Pak Onnos, terima kasih atas pertanyaannya. Saya kira disitu masalahnya, bahwa pendekatan yang generalisasi atau universalisasi mesti dipertimbangkan, khususnya ketika situasi lapangan sangat plural dan berskala-skala. Saya juga tidak terlalu yakin bahwa pendekatan supra natural (jika dikatakan sebagai paradigma) dapat menyelesaikan banyak masalah, untuk tidak terlalu utopis dibandingkan "menyelesaikan semua masalah". Tentu kita bisa ingat, bahwa setiap alat (fisik ataupun gagasan) memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing dan tepat dimana dalam situasi apa digunakan. Tarikan ke arah dimensi gaib itu tidak bertendensi menjadi arus utama pemikiran planning melainkan mengingatkan bahwa realitas lapangan mesti dikenali adanya salah satu dimensi yang mungkin tidak diperhatikan dalam teori-teori yang selama ini digunakan. Wujud yang nyata sebenarnya bisa ditempuh, yaitu sebelum menghasilkan pola tatanan ruang besar (luas) dicoba berangkat dari fenomena ruang-ruang lokal. Artinya mencoba mencermati unit - unit mosaik-mosaik dan secara induktif menghubung-hubungkannya akhirnya menjadi gambar utuh. Tentu kita harus kritis juga dalam prosesnya, misalnya dengan melihat secara zoom-in dan zoom out berkali-kali. Tetapi mohon maaf, cara ini toh hanya sekedar alternatif yang muncul dari pikiran yang terbatas, .... apalagi dunia saya bukan dunia planning, hanya arsitektur yang paham sampai skala lingkungan perumahan sempit dan telah beberapa tahun belajar dari para planner di milis ini untuk memahami dunia planning itu.....belum berhasil juga.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Monday, August 3, 2009, 9:36 PM Pak BSP dan rekan2 ysh, Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: bspr...@indosat. net.id Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh, Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik. Contoh permasalahan yang akan muncul : a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau terpisah .... b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya; d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja mati) e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu. Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu. Salam bambang sp Share your memories online with anyone you want anyone you want.

