Uda Eka ysh, Saya belum membaca buku itu dan saya sangat tertarik dengan buku itu. Semoga memperkaya khasanah yang saya tekuni. Namun saya mempunyai dugaan bahwa buku ini tetap dalam pandangan orang barat yang menjauhi atau tidak akrab dengan spiritualisme. Tapi ini apriori saya lho. Padahal, meski hanya sbeuah garis imajiner dari Panggung Krapyak sampai dengan Tugu di Jogja, ternyata bisa meredam sebuah kemarahan yang terjadi sekitar 1997/1998. Waktu solo yang berjarak 60 km terjadi bakar2an ... jogja adem saja .... memang ada yang mencoba menggoyang melalui pola2 perusakan fasilitas umum di jalan. Tapi ternyata di Malioboro bahkan 1 kacapun tidak ada yang pecah.
Bagi orang yang tahu (ini para spritualis lho bukan saya) ... bahwa pada waktu itu memang terjadi sebuah gelombang yang mampu menekan kemarahan tersebut ... bahkan demo sejuta umat yang terjadi di alun2 utara bisa berakhir selamat. Apa itu sebenarnya yang terjadi.... itu menurut saya adalah sebuah pemahaman tentang keruangan tapi dari dimensi yang lain. Maaf kepada rekans yang merasa bahwa ini sebuah ke-ngoyoworo-an. Saya hanya menawarkan sebuah pandangan dlm keruangan. Salam bambang sp

