Pak Djarot, Pak ATA, rekans ysh, Sesungguhnya sejarah (modern) town planning justru dari kalangan yang peduli kesehatan lingkungan, akibat pertumbuhan industri, mereka latar-belakangnya berbagai ilmu. Ini agak beda dengan tradisi urban design (arsitektur-kota). Sehingga kembali ke khitahnya memang selayaknya peran perencana lebih sebagai 'fasilitator' dari forum ahli dan stakeholders. Namun sebagai 'fasilitator' tidak harus cuma moderator bukan. Untuk stimulan kan bisa melemparkan ide atau menghidangkan berbagai hasil kajian ke forum.
Tapi kembali kepada pemahaman fenomenologi, saya ingin belajar lebih jauh ke pak Djarot dengan bertanya: apakah betul yang digunakan oleh para 'pembawa agama' ke Indonesia dalam contoh itu memang teknik 'fenomenologi', bukan teknik analisis budaya lainnya? Atau fenomenologi itu konsep, metode, atau teknik analisis? Kedua, fenomenologi sebagai metode berfikir atau teknik memahami mestinya "netral" kan ya? Baik atau buruk kan 'tujuannya'. Dalam contoh pak Djarot, penyebaran agama, tentu tujuannya baik. Tapi jangan lupa, teknik penjajahan Belanda seperti 'devide-et-impera' , menekan petani lewat pamong, preman lokal, dst, kan juga menggunakan kajian sosial-budaya yang sama. Juga fenomena lokal, yang dalam tulisan pak Djarot terkesan yang lokal selalu 'arif', yang dari luar mesti 'dicurigai', mungkin dengan fenomenologi tidak harus bias begitu. Menurut saya sebagai teknik, sekali lagi, tentunya netral. Memotret fenomena apa adanya. Kalau sudah baik mengapa agama, ilmu, rancangan baru, dll diintrodusir ke lokal tersebut. Kalau saya ada kesempatan, ingin menerapkannya untuk memahami fenomena terbentuknya "klaster komunitas perajin" seperti kampung batik Laweyan, perak Kotagede, tenun Troso, kuningan Juwana, logam Cisaat/Cibadak, bagaimana origin nya kok bisa jadi tradisi yang punya 'brand image' begitu kuat. Dalam hal ini 'lokal' sebagai creator, bukan konsumen ide dari luar. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sent: Tuesday, August 18, 2009 10:48 PM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? Pak ATA terima kasih atas sentilannya yang menarik. Dalam pandangan saya, peran perencana (apalagi yang menggunakan fenomenologi) bukan lagi sebagai superman seperti jaman dulu era Le Corbusier dll. Peran perencana lebih sebagai teman seperjalanan atau teman diskusi untuk mengembangkan wawasan siapapun, apalagi era sekarang terjadi pendekatan yang multidisiplin. Itupun jika perencana diberi tempat atau dipandang perlu, maka peran pencerahan merupakan salah satu medan perjuangannya. Jika dulu arsitek bangunan sangat powerful dalam proyeknya, kalau nggak didengarkan dia bisa mutung dan menelantarkan proyeknya, dalam kerjasama multi-disiplin hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Memang kesulitan perencana dengan fenomenologinya adalah "melawan" kecenderungan umum (awam maupun cendekiawan) yang terbiasa menggunakan paradigma berbeda. Perjuangan pertamanya adalah memperkenalkan cara pandangnya dengan cermat dan sabar tanpa gembar-gembor bahwa dia sedang menggunakan fenomenologi, sehingga orang bisa memahami (sokur membedakan) cara pandangnya dibandingkan dengan yang lain. Ini kesulitan pertama, yaitu melakukan "edukasi" kepada klien atau pemangku kepentingan. Konon, tugas ilmuwan adalah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia sedang duduk di atas bukit emas. Saya pernah menjelaskan hal semacam ini kepada rekan-rekan saya para pustakawan di Baperpusda DIY. Saya contohkan, coba kumpulkan peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah terjadi di Malioboro menurut berita koran KR sejak terbitan pertama hingga saat ini. Informasi itu pasti menjadi tulisan yang menarik jika ditata sambil dianalisis sedikit. Mereka sadar bahwa mereka sedang menunggui harta karun ilmu pengetahuan yang bisa diproduksi (dan re-produksi, dikreasi) menjadi pengetahuan baru. Dari dialog yang saya lakukan (tanpa mengatakan sedang berfenomenologi), muncul kesadaran akan hal itu, tetapi praksisnya terbentur TUPOKSI ! Akibatnya, aksi tidak muncul dari kesadaran yang sudah muncul itu. Disini ingin saya katakan bahwa "edukasi" sahabat di sekeliling kita bisa dilakukan dan merupakan dialog yang menarik. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 8/18/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ? To: [email protected] Date: Tuesday, August 18, 2009, 4:30 PM Mas Djarot, Saya jadi teringat waktu Depok mulai menyusun RTRW setelah diakui berstatus kota. Mereka sibuk dengan apa moto pembangunannya dan mengharapkan masukan

