Pak Ekadj, terima kasih atas dongengnya yang menarik. Saya bukan pemerhati 
budaya Jawa yang serius sehingga banyak hal baru yang saya ketahui dari paparan 
panjenengan tersebut. Rasanya dari dongeng itu banyak aspek simbolismenya dan 
untuk mengetahui pesan yang tersembunyi di balik simbol saya agak kesulitan 
karena referensi yang terkait dengan dongeng itu saya nggak memilikinya. 
Misalnya, ceritera itu dibuat oleh siapa dan dalam situasi perbincangan yang 
bagaimana ? Secara sepintas kita bisa menangkap, adanya situasi saat itu yang 
ingin mengatakan bagaimana perjumpaan Budha dan Islam menimbulkan situasi pelik 
di kalangan orang-orang Jawa. Apakah benar begitu, ya hanya dugaan saja.

Tentang penokohan SP, saya juga nggak bisa menjelaskan mendalam, karena itu 
tadim saya bukan pemerhati budaya Jawa yang serius. Pengalaman saya bergaul 
dengan komunitas Kejawen (tanpa nama organisasi) menarik diungkapkan, khususnya 
tentang Satrio Piningit. Konon Satrio Piningit itu sudah lama ada dan 
tinggalnya di "alas ketonggo". Alas ketonggo adalah nama samaran untuk 
menjelaskan adanya "urip" (bukan mbah Surip lho) dan "badan". Kata kunci "urip" 
ini identik dengan roh, sebab Sang Gawe Urip ya Tuhan/Allah sendiri. Ketonggo 
dimaksudkan adalah keteg (denyut) yang ada di dalam basan (onggo). Jadi artinya 
bahwa manusia perlu menyadari "keteg ingkang ana angga" yaitu menyadari hidup 
di dalam badannya sendiri. Saya menangkap, Satrio Piningit bukan sosok tokoh 
yang sedang dalam pingitan, sebab jika demikian kita menggunakan teori "Ratu 
Adil" dalam pikiran kita. Jadi, jika presiden sekarang atau tokoh lain dianggap 
sebagai Satrio Piningit itu sebenarnya nggak
 tepat. Situasi seperti ini bisa mirip dengan Israel jaman kelahiran Yesus yang 
menganggap Mesias adalah Raja Hebat yang akan membebaskan Israel dari kekuasaan 
Romawi, padahal Mesias adalah bayi kecil yang kelak menjadi raja di dalam hati 
setiap umatnya. Ini menurut keyakinan Katolik.

Jika kita mengikuti interpretasi yang saya dengar tentang Satrio Piningit, saya 
kira pesannya adalah bahwa manusia harus semakin menyadari bahwa hidup adalah 
anugerah yang harus dipelihara dan dihormati. 

Soal "Ratu Adil" akhir-akhir ini saya mendengar interpretasi yang unik. Ratu 
Adil sebenarnya sudah ada dan sudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. 
Informan saya yang gemar mocopatan ini mengatakan bahwa Ratu Adil ya Pancasila, 
bukan sosok yang hebat seperti digambarkan orang selama ini. Artinya, jaman 
yang diperintah oleh Ratu Adil sebenarnya sudah diawali, maka jika Pancasila 
ditegakkan secara sungguh-sungguh sebenarnya kita sudah dipimpin oleh Ratu Adil.

Itu saja Pak, saya nggak tahu lebih jauh, mohon maaf.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 8/7/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat
To: [email protected]
Date: Friday, August 7, 2009, 9:06 PM






 




    
                  Pak BSP dan Pak Djarot ysh, sekalian menyalami Pak RZaris. 
Saya tertarik dengan 2 hal dari penjelasan bapak di bawah :
--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@...> wrote:
>
> Pada saat saya di Kanwil PU, saya diminta oleh HB X membangun sebuah 
> petilasan tempat bertemunya Sunan Kalijaga dengan Brawijaya V sebelum mukswa 
> di pantai selatan. Tempat petilasan itu kemudian disebut Wono Kobaran. 
> Letaknya di desa Temu Ireng, Panggang. Semula desa itu sangat terisolir. 
> Namun apa yang terjadi dengan munculnya petilasan tadi... pelan tapi pasti 
> muncul pertumbuhan ekonomi akibat banyaknya penziarah kesitu.
>
Kebetulan saya nemu satu pendapat dikaskus sbb, dan mohon klarifikasi mengenai 
masalah lokasi dan korelasi Majapahit-Mataram :
"Hal lain yang menjadi sebab Agama Buddha menurun adalah Raja ke-5 pada Jaman 
Majapahit yaitu Raja Brawijaya V mempunyai anak laki-laki hasil pernikahannya 
dengan Putri Campa (China), di mana sejak kecil anak tersebut yang diberi nama 
Raden Babah Patah dididik oleh Raja Ariyodamar di Palembang, Sumatera, yang 
telah beragama lain. Jadi Raden Patah diajar agama lain bukan Agama Buddha yang 
telah dianut di negeri itu, sampai Raden Patah menjadi besar dan kembali ke 
negeri Tanah Jawa di Kerajaan Majapahit.

