Setuju mas Djarot ysh,

Saya juga berpikir bahwa janganlah kita mengarus utamakan supranatural atau 
apapun itu .... tetapi bahwa konsideran itu menjadi mutlak harus diperhatikan 
seperti juga aspek geomanchy yang sering tidak diperhatikan oleh para perencana 
jalan. Yang akibatnya adalah kecelakaan.

Salam

bambang sp

 

Pak Onnos, terima kasih atas pertanyaannya. Saya kira disitu masalahnya, bahwa 
pendekatan yang generalisasi atau universalisasi mesti dipertimbangkan, 
khususnya ketika situasi lapangan sangat plural dan berskala-skala. Saya juga 
tidak terlalu yakin bahwa pendekatan supra natural (jika dikatakan sebagai 
paradigma) dapat menyelesaikan banyak masalah, untuk tidak terlalu utopis 
dibandingkan "menyelesaikan semua masalah". Tentu kita bisa ingat, bahwa setiap 
alat (fisik ataupun gagasan) memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing 
dan tepat dimana dalam situasi apa digunakan. Tarikan ke arah dimensi gaib itu 
tidak bertendensi menjadi arus utama pemikiran planning melainkan mengingatkan 
bahwa realitas lapangan mesti dikenali adanya salah satu dimensi yang mungkin 
tidak diperhatikan dalam teori-teori yang selama ini digunakan. Wujud yang 
nyata sebenarnya bisa ditempuh, yaitu sebelum menghasilkan pola tatanan ruang 
besar (luas) dicoba berangkat dari fenomena ruang-ruang lokal. Artinya mencoba 
mencermati unit - unit mosaik-mosaik dan secara induktif 
menghubung-hubungkannya akhirnya menjadi gambar utuh. Tentu kita harus kritis 
juga dalam prosesnya, misalnya dengan melihat secara zoom-in dan zoom out 
berkali-kali. Tetapi mohon maaf, cara ini toh hanya sekedar alternatif yang 
muncul dari pikiran yang terbatas, .... apalagi dunia saya bukan dunia 
planning, hanya arsitektur yang paham sampai skala lingkungan perumahan sempit 
dan telah beberapa tahun belajar dari para planner di milis ini untuk memahami 
dunia planning itu.....belum berhasil juga.

Salam,

Djarot Purbadi

Kirim email ke