asw Rekans


Semakin menyimak wejangan Rekans di wahana keramat dan sebangsanya
(termasuk yang ghoib kali), yang memang jarang dibahas, apalagi menjadi salah
satu rujukan pemikiran mapun terapan tata ruang, ada baiknya kita boleh
menyiapkan semacam ‘PETA keramat nusantara’…. Saya meyakini masih amat banyak
yang belum disisir dari wilayah lain (di luar p. Jawa) dan masih tersimpan baik
dalam perbendaharaan rekans pemerhati milis ini. Sangat2 posistip. Ayo berbagi
terus donk.., masih ada dimensi2 ruang yang lain perlu disentuh. Salam, Koes,
JKT



--- On Sun, 2/8/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Sunday, 2 August, 2009, 11:17 AM






 




    
                  Pak BSP di sentrum Javanologi ysm,
Tentunya saya sangat memperhatikan peringatan bapak ini. Dua tahun terakhir ini 
saya menggeluti beberapa 'pemikiran Barat' untuk suatu kasus kebudayaan, dan 
merasakan perbedaan pandangan karena apresiasi yang berbeda. Namun harus diakui 
bila sudut pandang mereka yang cukup kritis dan sistematis, mungkin karena 
telah melalui banyak pengalaman lapangan dan menggunakan pendekatan ilmiah yang 
berlaku umum. Dalam beberapa hal mereka melakukan eksperimen disiplin yang 
berbeda, sehingga 'out of the box', dan hal ini membantu pemahaman yang lebih 
meluas dari suatu persoalan. Sebagai contoh adalah Christine Dobbin, seorang 
sejarawan Australia yang meneliti sejarah ekonomi pada era Perang Paderi, 
menggunakan pendekatan geografis dan antropologis untuk menganalisis persoalan 
pada masa itu. Bagi kalangan sejarawan hal ini tidak lazim, namun sintesisnya 
telah mampu mengungkapkan beberapa hal. Walau bagi saya masih terasa 
kejanggalan pada beberapa kesimpulan. Namun
 keberanian multidisipliner ini patut dihargai. Suatu hal yang sedang kita 
latih juga di milis ini.
Sebenarnya dua tahun lalu saya menghadap 5 profesor sejarah UI, dan mencoba 
mengargumentasikan 'garis nusantara' kita, dan ditolak secara keras. Ketika 
mereka menanyakan data/informasi yang digunakan, saya menjawab dengan 
pendekatan spatial-culture, analisis geometri keruangan, penafsiran terhadap 
tambo, babad, dll. Metode ini menurut mereka bukan metode sejarah, mungkin 
lebih tepat masuk ke arkeologi atau filsafat, dan hal ini kurang saya sepakati. 
Dari sini saya mengetahui bila sejarah bekerja atas naskah, atau penafsiran 
terhadap naskah secara metodologis. Dan sebenarnya sejak itu saya sedikit 
frustasi, dan paham kenapa kajian sejarah kita tidak maju-maju.
Ajakan Pak Djarot untuk mem-positif- kan pemikiran fenomenologi, mungkin 
merupakan langkah awal untuk mendapatkan riset-basis dari spatial-culture. 
Pendalaman dari bapak yang kaya secara empirik mudah-mudahan akan mewarnai. Di 
milis ini sebenarnya terdapat beberapa pakar fenomenologi, seperti Leonardo 
Rimba, Vincent Liong, dll yang saat ini sudah saya buka kunci komunikasinya, 
untuk dapat menyampaikan penjelasan. Tentu juga perlu penjelasan secara reiki.
Sementara demikian dulu pak. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@...> wrote:
>
> 
> Uda Eka ysh,
> 
> Saya belum membaca buku itu dan saya sangat tertarik dengan buku itu. Semoga 
> memperkaya khasanah yang saya tekuni. Namun saya mempunyai dugaan bahwa buku 
> ini tetap dalam pandangan orang barat yang menjauhi atau tidak akrab dengan 
> spiritualisme. Tapi ini apriori saya lho. Padahal, meski hanya sbeuah garis 
> imajiner dari Panggung Krapyak sampai dengan Tugu di Jogja, ternyata bisa 
> meredam sebuah kemarahan yang terjadi sekitar 1997/1998. Waktu solo yang 
> berjarak 60 km terjadi bakar2an ... jogja adem saja .... memang ada yang 
> mencoba menggoyang melalui pola2 perusakan fasilitas umum di jalan. Tapi 
> ternyata di Malioboro bahkan 1 kacapun tidak ada yang pecah. 
> 
> Bagi orang yang tahu (ini para spritualis lho bukan saya) ... bahwa pada 
> waktu itu memang terjadi sebuah gelombang yang mampu menekan kemarahan 
> tersebut ... bahkan demo sejuta umat yang terjadi di alun2 utara bisa 
> berakhir selamat.
> 
> Apa itu sebenarnya yang terjadi.... itu menurut saya adalah sebuah pemahaman 
> tentang keruangan tapi dari dimensi yang lain.
> 
> Maaf kepada rekans yang merasa bahwa ini sebuah ke-ngoyoworo- an. Saya hanya 
> menawarkan sebuah pandangan dlm keruangan. 
> 
> Salam
> 
> bambang sp
>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke