan para ulama/ kyai

yang

> masih hidup terutama yg punya pondok pesantren. Â Secara ringkas,

 berikut ini:

>

> 1.  Â

> MMakam para raja/keluarga raja di Asta Tenggi kota

> Sumenep

>

>

> 2.     Â

> Makam para raja dan para ulama agung di pulau

> Talango (1.5km dari pelabuhan Kalianget, 17 Km dari kota Sumenep).

Suasananya

> seperti di makam Syech Caringin (Syech Asnawi, Syech Abdurahman),

Caringin

> Banten, atau seperti di makam Syech Maulana Mansyur, Kadupinang

Pandegelang.

>

>

> 3.     Â

> Makam untuk umum, tersebar dikampung2 hingga

> ujung barat Madura (Kamal Bangkalan), tetapi di antara makam ada yang

> ditengarai sebagai keramat. Bisa ditanya ke orang2 di sekitar makam.

(tidak

> selalu juru kunci).

>

>

> 4.     Â

> Makam pangeran Joko Tole, dan perangkat kuda terbang

> yang dipakai perang (legenda) berlokasi di 40 Km luar kota Sumenep.

>

>

> 5.     Â

> Selain maka, Ulama-ulama keturunan Arab, ataupun

> bukan keturunan Arab, banyak yg dikunjungi untuk keperluan konsultasi

dan minta

> ‘dibantu ini itu’ termasuk yang urusan supranatural.

Salah satunya   keturunan alm. Syech Baha’uddin (di

Kepanjen

> Sumenep). Semasa hidupnya beliau juga pernah menulis buku sangat

popular dan

> menguasai beberapa bahasa asing.

>

>

> 6.     Â

> Atau berkunjung ke pesantren2 Â a.l . di Lenteng (20Km dari kota

Sumenep), di

> Lukguluk (jalan nasional menuju Pamekasan), di Batu Ampar (kab

Bangkalan) ,di

> Batu Poteh (kab Sampang). Para ulamanya punya kelebihan masing-masing

yang

> pantas disimak.

>

>

> 7.     Â

> Yang namanya ‘jimat = barang siji dirumat’,

> banyak masyarakat Madura yang menyimpan ‘tulisan arab’

(wafaq) baik yg disimpan

> di rumah (dekat pintu) ataupun dibawa. Mereka peroleh dari ulama2

tertentu.

> Termasuk menyimpan senjata keris dan tombak beraneka bentuk lebih

dihargai.

> Mereka tidak menyimpan clurit, kecuali para petani ladang. Clurit

seperti yg

> ditulis dalam makalah mhs ITS Â (ibu Retno

> H.) kiriman mas Djarot, adalah barang peralatan bertani (sama dg

sabit/arit). Memang

> benar, yg ini banyak di pasar2, seperti kita biasa melihat orang jual

> sabit/bedog/ cangkul di pasar2Â  p. Jawa.

>

> Â

>

> Ada penelaahan penting, selain aspek tata ruang. Makam para

> ulama, tokoh2 agama, dan tokoh nasional, memiliki daya tarik bagi

sesiapa yang

> mencintainya/ menghormati jasanya. Mas Djarot menyebutnya sebagai

adanya kesamaan nilai spiritual. Kedatangan peziarah membawa keberkahan

bagi

> sang almarhum (atas kiriman do’anya), juga bagi yang berziarah

(beroleh

> ketenangan bathiniah), juga bagi masyarakat sekitar (beroleh lapangan

> usaha/ekonomi oleh sebab bisa menjual hasil bumi dan kerajinannya) ,

juga bagi pemda

> (disparda dapat retribusi). Kita bisa hitung, berapa penghasilan dan

kesempatan

> berusaha tercipta oleh satu makam. Jadi, bagaimana kita mengapresiasi

dimensi

> keseluruhan ini? Bisakah kita berbalas budi, seperti beliau2, yang

beliau2

> sudah wafat saja sanggup memberkahi (menghidupi) banyak

orang…apalagi semasa

> hidupnya. Inikah yang disebut karomah??

>

>

> Memindahkan makam/kuburan adalah sesuatu yang sulit dikerjakan

> di Madura. Apalagi melindas makam menjadi jalan ekonomi  seperti

kota2 lain. Di Madura hal ini dikategori

> tabu. Para pemikir tata ruang boleh mencari solusi, atau memahami apa

adanya.

> Bukankah demikian adalah salah satu produk budaya local yang perlu

diapresiasi.

> Perlu dipahami, sifat orang Madura sangat kuat hubungan /penghormatan

kepada

> keluarga termasuk yang sudah meninggal. Menyanjung kepada yang

dihormati akan

> dianggap keluarga besarnya. Begitu pula sebaliknya, akan menjadi

persoalan

> serius. Kiranya, lokasi kuburan (sebagai fasilitas perkotaan) Â di

masa depan, juga yang dikeramatkan, harus

> di plan secermat mungkin, bukan sekedar ada di lahan kosong di

pinggiran. (Kita

> boleh perhatikan hadits Nabi, yang esensinya agar menyegerakan prosesi

kubur;

> tata cara menjumpai mayat di jalan â€" termasuk yg ada dalam

ambulan kota; tata laku

> memasuki kuburan, termasuk waktu ikut mengiringi ke liang lahat; dan

masih

> banyak lagi..semua berkait site plan, distribusi lokasi, dan RTH).

Nah, sedikit

> soal building code nya bangunan rumah tinggal di kota Madura, mungkin

perlu

> banyak modifikasi di sini. Misalnya, soal GSB sebagaimana yg kita

kenal, sulit

> diterapkan. Wong dinding dapur/kamar tidurnya adalah pagar jalan raya

(lihat di

> jl Pendekar kota Sumenep, atau di Kec Labang kab Bangkalan). Salam,

Koes, JKT.

>

>

> --- On Sat, 25/7/09, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote:

>

> From: Djarot Purbadi dpurb...@...

> Subject: Re: [referensi] tempat keramat

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Saturday, 25 July, 2009, 8:03 AM

>

>

>

>

>

>

> Â

>

>

>

>

>

> Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan

dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada

kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu.

Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari

penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai

spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya

menciptakan entitas kehidupan di tempat itu.

>

> Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat

indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik

penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan

berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib

sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara

kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di

> batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im.

Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana

Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon

beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga

menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro

ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu

juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari

Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong

berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya

di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal

sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan

diayun-ayunkan ombak penuh nikmat.

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Fri, 7/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote:

>

> From: ffekadj 4ek...@gmail. com>

> Subject: [referensi] tempat keramat

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM

>

>

>

>

>

>

> Â

>

>

> Pak Koes dan rekan2 ysh,

> Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan

mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di

bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat

keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian

pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan

praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Terima kasih sebelumnya. Salam.

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi m_koeswadi@ ..>

wrote:

> >

> > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak

terlihat/supranatur al masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau

mendalami, menseriusi, bisa ke para informal leaders.. Termasuk

pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di beberapa tempat, diyakini

banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren tua' seperti di

Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan rencana

expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. Semoga tidak ada

konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes,

JKT

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke