Pak Djarot, saya punya pengalaman juga di masa kecil dulu. Sewaktu berkunjung ke rumah kakek di kampung, saya dan saudara2 mendaki sebuah bukit di belakang rumah. Ketika sudah kembali, badan saya terasa panas-dingin. Oleh nenek dibilang saya ini 'tersapa'. Lalu nenek mengusap-usap alis saya, dan setelah itu saya merasa mendingan. Saya kira pesantren-pesantren seperti ini ada di berbagai tempat ya pak? Salam.
-ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Ekadj yang baik, di Parangtritis dan mungkin tempat lain, tempat keramat selalu ada orang yang menunggui dan sering disebut jurukunci. Salah satu cara untuk memahaminya biasanya lewat mereka. Jika kita menggunakan fenomenologi, pastilah kita menanggalkan cara berpikir positivisme yang hanya meyakini fenomena yang tampak oleh mata optikal. Fenomenologi umumnya menggunakan mata akal dan mata batin (hati), meskipun tidak harus mata spiritual-supranatural. Secara keilmuan, dalam berfenomenologi kita mempercayai yang dikatakan narasumber sambil melakukan triangulasi alias pengamatan berkali-kali untuk meningkatkan validitas pengamatan. Proses mengamati berkali-kali dan dari berbagai sudut pandang ini dalam fenomenologi sering disebut proses mengkonstitusi obyek ke dalam kesadaran pengamat. Contohnya, untuk meyakini gambar sebuah gunung kita melakukan pengamatan berkali-kali dan berkeliling, bukan sekedar tampak timur, utara, barat dan selatan. > Pengamatannya bersifat meruang. Dari proses itu kita berusaha memperoleh "obyek murni" yang tidak dipengaruhi apapun dan siapapun, karena selain memurnikan obyek kita juga memurnikan kesadaran kita sendiri sebagai pengamat. Proses memurnikan ini lazim disebut reduksi, artinya membuat kesadaran kita tidak dipengaruhi memori, opini orang atau bahkan tradisi keilmuan yang pernah masuk ke dalam memori kita. Jadi proses pemurnian ada pada dua pihak, pada obyek yang diamati maupun kesadaran diri kita. Artinya kritis terhadap obyek sekaligus kritis kepada cara berpikir kita. Cara ini memerlukan latihan Pak. Selain itu proses membangun pengetahuan melalui induksi, bukan deduksi. > > Dalam pengamatan di Parangtritis, kami menemukan sebuah tempat keramat, yang menurut jurukunci adalah "pesantren Jin", pemimpinnya ada dan anak buahnya banyak. Orang awam memandang tempat itu adalah tempat mencari thuyul, tetapi jurukunci yang mengaku pernah berkomunikasi mengatakan itu sebuah tempat tinggal. Tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang masih bertahan di Parangtritis, yang semakin banyak dibangun hunian oleh manusia. Jadi ada kesan para jin dan thuyul itu terdesak oleh manusia, maka mereka kadang marah dan merasuki para wisatawan. Jika meneliti tempat-tempat keramat memang ceriteranya aneh-aneh, tetapi sebagai ilmuwan yang mempercayai adanya fenomena fisik dan fenomena batin (yang tersembunyi) tentulah hal-hal yang gaib menjadi bagian dari pengamatan. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Sat, 7/25/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: tempat keramat > To: [email protected] > Date: Saturday, July 25, 2009, 9:33 PM > > > > > > >  > > > > > > > > Pak Koes dan Pak Djarot ysh, > > > > Terima kasih atas informasinya. Kalau saya rumuskan sementara waktu > > mengenai tempat keramat ini, dari Pak Koes menyebutkan sebagian besar > > merupakan kuburan/makam, sehingga sering menjadi tempat tawassul. Saya > > kira tradisi tawassul ini sangat khas NU/Jawa, walau di beberapa tempat > > di nusantara ini juga ada yang melakukan terutama dari kalangan > > thariqat. > > > > Dari Pak Djarot disebutkan adanya tempat-tempat yang memiliki kekuatan > > alam yang digunakan untuk bermunajat, dan saya kira ini sangat khas Jawa > > (Mataraman). Saya kurang tahu cara menandai tempat-tempat keramat ini, > > mungkin perlu kemampuan metafisik tertentu, termasuk juga kemampuan > > untuk menyerap kekuatan-kekuatan alam tersebut. > > > > Saya kira tempat-tempat keramat ini khas nusantara, terdapat