Pak Ekadj, terima kasih atas penjelasannya. Saya sangat menghargai pandangan 
panjenengan yang menerima keterbukaan dalam cara berpikir ilmu-ilmu menuju 
situasi yang multi-disipliner.  Saya  awalnya belajar dari ilmu sejarah  
khususnya yang didobrak oleh Prof  Sartono Kartodirjo, yang menggunakan 
pendekatan ilmu sosial dalam kajian sejarah.  Beliau adalah seorang  ilmuwan 
yang saya kagumi  "ketidaktaatan" dalam alur kajian sejarah sehingga 
menimbulkan generasi baru ilmu sejarah....meskipun mungkin kajian beliau saat 
ini barangkali dianggap "sudah kuno" juga...karena waktu terus berjalan. 
Sangking kagumnya, pada waktu menjelang studi S2 saya secara khusus menghadap 
beliau di rumahnya pagi-pagi dan memohon saran tentang kecenderungan saya untuk 
memasuki dunia sejarah serius jika saya jadi S2. Itu ceritera masa lalu Pak.

Tentang paradigma fenomenologi ada sedikit penjelasan latar belakang. Jika kita 
mengikuti gagasan August Comte (Bapak Sosiologi) kita menemukan pikirannya 
tentang tiga tahap pemikiran manusia, yaitu tahap teologi, metafisik dan 
positif. Ringkasnya, manusia (individu atau masyarakat) awalnya selalu berpikir 
mengaitkan Tuhan dalam gagasannya, kemudian unsur abstrak (metafisik) dan 
akhirnya tahap positif (yang mempercayai indrawi). Menurut Comte, tahap 
berpikir positif adalah puncaknya. 

Tetapi, menurut beberapa naskah filsafat, tahap positif Comte itu sudah 
dilampaui oleh empirisme dan fenomenologi bahkan eksistensialisme dalam abad ke 
XX. Artinya, cara berpikir manusia sudah semakin maju, tidak hanya percaya 
kepada panca indra, melainkan sudah semakin jauh dalam menggunakan akal bahkan 
dengan hati juga. Dalam eksistensialisme bahkan persoalan keberadaan manusia 
menjadi titik tolak pemikiran yang melahirkan pemahaman fenomena kehidupan 
semakin mendalam. 

Pada sekitar 3 tahun belakangan ini, kajian untuk disertasi arsitektur dan 
perencanaan di UGM sudah "semakin didominasi" oleh paradigma fenomenologi, yang 
semula hanya menggunakan label "naturalistik inquiry" versi Guba itu. Kajian 
yang bersifat positivistik tampaknya semakin tidak populer, meskipun belum 
ditinggalkan sama sekali, hanya sangat jarang yang menggunakannya. Generasi 
angkatan saya bahkan sudah mulai berani menegaskan untuk mengatakan 
fenomenologi mana yang dipilih, Husserl yang cenderung ontologis ataukah 
Heidegger yang lebih eksistensial. Baru-baru ini bahkan ada sahabat dari Univ 
Bung Hatta yang september 2009 ini masuk S3 mengatakan beliau akan menggunakan 
paradigma fenomenologi untuk mengkaji kota Payakumbuh.

Saya kira benar, jika suatu ilmu akan maju ya para pakar di ilmu itu harus 
berani keluar dari batas-batas konvensional untuk mengembangkannya. Jika kita 
hanya di kotak sendiri tampaknya dunia keilmuan hanya akan berhenti di tempat. 
Ilmu toh untuk memajukan kehidupan, bukan untuk ilmu itu sendiri. 

