Rekans ysh, Mengikuti diskusi-diskusi di referensi menuju "critical planning" ini membuat saya berpikir-pikir apakah ini namanya "multi/meta disipilin"? Seingat saya, semasa kuliah dulu harus melalui mata-kuliah: Pengantar Ekonomi (pembangunan), Teori Lokasi (pertanian,industri,jasa) , Urban/Regional Economic, Analisis Daerah/Kota (operation research) dll, mungkin karena hobi atau kebetulan akhirnya saya keterusan menggunakan sudut pandang ekonomi sampai ke kajian Land Economic (real estate) dan Local Economic Development/Governance. Dulu dapat kuliah Administrasi dan Hukum Perencanaan yang tadinya tak tahu untuk apa, ternyata di pekerjaan ini yang banyak terpakai untuk proses perencanaan, analisis kebijakan publik, sampai advokasi hingga goalnya peraturan-perundangan, atau perda dst. Lalu, dari pancingan diskusi dengan Pak Djarot saya jadi ingat lagi dulu pernah dapat anthropologi dari mata kuliah Pengantar Arsitektur dan Ilmu Sosial (?) yang diselenggarakan di Jurusan Arsitektur, dosennya selalu dua Yuswadi Salya dan dosen anthrop dari UNPAD, kemudian seingat saya untuk mata kuliah Urban Planning ada sesi-sesi membahas buku-bukunya Clifford Geertz "Princes & Peddler", juga "Mojokuto: Proses Urbanisasi", di Perencanaan Pertanian juga dibahas "Agriculture Involution" - jadi kayaknya kalau mengikuti Pak Djarot ya masih sejalan dengan Planning yang dimaui oleh sekolah dulu lah. Selanjutnya di graduate program semua itu di-blend dalam paket-paket mata kuliah terapan. Unsur lain yang jaman dulu kurang dibahas adalah aspek finance, keuangan daerah, penganggaran, dst, yang ini di pekerjaan diperlukan. Juga aspek manajemen dan bisnis, strategic management, yang masih terkait dengan pengembangan kawasan (tourism, sentra produksi pertanian, industri, realestate) saya lakukan dengan menggabungkan dengan ilmu Business Administration (bisnis & manajemen), pengelolaan prasarana dan sarana perkotaan - rasanya juga masih sejalan dengan alur, lingkup dan pola pikir (Urban/Regional) Planning. Kesimpulannya, perjalanan belajar Planning yang dilakukan tiap orang mungkin bisa begitu luas, melintas sekat disiplin ilmu, terkadang tampak atau dirasakan sudah keluar batas "jurusan"nya. Tapi kalau dilacak balik ternyata bibit-bibitnya memang diintrodusir dalam kuliah S-1 sekalipun, jadi tak bisa dianggap 'keluar pagar'. Apakah begitu Pak ATA, Pak Djarot? Salam, Risfan Munir
--- On Tue, 8/18/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote: From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ? To: [email protected] Date: Tuesday, August 18, 2009, 8:50 PM Pak Risfan, Pak ATA dan Rekans. Pak Risfan, pendapat panjenengan tentang peran sebagai fasilitator saya kira cocok dengan yang ada dalam pikiran saya. Dalam situasi yang kompleks dan pada saat peran arsitek atau planner hanya sebagian kecil dari para pelaku kegiatan perencanaan maka kedudukan arsitek/planner yang berfenomenologi menjadi penting ketika proses perencanaan berlangsung. Ia menjadi fasilitator sekaligus "provokator" yang bisa melontarkan ajakan atau wacana tertentu yang bermanfaat untuk kepentingan bersama. Pak Risfan, agak sulit menjelaskan dengan mantap, tentang perbedaan antara fenomenologi dengan antropologi (analisis budaya?) pada kasus misionaris di Indonesia. Jika kita menyimak, misalnya kalangan misionaris SVD yang ada di Indonesia Timur, jelas mereka menggunakan pendekatan budaya. Bahkan dari kalangan SVD yang jaringannya sangat luas, pusatnya di Austria, dikenal ada tokoh monumental dalam kajian budaya yaitu Pater Schmidt yang terkenal dengan teorinya Kulturkreise atau wilayah kebudayaan. Pertanyaan kuncinya, apakah mereka menggunakan pendekatan antropologi atau fenomenologi? Dalam pemahaman saya, fenomenologi adalah lebih luas dari antropologi, mirip lingkaran besar dan lingkaran kecil dalam diagram Venn. Fenomenologi lingkaran besar sedangkan antropologi adalah lingkaran kecil di dalam lingkaran besar itu. Hal ini berarti bahwa cara berpikir fenomenologi ada di dalam antropologi tetapi cara berpikir antropologi hanya sebagian saja dalam fenomenologi. Dengan demikian, fenomenologi sebagai paradigma bisa dilakukan dengan metoda antropologi atau etnografi seperti yang dikembangkan oleh James Spradley. Selain itu, fenomenologi- arsitektur adalah fenomenologi yang diterapkan dalam arsitektur, maka hanya merupakan lingkaran kecil di dalam lingkaran fenomenologi yang lebih besar. Pertanyaannya, apakah lingkaran fenomenologi- arsitektur overlap dengan antropologi, yang sama-sama ada di dalam lingkaran fenomebologi yang besar, Saya meyakini, keduanya memiliki interseksi pada dua unsur yaitu dunia batin dan perilaku manusia, sementara pada fenomenologi- arsitektur unsur ruang mendapat tekanan khusus sedangkan pada antropologi barangkali tidak terlalu diperhatikan (bahkan mungkin malahan bisa dianggap tidak ada). Gagasan ini saya kira memicu kegelisahan, apakah ada fenomenologi dalam planning (fenomenologi yang diterapkan dalam planning) ? Hedy Ahimsa pernah melakukan penelitian tentang pergeseran paradigma dalam ilmu antropologi di Indonesia. Gagasan ini saya temukan ketika kami sama-sama sebagai ketua tim peneliti mengikuti kegiatan monitoring program penelitian RUKK. Dari paparannya saya tahu bahwa antropologi pernah digunakan untuk mendukung kepentingan penjajahan, misalnya pada kasus Snouck Hurgronye yang menulis tentang Aceh kemudian hasil penelitiannya digunakan untuk upaya menaklukkan Aceh. Dari investigasi yang dilakukannya, ternyata antropologi di Indonesia pasca-kolonial mengalami pergeseran, dan akhir-akhir ini cenderung dimanfaatkan untuk pembangunan. Program pemasyarakatan KB, misalnya, menggunakan cara pandang antropologi. Dari kasus masa lalu, kita bisa menarik benang merah bahwa antropolog atau fenomenolog itu makhluk yang tahu sampai di dalam dunia batin manusia, maka jika dimanfaatkan untuk kepentingan merusak menjadi sangat berbahaya. Dalam situasi nyata, tidak semua mahasiswa S3 mau menggunakan fenomenologi, tetapi umumnya senang menikmati paparan dari mahasiswa lain yang menggunakannya. Kesan umumnya, fenomenologi itu sulit dan rumit, tetapi bagi yang menyenanginya karena memandang fenomena fisik memiliki laterbelakang yang mendalam, rasanya menyenangkan sebab banyak kejutan yang ditemukan dlam proses menjalankannya. Soal "curiga", sebenarnya dalam diri saya itu hanya sebuah teknik untuk meningkatkan skeptisisme saja kok Pak. Saya tetap netral, tetapi karena arus besar di sekitar saya selalu saja silau terhadap hal-hal non-lokal, maka saya berlatih menajamkan sikap skeptis dengan cara itu. Jadi sesungguhnya dengan cara itu saya juga berlatih menghormati temuan non-lokal, yang sementara disimpan dulu supaya nggak mengganggu proses membangun pemahaman. Intinya, menurut teori intensional yang melandasi fenomenologi, ada kiri tentu ada kanan, maka ada lokal tentu juga ada yang non-lokal. Dalam pandangan saya sejak awal, yang lokal dan non-lokal disikapi sama, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi sampai bisa dibuktikan secara ilmiah. Rencana Pak Risfan untuk menerapkan cara pandang fenomenologi pada kasus-kasus yang telah disebutkan menurut saya tepat, sebab fenomenolog memang bisa dan kompeten memahami ruang-ruang lokal semacam itu. Jika pemahaman sampai ke dunia batin para pelaku ruang di dalam ruang lokal itu maka biasanya kaitan perilaku dan fenomena visual dapat dipahami dengan mendalam. Tujuan penelitian yang disebutkan menuju ke arah yang tepat, yaitu pemahaman mendalam dan sangat mendalam. Jika kita menggunakan pertanyaan "bagaimana originnya", itu baru sebagian pertanyaan yang perlu dicari jawabnya. Lebih baik Bapak menggunakan fokus atau tema penelitian yang jelas rumusannya sebab tema/fokus umumnya diturunkan menjadi banyak pertanyaan penelitian. Dalam berfenomenologi kita sendiri menjadi instrumen penelitian dan biasanya kita tidak memiliki hipotesis, yang umum pada penelitian deduktif. Selamat berlatih Pak, kita menunggu berkahnya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 8/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, August 19, 2009, 6:21 AM Pak Djarot, Pak ATA, rekans ysh, Sesungguhnya sejarah (modern) town planning justru dari kalangan yang peduli kesehatan lingkungan, akibat pertumbuhan industri, mereka latar-belakangnya berbagai ilmu. Ini agak beda dengan tradisi urban design (arsitektur- kota). Sehingga kembali ke khitahnya memang