Pak ATA terima kasih atas sentilannya yang menarik. Dalam pandangan saya, peran perencana (apalagi yang menggunakan fenomenologi) bukan lagi sebagai superman seperti jaman dulu era Le Corbusier dll. Peran perencana lebih sebagai teman seperjalanan atau teman diskusi untuk mengembangkan wawasan siapapun, apalagi era sekarang terjadi pendekatan yang multidisiplin. Itupun jika perencana diberi tempat atau dipandang perlu, maka peran pencerahan merupakan salah satu medan perjuangannya. Jika dulu arsitek bangunan sangat powerful dalam proyeknya, kalau nggak didengarkan dia bisa mutung dan menelantarkan proyeknya, dalam kerjasama multi-disiplin hal itu tidak bisa dilakukan lagi.
Memang kesulitan perencana dengan fenomenologinya adalah "melawan" kecenderungan umum (awam maupun cendekiawan) yang terbiasa menggunakan paradigma berbeda. Perjuangan pertamanya adalah memperkenalkan cara pandangnya dengan cermat dan sabar tanpa gembar-gembor bahwa dia sedang menggunakan fenomenologi, sehingga orang bisa memahami (sokur membedakan) cara pandangnya dibandingkan dengan yang lain. Ini kesulitan pertama, yaitu melakukan "edukasi" kepada klien atau pemangku kepentingan. Konon, tugas ilmuwan adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang duduk di atas bukit emas. Saya pernah menjelaskan hal semacam ini kepada rekan-rekan saya para pustakawan di Baperpusda DIY. Saya contohkan, coba kumpulkan peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah terjadi di Malioboro menurut berita koran KR sejak terbitan pertama hingga saat ini. Informasi itu pasti menjadi tulisan yang menarik jika ditata sambil dianalisis sedikit. Mereka sadar bahwa mereka sedang menunggui harta karun ilmu pengetahuan yang bisa diproduksi (dan re-produksi, dikreasi) menjadi pengetahuan baru. Dari dialog yang saya lakukan (tanpa mengatakan sedang berfenomenologi), muncul kesadaran akan hal itu, tetapi praksisnya terbentur TUPOKSI ! Akibatnya, aksi tidak muncul dari kesadaran yang sudah muncul itu. Disini ingin saya katakan bahwa "edukasi" sahabat di sekeliling kita bisa dilakukan dan merupakan dialog yang menarik. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 8/18/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? To: [email protected] Date: Tuesday, August 18, 2009, 4:30 PM Mas Djarot, Saya jadi teringat waktu Depok mulai menyusun RTRW setelah diakui berstatus kota. Mereka sibuk dengan apa moto pembangunannya dan mengharapkan masukan. Saat itu pertanyaan saya: siapa yang berkepentingan dengan moto tersebut? perencana? walikota? pemda? pengusaha? atau pemangku kepentingan lainnya? atau warga kota Depok sendiri? atau warga sekitar juga berkepentingan? Siapa sih yang "mengembangkan" kota Depok? Apa peran "moto" pembangunan tersebut? Waktu itu, saya cuma menyampaikan bahwa: "...Depok sudah ada sejak sebelum berstatus "kota". Walikota dan pejabat lainnya, apalagi perencana RTRW dapat saja berubah, tetapi kota tetap berkembang. Yang paling berkepentingan tentu saja warga kota tersebut. saat itu maupun yang akan datang...." Jadi...apa peran perencana... termasuk kedalaman menerapkan "fenomenologi"-nya dalam "merencana" kota ? apalagi perencanaan kota bukan hasil karya satu orang, satu disiplin ilmu, satu kelompok penentu dalam satu waktu-ruang kultural tersentu.... Seorang manusia "perencana" (seberapa pakar/mumpuni sekalipun) harus menempatkan diri hanya sebagai salah satu "butir", "energi" atau "energi" (yang dapat berpengaruh atau tidak sama sekali) dalam proses perubahan kondisi dan kualitas lingkungan yang terjadi di dalam perkembangan sebagian dari kota yang diintervensinya. .. Semoga cukup memicu diskusi selanjutnya. .. Salam, ATA 2009/8/14 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Risfan dan rekans, Penggunaan metafora bukan hal yang tabu melainkan harus "empan papan" dalam arti, kapan atau dalam tahap apa metafora digunakan, dan untuk tujuan apa. Metafora jika silihat sebagai sebuah penyimbolan awal dalam tahapan memahami fenomena oke saja, tetapi statusnya sebagai sebentuk hipotesis. Jika masih menggunakan fenomenologi, metafora sangat menarik dirumuskan tetapi statusnya sementara atau tentatif, sebab dengan semakin tenggelam di dalam lautan data kita akan melakukan penajaman metafora kita atau justru memilih metafora lain yang lebih sesuai dengan the real things. Metafora juga bagus digunakan pada tahap perencanaan untuk melakukan intervensi, maka konteksnya adalah komunikasi antara planner dengan siapapun pemangku kepentingan. Benar Pak, metafora adalah alat yang bermanfaat untuk peneliti yang "naik gunung" ataupun perencana yang "turun gunung". Persoalannya, metafora pada peneliti adalah hipotesis yang siap divalidasi dengan informasi baru yang lebih dalam dan eksteksif, dan peneliti juga siap membuang metafora sementara yang dimilikinya ketika memang realitas yang dihadapi tidak dapat dikemas dalam metafora miliknya. Nah, metafora yang dimaksudkan Pak ATA yang mana ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Fri, 8/14/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, August 14, 2009, 6:43 AM Pak Djarot dan Rekans ysh, Sangat bisa dimengerti Pak, karena metafora mengandung penyederhanaan dan generalisasi, deduktif. Kebalikan pendekatan kualitatif semacam fenomenologi yang justru menggali yang unik, spesifik fokus-locus nya. Tapi metafora itu kan bahasa saja ya Pak, alat untuk memudahkan penjelasan. Tapi mestinya subyek yang diteliti dengan fenomenologi kan kaya dengan metafora ya. Misalnya masyarakat Jawa/Jogja umumnya kan familier dengan mitologi wayang (Mahabharata) yang penuh metafora. Malin Kundang juga jadi metafora (anak durhaka) kan. Mungkin yang sering pakai metafora dalam metodenya ialah 'scenario planner' Misalnya penggunaan istilah 'take-off, landing' (pesawat terbang), juga 'sink or swimp' (berenang). Atau, menggambarkan organisasi yang besar tapi lamban sebagai 'kapal induk' atau 'gajah'. Salam, Risfan Munir www.ecoplano. blogspot. com -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Thursday, August 13, 2009 10:50 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? Pak Risfan dan Sahabats, Setelah saya terbiasa menggunakan fenomenologi sebagai paradigma, ada kebiasaan baru yaitu menghindari cara berpikir metafora. Umumnya jika menggunakan metafora, saya sangat hati-hati dan metafora tersebut muncul setelah melakukan eksplorasi mendalam terhadap fenomena yang saya perhatikan. Metaforanya mungkin juga unik dan sangat bersifat lokal, bahkan mungkin agak kurang bisa ditransfer ke kasus yang lain. Hal ini karena pengaruh cara pandang yang konon Husserl selalu mengajak kita untuk "kembali ke obyek itu sendiri"....zuruch zu den Sachenselbs. ..kalimat Jerman-nya begitu kalau nggak salah nulis...back to the things itself ! Jika kita menggunakan metafora kadang takut salah karena kurang menunjukkan keunikannya yang amat kaya....meskipun istilah lokal sangat berarti dalam cara pandang fenomenologi! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 8/13/09, risfano <risf...@yahoo. com> wrote: From: risfano <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, August 13, 2009, 7:51 PM Rekan Efha dan temans ysh, Metafora kota bak organism saya kira cukup umum. Soal hubungan antar kota yang "saling menolong" dan menjaga keharmonisan, celakanya dalam kasus negara berkembang secara alamiah kok tidak ya. Justru kota metropolitan dan besar sering digambarkan sebagai "gurita" yang menghisap kota-kota/daerah lainnya.Bak hukum rimba "ikan besar makan ikan lebih kecil." Dengan geografi wilayah dan ekonomi wilayah kita mencoba menjelaskan fenomena itu kan. Masalahnya antar kota itu potensi alamiah dan hinterland nya beda, start nya beda. Apakah begitu? Salam, Risfan Munir --- In refere...@yahoogrou ps.com, <efha_mardiansjah@ ...> wrote: > > Kalau Pak Risfan setuju dengan pendapat Pak ATA yang mengatakan bahwa kota > dan permukiman adalah seperti suatu organisme yang hidup, maka menurut saya > semestinya Pak Risfan dan juga Pak ATA percaya bahwa perencanaan pembangunan > suatu kota (agar cangkangnya selalu keeping up to date dengan besaran > penghuni dan aktivitasnya) , juga tidak cukup hanya dengan memperhatikan > karakteristik dari kota itu sendiri melainka juga harus juga memperhatikan > kota-kota dan wilayah-wilayah lainnya, karena seperti halnya manusia yang > menjadi penghuni dan pembentuk organisme kota tersebut, kota juga merupakan suatu "homo socius" yang tidak bisa hidup sendiri tanpa dukungan dari kota dan/atau wilayah lainnya (konsep ecological footprint). Jadi untuk mampu menolong dirinya untuk mampu mengembangkan cangkangnya supaya tidak sesak, kota juga harus mampu menolong kota/wilayah lainnya untuk dapat menjaga keharmonisan antara dirinya dengan "organisme-organism e" lain sesamanya... > > Mohon pendapat Pak Risfan, Pak ATA dan rekan-rekan lainnya... > Salam > > Fadjar Undip > > > > --- On Thu, 8/13/09, risfano <risf...@... > wrote: > > > From: risfano <risf...@... > > Subject: [referensi] Re: critical planning ? > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Thursday, August 13, 2009, 5:53 AM > > > > > > > Rekans ysh, > > Setuju dengan pak ATA, dalam pandangan planner kota dan permukiman adalah seperti mahluk hidup (organism) yang tumbuh -berkembang dalam waktu. Direncana atau tidak, kalau potensinya ada akan berkembang terus. > > Dilemanya, seperti siput dengan cangkangnya, perencana fisik sering terjebak > merencana cangkang yang statik, padahal tubuh siput kian tambun. > > Ilmu "geografi-ekonomi" (+ sosial, budaya) menyumbang banyak alat analisis > untuk mengantisipasi dinamika pertumbuhan. Termasuk metodenya yang > partisipatif, kualitatif. Persoalannya bagaimana menerjemahkannya kedalam > dimensi fisik yang nature nya terikat pada kondisi alam dan bangunan (yang > statik tak bisa melar). Belum lagi soal kepemilikan. > > Akibat badan membengkak semntara cangkang (baju) tetap ya sesak, sobek, > kancing copot. > > Meramal pertumbuhan tak mudah. Secara gampangan tinggal melihat rate > pertumbuhan, lalu proyeksikan, lalu kalikan standar kebutuhan ruang, lalu > alokasikan dalam land-use. Tapi kalau sudah bicara kegiatan ekonomi, tak semudah itu. Struktur lapangan kerja perkotaan kompleks dan dinamis, tidak bisa dilihat hanya dari struktur ala BPS. Aneka jenis manufaktur, jasa, masing-masing punya karakteristik lokasi dan ukuran. Dan, naik/turunnya dinamis. Lalu fenomena sektor informal, atau wirausahawan baru di garasi, paviliun. Ini jelas dinamika land-use perkotaan yang hidup terus dalam waktu. > > Bagaimana mrencana dan menerapkan rencana dalam sistem yang dinamik itu? > > Sejarah town planning di Inggris justru dipelopori oleh para ahli yerkait > kesehatan lingkungan yang memprihatinkan kondisi lingkungan perkampungan > para buruh industri yang tidak sehat. Ini tentu beda dengan tradisi > arsitektur-kota atau urban-design ala Le Corbusier, Frank L. Wright, atau > Gunadarma. Beda dari segi otoritas designer, dinamika sistem, dan > partisipasi. > > Kalau kita terlampau melihat kota sebagai bangunan, landscape, rancangan land-use kota yang indah, ideal tapi statik, jangan-jangan kita melihat mayoritas warga penghuninya justru sebagai "lumut" yang merusak bangunan. > > Salam, > Risfan Munir > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah <takdir65@ .> > wrote: > > > > Mas Ono ysh, > > > > beda dengan arsitektur yang dapat 'dikuasai' oleh seorang arsitek master > > builder, keberadaan dan keberlanjutan entitas kota (perkotaan atau > > permukiman lainnya) sangat tidak layak bila ditentukan oleh 'seorang > > planer'. biarpun dia sudah semedi, memiliki pemikiran kosmologis, berdialog > > dengan yang mbaurekso, sakti mandraguna, diktator, dll, dst. sekalipun. > > Kota bukan karya produktif atau kreatif seseorang atau sekelompok orang > > dari > > satu wakturuang kultur tertentu saja. Kota merupakan habitat yang erupakan > > hasil berproses seluruh stake-holder yang terkait dengannya, walau sedang > > tidak ada walikota terpilih untuk menjabat saat salah satu bagian dari > > proses perkembangnanya berlangsung. Planer hanya salah satu pemicu > > perubahan > > dalam satuan metabolisme kehidupan dan penghidupan habitat. Perubahan hanya > > bermakna apabila mampu meningkatkan kualitas habitat tersebut, apapun > > kondisi asalnya. > > > > Jadi ...biarkan saja plankun kelaut... > > (Siapa tahu ada habitat kota baru di laut ...he he...) > > > > Salam, > > ATA > > (celoteh kita semakin seru ya Mas Ono, semakin mengundang warna-warni yang > > menghibur, dan sesungguhnya tidak perlu ditanggapi terlalu serius...) > > > > > > 2009/8/9 Sugiono Ronodihardjo <sugiono_r@ ..> > > > > > [Attachment( s) <#122ffa0acdb47db3_ TopText> from Sugiono Ronodihardjo > > > included below] > > > > > > Rekan-2 ysh, > > > Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada > > > aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias > > > 'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat > > > wangsit 'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' > > > alias 'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi' > > > mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias > > > 'planner-dukun' ? he he he... > > > Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman asli > > > orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan > > > 'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat. > > > Wassalam, > > > Onnos > > > > > > ------------ --------- --------- > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > From: 4ekadj@ > > > Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000 > > > Subject: [referensi] Re: critical planning ? > > > > > > > > > > > > Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

