Mas Djarot, ...mungkin anda perlu melanjutkan penuturan konsep anda baik secara emik (yang sedang digandrungi oleh Pak Gun, begawannya obrolan tentang arsitektur di ui) agar jelas apa fenomenologi yang versi anda atau versi asalnya (husserl, heidegger) atau yang campur sari dengan pendekatan hermeneutik (foucoult) dan eksistensialisme sekalian dibandingkan dengan kalau secara epik ... agar jelas mana yang di destruksi, di re-konstruiksi, hingga lengkap dekonstruksinya....
...walau mungkin itu semua tidak ces pleng cocok untuk mengungkap kearifan lokal suatu komunitas tertentu dalam wakturuang tertentu di kepulauan tropis ini.... ...misalnya menyiapkan masyarakat pesisir di salah satu kawasan di Indonesia untuk menghadapau perubahan lingkungan akibat pemanasan global tidak cukup hanya memahai kearifan lokal masyarakat asal yang berbasis pulau yang tinggal diwakturuang yang sama bersama komunitas bajo atau bugis yang masing-masing punya kearifan lokal yang berbeda. Kesatuan kesepahaman antar kearifan lokal kultur mereka masing-masing untuk menjaga habitat mereka bersama dapat terekonstruksi menjadi kearifan lingkungan masyarakat pesisir setempat, yang merupakan hasil interaksi hingga transformasi bersama dari kearifan lokal yang kultur mereka miliki masing-masing. Penelusuran bekas-bekas kehidupan maupun pemahaman mengapa mereka masing-masing menemukan acuan-acuan yang mampu mempertahankan keberlanjutan kehidupan mereka masing-masing atau bersama dapat saja ditelusuri oleh berbagai konsep pemahaman, termasuk fenomenologi tersebut atau yang lebih membumi tentunya...(nah disini lahirlah ...versi Mas Djarot)... Selamat merekonstruksi hasil destruksi (pendekatan kritis) pemikiran orang lain... Salam, ATA 2009/8/12 [email protected] <[email protected]> > > > Mas Djarot, > > panjenengan mengatakan : > > Berfenomenologi adalah bersatu dengan fenomena dalam sikap murni dan > terbuka, tekun dan cermat menelusuri profil-profil fenomena dan > relasi-relasinya yang amat kaya, lapis demi lapis, bagian demi bagian, > menghubung-hubungkan dan mendialogkan, kemudian berusaha menembus kabut > setahap demi setahap untuk berjumpa dengan realitas hakiki yang tersembunyi > di baliknya…. > > Pendapat saya > > Saya lebih setuju pendapat panjenengan dari pada Van Puersen. Sedikit ingin > memberikan warna boleh tidak mas. Saya mencoba masuk pada 2 unsur kekuatan > penelusuran yaitu rahsa dan pikiran. Mungkin disini perlu lebih dimunculkan > sehingga kita tidak terlalu terjebak dalam ruang analitis semata. > > Nyuwun pangapunten kalau kurang berkenan. > > Salam > > bsp > >