Sekian dulu ya Pak, ntar disambung lagi. Informasi tentang UGM tadi sekedar 
berita, bukan bermaksud iklan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 8/2/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Sunday, August 2, 2009, 11:17 AM






 




    
                  Pak BSP di sentrum Javanologi ysm,
Tentunya saya sangat memperhatikan peringatan bapak ini. Dua tahun terakhir ini 
saya menggeluti beberapa 'pemikiran Barat' untuk suatu kasus kebudayaan, dan 
merasakan perbedaan pandangan karena apresiasi yang berbeda. Namun harus diakui 
bila sudut pandang mereka yang cukup kritis dan sistematis, mungkin karena 
telah melalui banyak pengalaman lapangan dan menggunakan pendekatan ilmiah yang 
berlaku umum. Dalam beberapa hal mereka melakukan eksperimen disiplin yang 
berbeda, sehingga 'out of the box', dan hal ini membantu pemahaman yang lebih 
meluas dari suatu persoalan. Sebagai contoh adalah Christine Dobbin, seorang 
sejarawan Australia yang meneliti sejarah ekonomi pada era Perang Paderi, 
menggunakan pendekatan geografis dan antropologis untuk menganalisis persoalan 
pada masa itu. Bagi kalangan sejarawan hal ini tidak lazim, namun sintesisnya 
telah mampu mengungkapkan beberapa hal. Walau bagi saya masih terasa 
kejanggalan pada beberapa kesimpulan. Namun
 keberanian multidisipliner ini patut dihargai. Suatu hal yang sedang kita 
latih juga di milis ini.
Sebenarnya dua tahun lalu saya menghadap 5 profesor sejarah UI, dan mencoba 
mengargumentasikan 'garis nusantara' kita, dan ditolak secara keras. Ketika 
mereka menanyakan data/informasi yang digunakan, saya menjawab dengan 
pendekatan spatial-culture, analisis geometri keruangan, penafsiran terhadap 
tambo, babad, dll. Metode ini menurut mereka bukan metode sejarah, mungkin 
lebih tepat masuk ke arkeologi atau filsafat, dan hal ini kurang saya sepakati. 
Dari sini saya mengetahui bila sejarah bekerja atas naskah, atau penafsiran 
terhadap naskah secara metodologis. Dan sebenarnya sejak itu saya sedikit 
frustasi, dan paham kenapa kajian sejarah kita tidak maju-maju.
Ajakan Pak Djarot untuk mem-positif- kan pemikiran fenomenologi, mungkin 
merupakan langkah awal untuk mendapatkan riset-basis dari spatial-culture. 
Pendalaman dari bapak yang kaya secara empirik mudah-mudahan akan mewarnai. Di 
milis ini sebenarnya terdapat beberapa pakar fenomenologi, seperti Leonardo 
Rimba, Vincent Liong, dll yang saat ini sudah saya buka kunci komunikasinya, 
untuk dapat menyampaikan penjelasan. Tentu juga perlu penjelasan secara reiki.
Sementara demikian dulu pak. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@...> wrote:
>
> 
> Uda Eka ysh,
> 
> Saya belum membaca buku itu dan saya sangat tertarik dengan buku itu. Semoga 
> memperkaya khasanah yang saya tekuni. Namun saya mempunyai dugaan bahwa buku 
> ini tetap dalam pandangan orang barat yang menjauhi atau tidak akrab dengan 
> spiritualisme. Tapi ini apriori saya lho. Padahal, meski hanya sbeuah garis 
> imajiner dari Panggung Krapyak sampai dengan Tugu di Jogja, ternyata bisa 
> meredam sebuah kemarahan yang terjadi sekitar 1997/1998. Waktu solo yang 
> berjarak 60 km terjadi bakar2an ... jogja adem saja .... memang ada yang 
> mencoba menggoyang melalui pola2 perusakan fasilitas umum di jalan. Tapi 
> ternyata di Malioboro bahkan 1 kacapun tidak ada yang pecah. 
> 
> Bagi orang yang tahu (ini para spritualis lho bukan saya) ... bahwa pada 
> waktu itu memang terjadi sebuah gelombang yang mampu menekan kemarahan 
> tersebut ... bahkan demo sejuta umat yang terjadi di alun2 utara bisa 
> berakhir selamat.
> 
> Apa itu sebenarnya yang terjadi.... itu menurut saya adalah sebuah pemahaman 
> tentang keruangan tapi dari dimensi yang lain.
> 
> Maaf kepada rekans yang merasa bahwa ini sebuah ke-ngoyoworo- an. Saya hanya 
> menawarkan sebuah pandangan dlm keruangan. 
> 
> Salam
> 
> bambang sp
>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke