Pak BSP di sentrum Javanologi ysm, Tentunya saya sangat memperhatikan peringatan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3338> bapak ini. Dua tahun terakhir ini saya menggeluti beberapa 'pemikiran Barat' untuk suatu kasus kebudayaan, dan merasakan perbedaan pandangan karena apresiasi yang berbeda. Namun harus diakui bila sudut pandang mereka yang cukup kritis dan sistematis, mungkin karena telah melalui banyak pengalaman lapangan dan menggunakan pendekatan ilmiah yang berlaku umum. Dalam beberapa hal mereka melakukan eksperimen disiplin yang berbeda, sehingga 'out of the box', dan hal ini membantu pemahaman yang lebih meluas dari suatu persoalan. Sebagai contoh adalah Christine Dobbin, seorang sejarawan Australia yang meneliti sejarah ekonomi pada era Perang Paderi, menggunakan pendekatan geografis dan antropologis untuk menganalisis persoalan pada masa itu. Bagi kalangan sejarawan hal ini tidak lazim, namun sintesisnya telah mampu mengungkapkan beberapa hal. Walau bagi saya masih terasa kejanggalan pada beberapa kesimpulan. Namun keberanian multidisipliner ini patut dihargai. Suatu hal yang sedang kita latih juga di milis ini.
Sebenarnya dua tahun lalu saya menghadap 5 profesor sejarah UI, dan mencoba mengargumentasikan 'garis nusantara' <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/464> kita, dan ditolak secara keras. Ketika mereka menanyakan data/informasi yang digunakan, saya menjawab dengan pendekatan spatial-culture, analisis geometri keruangan, penafsiran terhadap tambo, babad, dll. Metode ini menurut mereka bukan metode sejarah, mungkin lebih tepat masuk ke arkeologi atau filsafat, dan hal ini kurang saya sepakati. Dari sini saya mengetahui bila sejarah bekerja atas naskah, atau penafsiran terhadap naskah secara metodologis. Dan sebenarnya sejak itu saya sedikit frustasi, dan paham kenapa kajian sejarah kita tidak maju-maju. Ajakan Pak Djarot untuk mem-positif-kan pemikiran fenomenologi, mungkin merupakan langkah awal untuk mendapatkan riset-basis dari spatial-culture. Pendalaman dari bapak yang kaya secara empirik mudah-mudahan akan mewarnai. Di milis ini sebenarnya terdapat beberapa pakar fenomenologi, seperti Leonardo Rimba, Vincent Liong, dll yang saat ini sudah saya buka kunci komunikasinya, untuk dapat menyampaikan penjelasan. Tentu juga perlu penjelasan secara reiki. Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], "bspr...@..." <bspr...@...> wrote: > > > Uda Eka ysh, > > Saya belum membaca buku itu dan saya sangat tertarik dengan buku itu. Semoga memperkaya khasanah yang saya tekuni. Namun saya mempunyai dugaan bahwa buku ini tetap dalam pandangan orang barat yang menjauhi atau tidak akrab dengan spiritualisme. Tapi ini apriori saya lho. Padahal, meski hanya sbeuah garis imajiner dari Panggung Krapyak sampai dengan Tugu di Jogja, ternyata bisa meredam sebuah kemarahan yang terjadi sekitar 1997/1998. Waktu solo yang berjarak 60 km terjadi bakar2an ... jogja adem saja .... memang ada yang mencoba menggoyang melalui pola2 perusakan fasilitas umum di jalan. Tapi ternyata di Malioboro bahkan 1 kacapun tidak ada yang pecah. > > Bagi orang yang tahu (ini para spritualis lho bukan saya) ... bahwa pada waktu itu memang terjadi sebuah gelombang yang mampu menekan kemarahan tersebut ... bahkan demo sejuta umat yang terjadi di alun2 utara bisa berakhir selamat. > > Apa itu sebenarnya yang terjadi.... itu menurut saya adalah sebuah pemahaman tentang keruangan tapi dari dimensi yang lain. > > Maaf kepada rekans yang merasa bahwa ini sebuah ke-ngoyoworo-an. Saya hanya menawarkan sebuah pandangan dlm keruangan. > > Salam > > bambang sp >

