Pak Risfan Pak Djarot dan rekans ysh,

Kalau mau menelusuri keluar pagar atau tidak, dapat saja kita merunut asal
muasal disiplin ilmu kita. Ini juga tergantung sampai sejauh apa kita
meninjau masa lalu, dan berdasarkan cara pandang mana. Apakah cara pandang
Barat yang menganggap semua penemuan sah apabila telah resmi masuk catatan
mereka ? Atau cara pandang Cina yang menganggap bahwa sejarah pengetahuan
mereka lebih tua daripada temuan Barat ? Atau dari masa lalu kita sendiri,
jauh sebelum ada pendatang dari maca negara atau bahkan sebelum migrasi dari
Asia Timur dan Asia Tenggara? Yang perlu dicermati adalah bahwa dalam ilmu
sejarah, tidak semua peristiwa dapat dikaitkan satu sama lain sebagai satu
jalur saling pengaruh...banyak kemungkinan bahwa kondisi atau temuan yang
serupa sesungguhnya bukan karena keterkaitan antar manusianya (antropos)
namun karena kesamaan keterbatasan ipteks manusia masa itu mengenal dan
mampu memanfaatkan alam sekitarnya (yang kebetulan memiliki ekos yang
serupa).

Kemudian kalau masuk ke dunia nyata, tergantung profesi apa yang kemudian
menjadi bagian dari tanggung jawab kita, dst. Dari sini kita dapat memahami
bahwa ada yang dipercayakan ke "kelompok" kita dan ada yang ke pihak lain
yang dianggap "lebih mumpuni" (membidanginya). Tentu saja dapat terjadi
bahwa kita semasa nyantrik atau semasa melanglang buana setelahnya
memperoleh masukan baru yang menyebabkan kita lagi-lagi keluar pagar yang
semula dipercaya sebagai bagiannya. Semua itu sah-sah saja.

Saya juga pernah diajari jadi arsitek yang "murni" (masa itu). Kemudian
belajar PM BOK, VE dan ekonomi mikro sehingga merasa arsitek yang hidup
dalam kotak kadang membaut proyek tidak efisien atau efektif. Kemudian
belajar development planning (termasuk social-politik, policy &
environmental planning) hingga menganggap bahwa arsitek dan insinyur adalah
perusak lingkungan nomor satu. Kemudian mencoba lagi untuk mengerti
bagaimana ekonomi makro mempengaruhi perkembangan perkotaan, perdesaan
hingga kewilayah luar kota, yang justru menemukan bahwa perencana fisik &
pembangunan kita cenderung berkaca mata ekonomi makro (walau juga sadar atas
kegagalan pasarnya) sehingga melihat bahwa semua diterjemahkan ke dalam
angka dan menghapuskan eksistensi komunitas dan alam habitat lokalnya.
Begitu juga setelah mendalami aspek lingkungan malah menemukan bahwa
orientasi para environmentalis dan ekologis (termasuk yang deep) cenderung
"one sided", dan terrestrial based. Mngkin saya lahir dan berkembang dari
berbagai (inter, multi) bidang ilmu atau "pagar" yang berbeda. Atau telah
terjadi "transformasi" pemahaman yang menggumpal menjadi suatu (meta?)
identitas yang berbeda, atau sekadar kumpulan (gado-gado) pemahaman yang
masih bergerak terus secara dinamis atau dialektis?.

Akibat apa yang pernah dipelajari tersebut, keterlibatan di lapang(an)pun
memiliki multi status. Rekans yang ditemui dan mengajak berkiprah di dunia
kangouw juga cenderung melibatkan saya sesuai identitas saat mereka mengenal
saya di masa lalu. Nah, pada saat berkiprah tersebut saya juga harus sadar
bahwa peran saya adalah sesuai batas pagar atau jenis baju yang dikenakan
mereka kepada saya, tidak boleh campur aduk seperti kalau sedang "bermain
otak dan hati" di kancah diskusi referensi. Yang berbeda adalah kita dapat
lebih memahami bagaimana memperlakukan kawasan "interface" antar sektor,
antar ilmu atau antar permasalahan yang bersama dihadapi sesama anggota tim,
atau komunitas yang ditemui, atau pemangku kepentingan lain yang menjadi
"client" kita. Yang penting pula kita perlu sadar bahwa "client utama" kita
adalah masyarakat umum yang akan terlibat dengan hasil intervensi kita
tersebut, walaupun kita tidak jumpa sekalipun dengan mereka, walau kita
tidak sempat menelusuri mereka...

Selain itu kita juga dapat belajar memahami apakah kita waktu belajar
mengikuti mashab tertentu yang kebetulan dianut pengajar-pengajar kita, atau
kita juga loncat pagar mashab yang lain. Mas Yuswadi memang suka kepada
pendekatan yang lebih mendalam, tidak seperti apa yang diperolehnya
diakademis lalu. Walau semula sekolah arsitek (masa itu masih mashab
moderen) tetapi mencoba menghayati kedalaman pemahaman manusia atas
lingkungan semestanya. Kalau dia mengajar di planologi, bukan berarti
planologi awalnya semacam itu, sudah ada bumbu pandangan pribadinya, sudah
ada pengaruh pendekatan antropolog (termasuk fenomenolog) kedalamnya. Jadi
semacam mashab baru bagi yang baru memperolehnya, atau yang mungkin sudah
dianggap kuno oleh yang semula membidanginya. Mashab berganti, bertahan
selama waktu-ruang eksistensinya masih bertahan dan belum banyak anomali
yang menunjukkan ketidak sahihannya.

Jadi ? "loncat pagar" tergantung apa acuan "dalam pagar" sebelumnya yang
digunakan....
Alam dan peradaban manusia selalu berkembang, kemapanan yang terlalu lama
seringkali menghadapai bayak penyimpangan, bukan hanya terhadap pengetahuan
baru mengenai gejala alam namun juga nilai baru yang menjadi acuan manusia
yang hidup di dalamnya, sesuai tingkat perkembangan ilmu-teknologi dan seni
ber"hidup" di dalamnya....

Semoga diskusi berikutnya lebih banyak bunganya, sehingga lingkungan
pulau-laut dan angkasa kita semakin harum semarak....Yang terang saya tidak
bisa menjadi orang lain. Begitu juga rekan-rekan tidak mungkin menjadi saya.
Yang ada cuma "interfacing", penyesuaian ....kalau ada kesamaan, atau
perubahan...kalau terjadi keseimbangan baru...

Salam,
ATA


2009/8/19 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Rekans ysh,
>
> Mengikuti diskusi-diskusi di referensi menuju "critical planning" ini
> membuat saya berpikir-pikir apakah ini namanya "multi/meta disipilin"?
>
> Seingat saya, semasa kuliah dulu harus melalui mata-kuliah: Pengantar
> Ekonomi (pembangunan), Teori Lokasi (pertanian,industri,jasa) ,
> Urban/Regional Economic, Analisis Daerah/Kota (operation research) dll,
> mungkin karena hobi atau kebetulan akhirnya saya keterusan menggunakan sudut
> pandang ekonomi sampai ke kajian Land Economic (real estate) dan Local
> Economic Development/Governance.
>
> Dulu dapat kuliah Administrasi dan Hukum Perencanaan yang tadinya tak tahu
> untuk apa, ternyata di pekerjaan ini yang banyak terpakai untuk proses
> perencanaan, analisis kebijakan publik, sampai advokasi hingga goalnya
> peraturan-perundangan, atau perda dst.
>
> Lalu, dari pancingan diskusi dengan Pak Djarot saya jadi ingat lagi dulu
> pernah dapat anthropologi dari mata kuliah Pengantar Arsitektur dan Ilmu
> Sosial (?) yang diselenggarakan di Jurusan Arsitektur, dosennya selalu dua
> Yuswadi Salya dan dosen anthrop dari UNPAD, kemudian seingat saya untuk mata
> kuliah Urban Planning ada sesi-sesi membahas buku-bukunya Clifford Geertz
> "Princes & Peddler", juga "Mojokuto: Proses Urbanisasi", di Perencanaan
> Pertanian juga dibahas "Agriculture Involution" - jadi kayaknya kalau
> mengikuti Pak Djarot ya masih sejalan dengan Planning yang dimaui oleh
> sekolah dulu lah.
> Selanjutnya di graduate program semua itu di-blend dalam paket-paket mata
> kuliah terapan.
>
> Unsur lain yang jaman dulu kurang dibahas adalah aspek finance, keuangan
> daerah, penganggaran, dst, yang ini di pekerjaan diperlukan. Juga aspek
> manajemen dan bisnis, strategic management, yang masih terkait dengan
> pengembangan kawasan (tourism, sentra produksi pertanian, industri,
> realestate) saya lakukan dengan menggabungkan dengan ilmu Business
> Administration (bisnis & manajemen), pengelolaan prasarana dan sarana
> perkotaan - rasanya juga masih sejalan dengan alur, lingkup dan pola pikir
> (Urban/Regional) Planning.
>
> Kesimpulannya, perjalanan belajar Planning yang dilakukan tiap orang
> mungkin bisa begitu luas, melintas sekat disiplin ilmu, terkadang tampak
> atau dirasakan sudah keluar batas "jurusan"nya. Tapi  kalau dilacak balik
> ternyata bibit-bibitnya memang diintrodusir dalam kuliah S-1 sekalipun, jadi
> tak bisa dianggap 'keluar pagar'. Apakah begitu Pak ATA, Pak Djarot?
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
> --- On *Tue, 8/18/09, Djarot Purbadi <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi <[email protected]>
> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ?
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, August 18, 2009, 8:50 PM
>
>     Pak Risfan, Pak ATA dan Rekans.
>
> Pak Risfan, pendapat panjenengan tentang peran sebagai fasilitator saya
> kira cocok dengan yang ada dalam pikiran saya. Dalam situasi yang kompleks
> dan pada saat peran arsitek atau planner hanya sebagian kecil dari para
> pelaku kegiatan perencanaan maka kedudukan arsitek/planner yang
> berfenomenologi menjadi penting ketika proses perencanaan berlangsung. Ia
> menjadi fasilitator sekaligus "provokator" yang bisa melontarkan ajakan atau
> wacana tertentu yang bermanfaat untuk kepentingan bersama.
>
>
>
> Pak Risfan, agak sulit menjelaskan dengan mantap, tentang perbedaan antara
> fenomenologi dengan antropologi (analisis budaya?) pada kasus misionaris di
> Indonesia. Jika kita menyimak, misalnya kalangan misionaris SVD yang ada di
> Indonesia Timur, jelas mereka menggunakan pendekatan budaya. Bahkan dari
> kalangan SVD yang jaringannya sangat luas, pusatnya di Austria, dikenal ada
> tokoh monumental dalam kajian budaya yaitu Pater Schmidt yang terkenal
> dengan teorinya Kulturkreise atau wilayah kebudayaan. Pertanyaan kuncinya,
> apakah mereka menggunakan pendekatan antropologi atau fenomenologi?
>
>
>
> Dalam pemahaman saya, fenomenologi adalah lebih luas dari antropologi,
> mirip lingkaran besar dan lingkaran kecil dalam diagram Venn. Fenomenologi
> lingkaran besar sedangkan antropologi adalah lingkaran kecil di dalam
> lingkaran besar itu. Hal ini berarti bahwa cara berpikir fenomenologi ada di
> dalam antropologi tetapi cara berpikir antropologi hanya sebagian saja dalam
> fenomenologi. Dengan demikian, fenomenologi sebagai paradigma bisa dilakukan
> dengan metoda antropologi atau etnografi seperti yang dikembangkan oleh
> James Spradley.
>
>
>
> Selain itu, fenomenologi- arsitektur adalah fenomenologi yang diterapkan
> dalam arsitektur, maka hanya merupakan lingkaran kecil di dalam lingkaran
> fenomenologi yang lebih besar. Pertanyaannya, apakah lingkaran fenomenologi-
> arsitektur overlap dengan antropologi, yang sama-sama ada di dalam lingkaran
> fenomebologi yang besar, Saya meyakini, keduanya memiliki interseksi pada
> dua unsur yaitu dunia batin dan perilaku manusia, sementara pada
> fenomenologi- arsitektur unsur ruang mendapat tekanan khusus sedangkan pada
> antropologi barangkali tidak terlalu diperhatikan (bahkan mungkin malahan
> bisa dianggap tidak ada). Gagasan ini saya kira memicu kegelisahan, apakah
> ada fenomenologi dalam planning (fenomenologi yang diterapkan dalam
> planning) ?
>
>
>
> Hedy Ahimsa pernah melakukan penelitian tentang pergeseran paradigma dalam
> ilmu antropologi di Indonesia. Gagasan ini saya temukan ketika kami
> sama-sama sebagai ketua tim peneliti mengikuti kegiatan monitoring program
> penelitian RUKK. Dari paparannya saya tahu bahwa antropologi pernah
> digunakan untuk mendukung kepentingan penjajahan, misalnya pada kasus Snouck
> Hurgronye yang menulis tentang Aceh kemudian hasil penelitiannya digunakan
> untuk upaya menaklukkan Aceh. Dari investigasi yang dilakukannya, ternyata
> antropologi di Indonesia pasca-kolonial mengalami pergeseran, dan
> akhir-akhir ini cenderung dimanfaatkan untuk pembangunan. Program
> pemasyarakatan KB, misalnya, menggunakan cara pandang antropologi.
>
>
>
> Dari kasus masa lalu, kita bisa menarik benang merah bahwa antropolog atau
> fenomenolog itu makhluk yang tahu sampai di dalam dunia batin manusia, maka
> jika dimanfaatkan untuk kepentingan merusak menjadi sangat berbahaya. Dalam
> situasi nyata, tidak semua mahasiswa S3 mau menggunakan fenomenologi, tetapi
> umumnya senang menikmati paparan dari mahasiswa lain yang menggunakannya.
> Kesan umumnya, fenomenologi itu sulit dan rumit, tetapi bagi yang
> menyenanginya karena memandang fenomena fisik memiliki laterbelakang yang
> mendalam, rasanya menyenangkan sebab banyak kejutan yang ditemukan dlam
> proses menjalankannya.
>
>
>
> Soal "curiga", sebenarnya dalam diri saya itu hanya sebuah teknik untuk
> meningkatkan skeptisisme saja kok Pak. Saya tetap netral, tetapi karena arus
> besar di sekitar saya selalu saja silau terhadap hal-hal non-lokal, maka
> saya berlatih menajamkan sikap skeptis dengan cara itu. Jadi sesungguhnya
> dengan cara itu saya juga berlatih menghormati temuan non-lokal, yang
> sementara disimpan dulu supaya nggak mengganggu proses membangun pemahaman.
> Intinya, menurut teori intensional yang melandasi fenomenologi, ada kiri
> tentu ada kanan, maka ada lokal tentu juga ada yang non-lokal. Dalam
> pandangan saya sejak awal, yang lokal dan non-lokal disikapi sama, tidak ada
> yang lebih rendah atau lebih tinggi sampai bisa dibuktikan secara ilmiah.
>
>
>
> Rencana Pak Risfan untuk menerapkan cara pandang fenomenologi pada
> kasus-kasus yang telah disebutkan menurut saya tepat, sebab fenomenolog
> memang bisa dan kompeten memahami ruang-ruang lokal semacam itu. Jika
> pemahaman sampai ke dunia batin para pelaku ruang di dalam ruang lokal itu
> maka biasanya kaitan perilaku dan fenomena visual dapat dipahami dengan
> mendalam. Tujuan penelitian yang disebutkan menuju ke arah yang tepat, yaitu
> pemahaman mendalam dan sangat mendalam. Jika kita menggunakan pertanyaan
> "bagaimana originnya", itu baru sebagian pertanyaan yang perlu dicari
> jawabnya. Lebih baik Bapak menggunakan fokus atau tema penelitian yang jelas
> rumusannya sebab tema/fokus umumnya diturunkan menjadi banyak pertanyaan
> penelitian. Dalam berfenomenologi kita sendiri menjadi instrumen penelitian
> dan biasanya kita tidak memiliki hipotesis, yang umum pada penelitian
> deduktif. Selamat berlatih Pak, kita menunggu berkahnya.
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On *Wed, 8/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. com>* wrote:
>
>
> From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, August 19, 2009, 6:21 AM
>
> Pak Djarot, Pak ATA, rekans ysh,
>
> Sesungguhnya sejarah (modern) town planning justru dari kalangan yang
> peduli kesehatan lingkungan, akibat pertumbuhan industri, mereka
> latar-belakangnya berbagai ilmu. Ini agak beda dengan tradisi urban design
> (arsitektur- kota). Sehingga kembali ke khitahnya memang selayaknya peran
> perencana lebih sebagai 'fasilitator' dari forum ahli dan stakeholders.
> Namun sebagai 'fasilitator' tidak harus cuma moderator bukan. Untuk stimulan
> kan bisa melemparkan ide atau menghidangkan berbagai hasil kajian ke forum.
>
> Tapi kembali kepada pemahaman fenomenologi, saya ingin belajar lebih jauh
> ke pak Djarot dengan bertanya: apakah betul yang digunakan oleh para
> 'pembawa agama' ke Indonesia dalam contoh itu memang teknik 'fenomenologi' ,
> bukan teknik analisis budaya lainnya? Atau fenomenologi itu konsep, metode,
> atau teknik analisis?
>
> Kedua, fenomenologi sebagai metode berfikir atau teknik memahami mestinya
> "netral" kan ya? Baik atau buruk kan 'tujuannya'. Dalam contoh pak Djarot,
> penyebaran agama, tentu tujuannya baik. Tapi jangan lupa, teknik penjajahan
> Belanda seperti 'devide-et-impera' , menekan petani lewat pamong, preman
> lokal,  dst, kan juga menggunakan kajian sosial-budaya yang sama.
>
> Juga fenomena lokal, yang dalam tulisan pak Djarot terkesan yang lokal
> selalu 'arif', yang dari luar mesti 'dicurigai', mungkin dengan fenomenologi
> tidak harus bias begitu. Menurut saya sebagai teknik, sekali lagi, tentunya
> netral. Memotret fenomena apa adanya. Kalau sudah baik mengapa agama, ilmu,
> rancangan baru, dll diintrodusir ke lokal tersebut.
>
> Kalau saya ada kesempatan, ingin menerapkannya untuk memahami fenomena
> terbentuknya "klaster komunitas perajin" seperti kampung batik Laweyan,
> perak Kotagede, tenun Troso, kuningan Juwana, logam Cisaat/Cibadak,
> bagaimana origin nya kok bisa jadi tradisi yang punya 'brand image' begitu
> kuat. Dalam hal ini 'lokal' sebagai creator, bukan konsumen ide dari luar.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> Sent: Tuesday, August 18, 2009 10:48 PM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?
>
>
> Pak ATA terima kasih atas sentilannya yang menarik. Dalam pandangan saya,
> peran perencana (apalagi yang menggunakan fenomenologi) bukan lagi sebagai
> superman seperti jaman dulu era Le Corbusier dll. Peran perencana lebih
> sebagai teman seperjalanan atau teman diskusi untuk mengembangkan wawasan
> siapapun, apalagi era sekarang terjadi pendekatan yang multidisiplin. Itupun
> jika perencana diberi tempat atau dipandang perlu, maka peran pencerahan
> merupakan salah satu medan perjuangannya. Jika dulu arsitek bangunan sangat
> powerful dalam proyeknya, kalau nggak didengarkan dia bisa mutung dan
> menelantarkan proyeknya, dalam kerjasama multi-disiplin hal itu tidak bisa
> dilakukan lagi.
>
> Memang kesulitan perencana dengan fenomenologinya adalah "melawan"
> kecenderungan umum (awam maupun cendekiawan) yang terbiasa menggunakan
> paradigma berbeda. Perjuangan pertamanya adalah memperkenalkan cara
> pandangnya dengan cermat dan sabar tanpa gembar-gembor bahwa dia sedang
> menggunakan fenomenologi, sehingga orang bisa memahami (sokur membedakan)
> cara pandangnya dibandingkan dengan yang lain. Ini kesulitan pertama, yaitu
> melakukan "edukasi" kepada klien atau pemangku kepentingan.
>
> Konon, tugas ilmuwan adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang
> duduk di atas bukit emas. Saya pernah menjelaskan hal semacam ini kepada
> rekan-rekan saya para pustakawan di Baperpusda DIY. Saya contohkan, coba
> kumpulkan peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah terjadi di Malioboro
> menurut berita koran KR sejak terbitan pertama hingga saat ini. Informasi
> itu pasti menjadi tulisan yang menarik jika ditata sambil dianalisis
> sedikit. Mereka sadar bahwa mereka sedang menunggui harta karun ilmu
> pengetahuan yang bisa diproduksi (dan re-produksi, dikreasi) menjadi
> pengetahuan baru. Dari dialog yang saya lakukan (tanpa mengatakan sedang
> berfenomenologi) , muncul kesadaran akan hal itu, tetapi praksisnya
> terbentur TUPOKSI ! Akibatnya, aksi tidak muncul dari kesadaran yang sudah
> muncul itu. Disini ingin saya katakan bahwa "edukasi" sahabat di sekeliling
> kita bisa dilakukan dan merupakan dialog yang menarik.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com <http://realmwk.wordpress.com/> [Blog Resmi
> MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres 
> s.com<http://arsitekturnusantara.wordpress.com/>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. 
> com<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com/>
>
> --- On Tue, 8/18/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, August 18, 2009, 4:30 PM
>
>
> Mas Djarot,
>
> Saya jadi teringat waktu Depok mulai menyusun RTRW setelah diakui berstatus
> kota. Mereka sibuk dengan apa moto pembangunannya dan mengharapkan masukan
>
>
>
>  
>

Kirim email ke