Pak Onnos, mohon maaf ada tambahan dari saya sebagai berikut:


1. Jika tidak salah,
sejak awal diskusi saya memahami supranatural bukan sebagai sebentuk pendekatan
melainkan sebuah kumpulan dimensi. Dalam pandangan saya, supranatural merupakan
salah satu unsur yang ada dan perlu mendapat perhatian dan dilibatkan dalam
pemikiran tatanan keruangan. Saya juga sependapat bahwa jika supranatural
dimaknai sebagai pendekatan dalam kegiatan penataan ruang, apalagi skala luas,
pastilah akan berbenturan dengan arus demokrasi seperti paparan Pak Onnos.
Dalam paparan saya beberapa kali saya selalu berusaha menjelaskan bahwa
fenomena yang ditangani pemikiran planning bersifat multi-dimensi, termasuk
adanya dimensi supranatural itu, maka mesti dicari cara berpikir yang memadai. 

 

2. Tentang logika
yang jelas dalam planning dan (mungkin) "tidak jelas" dalam meditasi.
Saya menduga bahwa pemikiran semacam ini perlu diperjelas, apakah benar dalam
dunia meditasi (supranatural) tidak ada logika atau logikanya nggak jelas ?
Saya sebenarnya lebih senang menyebut bahwa ada banyak logika unik di dunia
ini, logika ilmiah bukan satu-satunya yang ada, maka termasuk di dalam dunia
supranatural atau meditasi ada logikanya, hanya karakternya berbeda dari logika
keilmuan "ala barat" yang banyak digunakan dalam banyak kegiatan
ilmiah. Belajar dari Comte, kita menduga bahwa orang-orang yang masih dalam
tahap teologis tentu punya logika unik bagaimana mengaitkan Tuhan dengan
pikiran-pikirannya, demikian juga pada masyarakat metafisis, maupun masyarakat
yang cenderung positivistis. 

 

3. Apalagi dari
perkembangan pemikiran dalam filsafat terbukti bahwa kebenaran empiris baru
sebagian saja dari kebenaran yang utuh, demikian juga kebenaran akali juga
sebagian saja dari seluruh kebenaran yang lengkap. Artinya planning yang sangat
rasional maupun sangat empiris sama-sama baru mencapai setengahnya, dan barulah
utuh jika keduanya dipertemukan. Situasi ini semacam putar ulang perseteruan
lama (rasionalisme vs empirisme) yang kemudian didamaikan oleh Immanuel Kant,
bahwa kebenaran yang utuh adalah dari dua sisi: rasional dan empiris.

 

4. Sejarah mencatat
ternyata empirisme maupun rasionalisme mengandung kelemahan. Orang yang
rasionalistik cenderung menggunakan deposit pengetahuannya dalam memandang
fenomena yang ada di depan matanya, artinya pikirannya "tidak murni"
ketika berhadapan dengan fenomena. Demikian juga empirisme, atribut-atribut
yang diperhatikan atas fenomena yang dilihat bisa mengaburkan hakekat yang
dilihat. Dalam situasi pengamat terperangkap jaring-jaring pikirannya dan
kekayaan pengalaman empiris menjadi bahaya yang mengaburkan hakekat fenomena
ini datanglah Husserl dengan gagasannya fenomenologi yang intinya: dalam proses
pengamatan (mencapai pengetahuan / kebenaran) haruslah pengamat dan fenomena
dimurnikan supaya "aku murni" berjumpa dengan "obyek murni".
Pada titik ini Husserl meninggalkan rasionalisme dan empirisme dan membangun
cara baru yaitu fenomenologi.

 

5. Logika
fenomenologi barangkali mirip meditasi (ada pengarang yang menggunakan kata
meditasi) atau refleksi (menurut penulis lain), khususnya dalam memahami obyek,
Husserl menggunakan konsep konstitusi. Maksudnya, jika kita melihat sebuah
bangunan istana, maka bangunan itu dilihat dari segala sisinya, sehingga
profil-profil yang ditangkap dari berbagai sisi kemudian dianyam dalam pikiran
melalui proses merenungkan mendalam (meditasi atau refleksi). Ini proses
konstitusi, artinya obyek dirakit di dalam pikiran menjadi obyek yang utuh
sejauh profilnya tersedia. Ketika saya mengamati desa Kaenbaun, ada ribuan
frame foto digital yang saya miliki, berkali-kali saya amati berulang kali
juga, akhirnya proses refleksi tersebut menghasilkan desa Kaenbaun yang unik.
Foto-foto fenomena visual tersebut memungkinkan terbangunnya desa Kaenbaun yang
utuh di kepala saya. Husserl tidak mengatakan obyek yang diamati menjadi eksis
di dalam kesadaran pengamat, bukan sekedar berada di dalam otaknya; ada di
memori kesadaran.

 

6. Pesan paparan ini
ingin menunjukkan bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit pengetahuan)
dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu dilengkapi dengan
peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga fenomena yang
ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Artinya, rasional dan empiris
saja tidak cukup, maka perlu dilengkapi dengan lebih kritis terhadap proses
pengamatannya yang seringkali dikecoh oleh memori maupun kekayaan fenomena itu
sendiri. Tentu cara seperti ini barangkali hanya bisa efektif pada skala ruang
lokal (misalnya Parangtritis, kawasan Taman Wisata Borobudur, kawasan-kawasan
unik, dsb). Jadi untuk skala megalopolitan pastilah tidak efektif lagi, malahan
menimbulkan kontra-produksi atau kontra-demokrasi.

 

7. Apakah begitu ya
Pak Onnos ? Mohon pencerahan Pak.

 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Monday, August 3, 2009, 9:36 PM






 




    
                  


Pak BSP dan rekan2 ysh,

Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak 
BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 

Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau 
menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada 
di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin 
terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama 
kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 
'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 
'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam 
proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh 
masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar 
teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, 
tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi 
katakan 'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga 
tercipta ruang yang dapat memberi kesejahteraan
 buat rakyat di negeri tercinta ini.

Wassalam,

Onnos  
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. net.id
Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  



Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. 
Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. 
Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada 
pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.

Contoh permasalahan yang akan muncul :

a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam 
beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... 
namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi 
tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang 
disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan 
sebagai sebuah kesatuan atau terpisah ....

b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita 
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan 
antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 

c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana 
Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya;

d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di 
Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja 
mati) 

e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung 
Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya

Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba 
dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita 
perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.

Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis 
pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang 
ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

Salam

bambang sp







Share your memories online with anyone you want anyone you want.

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke