Rekans ysh, Bahasa Jawa itu punya maslah dengan "strata" itu juga sebabnya maka disaat Soempah Pemoeda justru para pemuda Jawa yang mengusulkan agar bahasa nasional pakai bahasa Melayu, sebagai lingua franca. Bagaimana kalau bahasa Jawanya gini: Yok opo kabarmu Jo, jare ndek kerajaanmu saiki dikongkon nggawe coro jowo yo? Uaapik iku rek, sueneng aku. Tapi aku ape takon sing bener jenenge kerajaannmu iku Yogjo, Ngayojo opo Jogja sih bengung aku. Terus yok opo Jo, lek wargamu sing gak iso coro jowo, terus gak diladeni...lha tugasmu lak ngladeni, dhudhuk rojo-rojoan terus. Ilingo lo Jo, riko iku abdi negoro... pelayan masyarakat Indonesa, duduk rojo Jowo thok lho rek....Tak dungakno seger waras yo Jo. Maaf ini bahasa Jawa super egaliter, bisakah dipakai di Jogja? Sekedar menunjukkan sulitnya berbahasa Jawa dengan meninggalkan unsur perbedaan "strata sosial". Kuatirnya pemaksaan berbahasa Jawa itu mengandung unsur diskriminasi (?). Kita tahu di Jawa Barat juga begitu kalau tak salah, harus berbahasa Sunda, tapi tidak tahu dengan Gubernur yang sekarang. Jangan lupa NKRI masih banyak yang mesti dilakukan. Salam, Risfan Munir
--- On Sat, 8/15/09, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote: From: muhammad koeswadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ? To: [email protected] Date: Saturday, August 15, 2009, 12:43 AM Mas & mbakyu Milister Asw. Dalem remen sanget menawi wonten ketentuan (paugeran?) kados mekaten, supados mboten ichal warisan poro pinisepuh rumiyen..Sebab, wonten ing Pattani Thailand Kidul ugi wonten boso Jawi ingkang dipun ginaaken..utaminipu n wonten pesantren. Malahan masyarakat mriko ngertosipun sebatan ing pengajian coro 'Huruf Jawi'. Ing kota Johor lan kebupaten sekitaripun malah kathah ingkang saged boso Jawi ngoko ketimbang boso Inggris. Matur kesuwun sinuhun Gubernur lan sakbrayanipun. ..Saya ikut gembira bila ada ketentuan yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa di Jogja. Sebab di wilayah Pattani Thailan selatan banyak kata-kata yang sama dengan bahasa Jawa, terutama di lingkungan pesantren... yang mereka sebut pengajian huruf Jawi (arab gundul berbahasa Jawa). Bahkan di kota Johor dan sekitarnya penduduk bumi putera (melayu) malah pada ngerti bahasa Jawa campur aduk antara ngoko dan kromo. Komunikasi lisan resmi yang menggunakan bahasa daerah memang terasa nikmat dan pas apa yang dimaksud. Terima kasih Sultan...Tentunya komunikasi tulisan harus menggunkan bahasa Indonesia. pasti dimengerti secara nasional. Sebab, agak njlimet kalau istilah teknis tata ruang dan arsitektur diterjemahkan ke bahasa Jawa untuk DIY...Misalnya hinterland/wilayah mburi?, dapur (pawon), garis langit (?), selimut bangunan (kemul tembok?), groundwater (banyu ngisor..?) Salah satu kelebihan Indonesia adalah mengenalkan (mewajibkan) warganya menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mulai dari Banda Aceh sampai pulau Wamar (kota Dobo) penduduknya (pribumi, non pribumi, asli, pendatang, arab, cina, india, pakistan, dll) mengenal bahasa kesatuan bahasa Indonesia. Metoda yang bagus ini mau diterapkan (ditiru/dilirik) oleh Malaysia. Malaysia, populasi bukan Melayu/bumi putera (keturunan Cina India dan Timur Tengah) sudah mencapai 55-58% pada tidak menggunakan bahasa Melayu. Mereka menggunakan bahasa asalnya masing-masing dan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Melayu bagi mereka suatu kesulitan..Inilah yang sudah mulai dirisaukan oleh Kerajaan (pemerintah) untuk mulai mencari jalan mewajibkan penggunaan bahasa komunikasi sehari-2 menggunakan bahasa Melayu. Daerah mana lagi di Nusantara yang bakal menyusul..Jogja. .Mungkinkah Sunda, Batak, Madura, Jateng, NTT? Punten, Ngapora... --- On Sat, 15/8/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: [referensi] Think locally, do globally ? To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Saturday, 15 August, 2009, 10:52 AM Rekan-2 ysh, Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah). Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. matur nuwun. Wassalam, okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum seragam. "Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. "Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa dimulai dengan bahasa Jawa. "Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata Sigit. Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here