di berbagai > > tempat. Di depan Istana Maymoon di Medan ada bangunan kecil yang > > mencingkupi 'meriam tomong' yang selalu mengeluarkan air (mata), dan > > dikeramatkan juga oleh masyarakat Deli. Di Banda Aceh ada makam Syiah > > Kuala, yang tidak terganggu sewaktu tsunami kemarin. Di Kedukan Bukit > > Palembang juga terdapat petilasan Sriwijaya dan termasuk keramat juga. > > Di Pariaman ada kuburan Syech Burhanuddin Ulakan yang diziarahi ribuan > > orang setiap tahunnya. Namun masyarakat Sumatera pada umumnya kurang > > mempopulerkan tradisi tawassul ini, terkecuali ziarah yang dilakukan > > setiap memasuki bulan Ramadhan. > > > > Kalau di Asmat tempat yang dikeramatkan adalah bangunan Jew, yang sering > > untuk tempat pertemuan. Di Manado saya melihat kuburan Tuanku Imam > > Bonjol di Pineleng sering juga diziarahi, namun yang pasti bukan orang > > Minang. Sepertinya kita perlu informasi dari berbagai daerah mengenai > > tempat-tempat keramat ini. > > > > Apakah kekuatan-kekuatan alam dari tempat-tempat keramat tersebut > > signifikan mempengaruhi peri kehidupan masyarakat setempat? Dan > > bagaimana fenomenologi memanfaatkan kekuatan tersebut, serta untuk > > kebutuhan apa? Apakah gejala nativisme ini dapat dijelaskan secara > > ilmiah, atau hanya sugesti saja? Mohon kesediaan menjelaskan lebih > > lanjut. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koeswadi@ ...> > > wrote: > > > > > > Pro Sahabats ysh > > > > > > Asw. Saya sangat setuju usul mas Ekadj ada bahasan jagad Madura. > > > Tentunya diharapkan ada juga jagad-jagad lainnya, supaya kita lebih > > mengenal > > > alam sekitar. Tinjauan ekonomi, lingkungan hidup, NKRI boleh kiranya > > disertakan ya mas. > > > > > > Kata orang Madura, kota Sumenep ini bagai kuburan.. karena, > > > kuburan ada di mana2..yang agaknya menjadi elemen perkotaan. Kuburan2 > > besar > > > berdampingan dengan kawasan terbangun. Kuburan, di masyarakat ini > > bukan sekedar > > > tempat mengubur mayat..tetapi tempat terhormat yang leluhurnya selalu > > (biasa) > > > dikunjungi, tidak hanya sewaktu mau puasa atau lebaran. Kemudian, yg > > ekonominya > > > mampu, nisannya dibangun pagar berhias ataupun à cungkup, dst. > > Contoh nisan semacam ini banyak > > > dijumpai di wilayah Jordan utara arah menuju obyek wisata Bahr Mayyit > > (Laut > > > Mati). Selain untuk ziarah, juga untuk wisata, misalnya ke makam Zun > > Nun al > > > Misr, Muaz bin Jabbal dll. Juga ada di kota Palestina (makam syech > > perempuan agung > > > Rabiââ¬â¢ah al Addawiyyah), atau di kota Hebron (wilayah Palestina) > > yang makamnya > > > menjadi bagian masjid Hebron. Di beberapa tempat lainnya, saya lihat > > model > > > cungkup di kuburan Jogja (kalau tidak keliru di sekitar Gajahan, dan > > juga di > > > komplek makam ââ¬" lupa namanya - yang di dalamnya ada pangeran > > agung Alap-alap > > > Samber Nyowo). Di luar kota Kandangan ââ¬" Barabai Kalsel jug ada, > > bahkan dihiasi > > > kain seperti di Jordan Utara. > > > > > > > > > Jika orang Madura berziarah kubur relative lebih lama. Banyak > > > peziarah sambil meminta berkah saat punya hajat di kuburan keluarga > > atau > > > kuburan orang-orang tertentuââ¬Â¦(maaf, cara ini sebagian orang > > meyakininya tidak > > > syirik).à Saya tidak hendak membahas > > > perbedaan paham ini di milis ini.à > > > > > > Info di bawah ini lebih bersifat hasil pendataan sesaat saja. > > > Paham mengunjungi tempat keramat (karomah) masih subur di masyarakat > > Madura. Agaknya > > > juga di sebagian masyarakat Jawa Barat. Yang saya maksud keramat > > adalah: > > > kuburan, benda2 alam, benda2 bersejarah/legenda, dan para ulama/ kyai > > yang > > > masih hidup terutama yg punya pondok pesantren. à Secara ringkas, > > à berikut ini: > > > > > > 1.à à à > > > MMakam para raja/keluarga raja di Asta Tenggi kota > > > Sumenep > > > > > > > > > 2.à à à à à à > > > Makam para raja dan para ulama agung di pulau > > > Talango (1.5km dari pelabuhan Kalianget, 17 Km dari kota Sumenep). > > Suasananya > > > seperti di makam Syech Caringin (Syech Asnawi, Syech Abdurahman), > > Caringin > > > Banten, atau seperti di makam Syech Maulana Mansyur, Kadupinang > > Pandegelang. > > > > > > > > > 3.à à à à à à > > > Makam untuk umum, tersebar dikampung2 hingga > > > ujung barat Madura (Kamal Bangkalan), tetapi di antara makam ada yang > > > ditengarai sebagai keramat. Bisa ditanya ke orang2 di sekitar makam. > > (tidak > > > selalu juru kunci). > > > > > > > > > 4.à à à à à à > > > Makam pangeran Joko Tole, dan perangkat kuda terbang > > > yang dipakai perang (legenda) berlokasi di 40 Km luar kota Sumenep. > > > > > > > > > 5.à à à à à à > > > Selain maka, Ulama-ulama keturunan Arab, ataupun > > > bukan keturunan Arab, banyak yg dikunjungi untuk keperluan konsultasi > > dan minta > > > ââ¬Ëdibantu ini ituââ¬â¢ termasuk yang urusan supranatural. > > Salah satunyaà à keturunan alm. Syech Bahaââ¬â¢uddin (di > > Kepanjen > > > Sumenep). Semasa hidupnya beliau juga pernah menulis buku sangat > > popular dan > > > menguasai beberapa bahasa asing. > > > > > > > > > 6.à à à à à à > > > Atau berkunjung ke pesantren2 à a.l . di Lenteng (20Km dari kota > > Sumenep), di > > > Lukguluk (jalan nasional menuju Pamekasan), di Batu Ampar (kab > > Bangkalan) ,di > > > Batu Poteh (kab Sampang). Para ulamanya punya kelebihan masing-masing > > yang > > > pantas disimak. > > > > > > > > > 7.à à à à à à > > > Yang namanya ââ¬Ëjimat = barang siji dirumatââ¬â¢, > > > banyak masyarakat Madura yang menyimpan ââ¬Ëtulisan arabââ¬â¢ > > (wafaq) baik yg disimpan > > > di rumah (dekat pintu) ataupun dibawa. Mereka peroleh dari ulama2 > > tertentu. > > > Termasuk menyimpan senjata keris dan tombak beraneka bentuk lebih > > dihargai. > > > Mereka tidak menyimpan clurit, kecuali para petani ladang. Clurit > > seperti yg > > > ditulis dalam makalah mhs ITS à (ibu Retno > > > H.) kiriman mas Djarot, adalah barang peralatan bertani (sama dg > > sabit/arit). Memang > > > benar, yg ini banyak di pasar2, seperti kita biasa melihat orang jual > > > sabit/bedog/ cangkul di pasar2à p. Jawa. > > > > > > à > > > > > > Ada penelaahan penting, selain aspek tata ruang. Makam para > > > ulama, tokoh2 agama, dan tokoh nasional, memiliki daya tarik bagi > > sesiapa yang > > > mencintainya/ menghormati jasanya. Mas Djarot menyebutnya sebagai > > adanya kesamaan nilai spiritual. Kedatangan peziarah membawa keberkahan > > bagi > > > sang almarhum (atas kiriman doââ¬â¢anya), juga bagi yang berziarah > > (beroleh > > > ketenangan bathiniah), juga bagi masyarakat sekitar (beroleh lapangan > > > usaha/ekonomi oleh sebab bisa menjual hasil bumi dan kerajinannya) , > > juga bagi pemda > > > (disparda dapat retribusi). Kita bisa hitung, berapa penghasilan dan > > kesempatan > > > berusaha tercipta oleh satu makam. Jadi, bagaimana kita mengapresiasi > > dimensi > > > keseluruhan ini? Bisakah kita berbalas budi, seperti beliau2, yang > > beliau2 > > > sudah wafat saja sanggup memberkahi (menghidupi) banyak > > orangââ¬Â¦apalagi semasa > > > hidupnya. Inikah yang disebut karomah?? > > > > > > > > > Memindahkan makam/kuburan adalah sesuatu yang sulit dikerjakan > > > di Madura. Apalagi melindas makam menjadi jalan ekonomià seperti > > kota2 lain. Di Madura hal ini dikategori > > > tabu. Para pemikir tata ruang boleh mencari solusi, atau memahami apa > > adanya. > > > Bukankah demikian adalah salah satu produk budaya local yang perlu > > diapresiasi. > > > Perlu dipahami, sifat orang Madura sangat kuat hubungan /penghormatan > > kepada > > > keluarga termasuk yang sudah meninggal. Menyanjung kepada yang > > dihormati akan > > > dianggap keluarga besarnya. Begitu pula sebaliknya, akan menjadi > > persoalan > > > serius. Kiranya, lokasi kuburan (sebagai fasilitas perkotaan) à di > > masa depan, juga yang dikeramatkan, harus > > > di plan secermat mungkin, bukan sekedar ada di lahan kosong di > > pinggiran. (Kita > > > boleh perhatikan hadits Nabi, yang esensinya agar menyegerakan prosesi > > kubur; > > > tata cara menjumpai mayat di jalan ââ¬" termasuk yg ada dalam > > ambulan kota; tata laku > > > memasuki kuburan, termasuk waktu ikut mengiringi ke liang lahat; dan > > masih > > > banyak lagi..semua berkait site plan, distribusi lokasi, dan RTH). > > Nah, sedikit > > > soal building code nya bangunan rumah tinggal di kota Madura, mungkin > > perlu > > > banyak modifikasi di sini. Misalnya, soal GSB sebagaimana yg kita > > kenal, sulit > > > diterapkan. Wong dinding dapur/kamar tidurnya adalah pagar jalan raya > > (lihat di > > > jl Pendekar kota Sumenep, atau di Kec Labang kab Bangkalan). Salam, > > Koes, JKT. > > > > > > > > > --- On Sat, 25/7/09, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > > > From: Djarot Purbadi dpurbadi@ > > > Subject: Re: [referensi] tempat keramat > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Saturday, 25 July, 2009, 8:03 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > à > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan > > dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada > > kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu. > > Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari > > penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai > > spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya > > menciptakan entitas kehidupan di tempat itu. > > > > > > Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat > > indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik > > penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan > > berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib > > sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara > > kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di > > > batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im. > > Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana > > Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon > > beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga > > menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro > > ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu > > juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari > > Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong > > berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya > > di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal > > sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan > > diayun-ayunkan ombak penuh nikmat. > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Fri, 7/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote: > > > > > > From: ffekadj 4ek...@gmail. com> > > > Subject: [referensi] tempat keramat > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > à > > > > > > > > > Pak Koes dan rekan2 ysh, > > > Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan > > mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di > > bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat > > keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian > > pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan > > praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman. > > Terima kasih sebelumnya. Salam. > > > -ekadj > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi m_koeswadi@ ..> > > wrote: > > > > > > > > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak > > terlihat/supranatur al masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau > > mendalami, menseriusi, bisa ke para informal leaders.. Termasuk > > pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di beberapa tempat, diyakini > > banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren tua' seperti di > > Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan rencana > > expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. Semoga tidak ada > > konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes, > > JKT > > > >

