Pak BSP dan Pak Djarot ysh, sekalian menyalami Pak RZaris. Saya tertarik
dengan 2 hal dari penjelasan bapak di bawah :

--- In [email protected], "bspr...@..." <bspr...@...> wrote:
>
> Pada saat saya di Kanwil PU, saya diminta oleh HB X membangun sebuah
petilasan tempat bertemunya Sunan Kalijaga dengan Brawijaya V sebelum
mukswa di pantai selatan. Tempat petilasan itu kemudian disebut Wono
Kobaran. Letaknya di desa Temu Ireng, Panggang. Semula desa itu sangat
terisolir. Namun apa yang terjadi dengan munculnya petilasan tadi...
pelan tapi pasti muncul pertumbuhan ekonomi akibat banyaknya penziarah
kesitu.
>

Kebetulan saya nemu satu pendapat dikaskus sbb, dan mohon klarifikasi
mengenai masalah lokasi dan korelasi Majapahit-Mataram :

"Hal lain yang menjadi sebab Agama Buddha menurun adalah Raja ke-5 pada
Jaman Majapahit yaitu Raja Brawijaya V mempunyai anak laki-laki hasil
pernikahannya dengan Putri Campa (China), di mana sejak kecil anak
tersebut yang diberi nama Raden Babah Patah dididik oleh Raja Ariyodamar
di Palembang, Sumatera, yang telah beragama lain. Jadi Raden Patah
diajar agama lain bukan Agama Buddha yang telah dianut di negeri itu,
sampai Raden Patah menjadi besar dan kembali ke negeri Tanah Jawa di
Kerajaan Majapahit.

Oleh Brawijaya diterima dan diberikan wilayah kekuasaan untuk dibuka
menjadi kerajaan baru. Tempat tersebut oleh Raden Patah dibangun bersama
dengan guru-guru spiritualnya yakni para wali, jadilah Kerajaan Demak
Bintoro, di Jawa Tengah. Akhirnya demi kepentingan tertentu guru-guru
spiritualnya mendesak Raden Patah sebagai Raja Demak Bintoro, untuk
segera mereformasi Majapahit berganti agama baru. Meskipun berkali-kali
Raden Patah menunda-nunda permintaan gurunya, akan tetapi karena didesak
dan didesak terus, akhirnya Raden Patah menurut juga. Oleh karena
Brawijaya tidak mendidik Raden Patah untuk mempelajari Agama Buddha,
akibatnya Raden Patah tidak menganut Agama Buddha, malah bermaksud
mengganti agama yang dianut Brawijaya, orangtuanya.

Sampai suatu ketika Majapahit didatangi tentara dari Demak, untuk tujuan
mereformasi Majapahit. Prabu Brawijaya sebagai orangtua tentu berpikir
panjang, apakah dia harus berperang berhadapan dengan anak,
sedangkan sebagai orangtua rela kurang makan minum, kurang tidur, asal
anak bahagia orangtua sudah cukup puas. Maka meskipun negeri kerajaan
dalam keadaan didesak bahaya, daripada perang dengan anak, Prabu
Brawijaya memilih pergi meninggalkan kerajaan; lewat pintu belakang
beliau meninggalkan Kerajaan Majapahit menuju Blambangan. Jadi Kerajaan
Majapahit ketika itu bukan diambil alih dengan peperangan atau
perundingan,
tetapi tepatnya ditinggal pergi oleh rajanya. Raja Demak berhasil
mengambil alih istana Kerajaan Majapahit, tetapi misinya dianggap belum
sukses karena Prabu Brawijaya belum pindah agama baru. Akhirnya
diputuskan untuk mengirim Raden Sahid Sunan Kalijaga menyusul Prabu
Brawijaya ke Blambangan, di ujung timur Pulau Jawa. Tujuannya membujuk
dan merayu, serta memohon agar Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit dan
berganti agama. Pembicaraan ini berlangsung berhari-hari sampai akhirnya
Prabu Brawijaya menyanggupi untuk kembali ke Majapahit. Tetapi beliau
mengatakan bahwa: "Saya mau kembali ke Majapahit bukan untuk kekuasaan
sebagai Raja Majapahit, tetapi demi anak." Sudah jelas dikudeta, tetapi
Prabu Brawijaya tetap tidak pupus rasa sayang pada anaknya. Walaupun
demikian misi para wali guru spiritual Raden Patah belum tercapai, maka
berhari-hari terus diadakan dialog. Karena alotnya sampai suatu ketika
dialog diambil alih oleh kedua penasehat spiritual Prabu Brawijaya yaitu
Sabdopalon dan Noyoginggong (nama yang sudah diistilahkan, yang dimaksud
adalah bhikkhu). Akhirnya Sabdopalon, Noyoginggong, dan Sunan Kalijaga
berdebat seru mengadu ilmu dan kesaktian.

Di mana untuk membuktikan misi baru ini hebat, Raden Said mengambil air
untuk mencuci muka, begitu tersentuh tangan, air tersebut berubah
menjadi berbau wangi. Untuk menandai kejadian ajaib ini, maka di tempat
itu diberi nama Banyuwangi. Akhirnya disepakati rombongan meninggalkan
Blambangan menuju Majapahit.
Dalam perjalanan ke Majapahit rombongan berhenti di suatu tempat
peristirahatan (villa). Di tempat itu diteruskan lagi diskusi yang belum
usai. Sabdopalon dan Noyoginggong menerima keajaiban air wangi tidak
tinggal diam, tetapi ingin menguji air wangi tersebut sampai kapan
bertahan. Air wangi yang dibawa dalam bumbung (tabung) dari Blambangan,
oleh Sabdopalon dan Noyoginggong dibuka tutupnya, ternyata air yang
semula
berbau wangi itu sekarang berubah menjadi berbau basin (busuk) dan
banger. Prabu Brawijaya berkata: "Saya sudah tua, semuanya demi anak.
Permintaan saya, meskipun Majapahit sudah berganti pemerintahan tetapi
jangan sampai dinodai tetesan darah. Saya sanggup berganti agama tetapi
saya mempunyai permintaan, kalau saya meninggal jangan ditulis di sini
makam Brawijaya, cukup diberi tanda 'di sini peristirahatan si putra
bulan [trowulan]." Begitu Prabu Brawijaya memberi disposisi, kedua
penasehat spiritualnya berkata:
"Brawijaya, saya tidak akan mengikuti perjalananmu lagi, saya akan tidur
saja, dan saya tidak akan bangun sebelum Agama Buddha kembali. Dan
ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4
jaman." Usai berkata demikian Sabdopalon dan Noyoginggong "moksa"
(menghilang). "

Pertanyaan kedua, mohon penjelasan menyangkut penokohan SP (~ Sabdo
Palon ~ Satrio Piningit ~ Satrio Pinandhito ~ Semar Punokawan) dalam
budaya Jawa.

Sebelumnya terima kasih. Salam.

-ekadj

Kirim email ke