Oleh Brawijaya diterima dan diberikan wilayah kekuasaan untuk dibuka menjadi 
kerajaan baru. Tempat tersebut oleh Raden Patah dibangun bersama dengan 
guru-guru spiritualnya yakni para wali, jadilah Kerajaan Demak Bintoro, di Jawa 
Tengah. Akhirnya demi kepentingan tertentu guru-guru spiritualnya mendesak 
Raden Patah sebagai Raja Demak Bintoro, untuk segera mereformasi Majapahit 
berganti agama baru. Meskipun berkali-kali Raden Patah menunda-nunda permintaan 
gurunya, akan tetapi karena didesak dan didesak terus, akhirnya Raden Patah 
menurut juga. Oleh karena Brawijaya tidak mendidik Raden Patah untuk 
mempelajari Agama Buddha, akibatnya Raden Patah tidak menganut Agama Buddha, 
malah bermaksud mengganti agama yang dianut Brawijaya, orangtuanya.

Sampai suatu ketika Majapahit didatangi tentara dari Demak, untuk tujuan 
mereformasi Majapahit. Prabu Brawijaya sebagai orangtua tentu berpikir panjang, 
apakah dia harus berperang berhadapan dengan anak,
sedangkan sebagai orangtua rela kurang makan minum, kurang tidur, asal anak 
bahagia orangtua sudah cukup puas. Maka meskipun negeri kerajaan dalam keadaan 
didesak bahaya, daripada perang dengan anak, Prabu
Brawijaya memilih pergi meninggalkan kerajaan; lewat pintu belakang beliau 
meninggalkan Kerajaan Majapahit menuju Blambangan. Jadi Kerajaan Majapahit 
ketika itu bukan diambil alih dengan peperangan atau perundingan,
tetapi tepatnya ditinggal pergi oleh rajanya. Raja Demak berhasil mengambil 
alih istana Kerajaan Majapahit, tetapi misinya dianggap belum sukses karena 
Prabu Brawijaya belum pindah agama baru. Akhirnya diputuskan untuk mengirim 
Raden Sahid Sunan Kalijaga menyusul Prabu Brawijaya ke Blambangan, di ujung 
timur Pulau Jawa. Tujuannya membujuk dan merayu, serta memohon agar Prabu 
Brawijaya kembali ke Majapahit dan
berganti agama. Pembicaraan ini berlangsung berhari-hari sampai akhirnya Prabu 
Brawijaya menyanggupi untuk kembali ke Majapahit. Tetapi beliau mengatakan 
bahwa: "Saya mau kembali ke Majapahit bukan untuk kekuasaan sebagai Raja 
Majapahit, tetapi demi anak." Sudah jelas dikudeta, tetapi Prabu Brawijaya 
tetap tidak pupus rasa sayang pada anaknya. Walaupun demikian misi para wali 
guru spiritual Raden Patah belum tercapai, maka berhari-hari terus diadakan 
dialog. Karena alotnya sampai suatu ketika dialog diambil alih oleh kedua 
penasehat spiritual Prabu Brawijaya yaitu Sabdopalon dan Noyoginggong (nama 
yang sudah diistilahkan, yang dimaksud adalah bhikkhu). Akhirnya Sabdopalon, 
Noyoginggong, dan Sunan Kalijaga berdebat seru mengadu ilmu dan kesaktian.

Di mana untuk membuktikan misi baru ini hebat, Raden Said mengambil air untuk 
mencuci muka, begitu tersentuh tangan, air tersebut berubah menjadi berbau 
wangi. Untuk menandai kejadian ajaib ini, maka di tempat itu diberi nama 
Banyuwangi. Akhirnya disepakati rombongan meninggalkan Blambangan menuju 
Majapahit.
Dalam perjalanan ke Majapahit rombongan berhenti di suatu tempat peristirahatan 
(villa). Di tempat itu diteruskan lagi diskusi yang belum usai. Sabdopalon dan 
Noyoginggong menerima keajaiban air wangi tidak tinggal diam, tetapi ingin 
menguji air wangi tersebut sampai kapan bertahan. Air wangi yang dibawa dalam 
bumbung (tabung) dari Blambangan, oleh Sabdopalon dan Noyoginggong dibuka 
tutupnya, ternyata air yang semula
berbau wangi itu sekarang berubah menjadi berbau basin (busuk) dan banger. 
Prabu Brawijaya berkata: "Saya sudah tua, semuanya demi anak. Permintaan saya, 
meskipun Majapahit sudah berganti pemerintahan tetapi jangan sampai dinodai 
tetesan darah. Saya sanggup berganti agama tetapi saya mempunyai permintaan, 
kalau saya meninggal jangan ditulis di sini makam Brawijaya, cukup diberi tanda 
'di sini peristirahatan si putra bulan [trowulan]." Begitu Prabu Brawijaya 
memberi disposisi, kedua penasehat spiritualnya berkata:
"Brawijaya, saya tidak akan mengikuti perjalananmu lagi, saya akan tidur saja, 
dan saya tidak akan bangun sebelum Agama Buddha kembali. Dan ingatlah keharuman 
air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4
jaman." Usai berkata demikian Sabdopalon dan Noyoginggong "moksa" (menghilang) 
. "
Pertanyaan kedua, mohon penjelasan menyangkut penokohan SP (~ Sabdo Palon ~ 
Satrio Piningit ~ Satrio Pinandhito ~ Semar Punokawan) dalam budaya Jawa.
Sebelumnya terima kasih. Salam.
-ekadj

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke