Pak Risfan, Pak ATA dan Rekans.


Pak Risfan, pendapat
panjenengan tentang peran sebagai fasilitator saya kira cocok dengan yang ada
dalam pikiran saya. Dalam situasi yang kompleks dan pada saat peran arsitek
atau planner hanya sebagian kecil dari para pelaku kegiatan perencanaan maka 
kedudukan
arsitek/planner yang berfenomenologi menjadi penting ketika proses perencanaan
berlangsung. Ia menjadi fasilitator sekaligus "provokator" yang bisa melontarkan
ajakan atau wacana tertentu yang bermanfaat untuk kepentingan bersama.

 

Pak Risfan, agak
sulit menjelaskan dengan mantap, tentang perbedaan antara fenomenologi dengan
antropologi (analisis budaya?) pada kasus misionaris di Indonesia. Jika kita 
menyimak,
misalnya kalangan misionaris SVD yang ada di Indonesia Timur, jelas mereka 
menggunakan
pendekatan budaya. Bahkan dari kalangan SVD yang jaringannya sangat luas, 
pusatnya
di Austria, dikenal ada tokoh monumental dalam kajian budaya yaitu Pater Schmidt
yang terkenal dengan teorinya Kulturkreise atau wilayah kebudayaan. Pertanyaan 
kuncinya,
apakah mereka menggunakan pendekatan antropologi atau fenomenologi? 

 

Dalam pemahaman
saya, fenomenologi adalah lebih luas dari antropologi, mirip lingkaran besar
dan lingkaran kecil dalam diagram Venn. Fenomenologi lingkaran besar sedangkan 
antropologi
adalah lingkaran kecil di dalam lingkaran besar itu. Hal ini berarti bahwa cara
berpikir fenomenologi ada di dalam antropologi tetapi cara berpikir antropologi
hanya sebagian saja dalam fenomenologi. Dengan demikian, fenomenologi sebagai
paradigma bisa dilakukan dengan metoda antropologi atau etnografi seperti yang
dikembangkan oleh James Spradley. 

 

Selain itu,
fenomenologi-arsitektur adalah fenomenologi yang diterapkan dalam arsitektur,
maka hanya merupakan lingkaran kecil di dalam lingkaran fenomenologi yang lebih
besar. Pertanyaannya, apakah lingkaran fenomenologi-arsitektur overlap dengan 
antropologi,
yang sama-sama ada di dalam lingkaran fenomebologi yang besar, Saya meyakini,
keduanya memiliki interseksi pada dua unsur yaitu dunia batin dan perilaku 
manusia,
sementara pada fenomenologi-arsitektur unsur ruang mendapat tekanan khusus 
sedangkan
pada antropologi barangkali tidak terlalu diperhatikan (bahkan mungkin malahan
bisa dianggap tidak ada). Gagasan ini saya kira memicu kegelisahan, apakah ada 
fenomenologi
dalam planning (fenomenologi yang diterapkan dalam planning) ?

 

Hedy Ahimsa pernah
melakukan penelitian tentang pergeseran paradigma dalam ilmu antropologi di
Indonesia. Gagasan ini saya temukan ketika kami sama-sama sebagai ketua tim
peneliti mengikuti kegiatan monitoring program penelitian RUKK. Dari paparannya
saya tahu bahwa antropologi pernah digunakan untuk mendukung kepentingan
penjajahan, misalnya pada kasus Snouck Hurgronye yang menulis tentang Aceh
kemudian hasil penelitiannya digunakan untuk upaya menaklukkan Aceh. Dari
investigasi yang dilakukannya, ternyata antropologi di Indonesia pasca-kolonial
mengalami pergeseran, dan akhir-akhir ini cenderung dimanfaatkan untuk
pembangunan. Program pemasyarakatan KB, misalnya, menggunakan cara pandang
antropologi.

 

Dari kasus masa
lalu, kita bisa menarik benang merah bahwa antropolog atau fenomenolog itu
makhluk yang tahu sampai di dalam dunia batin manusia, maka jika dimanfaatkan
untuk kepentingan merusak menjadi sangat berbahaya. Dalam situasi nyata, tidak
semua mahasiswa S3 mau menggunakan fenomenologi, tetapi umumnya senang
menikmati paparan dari mahasiswa lain yang menggunakannya. Kesan umumnya,
fenomenologi itu sulit dan rumit, tetapi bagi yang menyenanginya karena
memandang fenomena fisik memiliki laterbelakang yang mendalam, rasanya 
menyenangkan
sebab banyak kejutan yang ditemukan dlam proses menjalankannya.

 

Soal
"curiga", sebenarnya dalam diri saya itu hanya sebuah teknik untuk
meningkatkan skeptisisme saja kok Pak. Saya tetap netral, tetapi karena arus
besar di sekitar saya selalu saja silau terhadap hal-hal non-lokal, maka saya
berlatih menajamkan sikap skeptis dengan cara itu. Jadi sesungguhnya dengan
cara itu saya juga berlatih menghormati temuan non-lokal, yang sementara
disimpan dulu supaya nggak mengganggu proses membangun pemahaman. Intinya,
menurut teori intensional yang melandasi fenomenologi, ada kiri tentu ada
kanan, maka ada lokal tentu juga ada yang non-lokal. Dalam pandangan saya sejak
awal, yang lokal dan non-lokal disikapi sama, tidak ada yang lebih rendah atau
lebih tinggi sampai bisa dibuktikan secara ilmiah.

 

Rencana Pak Risfan
untuk menerapkan cara pandang fenomenologi pada kasus-kasus yang telah
disebutkan menurut saya tepat, sebab fenomenolog memang bisa dan kompeten 
memahami
ruang-ruang lokal semacam itu. Jika pemahaman sampai ke dunia batin para pelaku
ruang di dalam ruang lokal itu maka biasanya kaitan perilaku dan fenomena
visual dapat dipahami dengan mendalam. Tujuan penelitian yang disebutkan menuju
ke arah yang tepat, yaitu pemahaman mendalam dan sangat mendalam. Jika kita
menggunakan pertanyaan "bagaimana originnya", itu baru sebagian
pertanyaan yang perlu dicari jawabnya. Lebih baik Bapak menggunakan fokus atau
tema penelitian yang jelas rumusannya sebab tema/fokus umumnya diturunkan
menjadi banyak pertanyaan penelitian. Dalam berfenomenologi kita sendiri
menjadi instrumen penelitian dan biasanya kita tidak memiliki hipotesis, yang
umum pada penelitian deduktif. Selamat berlatih Pak, kita menunggu berkahnya.


Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 8/19/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 19, 2009, 6:21 AM

Pak Djarot, Pak ATA, rekans ysh,

Sesungguhnya sejarah (modern) town planning justru dari kalangan yang peduli 
kesehatan lingkungan, akibat pertumbuhan industri, mereka latar-belakangnya 
berbagai ilmu. Ini agak beda dengan tradisi urban design (arsitektur-kota). 
Sehingga kembali ke khitahnya memang selayaknya peran perencana lebih sebagai 
'fasilitator' dari forum ahli dan stakeholders. Namun sebagai 'fasilitator' 
tidak harus cuma moderator bukan. Untuk stimulan kan bisa melemparkan ide atau 
menghidangkan berbagai hasil kajian ke forum.

Tapi kembali kepada pemahaman fenomenologi, saya ingin belajar lebih jauh ke 
pak Djarot dengan bertanya: apakah betul yang digunakan oleh para 'pembawa 
agama' ke Indonesia dalam contoh itu memang teknik 'fenomenologi', bukan teknik 
analisis budaya lainnya? Atau fenomenologi itu konsep, metode, atau teknik 
analisis?

Kedua, fenomenologi sebagai metode berfikir atau teknik memahami mestinya 
"netral" kan ya? Baik atau buruk kan 'tujuannya'. Dalam contoh pak Djarot, 
penyebaran agama, tentu tujuannya baik. Tapi jangan lupa, teknik penjajahan 
Belanda seperti 'devide-et-impera' , menekan petani lewat pamong, preman 
lokal,  dst, kan juga menggunakan kajian sosial-budaya yang sama.

Juga fenomena lokal, yang dalam tulisan pak Djarot terkesan yang lokal selalu 
'arif', yang dari luar mesti 'dicurigai', mungkin dengan fenomenologi tidak 
harus bias begitu. Menurut saya sebagai teknik, sekali lagi, tentunya netral. 
Memotret fenomena apa adanya. Kalau sudah baik mengapa agama, ilmu, rancangan 
baru, dll diintrodusir ke lokal tersebut.

Kalau saya ada kesempatan, ingin menerapkannya untuk memahami fenomena 
terbentuknya "klaster komunitas perajin" seperti kampung batik Laweyan, perak 
Kotagede, tenun Troso, kuningan Juwana, logam Cisaat/Cibadak, bagaimana origin 
nya kok bisa jadi tradisi yang punya 'brand image' begitu kuat. Dalam hal ini 
'lokal' sebagai creator, bukan konsumen ide dari luar.

Salam,
Risfan Munir








-----Original Message-----
From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Sent: Tuesday, August 18, 2009 10:48 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?

 
Pak ATA terima kasih atas sentilannya yang menarik. Dalam pandangan saya, peran 
perencana (apalagi yang menggunakan fenomenologi) bukan lagi sebagai superman 
seperti jaman dulu era Le Corbusier dll. Peran perencana lebih sebagai teman 
seperjalanan atau teman diskusi untuk mengembangkan wawasan siapapun, apalagi 
era sekarang terjadi pendekatan yang multidisiplin. Itupun jika perencana 
diberi tempat atau dipandang perlu, maka peran pencerahan merupakan salah satu 
medan perjuangannya. Jika dulu arsitek bangunan sangat powerful dalam 
proyeknya, kalau nggak didengarkan dia bisa mutung dan menelantarkan proyeknya, 
dalam kerjasama multi-disiplin hal itu tidak bisa dilakukan lagi.

Memang kesulitan perencana dengan fenomenologinya adalah "melawan" 
kecenderungan umum (awam maupun cendekiawan) yang terbiasa menggunakan 
paradigma berbeda. Perjuangan pertamanya adalah memperkenalkan cara pandangnya 
dengan cermat dan sabar tanpa gembar-gembor bahwa dia sedang menggunakan 
fenomenologi, sehingga orang bisa memahami (sokur membedakan) cara pandangnya 
dibandingkan dengan yang lain. Ini kesulitan pertama, yaitu melakukan "edukasi" 
kepada klien atau pemangku kepentingan.

Konon, tugas ilmuwan adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang 
duduk di atas bukit emas. Saya pernah menjelaskan hal semacam ini kepada 
rekan-rekan saya para pustakawan di Baperpusda DIY. Saya contohkan, coba 
kumpulkan peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah terjadi di Malioboro menurut 
berita koran KR sejak terbitan pertama hingga saat ini. Informasi itu pasti 
menjadi tulisan yang menarik jika ditata sambil dianalisis sedikit. Mereka 
sadar bahwa mereka sedang menunggui harta karun ilmu pengetahuan yang bisa 
diproduksi (dan re-produksi, dikreasi) menjadi pengetahuan baru. Dari dialog 
yang saya lakukan (tanpa mengatakan sedang berfenomenologi), muncul kesadaran 
akan hal itu, tetapi praksisnya terbentur TUPOKSI ! Akibatnya, aksi tidak 
muncul dari kesadaran yang sudah muncul itu. Disini ingin saya katakan bahwa 
"edukasi" sahabat di sekeliling kita bisa dilakukan dan merupakan dialog yang 
menarik.

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnusantara.wordpress.com
 http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/18/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 18, 2009, 4:30 PM

  
Mas Djarot,

Saya jadi teringat waktu Depok mulai menyusun RTRW setelah diakui berstatus 
kota. Mereka sibuk dengan apa moto pembangunannya dan mengharapkan masukan


      

Kirim email ke