selayaknya peran perencana lebih sebagai 'fasilitator' dari forum ahli dan stakeholders. Namun sebagai 'fasilitator' tidak harus cuma moderator bukan. Untuk stimulan kan bisa melemparkan ide atau menghidangkan berbagai hasil kajian ke forum. Tapi kembali kepada pemahaman fenomenologi, saya ingin belajar lebih jauh ke pak Djarot dengan bertanya: apakah betul yang digunakan oleh para 'pembawa agama' ke Indonesia dalam contoh itu memang teknik 'fenomenologi' , bukan teknik analisis budaya lainnya? Atau fenomenologi itu konsep, metode, atau teknik analisis? Kedua, fenomenologi sebagai metode berfikir atau teknik memahami mestinya "netral" kan ya? Baik atau buruk kan 'tujuannya'. Dalam contoh pak Djarot, penyebaran agama, tentu tujuannya baik. Tapi jangan lupa, teknik penjajahan Belanda seperti 'devide-et-impera' , menekan petani lewat pamong, preman lokal, dst, kan juga menggunakan kajian sosial-budaya yang sama. Juga fenomena lokal, yang dalam tulisan pak Djarot terkesan yang lokal selalu 'arif', yang dari luar mesti 'dicurigai', mungkin dengan fenomenologi tidak harus bias begitu. Menurut saya sebagai teknik, sekali lagi, tentunya netral. Memotret fenomena apa adanya. Kalau sudah baik mengapa agama, ilmu, rancangan baru, dll diintrodusir ke lokal tersebut. Kalau saya ada kesempatan, ingin menerapkannya untuk memahami fenomena terbentuknya "klaster komunitas perajin" seperti kampung batik Laweyan, perak Kotagede, tenun Troso, kuningan Juwana, logam Cisaat/Cibadak, bagaimana origin nya kok bisa jadi tradisi yang punya 'brand image' begitu kuat. Dalam hal ini 'lokal' sebagai creator, bukan konsumen ide dari luar. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Tuesday, August 18, 2009 10:48 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? Pak ATA terima kasih atas sentilannya yang menarik. Dalam pandangan saya, peran perencana (apalagi yang menggunakan fenomenologi) bukan lagi sebagai superman seperti jaman dulu era Le Corbusier dll. Peran perencana lebih sebagai teman seperjalanan atau teman diskusi untuk mengembangkan wawasan siapapun, apalagi era sekarang terjadi pendekatan yang multidisiplin. Itupun jika perencana diberi tempat atau dipandang perlu, maka peran pencerahan merupakan salah satu medan perjuangannya. Jika dulu arsitek bangunan sangat powerful dalam proyeknya, kalau nggak didengarkan dia bisa mutung dan menelantarkan proyeknya, dalam kerjasama multi-disiplin hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Memang kesulitan perencana dengan fenomenologinya adalah "melawan" kecenderungan umum (awam maupun cendekiawan) yang terbiasa menggunakan paradigma berbeda. Perjuangan pertamanya adalah memperkenalkan cara pandangnya dengan cermat dan sabar tanpa gembar-gembor bahwa dia sedang menggunakan fenomenologi, sehingga orang bisa memahami (sokur membedakan) cara pandangnya dibandingkan dengan yang lain. Ini kesulitan pertama, yaitu melakukan "edukasi" kepada klien atau pemangku kepentingan. Konon, tugas ilmuwan adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang duduk di atas bukit emas. Saya pernah menjelaskan hal semacam ini kepada rekan-rekan saya para pustakawan di Baperpusda DIY. Saya contohkan, coba kumpulkan peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah terjadi di Malioboro menurut berita koran KR sejak terbitan pertama hingga saat ini. Informasi itu pasti menjadi tulisan yang menarik jika ditata sambil dianalisis sedikit. Mereka sadar bahwa mereka sedang menunggui harta karun ilmu pengetahuan yang bisa diproduksi (dan re-produksi, dikreasi) menjadi pengetahuan baru. Dari dialog yang saya lakukan (tanpa mengatakan sedang berfenomenologi) , muncul kesadaran akan hal itu, tetapi praksisnya terbentur TUPOKSI ! Akibatnya, aksi tidak muncul dari kesadaran yang sudah muncul itu. Disini ingin saya katakan bahwa "edukasi" sahabat di sekeliling kita bisa dilakukan dan merupakan dialog yang menarik. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 8/18/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, August 18, 2009, 4:30 PM Mas Djarot, Saya jadi teringat waktu Depok mulai menyusun RTRW setelah diakui berstatus kota. Mereka sibuk dengan apa moto pembangunannya dan mengharapkan masukan

