Pak BSP, matur nuwun atas tanggapannya. Tentang "aliran-aliran" di UGM sejauh saya tahu masih eksis dan terjadi regenerasi yang relatif mapan. Pendekatan perilaku yang dikenalkan Amos Rapoport dan Pak Haryadi (muridnya) masih kuat dan sekarang diteruskan oleh yang muda-muda karena Pak Haryadi sudah kurang sehat. Pak Ikaputra juga masih kuat di posisinya, demikian juga Pak Bondan meskipun intensitasnya agak menurun. "Aliran" yang naik daun memang fenomenologi yang dikembangkan oleh Pak Sudaryono, padahal disertasi beliau kelihatannya cenderung rasionalistik. Ini mengagumkan karena beliau sungguh keluar dari rasionalisme dan menjelajahi dunia fenomenologi sebagai sebuah padang perjuangan yang baru. Jika Pak Sudaryono terlanjur dikenal sebagai ahli perumahan berbasis pemikiran rasionalistik karena sejarahnya begitu, dan perkembangan selanjutnya ke arah lain (fenomenologi) yang ditemukan sebagai sebuah jawaban atas kerinduan lama, semacam jawaban dari ketidakpuasan mengkaji keruangan dengan paradigma rasionalistik. Di kalangan mahasiswa S3 Arsitektur UGM beliau sangat dikenal sebagai ahlinya fenomenologi, meskipun paradigma rasionalistik nggak ditinggalkan. Minimal kalau diajak berdebat atau membimbing yang rasionalistik masih canggih.
Dalam suatu seminar nasional di Undip beberapa waktu yang lalu, Pak Iwan Sudrajat juga heran dan berkomentar di depan forum diskusi. Katanya, fenomenologi ini sudah mati, bahkan ditinggalkan di kalangan filsafat, dan hari itu beliau merasa melihat fenomena baru yaitu fenomenologi menjadi sangat kaya ketika diterapkan di arsitektur. Katanya lagi, bagaimana tuh kok bisa begitu, bagaimana caranya Pak Sudaryono "menjualnya". Kita yang di lapangan diam saja sambil mbatin, ya biasa-biasa aja dan alamiah, kan semuanya mengalir begitu saja. Pak Sudaryono memang guru kami dalam Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian ! Pak Iwan bahkan mengomentari, bagaimana fenomenologi ini apakah akan menjadi mashab ataukah sekedar mode ? Kami para mahasiswa jelas menjawab, mau jadi mashab Pak (kata dalam hati nih). Sekarang aliran fenomenologi ini sedang menajam dan melakukan pembenahan diri secara alamiah juga. Beberapa teman terkutub ke Husserl, ada yang memulai ke Heidegger, dan mungkin kita akan mulai diskusi ke fenomenologi yang lain, misalnya Merleau Ponti, Sartre atau yang lain, termasuk Habermas dll. Teman-teman S3 mendapat dukungan dari Prof Achmad Djunaedi untuk menyelenggarakan seminar nasional satu semester sekali yang dikelola oleh forum diskusi mahasiswa S3. Kami ada rencana akan menyelenggarakan seminar nasional tentang Riset Arsitektur dan Perencanaan sekitar bulan Januari 2009 dan kemungkinan launchingnya Oktober 2009 ini. Saya melihat apa yang dipirsani Pak BSP sebagai sebuah upaya menggali dan menjaga sumber-sumber jatidiri bangsa yang referensinya dari masa lalu. Upaya ini sangat stratejik, sebab jika para ilmuwan semata-mata percaya bahwa kebenaran hanya bersumber dari fenomena visual, maka fenomena tan-kasat mata yang tersembunyi dan melekat pada obyek-obyek tangible bersejarah akan terancam. Artinya, para ilmuwan yang semata-mata mengandalkan mata atau hanya akal simpel sudah menghapus pusaka budaya itu sejak dalam pikiran mereka. Tentunya ini akan fatal di kemudian hari, dan fenomena Malaysia jilid kedua yang berteriak eeeee saya sungguh Malaisia mungkin akan terjadi bagi Indonesia. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 8/3/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: [email protected] Date: Monday, August 3, 2009, 9:57 AM Mas Djarot ysh, Sekedar bertanya apakah aliran2 yang ada di Fak Arsitek UGM itu masih tetap sama seperti yang dipegang oleh para beliau seperti pak Hariyadi, pak Bondan ataupun mas Ika. Saya sangat memahami mengapa aliran fenomolagi tersebut bisa berkembang di UGM dan tidak misalnya di ITB, karena memang lingkungan budayanya masih sangat kental. Bahkan saya juga menemukan sebuah fenomena yang menarik bahkan dalam cara berpikir tentang agama yang sama antar dua wilayah tersebut, termasuk yang ditempat lain seperti yang di Semarang, Surabaya, Malang, Medan, dan Jakarta. Tetapi justru dalam milist spt inilah para pemegang madhab tersebut bisa saling bertukar pandangan. Dan saya yakin bahwa diskusi ini akan sangat positip karena kekayaan khasanah itu. Yang perlu sangat diperhatikan adalah diskusi yang sangat sehat ini perlu dijaga ..... mutual respect karena perbedaan perlu lebih dikembangkan. Kalau itu terjadi saya yakin akan menjadikan media ini suatu yang akan sangat berguna bagi kita. Beberapa aliran yang kelihatannya sangat menarik untuk bisa dibaca dan bisa menjadi sebuah tambahan khasanah bagi penelusuran kita adalah : a. Sejarah Tuhan buku Karen Amstrong yang dibaca dengan kacamata keruangan ... itu akan sangat menarik. b. Suluk Malang Sungsang/Syech Abdul Jalil dari Agus Sunarto (7 buku) yang secara rinci menceritakan tentang aspek keruangan pada masa Dayeuh Pakuan Pajajaran, Caruban Larang sampai dengan pergerakan pengembangan perwilayahan. Demikian rincinya dia menceritakan tentang detail keruangan suatu kota kerajaan yang berada diantara du sungai besar yaitu Cihaliwung (sekarang menjadi Ciliwung), dan Cisadana (sekarang menjadi Cisedane). Beserta sistem kepemerintahannya. Itu adalah sedikit yang bisa dipelajari. Selain itu juga masih banyak-banyak suluk maupun babad yangg bisa kita pelajari. Masalahnya dalam membaca suluk atau babad tersebut kita harus waspada tentang pemaknaan dari sebuah rangkaian kalimat. Karena cenderung ada penghalusan dan pengindahan dari sebuah kejadian. Yang mungkin mendekati kebenaran menurut saya adalah Serat Cabolek (serat jujur/wantah) . Mohon maaf kalau ngelantur .... karena semangatnya melihat teman2 milist mulai membahas keruangan dalam dimensi yang mungkin akan mewarnai pada masa depan. Contoh yang sangat menarik adalah pada saat saya diminta bicara di Sumedang tentang program Sumedang sebagai Puseur Pasundan. Disana ternyata ditemukan beberapa situs yang akan direndam oleh waduk Jati Gedeh. Padahal disanalah kita bisa melihat suatu proses perkembangan perkotaan dan perkembangan peradaban sejak jaman Prabu Tajimalela maupun Prabu Geusan Ulun. Saya mencoba untuk berteriak di milist yang lain... yang dihuni oleh para ahli tukang insinyur ... hasilnya justru banyak yang tidak bersepakat karena mereka mengatakan bahwa Waduk Jati Gede lebih dibutuhkan dibandingkan dengan memelihara situs yang "tidak ada makna" .... Bila ternyata para pemimpin kita para decission maker kita berbuat seperti itu ... saya jamin bahwa tidak terlalu lama.. kita akan menjadi negara tanpa jiwa ... seperti sekarang Malaysia mengatakan "MALAYSIA THE TRULY ASIA" ... sebuah usaha untuk meneriakan .. hay aku bener2 Asia lho. Karena penggalian sejarahnya tidak menemukan kekayaan budaya seperti kita ..... Atau Singapura yang sudah sangat kaya dan mereka bahkan sedang menggarap tentang nilai-nilai bangsa tersebut .... termasuk mereka belajar tentang Pancasila ..... atau Indeks kebahagiaan yang dikenalkan oleh Butan dan berhasil .... Padahal yang terjadi saat ini adalah pergerakan ekonomi pada mendatang akan sangat ditentukan dari nilai2 yang ada pada suatu lokasi maupun produk.... Kesimpulan ini saya ambil dari berbagai buku yang muncul seperti Blue Ocean Strategy (value inovation-dicoba sangat kuat oleh Singapura), The Experience Economy (kegiatan ekonomi sebagai sebuah theater dengan penekanan nilai). Memang yang kita bahas seakan-akan keluar dari kerangka disiplin kita, tapi saya yakin sekali bahwa justru itulah kalau kita ingin bertahan dari keriuhan ini. Mohon lebih maaf lagi karena lebih mengelantur ... Salam bambang sp/nggak tahu apa-apa sekarang

